
Ardi dan Zahra kini tengah berkumpul dengan keluarga besar Kay di ruang keluarga. Kedua orangtua Kay menyambut hangat kedatangan Zahra. Ardi tidak lagi membahas tentang masalah permintaan Kay, karena bagi Ardi itu tidaklah penting. Bagi Ardi yang penting Kevin tetap menganggap dirinya sebagai ayahnya.
‘Wanita ini masih sangat muda. Ardi pria yang baik, dia juga berhak bahagia.’ David tersenyum menatap Ardi dan Zahra yang tengah bercanda tawa dengan Ansel.
Semenjak kedatangan Ardi dan Zahra, Ansel terlihat begitu akrab dengan Zahra. Zahra juga tidak menyangka anak kecil itu bisa langsung akrab dengannya, padahal mereka sudah lama tidak saling bertemu.
“Tante, apa tante akan menginap di sini lagi?” tanya Ansel.
“Iya sayang, tante akan menginap di sini dua hari lagi.” Zahra mengusap lengan Ansel dengan lembut.
Kay berjalan mendekati Ansel, “sayang, ini sudah malam, sekarang kamu harus tidur,” ucapnya. Kay lalu menyuruh Ansel untuk beranjak dari duduknya.
“Tunggu sebentar, Bunda. Ansel ingin mengucapkan selamat malam kepada tante Zahra dan om Ardi.” Ansel lalu mencium pipi Zahra dan Ardi, “selamat malam Om, Tante,” ucapnya.
“Selamat malam sayang, semoga malam ini kamu mimpi indah,” ucap Zahra sambil mengecup kening Ansel. Kay lalu mengajak Ansel ke kamarnya.
“Ansel anak yang lucu ya, Kak.” Zahra menatap Ansel yang kini tengah pergi menjauh.
Ardi mencondongkan wajahnya mendekat kepada Zahra, “aku bisa membuatkan satu untuk mu,” bisiknya.
Zahra membulatkan kedua matanya, dia lalu memukul pelan dada Ardi, “jangan macam-macam, ya,” ancamnya.
Arka yang melihat kebahagiaan kakaknya juga ikut bahagia, ini pertama kalinya dia melihat kakaknya bisa sedekat dan seceria itu saat bersama dengan orang lain, “kapan rencana kakak untuk menikah?” tanyanya.
“Belum tau.” Dia lalu menggenggam tangan Zahra, “kalau aku terserah sama calon kakak ipar kamu ini,” imbuhnya.
“Tante senang mendengar berita yang sangat menggembirakan ini. Tante berharap kamu akan lebih bahagia nantinya,” ucap Merisa.
Ardi tersenyum, dia lalu mengecup punggung tangan Zahra, “tentu saja tante. Zahra adalah wanita yang aku tunggu-tunggu selama ini,” ucapnya.
“Maaf, Om mau beristirahat dulu, kita lanjut pembicaraan ini besok lagi.” David lalu beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kaki menjauh.
“Kalau begitu tante juga mau tidur dulu, selamat malam.” Merisa beranjak dari duduknya, dia lalu mengikuti suaminya dari belakang. Begitupun dengan Arka, dia juga merasa sangat lelah, karena hari ini begitu banyak pekerjaan yang harus dia urus di kantor.
Kini hanya tinggal Ardi dan Zahra di ruang tengah itu.
__ADS_1
“Apa kamu sudah mengantuk?” tanya Ardi sambil menatap wajah Zahra.
Zahra menggelengkan kepalanya, “aku ingin menghirup udara segar, apa Kak Ardi mau menemani aku?” tanyanya.
Ardi menganggukkan kepalanya, “aku akan menemani kemanapun kamu pergi,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
Ardi mengajak Zahra untuk duduk di taman depan rumah Kay, mereka kini tengah duduk sambil menatap langit malam.
“Di sini sangat nyaman ya, Kak. Apalagi keluarga ini, mereka menyambutku dengan hangat.”
Ardi memeluk Zahra dari belakang, dia lalu menopangkan dagunya ke bahu wanita itu, “aku ingin selamanya seperti ini sama kamu,” ucapnya.
Zahra mengusap kedua lengan Ardi yang melingkar di tubuhnya, “aku bahagia sekali, aku masih nggak percaya kalau aku sekarang bersama dengan kakak di sini. Selama empat tahun ini, aku mengira kakak sudah melupakan aku dan menemukan wanita lain yang akan kakak nikahi. Aku ingin menanyakan kabar kakak kepada Kak Kenzo, tapi aku nggak berani.” Zahra lalu mengubah posisinya menghadap Ardi, “aku takut, aku takut akan kenyataan jika ternyata kakak benar-benar sudah melupakan aku,” imbuhnya.
Ardi menempelkan keningnya ke kening Zahra, “setiap detik dalam hidupku, aku selalu memikirkan kamu. Bagaimana aku bisa melupakan kamu, saat pikiran aku selalu di penuhi oleh kenangan-kenangan kita dulu,” ucapnya lalu mengecup kening Zahra.
Zahra mendongakkan wajahnya, dia tatap kedua manik mata Ardi yang berwarna kecoklatan yang terlihat begitu indah, “aku tau jika aku dulu masih terlalu kekanak-kanakan, tapi sekarang aku bukan Zahra yang dulu lagi. Aku akan memperjuangkan sesuatu yang ingin aku miliki,” ucapnya sambil tersenyum.
Ardi mengusap kedua pipi Zahra dengan sangat lembut, “malam ini aku sangat menginginkan sesuatu,” ucapnya.
“Apa itu?”
Zahra menautkan kedua alisnya, dia menatap Ardi dengan penuh selidik, “jangan macam-macam ya, Kak,” ancamnya sambil mencondongkan tubuhnya ke belakang.
Ardi menarik kembali tubuh Zahra ke dalam dekapannya, dia tatap wajah cantik Zahra dengan seksama, tatapannya bahkan tidak dapat dia alihkan dari bibir tipis yang berwarna merah muda yang menampakkan belahan di antara keduanya. Bibir wanita itu seakan membuatnya candu. Ardi lalu mengalihkan tatapannya pada kedua mata Zahra, “memangnya apa yang kamu pikirkan? Memangnya kamu sudah tau apa yang aku inginkan?” tanyanya.
Zahra menggelengkan kepalanya, “aku nggak tau, aku juga nggak mau tau.” Wanita itu mencoba untuk lepas dari dekapan pria itu, tapi Ardi malah semakin menariknya ke dalam dekapannya, “Kak, lepas nggak!” serunya.
“Berikan aku ciuman dulu,” goda Ardi dengan senyuman di wajahnya. Dia ingin tau bagaimana rasanya jika Zahra yang menciumnya duluan, dan memegang kendali ciuman itu.
Namun bukannya menurut Zahra malah menggelengkan kepalanya, “aku nggak mau,” tolaknya.
Ardi terlihat sangat kecewa, dia bahkan memasang wajah murung dengan ekspresi wajah yang seakan dibuat-buat. Tapi Ardi tetap tidak melepaskan Zahra, dan malahan semakin erat menahan wanita itu di dalam dekapannya. Tubuh merekapun semakin melekat dengan, Zahra tidak akan bisa meloloskan diri kali ini, “berikan apa yang aku mau, baru aku akan melepaskan kamu,” ucapnya.
Zahra mengerucutkan bibirnya, ‘jika aku nggak menciumnya, dia akan terus memelukku seperti ini semalaman. Jika nanti ada orang yang melihat, aku akan sangat malu.’
__ADS_1
“Apa yang sedang kamu pikirkan? Lalu kenapa kamu cemberut seperti itu, apa kamu ingin menggodaku?” tanya Ardi dengan senyuman di wajahnya.
“Apa setelah aku mencium kakak, Kak Ardi akan melepaskan aku?”
Ardi menganggukkan kepalanya, “apa aku harus memejamkan kedua mataku?” godanya.
Zahra mengangguk pelan, “aku malu saat kakak menatapku,” akunya.
“Baiklah.” Ardi lalu mulai menutup kedua matanya.
Zahra menghirup udara dengan pelan dan mengeluarkannya dengan pelan juga, dia lalu dengan cepat mencium bibir Ardi, dan itu hanya sekedar kecupan di bibir,” sudah,” ucapnya.
Ardi membuka kedua matanya, “bukan seperti ini yang aku mau,” tolaknya kecewa.
“Tapikan itu juga di sebut ciuman,” elak Zahra. Sebenarnya Zahra tau apa yang di maksud oleh Ardi, tetapi dia malu untuk melakukan itu, karena biasanya Ardi yang melakukan itu terlebih dahulu.
“Itu bukan ciuman sayang, tapi itu hanyalah kecupan. Aku nggak akan melepaskan kamu, sampai kamu melakukannya dengan serius,” ancamnya.
Zahra tampak menghela nafas, dan Ardi tersenyum saat melihatnya. Kedua pipi Ardi ditangkup oleh kedua tangan Zahra yang terasa sangat lembut, wanita itu lalu mendekatkan bibirnya pada bibir pria itu. Ini pertama kalinya Zahra melakukan itu, tapi dia sudah tau apa yang harus dia lakukan setelah itu. Karena dia belajar dari apa yang dia dapat dari Ardi selama ini.
Ardi nampak terkejut saat Zahra berhasil melakukan apa yang dia inginkan, tangan pria itu lalu mengunci pangkal leher wanita itu hingga mmebuat wanita itu tidak bisa bergerak sama sekali. Pangutan-pangutan lembut Ardi berikan pada bibir tipis itu, ciuman itu berlangsung cukup lama, hingga membuat keduanya seakan kehabisan nafas.
Ardi sengaja melepaskan pangutannya dan membiarkan Zahra untuk menghirup udara untuk mengisi paru-parunya, tapi itu tidak berlangsung lama, karena Ardi kembali membenamkan bibirnya di bibir wanita itu. Tapi sekarang Ardi melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Zahra, dan dengan perlahan salah satu tangannya mulai menelusup masuk dan mengusap lembut kulit punggung wanita itu.
Kedua mata Zahra membulat dengan sempurna saat dia merasakan sentuhan-sentuhan yang begitu lembut tengah mengusap lembut punggungnya. Tanpa mengakhiri pangutannya, kedua tangan wanita itu mulai menurunkan kedua tangan pria itu dari pinggangnya.
Ardi yang menyadari akan hal itu, lalu mengakhiri ciumannya. Dia tatap kedua mata Zahra yang kini mulai berkaca-kaca, “maafkan aku, aku nggak bermaksud untuk—”
Zahra menutup mulut Ardi dengan jari telunjuknya, “aku tau kenapa kakak melakukan itu, tapi aku nggak bisa melakukan itu. Jika sudah waktunya, aku akan melakukannya,” ucapnya dengan menepiskan senyumannya.
Ardi memeluk Zahra dengan sangat erat, “maafkan aku, untuk sesaat aku lupa segalanya. Aku janji nggak akan melakukan itu lagi,” ucapnya sambil semakin mempererat pelukannya.
Zahra menganggukkan kepalanya, meskipun dia merasa kecewa dengan apa yang tadi Ardi lakukan, tapi dia tidak menunjukkannya. Wanita itu percaya jika pria itu tidak akan melakukan hal yang melampaui batas.
“Kak, lebih baik kita masuk sekarang, aku juga sudah sangat mengantuk.”
__ADS_1
Ardi menganggukkan kepalanya, dia lalu mengandeng tangan Zahra dan melangkah masuk ke dalam rumah. Pria itu tampak menyesali apa yang baru saja dia lakukan, ‘maafkan aku, aku janji nggak akan melakukan itu lagi.’
~oOo~