Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Tempat kamu bersandar


__ADS_3

lSetelah pemakaman Merisa, Kay mengurung diri di kamar, dia bahkan tidak mau makan. Kesedihannya kali ini sungguh membuat dirinya hancur, tidak ada lagi tempat dia untuk mengadu. Suami yang sangat dia cintai dan percayai telah tega menghancurkan keluarganya, merengut kedua orang tuanya dari sisinya.


Arka, Ardi, Zahra bahkan ketiga anak itu, satupun tidak ada yang mampu membujuk Kay untuk keluar dari kamar itu. Kay tenggelam dalam kesedihannya, dia bahkan tidak memperdulikan kedua anaknya yang masih sangat membutuhkan kasih sayangnya.


Arka setiap waktu selalu berdiri di depan pintu kamarnya hanya untuk membujuk istrinya untuk keluar dari kamar itu, tapi pintu kamar itu tetap tertutup dengan rapat.


“Sayang, keluar dong, jangan seperti ini, kamu juga harus makan sayang. Apa kamu nggak kasihan sama Ansel dan Kevin? Mereka sangat merindukan pelukan bundanya,” bujuk Arka sambil mengetuk pintu kamar itu. Tapi tak ada sahutan dari dalam, bahkan langkah kaki pun tidak dia dengar.


“Bagaimana?” tanya Lina yang sejak tadi berdiri di samping Arka.


Arka menggelengkan kepalanya, “Kay tetap tidak mau membuka pintunya, Ma,” ucapnya sedih.


“Sekarang lebih baik kamu urus Ansel, dia juga tidak mau makan jika bukan Kay yang menyuapinya.”


Arka menganggukkan kepalanya, dia lalu melangkahkan kakinya menuruni tangga. Sedangkan Lina masih tetap berdiri di depan pintu kamar Kay sambil membawa nampan yang berisi semangkuk sop kesukaan Kay.


“Kay, ini Mama sayang. Apa kamu juga tidak ingin membukakan pintu untuk Mama?” Lina mengetuk pintu kamar itu beberapa kali.


“Kay ingin sendiri, Ma.” Akhirnya setelah 2 hari, Kay mengeluarkan suaranya. Tapi suara itu terdengar sangat lemah.


“Mama tau kalau kamu sedang berduka, tapi kamu juga harus memikirkan kesehatan kamu sayang. Jika sampai terjadi sama kamu, lalu siapa yang akan mengurus kedua anak kamu? Mereka masih membutuhkan kamu sayang.” Lina tidak akan pernah menyerah untuk membujuk Kay, walau bagaimanapun Kay adalah anggota keluarganya. Hanya dia dan keluarganya yang di miliki Kay saat ini.


“Sayang, kamu boleh marah sama Arka, tapi bukan seperti ini caranya. Arka juga menyesali semuanya, dia juga menghukum dirinya sendiri. Apa kamu tau? Sejak kemarin Arka juga belum makan apa-apa, dia hanya ingin makan bersama denganmu, begitu juga dengan Ansel. Apa kamu tidak kasihan dengan Ansel? Dia masih sangat kecil sayang untuk mengerti semua ini.”


Kay yang sejak tadi terduduk sambil menekuk kedua lututnya, bahkan kedua sudut matanya terus mengeluarkan air mata, dia juga tidak berniat untuk membuat keluarganya khawatir ataupun menderita. Wanita itu hanya membutuhkan waktu sendiri untuk merenungi nasib buruknya.


“Ayah, Bunda, kenapa kalian tega meninggalkan Kay sendirian. Apa Kay mempunyai salah dengan kalian hingga kalian tega meninggalkan Kay sendirian?” wajah Kay masih betah dia tenggelamkan diantara kedua lututnya.


“Sekarang apa yang harus Kay lakukan, Bun? Semuanya sudah hancur, tidak akan ada lagi tawa Ayah dan Bunda, tidak akan ada lagi yang memarahi Kay seperti Ayah dan Bunda. Kay sudah menuruti apa yang Ayah dan Bunda inginkan, tapi kenapa kalian masih tetap pergi meninggalkan Kay, kenapa?”

__ADS_1


Lina yang sejak tadi masih berdiri di depan pintu kamar Kay pun ikut menitihkan air mata mendengar apa yang Kay katakan, ‘David, Merisa, aku janji sama kalian, aku akan selalu menjaga Kay, aku tidak akan pernah membiarkan dia menangis lagi.’


“Sayang, buka pintunya, izinkan Mama menemani kamu sayang. Apa kamu nggak menganggap Mama sebagai orangtua kamu?”


“Ma, hanya Mama yang sekarang yang Kay punya, bagaimana mungkin Kay tidak menganggap Mama sebagai orangtua Kay.”


“Kalau begitu buka pintunya sayang, izinkan Mama untuk menjadi tempat kamu bersandar.”


Kay menghapus air matanya, tubuhnya yang rapuh mencoba untuk berdiri. Dengan langkah yang terasa begitu berat, Kay membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Wanita itu lalu memeluk mama mertuanya, “apa yang harus Kay lakukan, Ma. Sudah tidak ada Ayah dan Bunda lagi yang menemani Kay. Kenapa mereka meninggalkan Kay sendirian, kenapa, Ma?” isak tangisnya terdengar semakin pecah.


Arka yang sejak tadi mengamati dari kejauhan tidak sanggup menahan air matanya yang terus mengalir dari kedua sudut matanya. Hatinya terasa sangat sakit melihat wanita yang sangat dia cintai begitu menderita, itu pun karena ulah dirinya, “maafin aku sayang, maafin aku,” ucapnya pelan.


Lina mengajak kay untuk masuk ke dalam kamar, wanita paruh baya itu tidak lupa menutup pintu kamar itu, tapi dia sengaja tidak menguncinya. Lina mendudukkan tubuh Kay di sofa, dia lalu menghapus air mata menantunya itu.


“Mama tau apa yang kamu rasakan sayang, bukan hanya kamu, tapi kita semua sudah sedih semua ini terjadi. Tapi kamu nggak seharusnya melakukan semua ini, karena masih ada yang dua anak kamu yang masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang kamu.” Lina membelai rambut Kay dengan sangat lembut, “kamu masih punya Mama, Papa, Ardi, Zahra, ketiga anak kamu, dan juga suami kamu. Mama tau Arka salah dalam hal ini, tapi nggak seharusnya kamu mendiamkan dia seperti itu. Selama ini Arka sudah berusaha keras untuk mengurus perusahaan itu sayang, jadi kamu juga harus mengerti posisinya saat itu,” imbuhnya.


“Tapi, Ma, nggak seharusnya Arka merahasiakan semua itu dari Kay. Jika saat itu Arka memberitahu Kay semuanya tidak akan seperti ini, Ma. Ayah dan Bunda nggak akan pernah meninggalkan Kay.”


Kay melihat Arka saat ini tengah berdiri di depan pintu kamar itu, dia menatap ke arahnya dengan kedua mata sendunya. Ingin sekali Kay memeluk suaminya itu, tapi rasa kecewanya sudah terlalu besar untuk pria itu.


“Sayang, apa kamu sama sekali tidak akan memaafkan suami kamu? Lihatlah dia...dia bahkan sama sedihnya dengan kamu,” ucap Lina sambil menatap ke arah Arka.


Kay hanya diam sambil terus menatap suaminya, air matanya kembali mengalir membasahi kedua pipinya. Dengan perlahan Arka mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu, dia melihat Kay sama sekali tidak melarangnya.


Arka duduk berjongkok di depan Kay, dia genggam tangan istrinya itu lalu mengecupnya, “sayang, aku tau aku salah, aku akan menerima hukuman apapun yang akan kamu berikan, tapi jangan diamkan aku seperti ini, jangan siksa diri kamu sendiri, aku nggak akan sanggup untuk melihatnya,” ucapnya.


Lina beranjak dari duduknya, dia membiarkan Arka dan Kay berdua di dalam kamar itu. Mereka membutuhkan waktu berdua untuk saling bicara satu sama lain.


“Kamu jahat, Ka. Aku benci sama kamu, aku benci!” Kay berteriak sambil memukul-mukul kedua bahu Arka.

__ADS_1


“Kamu boleh membenciku, tapi jangan diam kan aku. Aku nggak sanggup hidup tanpa kamu walaupun hanya sedetik, apa kamu tau itu?” Arka lalu beranjak berdiri, dia lalu duduk di samping Kay, dia peluk tubuh istrinya yang sangat rapuh itu, “maafkan aku sayang, maafkan aku,” ucapnya.


“Aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, Ka. Ayah dan Bunda sudah pergi meninggalkan aku, aku nggak akan bisa lagi melihat wajah mereka, mendengar tawa mereka, aku sangat merindukan mereka, Ka.” Kay berbicara di sela isak tangisnya, kerinduan yang dia rasakan untuk kedua orang tuanya semakin besar.


“Kamu masih punya aku sayang, dan kedua anak kita. Ansel sejak tadi pagi tidak mau makan, dia ingin disuapi sama bundanya, apa kamu nggak peduli dengan kedua anak kita?”


Kay semakin mempererat pelukannya, “maafkan aku, Ka. Aku hanya memikirkan diri aku sendiri, aku pikir hanya aku yang sangat menderita disini, aku lupa jika masih banyak orang yang begitu peduli dan sayang sama aku,” ucapnya lirih.


Arka mengecup kening Kay, “sekarang kamu harus makan, setelah itu kita keluar dari kamar ini, mereka sangat mencemaskanmu sayang. Jika kamu masih tidak ingin memaafkan aku juga tidak apa-apa, tapi setidaknya makanlah agar kamu tidak jatuh sakit,” ucapnya.


Kay menganggukkan kepalanya, Arka dengan sangat telaten mulai menyuapi Kay, ‘aku akan berusaha semampu aku untuk mengembalikan senyuman kamu sayang, aku nggak akan membiarkan air mata itu kembali terjatuh,” gumamnya dalam hati.


***


 


“Bagaiamana, Ma?” tanya Ardi yang sejak tadi juga sangat mengkhawatirkan Kay, begitu juga dengan Zahra dan juga Kevin.


Lina tersenyum, “Kay saat ini sedang bersama dengan Arka. Semoga hati Kay mulai luluh dan mau memaafkan Arka,” ucapnya lalu mendudukkan tubuhnya di samping suaminya.


“Kita akan menginap disini beberapa hari lagi, setelah itu kita kembali ke Jogja,” ucap Jonny.


“Lalu bagaimana dengan Arka, Kay dan juga Ansel? Apa kita akan meninggalkan mereka disini?” tanya Ardi.


Jonny menghela nafas panjang, “kita ajak mereka untuk tinggal di Jogja, biar Arka mengurus perusahaan Papa. Bagaimanapun mereka adalah tanggung jawab Papa sekarang,” ucapnya.


Ardi merangkul pundak Kevin dan mengusap puncak kepala anak itu, “Ayah akan selalu bersama denganmu sayang, jangan bersedih lagi. Sekarang Kevin sudah besar, Kevin harus bisa melindungi Ayah, Bunda, dan adik-adik Kevin,” pintanya.


Kevin menganggukkan kepalanya, “baik, Yah,” ucapnya lalu memeluk Ardi dengan sangat erat.

__ADS_1


~oOo~


__ADS_2