Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Adik untuk Kevin


__ADS_3

Ini pertama kali untuk Arka menemani istrinya melahirkan, tentu saja karena saat anak pertamanya lahir yang di samping istrinya adalah kakaknya. Arka terus menggenggam erat Kay dan terus memberinya semangat. Sesekali Arka menyeka keringat yang terus menggucurkan di kening Kay.


“Sakit!” pekik Kay sambil mengusap bagian punggungnya yang terasa sakit. Rasa sakit yang seakan mengaduk-aduk perutnya dan mematahkan satu persatu tulang punggungnya. Meskipun ini bukan yang pertama kalinya untuk Kay, tetapi rasa sakit yang dia rasakan tetap sama.


Arka terus menggenggam tangan istrinya, sebenarnya dia tidak tega melihat Kay yang begitu kesakitan, di tambah lagi wajahnya yang pucat, dan tubuhnya yang terlihat sangat lemah.


“Sayang tahan sebentar, semua akan cepat berakhir,” ucap Arka lalu mengecup kening istrinya.


Seorang perawat masuk ke dalam rawat inap Kay, dan mengatakan bahwa dia akan segera membawa Kay ke ruang bersalin. Arka meminta izin kepada suster itu untuk tetap menemani istrinya sampai buah hati mereka terlahir ke dunia. Suster itu menganggukkan kepalanya.


Dokter dan para suster yang lain telah selesai menyiapkan alat yang akan di gunakan dalam persalinan. Dokter terus membimbing Kay dalam persalinan normalnya.


“Sayang, aku yakin kamu bisa, demi anak kita, kamu harus kuat.” Arka bahkan tidak melepaskan genggaman tangannya sama sekali.


Arka merasa berat perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anaknya, mereka bahkan harus rela menahan rasa sakit yang luar biasa. Selain itu mereka bahkan rela mempertaruhkan nyawa mereka agar anak mereka bisa terlahir dengan selamat.


Kay terus meringis menahan sakit, bahkan cairan bening kini mulai mengalir dari kedua sudut matanya. Kay  merasa rasa sakit yang dia rasakan saat ini lebih sakit dari persalinan pertamanya.


“Ayo, Ibu Kay, jangan patah semangat. Silahkan anda ambil nafas dalam-dalam lalu keluarkan, setelah itu ambil lagi nafas dalam-dalam dan mengedan sekuat-kuatnya,” ucap dokter itu mencoba memberi arahan kepada Kay.


“Sayang, demi anak kita, kamu harus tetap semangat, aku akan selalu ada di sampingmu sampai anak kita lahir. Kevin pasti akan sangat senang saat mengetahui adiknya sudah lahir.” Arka lalu mengecup kening istrinya.

__ADS_1


Kay mengangguk paham, dia juga ingin semua ini cepat berakhir dan segera melihat bayi mungilnya. Kay mengambil nafas panjang lalu mengedan.


“Ayo Ibu Kay, sedikit lagi. Ini kepala bayinya sudah kelihatan.” Dokter itu terus memberikan arahan kepada Kay.


Sedangkan Merisa dan juga David baru sampai ke rumah sakit, saat Arka memberi tahu mereka tentang Kay yang akan segera melahirkan. Mereka sedang berada di Surabaya mengunjungi teman lama mereka. Mereka menanyakan di mana kamar inap Kay.


Ruang bersalin...


Kay dengan segenap sisa-sisa tenaga yang dia miliki mulai mengambil nafas panjang dan menggedan sekuat-kuatnya. Tubuhnya kini terasa sangat lemah.


Oek...oek...oek...


Kay dan Arka akhirnya bisa bernafas lega, buah hati mereka kini telah lahir dengan selamat. Edanan Kay yang terakhir bahkan dengan sisa-sisa tenaganya berhasil membuat anaknya terlahir ke dunia. Kay tersenyum bahagia saat mendengar tangisan anaknya yang pertama kali menggema di seluruh ruangan.


“Selamat ya Pak, Bu, anak kalian laki-laki, terlahir sehat dan sempurna, tidak kurang satu apapun,” ucap dokter itu sambil menjelaskan kondisi anak Arka dan Kay.


“Sayang, adik Kevin laki-laki, pasti Kevin akan senang saat melihat adiknya nanti.” Arka mengecup kening istrinya, “terima kasih sayang atas perjuangan kamu dalam melahirkan buah hati kita,” imbuhnya.


“Terima kasih juga karena kamu masih setia mendampingiku hingga anak kita lahir ke dunia,” ucap Kay dengan senyuman di wajahnya.


“Aku hanya berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan anak kita. Apa lagi saat Kevin lahir aku tidak ada di samping kamu, aku sangat bahagia karena aku bisa menyaksikan langsung kelahiran anak kedua ku.” Arka menatap ke arah bayi mungil yang masih berada di gendongan dokter yang menolong Kay.

__ADS_1


Dokter itu berjalan mendekat, dia lalu menyerahkan bayi mungil yang masih merah itu ke gendongan Arka.


Arka mengecup kening putra kecilnya, “jagoan Ayah sudah lahir, selamat datang di dunia sayang, semoga kamu bisa selalu membanggakan kedua orangtua mu. Ayah, Bunda, Kak Kevin selalu menunggu kedatangan kamu,” ucapnya.


Kay menyentuh lengan suaminya, dia ingin melihat wajah bayi mungilnya. Arka mendekatkan putranya kepada Kay, Kay mengusap pipi gembul putranya lalu mengecupnya.


“Dia sangat mirip denganmu sayang,” ucap Arka sambil menatap wajah putranya.


“Nggak, dia sangat mirip denganmu. Wajahnya sangat mirip seperti Kevin waktu masih bayi, bahkan semuanya sangat mirip, seperti pinang di belah dua,” ucap Kay sambil terus membelai lembut pipi gembul putranya.


Arka menatap lekat wajah putranya, dia dulu tidak tau wajah Kevin saat masih bayi, karena Arka bertemu dengan Kevin saat Kevin sudah berusia satu tahun. Bahkan saat itu Arka merasa dirinya mempunyai ikatan dengan Kevin, dia bahkan tidak menyangka sama sekali, jika anak yang begitu sangat dia sayangi ternyata adalah anak kandungnya sendiri.


Arka menyerahkan putranya kepada dokter untuk segera di bersihkan, dia lalu mengecup kening istrinya. Dia begitu sangat bersyukur bisa memiliki cinta sejatinya, dan kini dia sudah mempunyai dua orang anak laki-laki yang sama-sama tampan.


“Sayang, aku sangat mencintaimu, terima kasih kamu sudah mau menjadi istri dan juga ibu dari anak-anak ku,” ucap Arka sambil menggenggam tangan Kay.


“Justru aku yang seharusnya berterima kasih, karena kamu masih mau menerimaku setelah apa yang sudah aku lakukan sama kamu. Selama ini kamu sudah begitu sabar menungguku, kebahagiaan ini tidak seberapa jika di bandingkan dengan rasa sakit mu selama ini.”


“Kita sudah berjanji untuk melupakan masa lalu dan mulai membuka lembaran baru, aku harap kamu bisa bahagia saat bersama ku,” pinta Arka.


“Aku sangat bahagia, aku bahkan tidak rela jika semua ini hanyalah mimpi. Jangan tinggalkan aku apa pun yang terjadi,” pinta Kay.

__ADS_1


Arka menggelengkan kepalanya mengiyakan permintaan Kay. Sekali pun tak pernah terlintas di pikiran Arka untuk meninggalkan Kay, cintanya kepada Kay bahkan melebihi nyawanya sendiri.


~oOo~


__ADS_2