Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
kenapa kamu menangis?


__ADS_3

Ardi saat ini sedang berada di dalam kamar Rasya. Sudah dua hari sejak kejadian di restoran waktu itu, Rasya bahkan tidak mau berbicara dengan papanya. Ardi tau kenapa anaknya bersikap seperti itu padanya, mungkin ini memang salahnya. Tidak seharusnya dia terburu-buru memperkenalkan Zahra sebagai calon mama barunya. Seharusnya dia membiarkan Rasya dekat dulu dengan Zahra, baru setelah itu dia memberi tahu semuanya secara perlahan-lahan. Selain itu dirinya juga belum secara resmi melamar Zahra kepada kedua orangtuanya.


Ardi saat ini sedang duduk berhadapan dengan Rasya, bahkan tidak ada penghalang di antara mereka. Rasya duduk sambil bersila di atas sofa, begitu pula dengan Ardi. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka jika sedang berada di kamar berdua.


“Sayang, kamu masih marah sama Papa?” Ardi menatap Rasya yang sedang sibuk main game online di ponselnya.


Rasya menanggapinya hanya dengan anggukkan kepala, bahkan tatapan matanya masih dia arahkan ke benda pipih di tangannya.


“Kalau boleh Papa tau, kenapa kamu tidak menyukai tante Zahra? bukankah tante Zahra begitu baik sama kamu?” selama dua hari ini pula, Zahra selalu menyempatkan diri untuk datang ke rumah Ardi setelah selesai bekerja. Karena dia ingin dekat dengan Rasya dan keluarga Ardi. Zahra bahkan selalu memberikan hadiah kepada Rasya setiap dia berkunjung ke rumah Ardi.


“Karena Rasya nggak mau mempunyai mama baru. Rasya hanya mau bunda Kay sebagai Mama Rasya.”


Ardi menghela nafas, “Papa tau kamu sangat sayang sama Bunda Kay. Papa juga nggak akan melarang kamu untuk tetap sayang sama Bunda Kay, tapi Rasya kan tau, kalau Bunda Kay juga mempunyai keluarga sendiri. Papa hanya ingin Rasya memiliki mama yang bisa selalu ada untuk Rasya, menemani Rasya, dan sayang sama Rasya,” bujuknya.


Rasya mengalihkan tatapannya, kini dia tatap kedua mata papa nya, “bunda juga sayang sama Rasya, bunda juga menganggap Rasya seperti anaknya sendiri,” ucapnya.


“Papa tau itu, tapi kan Papa juga...” Ardi menghentikan ucapannya saat melihat air mata jatuh dari kedua sudut mata Rasya, “sayang, kenapa kamu menangis?” tanyanya sambil menghapus air mata yang membasahi kedua pipi anaknya.


“Pa...kenapa Mama nggak sayang sama Rasya? Kenapa dia meninggalkan Rasya? Apa Rasya bukan anak yang baik?”


Saat Ardi berpisah dengan Monic, saat itu Rasya masih berusia satu setengah tahun, dia bahkan tidak tahu apa-apa. Rasa takutnya kepada mama kandungnya saat ini mungkin sudah hilang seiring berjalannya waktu.


Ardi menarik Rasya ke dalam pelukannya, “sayang, Mama Monic itu sayang sama Rasya dan Rasya adalah anak yang baik.” Ardi mencoba untuk menenangkan putranya. Dia tau selama ini Rasya sangat merindukan sosok seorang ibu. Meskipun Kay selalu mencurahkan kasih sayangnya kepada Rasya, tapi itu tetaplah berbeda, karena kasih sayang Kay tidak selalu Rasya rasakan setiap kali anak itu merindukan pelukan seorang ibu.


“Sayang, Papa janji akan memberikan kamu seorang ibu yang baik. Dia akan selalu menyayangi Rasya dan selalu ada buat Rasya. Apa Rasya mau memberikan kesempatan untuk tante Zahra agar bisa dekat dengan Rasya?”

__ADS_1


Rasya menundukkan wajahnya, dia tidak tau harus berkata apa. Anak itu hanya takut, takut untuk membuka diri kepada orang lain, karena selama ini hanya Kay dan keluarganya yang dekat dengannya.


“Baiklah, Papa nggak akan memaksa kamu. Papa akan memberimu waktu untuk memikirkannya. Sekarang Rasya sudah besar, dan Rasya sudah tau apa yang terbaik untuk Rasya.” Ardi lalu beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Rasya.


“Pa...” panggil Rasya lirih.


“Hem...” Ardi menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menatap Rasya yang masih menundukkan kepalanya.


“Apa Papa sangat mencintai tante Zahra? apa Papa benar-benar akan menikahinya?”


Ardi mengernyitkan dahi, dia lalu melangkahkan kakinya mendekati Rasya. Pria itu lalu duduk berjongkok di depan Rasya, “kenapa kamu menanyakan itu sayang?” tanyanya penasaran.


“Rasya tau jika selama ini Papa selalu kesepian. Papa selalu menangis saat melihat Bunda bersama dengan Om Arka.”


“Rasya tau semuanya, Pa. Papa berpisah dengan bunda Kay karena Mama. Rasya dan mama lah yang membuat Papa menderita selama ini.”


Ardi tidak menyangka anak sekecil itu akan berpikiran seperti itu, bahkan menyalahkan dirinya sendiri untuk apa yang dia alami, “sayang.” Ardi menggenggam tangan Rasya, “ini bukan salah kamu,” ucapnya.


“Pa...apa Papa masih sayang sama Bunda?”


“Papa sayang sama Bunda, Papa juga sayang sama Om Arka. Kita semua adalah keluarga, dan seharusnya kita saling menyayangi satu sama lain. Tapi kenapa kamu bertanya seperti itu?”


“Rasya hanya ingin melihat Papa bahagia. Jika Papa nggak suka melihat Rasya dekat dengan bunda Kay, maka Rasya akan menjauhinya.”


Ardi menggelengkan kepalanya, “Papa senang melihat Rasya bisa dekat dan menganggap bunda Kay sebagai bundanya Rasya, tapi Rasya juga harus ingat jika bunda Kay juga mempunyai keluarga sendiri,” ucapnya.

__ADS_1


Rasya memeluk papa nya dengan sangat erat, “Rasya sayang sama Papa. Rasya juga ingin melihat Papa bahagia,” ucapnya.


Ardi mengusap lembut punggung putranya, “Papa juga sayang sama Rasya. Jika Rasya bahagia, maka Papa juga akan bahagia,” ucapnya lalu melepaskan pelukannya.


“Sekarang Rasya harus tidur, besok Papa akan mengantar Rasya untuk bertemu dengan bunda,” ucap Ardi sambil mengusap puncak kepala Rasya.


“Apa Papa juga akan mengajak tante Zahra?”


Ardi tersenyum, “jika Rasya nggak ingin tante Zahra ikut, maka Papa nggak akan mengajaknya,” ucapnya.


Rasya menundukkan wajahnya, “kalau Papa ingin mengajak tante Zahra juga nggak apa-apa, Rasya akan mengizinkan tante Zahra untuk ikut,” ucapnya pelan.


Terlihat senyuman Ardi semakin merekah, apa ini tandanya Rasya sudah mau menerima Zahra? pikirnya.


“Tapi...” Rasya mendongakkan wajahnya, “Rasya belum bisa menerima tante Zahra sebagai Mamanya Rasya,” tegasnya.


“Papa nggak akan memaksa kamu untuk mau menerima tante Zahra sebagai mama kamu. Papa hanya ingin kamu mau lebih mengenal dan dekat sama tante Zahra. dan Papa akan menerima semua keputusan kamu.” Ardi kembali mengusap puncak kepala anaknya sebelum dia keluar dari kamar Rasya.


Ardi ingin semuanya berjalan dengan perlahan, dia tidak akan terburu-buru, karena dia tidak ingin gagal untuk ketiga kalinya. Mungkin dengan sedikit kesabaran, dia akan mendapatkan hasil yang membahagiakan nantinya. Selain itu dirinya juga belum menemui keluarga Zahra untuk melamarnya secara resmi.


Mungkin ada ketakutan juga di hati Ardi, apa kedua orang tua Zahra akan merestuinya, jika mereka tahu tentang masa lalunya? Gagalnya rumah tangganya untuk kedua kalinya, mungkin itu yang akan menjadi bumerang untuk dia menuju kebahagiaannya. Tapi dia yakin dengan apa yang akan dia dapatkan nanti, apalagi Zahra juga sangat mencintainya dan selalu mendukungnya. Karena hanya itu yang Ardi inginkan, dan dia tidak akan menyerah untuk bisa menjadikan Zahra sebagai pendamping hidupnya kelak.


~oOo~


 

__ADS_1


__ADS_2