Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Masalah selesai juga


__ADS_3

“Sayang, apa kamu mau ikut dengan Mama ke LA?” tanya Monic kepada Rasya. Hari ini adalah hari penerbangan dia kembali ke LA, waktu yang dia minta untuk tinggal di rumah Ardi telah habis.


Rasya menatap ke arah Ardi, Zahra dan juga kakek dan neneknya, setelah itu dia mengalihkan tatapannya kepada wanita yang saat ini tengah duduk berjongkok di depannya, “apa Mama nggak bisa tinggal di sini bersama dengan Rasya?” pintanya.


Monic menggelengkan kepalanya, “Mama nggak bisa tinggal lebih lama di sini sayang, karena ini bukan rumah Mama, selain itu Mama dan Papa nggak bisa tinggal di dalam satu atap. Kamu pasti sudah tau apa alasannya,” ucapnya.


Rasya nampak terdiam, dia lalu menundukkan wajahnya, “maaf kan Rasya, Ma, tapi Rasya nggak bisa meninggalkan Papa,” ucapnya.


Ardi, Zahra, Lina dan Jonny terlihat begitu senang dengan keputusan Rasya. Zahra menggenggam tangan suaminya lalu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Sayang, Papa sangat bahagia mendengar keputusan kamu,” ucap Ardi sambil mengusap puncak kepala Rasya.


Monic terlihat sangat kecewa, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia juga tidak mungkin memaksa Rasya untuk ikut dengannya. Jika dia sampai melakukan itu, mungkin dia akan dibenci oleh putranya itu untuk selama-lamanya.


Monic menghela nafas panjang, dia lalu mencoba untuk berdiri. Wanita itu menatap ke arah Zahra, “aku titip anak aku, aku berharap kamu nggak akan pernah membiarkan dia terluka nantinya,” pintanya.


Zahra mengangguk, “tanpa kakak minta, aku akan menyayangi Rasya seperti anak kandungku sendiri,” ucapnya sambil memeluk Rasya.


Monic memeluk Rasya dengan sangat erat, “kapanpun kamu ingin bersama dengan Mama, pintu rumah Mama selalu terbuka untuk kamu sayang,” ucapnya.


Rasya menganggukkan kepalanya, “Mama juga harus ingat, Rasya nggak pernah membenci Mama. Rasya sayang sama Mama,” ucapnya.


Monic tersenyum, “Mama juga sayang sama Rasya, sekarang Mama harus pergi sayang, kamu harus menurut sama Papa kamu, jadilah anak yang berbakti,” ucapnya.


Setelah berpamitan dengan keluarga Ardi, Monic keluar dari rumah itu sambil menyeret koper yang berukuran cukup besar. Ardi bahkan tidak menawarkan tumpangan sampai ke bandara, mungkin hatinya sudah terlanjur mati untuk Monic.


***


“Akhirnya masalah selesai juga.” Ardi menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya. Terdengar suara pintu diketuk, “masuk,” sahutnya. Ardi lalu kembali memeriksa berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya.


Pintu ruangan itu terbuka dengan perlahan, Ardi terkejut saat melihat istri kesayangannya berdiri di depan pintu ruangannya.


“Apa aku mengganggu kakak?” Zahra masuk ke dalam ruangan suaminya.


“Sayang, tumben kamu datang ke sini? Tentu saja kamu nggak mengganggu sayang, justru aku senang kamu datang ke sini.” Ardi lalu beranjak dari duduknya dan mengajak istrinya untuk duduk di sofa.

__ADS_1


“Apa ada hal yang penting hingga membuat istri aku yang cantik ini jauh-jauh datang ke sini?” Ardi bertanya sambil menggenggam tangan istrinya.


Zahra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “aku kangen sama kakak, hari ini aku sengaja izin setengah hari. Aku ingin menemani kakak bekerja,” ucapnya.


“Aku senang kamu datang ke sini, kebetulan aku juga sedang suntuk mau ngapain.”


“Apa kakak nggak ada pekerjaan lagi?” tanya Zahra sambil menatap kedua manik mata suaminya yang berwarna kecoklatan itu.


“Nggak ada, memangnya kenapa?” tanya Ardi penasaran.


“Aku ingin ke rumah Mama dan Papa, sudah lama aku nggak berkunjung ke rumah mereka.”


Ardi mengangguk, “aku akan mengantar kamu, apa kamu juga ingin menginap di rumah kedua orangtua kamu?” tanyanya.


“Apa boleh? Apa Kak Ardi mau menginap di rumah Mama dan Papa?” tanya Zahra dengan sorot mata yang berbinar dan itu langsung mendapat anggukkan dari Ardi.


Mereka pun lalu berjalan keluar dari ruangan itu. Saat di depan lift, tiba-tiba ponsel Ardi berdering. Pria itu lalu mengambil ponselnya dari saku celananya, dan melihat siapa yang menghubunginya, “Kenzo!” Ardi lalu menjawab panggilan itu, “hallo,” sahutnya.


“Ar, apa kamu sedang bersama dengan Zahra sekarang?”


“Sekarang kamu dan Zahra ke rumah sakit segera, Papa Zahra mengalami kecelakaan. Tapi kamu beritahu Zahra secara pelan-pelan, aku takut dia shock nantinya.”


Ardi terlihat sangat terkejut, dia pun hanya menganggukkan kepalanya lalu mengakhiri panggilan itu.


“Apa yang dikatakan Kak Kenzo, Kak? kenapa wajah kakak terlihat sangat shock seperti itu? Apa terjadi sesuatu dengan Kak Kenzo?”


Ardi memeluk Zahra dengan sangat erat, “sayang, kamu jangan cemas, semua pasti akan baik-baik saja,” ucapnya.


Zahra mengernyitkan dahinya, dia tidak tau maksud pembicaraan suaminya itu, “kak, ada apa ini, jangan bikin aku takut, apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya penasaran.


“Sekarang kita harus ke rumah sakit, Papa kamu mengalami kecelakaan.”


Zahra membulatkan kedua matanya, dia lalu menggelengkan kepalanya berkali-kali, “nggak! Nggak! Kakak pasti sedang bercanda kan?” wanita itu tidak percaya begitu saja, apalagi suaminya itu sering bersikap jahil padanya.


“Sayang, tenang. Lebih baik sekarang kita ke rumah sakit, keluarga kamu sudah menunggu di sana,” ucap Ardi sambil memeluk tubuh istrinya.

__ADS_1


“Papa, Papa akan baik-baik saja kan, Kak?” Zahra tidak sanggup membendung air matanya.


Ardi menghapus air mata Zahra, “semua akan baik-baik saja,” ucapnya.


Pintu lift terbuka, mereka lalu masuk ke dalam lift dan menuju lantai dasar. Sesampainya di basement, mereka segera masuk ke dalam mobil. Dalam perjalanan Zahra terus berdoa agar Papanya dalam keadaan baik-baik saja.


“Sayang, aku yakin Papa akan baik-baik saja.”


Zahra menghapus air matanya, “Kak, seandainya aku menemui Papa dari kemarin-kemarin, mungkin aku nggak akan menyesal seperti ini. Aku sangat merindukan Papa dan Mama,” ucapnya sedih.


Ardi menggenggam tangan Zahra, “jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Nanti setelah kondisi Papa pulih, kita bisa menginap di rumah mereka beberapa hari,” ucapnya.


“Tapi jika kita menginap di rumah Mama dan Papa aku, lalu Rasya bagaimana, Kak?”


“Kalau kamu mengizinkan, aku akan mengajaknya.”


Zahra mengangguk, “untuk apa kakak bertanya seperti itu? Tentu aku akan mengizinkan Rasya untuk ikut menginap di rumah Mama dan Papa,” ucapnya.


“Terima kasih sayang.” Ardi lalu mengecup punggung tangan istrinya.


Sesampainya di rumah sakit, mereka lalu menuju ruangan tempat Papa Zahra di rawat. Ternyata di depan ruang inap Papanya Zahra sudah ada Kenzo dan juga Samuel. Mereka nampak tengah berbicara hal yang sangat serius.


“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Ardi sambil berjalan menghampiri mereka, dan Zahra berjalan di samping suaminya itu.


“Kak, apa yang terjadi sama Papa aku?” Air mata Zahra seakan tidak mau berhenti mengalir.


“Om mengalami kecelakaan saat ingin pulang ke rumah untuk makan siang,” sahut Samuel.


“Lalu sekarang bagaimana keadaan Papa?” Zahra terlihat sangat cemas.


“Keadaan Om sebenarnya...”


~oOo~


 

__ADS_1


__ADS_2