
Ardi menutup mulut Zahra dengan telapak tangannya, dia tidak ingin menjadi pusat perhatian karena teriakan Zahra, “pelankan suaramu, apa kamu ingin semua orang menatap ke arah kita?” ucapnya lalu menyingkirkan telapak tangannya dari mulut Zahra.
“Apa Kak Ardi masih menganggap aku seperti wanita murahan, yang bisa kakak perlakukan seenak hati kakak!”
Ardi menggenggam tangan Zahra, tapi dengan cepat gadis itu menepis tangan pria itu. Ardi menghela nafas panjang, ternyata sifatnya masih sama. Pikirnya. “apa kita bisa bicara di luar? Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu,” pintanya.
Zahra menggelengkan kepalanya, “nggak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Lebih baik sekarang Kak Ardi pergi, aku nggak mau nanti Kak Micel salah paham sama aku, nanti dia menyebut aku sebagai pelakor lagi,” ucapnya.
Ardi tertawa, hingga membuat Zahra mengernyitkan dahinya, “apa ada yang lucu? Apa Kak Ardi senang melihat istri kakak datang ke sini dan marah-marah sama aku?” tanyanya kesal.
“Sekarang lebih baik kamu ikut aku, aku akan menjelaskan semuanya, bukannya kamu takut nanti istri aku melihat kita,” goda Ardi. Ardi begitu senang menggoda Zahra, karena gadis itu akan cemberut sambil mendengus kesal. Bagi Ardi wajah Zahra akan terlihat semakin menggemaskan saat dia tengah cemberut.
“Apa Kak Ardi sudah gila!”
“Aku memang sudah gila, kamu mau ikut aku atau aku akan menggendongmu keluar dari gedung ini,” ancam Ardi.
Zahra mendengus kesal, dia kenal Ardi seperti apa, karena ancaman pria itu bukan lah main-main. Gadis itu tidak mau mengambil resiko, dan dengan terpaksa dia menuruti permintaan pria itu. Zahra mengikuti langkah Ardi yang menuju pintu keluar. Ardi mengajak Zahra ke dalam mobilnya, karena hanya tempat itu yang dia pikir aman untuk menjernihkan kesalahpahaman di antara mereka.
Zahra mendengus kesal saat Ardi memintanya masuk ke dalam mobilnya, tapi mau tidak mau dia harus masuk ke dalam mobil itu. Gadis itu melipat kedua lengannya di dada, “sekarang katakan apa yang ingin Kak Ardi jelaskan sama aku, aku nggak punya banyak waktu,” ucapnya ketus.
“Ketus amat, santai aja dong. Kita sudah lama nggak bertemu, apa kamu nggak merindukan aku.” Ardi menopang dagunya dengan tangan kirinya yang bertumpu pada kursi pengemudi. Dia tatap wajah cantik yang sangat dia rindukan.
“Omong kosong apa ini! Apa kakak bercanda! Rindu, kenapa aku harus merindukan Kak Ardi!” seru Zahra kesal.
“Kenapa? Memangnya ada yang salah, aku saja sangat merindukan kamu,” godanya.
“Cukup ya, Kak. Kak Ardi sudah kelewatan!” Zahra hendak membuka pintu mobil. Tapi dengan cepat Ardi mengunci pintu itu, “apa yang Kak Ardi lakukan, buka nggak!” teriaknya.
“Aku nggak akan membuka pintu itu sebelum kamu mendengar penjelasan aku.”
“Nggak ada yang perlu kakak jelasin sama aku. Apa Kak Ardi nggak takut kalau nanti Kak Micel melihat kita?” tanya Zahra cemas.
Ardi menggelengkan kepalanya, “untuk apa aku harus takut, memang dia siapa aku?” tanyanya sambil melipat kedua lengannya di dada.
Zahra mengernyitkan dahinya, maksudnya apa coba, jelas-jelas dia itu istrinya? “jangan bercanda ya, Kak!” serunya semakin kesal.
__ADS_1
“Siapa juga yang bercanda, memang Micel siapa aku?” Ardi malah balik bertanya.
“Apa kakak sudah pikun hingga kakak lupa sama istri kakak sendiri?” tanya Zahra bingung.
Ardi tertawa, “istri, siapa yang bilang kalau Micel itu istri aku,” ucapnya.
“Kak Kenzo bilang sama aku kalau Kak Micel akan menikah, aku pikir...”
“Kamu pikir Micel akan menikah dengan ku, itu sebabnya waktu itu kamu mengucapkan selamat kepada aku dan Micel. Apa karena itu juga kamu berpura-pura sudah bertunangan dengan Samuel?”
Zahra membulatkan kedua matanya, “kalau begitu siapa yang menikah dengan Kak Micel? Itu berarti selama ini aku...”
Ardi menggenggam tangan Zahra, “kamu salah paham. Bukan aku yang menikah dengan Micel, tapi teman sekaligus kolega aku yang bernama Kris yang menikah dengan Micel. Bahkan sekarang Micel sedang hamil tiga bulan,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
Zahra hanya mampu menundukkan wajahnya, dia tidak tahu harus berbuat apa. Apa dia harus merasa senang atau sedih setelah mendengar semua yang Ardi katakan.
Ardi mendonggakkan wajah Zahra agar menatapnya, “aku minta maaf, karena selama ini aku sudah menyakiti hati kamu. Aku terlambat menyadari semuanya, apa kamu masih ingin mendengar jawaban dari pertanyaan kamu empat tahun yang lalu?” tanyanya.
Zahra menggelengkan kepalanya, air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya mengalir membasahi kedua pipinya.
Zahra menurunkan telapak tangannya, dia lalu menatap kedua mata Ardi, “aku percaya, aku percaya,” ucapnya.
Ardi tersenyum, dia lalu mengecup punggung tangan Zahra, “apa kamu mau memaafkan aku?” tanyanya.
Zahra menganggukkan kepalanya, “seharusnya aku yang meminta maaf sama kakak, karena aku sudah menyakiti hati kakak. Aku tau sikap aku waktu itu masih kekanak-kanakan, aku juga nggak tau dengan apa yang aku rasakan saat itu. Hati aku sakit saat kakak bilang kalau kakak mencintai aku hanya karena tatapan mata aku yang mengingatkan kakak dengan Kak Kay. Aku nggak tau kenapa aku bisa sesakit itu, tapi setelah kakak pergi jauh dari aku, aku baru menyadari jika aku sudah jatuh cinta sama kakak,” ucapnya.
Senyuman merekah dari bibir Ardi saat dia mendengar Zahra mengungkapkan semua isi hatinya.
“Apa kakak mau memaafkan aku?” tanya Zahra dengan kedua mata sendunya.
Ardi mengangguk, “aku akan memaafkan kamu, tapi dengan satu syarat,” ucapnya.
“Kak...” pekik Zahra. Zahra lupa jika Ardi mempunyai seribu cara untuk mengerjainya.
Ardi menakup kedua pipi Zahra yang mengembung karena kesal, “apa kamu lupa kalau aku paling nggak bisa menahan diri saat melihat kamu cemberut,” ucapnya.
__ADS_1
Kedua mata Zahra membulat dengan sempurna, dia lalu menepis kedua telapak tangan Ardi yang berada di pipinya, “jangan macam-macam ya, kalau nggak aku akan berteriak!” ancamnya.
Ardi tersenyum, dia lalu mengusap puncak kepala gadis itu, hingga membuat gadis itu mendengus kesal, “aku bukan lagi anak kecil, jangan perlakukan aku seperti itu,” ucap Zahra kesal.
Ardi mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu, hingga membuat Zahra kembali membulatkan kedua matanya. Kini jarak mereka begitu dekat, hingga mereka bisa saling merasakan hembusan nafas hangat yang keluar dari lubang hidung mereka.
Ardi mengunci tubuh Zahra dengan kukungan kedua tangannya yang bertumpu pada kaca pintu mobil itu, “kalau begitu apa yang harus aku lakukan pada gadis yang sudah dewasa ini,” bisiknya di telinga gadis itu.
Hembusan nafas hangat Ardi membuat tubuh Zahra merinding, dia lalu mendorong tubuh Ardi agar menjauh dari tubuhnya, tapi usahanya sia-sia, karena Ardi bahkan tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya.
“Apa aku harus melakukan ini...”
Kedua mata Zahra membulat dengan sempurna saat Ardi mendaratkan ciuman di bibirnya. Jantung Zahra berdetak lebih cepat dari biasanya, hati Zahra semakin berdesir saat Ardi memberikan pangutan-pangutan lembut pada bibirnya. Bahkan Ardi mencoba untuk mengeksplor seluruh bibir mungil Zahra.
Dengan nafas yang terengah-engah Ardi mengakhiri pangutannya. Zahra mencoba mengatur nafasnya yang memburu. Dia tidak percaya akan melakukan ciuman itu lagi dengan Ardi, bahkan kali ini ciuman itu terjadi lebih lama dari yang pertama.
Ardi memeluk Zahra dengan sangat erat, “jangan tinggalkan aku lagi, jangan pergi dari ku, karena aku mungkin tidak akan sanggup untuk menahannya lagi,” ucapnya.
Zahra melepaskan pelukan Ardi, dia tatap kedua mata sendu Ardi, “Kak...
1
2
3
Jeng...jeng...jeng....sambung besok lagi ya...hehehe
__ADS_1
~oOo~