Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Menghabiskan waktu berdua


__ADS_3

Ardi menggandeng tangan Zahra, mereka saat ini tengah berada di depan sebuah restoran. Ardi sengaja mengajak Zahra untuk makan malam berdua saja, karena mereka sudah jarang untuk menghabiskan waktu berdua setelah kepindahan rumah mereka. Mereka sengaja menitipkan Rasya di rumah Arka, karena Rasya lebih suka berada di sana, apalagi ada Ansel dan Kevin di rumah itu.


Zahra mengernyitkan dahinya saat memasuki restoran itu, “Kak, kenapa restoran ini sangat sepi?” tanyanya heran.


“Aku yang meminta restoran ini untuk dikosongkan malam ini.”


“Tapi kenapa?”


“Karena aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan mu sayang,” ucap Ardi sambil mengecup punggung tangan Zahra.


“Kakak sungguh romantis,” puji Zahra dengan senyuman di wajahnya.


Kedua sudut bibir Ardi mulai terangkat dan membentuk sebuah senyuman, dia lalu melepaskan genggaman tangannya, kemudian dia beralih memeluk pinggang Zahra.


“Aku masih ada kejutan untuk kamu sayang,” ucapnya.


“Apa kejutan itu?”


Ardi mengajak Zahra untuk menuruni tangga, telinga mereka lalu di manjakan dengan suara deburan ombak. Zahra semakin mempercepat langkahnya, kedua matanya membulat dengan sempurna menyaksikan pemandangan di depan kedua matanya saat ini.


Ardi sengaja memilih restoran itu karena ternyata di belakang restoran itu terdapat pantai, pantai dengan suasana yang sangat nyaman dengan deburan ombak yang kecil. Apalagi malam itu adalah malam bulan purnama. Sinar bulan itu yang menyinari lautan, seolah membuat air laut itu seolah bercahaya, kilauannya seperti bintang yang berkelip di dalam laut, dan itu terlihat sangat indah.


“Wah...indahnya,” ucap Zahra terkagum-kagum. Wanita itu lalu melepas tangan suaminya yang berada di pinggangnya saat ini, dia ingin mendekat ke arah pantai itu, namun dengan cepat Ardi meraih tangan Zahra dan menahannya. Pria itu lalu melepaskan jas yang dia pakai dan di pakaikan ke bahu Zahra.


“Angin malam tidak baik untukmu dan juga calon anak-anak kita sayang, apalagi baju yang kamu gunakan hanya berlengan pendek,” ucap Ardi sambil menyikap rambut Zahra yang tertiup oleh angin hingga menutup sebagian wajahnya.


Zahra menatap kedua manik mata kecoklatan suaminya, dia sangat terharu mendapatkan perhatian seperti itu dari suaminya.


“Sekarang lebih baik kita makan dulu,” ajak Ardi sambil menggenggam tangan Zahra dan mengajaknya untuk kembali masuk ke dalam restoran itu.

__ADS_1


Makanan sudah tertata rapi di meja tempat Zahra dan Ardi duduk saat ini. Tentu saja Ardi memilih menu makanan yang sehat, dan baik untuk calon kedua anaknya, dan juga istri tercintanya.


Ardi lalu mengambil setangkai bunga mawar yang sudah dia siapkan, “bunga yang cantik ini, khusus aku berikan untuk istriku yang cantik,” ucapnya sambil memberikan setangkai bunga mawar itu kepada Zahra.


Zahra tersenyum, dia lalu mengambil setangkai bunga mawar itu dari tangan suaminya. Wanita itu lalu menghirup wangi khas bunga mawar, “harum, makasih ya Kak. aku nggak menyangka kakak akan seromantis ini,” ucapnya.


Ardi menggenggam tangan Zahra lalu mengecupnya, “aku juga baru pertama kali melakukan hal seperti ini,” ucapnya jujur.


Mereka lalu memulai makan malam mereka, sesekali Zahra dan Ardi saling menyuapi satu sama lain. Tapi lebih banyakkan Ardi yang menyuapi istri manjanya itu.


Setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka, Ardi kembali mengajak Zahra untuk ke pantai yang berada di belakang restoran itu. Mereka lalu duduk di tepi pantai itu sambil menikmati suara deburan ombak yang berderu-deru. Mereka duduk berdampingan, menatap langit malam yang penuh dengan bintang, tanpa awan yang terlihat sangat indah. Apalagi sinar bulan purnama yang terlihat begitu menawan.


“Sayang,” panggil Ardi sambil menatap wajah istrinya itu.


“Hem..”


Zahra tersenyum, “aku janji, Kak,” ucapnya. Ardi tersenyum puas mendengar apa yang istrinya ucapkan.


Zahra menyandarkan kepalanya di bahu Ardi, kemudian Ardi mengangkat tangannya untuk dia letak kan di bahu Zahra, dia merangkul istrinya dengan penuh kasih sayang.


“Kak...” Zahra memanggil Ardi dengan suara terendah, kedua matanya masih menatap kedepan, menatap pantai dengan ombaknya yang kecil.


“Hem...”


“Boleh aku meminta sesuatu sama kakak?”


“Apa itu? Katakan saja.”


Zahra mendongakkan wajahnya, menatap wajah suaminya yang masih terlihat tampan meskipun usianya sudah bertambah tua, “setelah anak kita lahir nanti, jangan pernah kakak membeda-bedakan kasih sayang antara anak kita dan juga Rasya. Aku tidak ingin Rasya merasa tersisihkan setelah adik-adiknya lahir,” pintanya.

__ADS_1


Ardi menyikap rambut Zahra, lalu mengecup kening istrinya itu, “tentu. Aku nggak akan pernah membeda-bedakan anak-anak aku. aku akan mencurahkan kasih sayang aku secara adil,” ucapnya.


Jawaban Ardi membuat Zahra bisa bernafas lega. Dia seolah terlepas dari beban beratnya selama ini. Zahra lalu tersenyum dan melingkarkan tangannya ke pinggang Ardi. Dia lalu menatap bulan yang bersinar terang dari tempatnya.


“Kak...” panggil Zahra pelan.


“Hem...”


“Dari sekian banyak wanita, kenapa kakak memilih aku untuk menjadi istri kakak? Padahal ada Kak Micel yang juga sangat mencintai kakak.” Zahra bertanya tanpa menatap Ardi.


Ardi mengusap rambut Zahra pelan, “apa kamu masih ingat pertemuan pertama kita di cafe waktu itu?” tanyanya.


Zahra menganggukkan kepalanya, “memangnya ada apa dengan pertemuan itu? Bahkan waktu itu kita tidak saling mengenal?” tanyanya penasaran.


“Saat aku melihat senyuman mu malam itu dan juga sorot matamu yang begitu sendu, membuatku kagum. Apalagi saat kamu cemberut karena ledekan Kenzo saat itu, membuat wajahnya terlihat semakin imut, itu menurutku.”


Zahra tersenyum, “terima kasih sudah memujiku di pertemuan pertama kita,” ucapnya.


Ardi menangkup kedua pipi Zahra dengan kedua telapak tangannya, dia lalu mendaratkan ciuman di bibir tipis istrinya itu, “terima kasih sudah mau menerima perasaan aku, menerima semua kekurangan aku, dan kondisiku saat itu,” ucapnya.


Astaga...itu sungguh manis, membuat Zahra semakin tersipu malu. Bahkan itu bukan pertama kali Ardi menciumnya, tapi setiap pria itu menciumnya, entah kenapa dia masih terlihat malu-malu. Zahra lalu memeluk Ardi dan menyembunyikan wajahnya yang sudah merah merona.


Suasana seketika menjadi hening, Ardi mendongakkan wajah istrinya itu lalu mengecup keningnya, “kita akan melewati semuanya bersama-sama, seumur hidup kita, sampai mau memisahkan kita,” ucapnya.


Zahra tersenyum lalu mengangguk kan kepalanya. Ardi kembali merangkul pundak istrinya itu. Zahra lalu menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya. Mereka kembali menatap ke atas langit, menikmati sinar bulan purnama yang terlihat sangat indah.


Berhubung waktu semakin larut, Ardi mengajak zahra untuk pergi dari tempat itu, udara malam yang sangat dingin itu, tidak baik untuk kondisi Zahra dan juga celon kedua anaknya. Ardi akan selalu menjaga istri dan juga calon anak-anaknya, dia tidak akan membiarkan Zahra menangis dan terluka.


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2