
Ardi merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia tatap langit-langit kamarnya. Ia merasa hidup ini tak adil untuknya. Kenapa ia harus kehilangan orang yang sangat ia cintai atas apa yang tidak ia lakukan dengan sengaja.
Seandainya waktu itu ia tidak berniat untuk menemui Arka dan meminta penjelasan, mungkin saat ini ia masih bersama Kay dan juga Kevin hidup dengan bahagia.
Ardi menghembuskan nafas lelah, ia merasa sudah lelah menjalani hidup yang begitu tak adil untuknya. Ardi mencoba untuk memejamkan matanya. Tapi tiba-tiba terdengar suara berisik dari ruang tengah.
Ardi bangun dan turun dari ranjang. Ardi berjalan keluar dari kamarnya dan menuju ruang tengah. Ardi terkejut saat melihat Monic sedang terkulai lemas di lantai.
Ardi berjalan mendekati Monic dan membantu Monic berdiri. Ardi melihat jam dinding yang menunjukan pukul 02.00 pagi. Ardi mendudukkan Monic di sofa.
Ardi mencium bau alkohol dari mulut Monic.
"Dasar..kerjaannya cuma bikin orang susah saja," gerutu Ardi. Ardi pergi ke dapur untuk mengambil air putih. Ardi kembali ke ruang tengah dan memberikan air minum kepada Monic.
Monic mengambil minuman itu lalu meneguknya.
"Sayang, aku merindukanmu," ucap Monic. Monic mencoba untuk memeluk Ardi tapi tangannya ditepis oleh Ardi.
"Kamu itu bisa nggak sih, sehari saja nggak mabuk-mabukan, ingat kamu itu masih punya Rasya, dia masih membutuhkan kamu," ucap Ardi kesal.
Ardi memapah tubuh Monic dan membantunya berjalan menuju kamarnya. Ardi membuka pintu kamar Monic dan masuk ke dalam kamar Monic.
Ardi merebahkan tubuh Monic di atas ranjang. Ardi melepas sepatu Monic dan menyelimuti tubuh Monic.
"Aku nggak bisa selamanya seperti ini, mau sampai kapan hidup aku seperti ini. Ini bukan diriku yang dulu, sekarang hidup ku benar-benar hancur." Ardi menatap Monic yang sudah terlelap.
Ardi keluar dari kamar Monic dan menutup pintu. Ardi kembali masuk ke dalam kamarnya. Ardi berjalan menuju box bayi untuk melihat Rasya. Ardi melihat Rasya masih terjaga dalam mimpi indahnya.
Ardi merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan matanya. Hari ini ia benar-benar merasa lelah. Tak butuh waktu lama Ardi pun terlelap.
***
Ardi yang sudah bersiap-siap untuk bekerja berjalan menuju box bayi dan melihat Rasya masih terlelap. Ardi mencium kedua pipi gembul anaknya.
__ADS_1
Saat ini Rasya sudah berusia 6 bulan. Rasya mewarisi ketampanan papanya.
"Papa berangkat kerja dulu ya sayang, hanya kamu lah penyemangat hidup Papa." Ardi mengecup kening Rasya. Ia lalu berjalan keluar dari kamarnya.
Ardi berjalan menuju kamar Monic. Ardi membuka pintu kamar Monic dan masuk ke dalam kamar Monic. Ardi melihat Monic masih terlelap dengan selimut yang menutupi sekujur tubuhnya.
Ardi berjalan menuju ranjang dan mencoba untuk membangunkan Monic. Ardi menggoyang-goyangkan tubuh Monic.
"Apaan sih! aku masih mengantuk ini!" Seru Monic dengan mata masih terpejam.
"Bangun, aku mau berangkat kerja, Rasya masih tidur di kamar aku," ucap Ardi. Monic hanya menganggukkan kepalanya, tapi ia tak bergeming dari ranjangnya
"Moniccc! kamu ini keterlaluan ya, kalau sampai terjadi apa-apa sama Rasya, aku nggak akan memaafkan kamu!" Teriak Ardi sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Monic.
Ardi sudah tidak bisa lagi menahan emosinya melihat sikap Monic yang sangat tidak perduli dengan Rasya.
"Kalau mau berangkat kerja, ya tinggal berangkat saja, nggak usah pakai teriak-teriak, menganggu orang tidur saja." Monic kembali menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya.
Ardi menatap Monic geram. Ardi mengepalkan kedua telapak tangannya dan keluar dari kamar Monic.
Ardi berjalan menuruni tangga. Ardi mengambil ponsel dari dalam tasnya. Ardi menelfon sekretarisnya untuk membawakan berkas-berkas penting ke rumah, dia tidak ingin meninggalkan Rasya di rumah bersama dengan Monic. Hatinya tidak merasa tenang.
✓✓✓✓
Setelah selesai makan Arka dan Kay duduk di kursi taman. Sedangkan Kevin pergi bersama Merisa dan David untuk menghadiri pesta salah satu koleganya.
"Kenapa sih teman Ayah mengadakan pesta jam siang-siang gini, bukannya kalau pesta kayak gini itu biasanya diadakan malam hari ya?" Tanya Kay sambil membelai rambut Arka yang kini tengah bersandar di pangkuannya.
"Ya kan terserah mereka sayang, mau siang atau malam juga sama saja," ucap Arka sambil memainkan ponselnya.
Kay paling benci saat Arka sibuk sendiri dengan ponselnya. Kay merebut ponsel Arka dan melemparnya ke rerumputan. Arka bangun dan duduk di samping Kay.
"Sayang, kamu ini apa-apaan sih, main ambil ponsel aku begitu saja!" Bentak Arka. Arka berdiri dan mengambil ponselnya.
__ADS_1
Kay yang merasa sangat kesal karena Arka berani membentaknya, dia lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Arka.
"Sayang, kamu mau kemana!" Teriak Arka. Tapi Kay tidak menggubris teriakan Arka dan terus berjalan masuk ke dalam rumah.
Kay membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Kay berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
"Apa aku tadi sudah kelewatan ya? ada apa sih dengan Kay?" Arka berjalan masuk ke dalam rumah.
Arka menaiki tangga dan berjalan menuju kamarnya. Arka mengetuk pintu kamar.
Tokk..tokk..tokk..
"Sayang, aku boleh masuk nggak?" Tanya Arka. Ia terus mengetuk pintu kamar tapi tak kunjung dibukakan pintu.
"Aku masuk ya," ucap Arka mencoba membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci.
Arka masuk ke dalam kamar. Arka melihat Kay tidur di ranjang dengan tubuh yang tertutup selimut. Arka berjalan menuju ranjang dan duduk di tepi ranjang.
"Sayang, maafin aku ya, tadi aku nggak bermaksud untuk membentak kamu. Aku minta maaf ya," ucap Arka sambil mencoba untuk membuka selimut yang menutupi wajah Kay tapi ditahan oleh Kay.
Arka mendengar suara tangisan dari balik selimut. Arka naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Kay. Arka memeluk tubuh Kay yang masih terbungkus selimut.
"Maafin aku, tadi aku cuma terkejut saja, karena kamu tiba-tiba mengambil ponsel aku dan membuangnya. Aku nggak tau kenapa kamu melakukan itu, aku minta maaf ya sayang, jangan ngambek kayak gini dong," pinta Arka. Arka mencoba menarik kembali selimut yang menutupi tubuh Kay. Tapi kali ini Kay tidak menahannya.
Arka mengecup kening Kay dan menghapus air mata Kay. Arka memeluk erat tubuh Kay. Kay menangis dalam pelukan Arka.
"Kamu ini kenapa? kalau ada yang nggak kamu suka dari sikap aku, kamu ngomong sama aku, bukan malah ngambek kayak gini," ucap Arka. Kay tetap diam dan tak memperdulikan ucapan Arka. Arka menatap wajah Kay tapi Kay memalingkan wajahnya.
"Sayang, kalau aku ada salah aku minta maaf. Tapi kasih tau aku apa salah aku. Kalau kamu cuma diam, bagaimana aku bisa tau kesalahan aku apa?" Kay menatap kedua mata Arka.
"Kamu pikir aja sendiri," ucap Kay lalu membalikan tubuhnya membelakangi Arka.
"Hadehhh!" Arka menepuk keningnya sendiri.
__ADS_1
~oOo~