Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus Chapter 17


__ADS_3

Kenzo membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Micel, apa! Ardi menyukai Zahra! Mana mungkin, dia benaran sudah gila apa! Berfikir dalam hati.


“Jagan asal nuduh kamu. Aku bicara seperti itu karena Kenzo minta pendapat aku, jika aku ada di posisi Zahra, aku akan kembali ke Jogja demi kedua orang tuaku. Mimpi itu bisa di raih kapan saja, apa lagi umur Zahra kan masih muda,” elak Ardi tanpa expresi apa pun.


Ardi sekarang bukan lagi Ardi yang dulu, yang mudah tersinggung dan emosi. Tapi kini Ardi menjadi sosok yang mempunyai sifat tenang dalam menyikapi suatu masalah, karena dia belajar dari kesalahannya yang dulu. Karena sikap egoisnya dia harus kehilangan orang sangat dia cintai untuk selama-lamanya.


“Betul itu, Cel. Mana mungkin Ardi suka sama sepupu aku, umur mereka saja terpaut terlalu jauh. Kalau jadi keponakan itu cocok, kalau pacar berarti Ardi memang sudah mulai gila,” ledek Kenzo sambil menepuk bahu Ardi.


Ardi mendengus kesal saat sahabatnya menuduhnya gila, “awas ya kamu, Ken. Tadi kamu bilang aku gila, kamu belum tau gimana Ardi Raditya akan menggila nanti,” ucapnya dengan sorot mata yang tajam.


“Bercanda, bercanda. Lagian jika kamu suka sama Zahra, belum tentu Zahra suka sama om-om kayak kamu,” ledek Kenzo lagi, pria itu tidak bisa lagi menahan tawanya, hingga perutnya terasa begitu sakit.


“Aku harap kamu nggak akan jatuh cinta dengan gadis ABG itu. Apa kamu tidak malu dengan umur kamu,” ucap Micel dengan nada tidak suka. Gadis itu lalu beranjak dari duduknya dan melangkah pergi.


“Micel, kamu mau kemana? Makanan kamu belum habis!” teriak Kenzo tapi sama sekali tidak di gubris oleh gadis itu.


Kenzo begitu penasaran dengan perubahan sikap Micel. Dia berubah menjadi kesal saat dirinya menyebut nama sepupunya, “ada apa dengan Micel?” tanyanya.


Ardi mengerdikan kedua bahunya, dia lebih memilih untuk menghabiskan makanannya yang tinggal beberapa suap.


“Apa kamu benar-benar suka sama Zahra?” tanya Kenzo yang masih penasaran.


Ardi menggelengkan kepalanya, “sudah gila kamu ya. Dari mana kamu bisa berfikiran seperti itu?” tanyanya balik.


“Sepertinya Micel cemburu saat aku menyebut nama Zahra, apa Micel suka sama kamu?” kenzo mengernyitkan dahinya.


Ardi menghentikan gerak mengunyahnya, dia tatap wajah sahabatnya dengan dahi mengkerut. Tidak mungkin dia jujur sama sahabatnya jika gadis yang dia cintai telah menyatakan cinta kepada dirinya satu bulan yang lalu.

__ADS_1


“Kenapa kamu diam?” tanya Kenzo lagi.


Ardi menghela nafas panjang, “kalau kamu benar-benar mencintai Micel, maka kejarlah terus, nggak usah memperdulikan orang lain,” ucapnya.


“Semua usaha aku tidak akan pernah berhasil jika dia hatinya ada orang lain,” keluhnya sambil menundukkan wajahnya.


Ardi menepuk bahu sahabatnya, “kamu tenang saja, selama ini aku dan Micel hanyalah teman, tidak lebih. Jika kamu terus menunjukkan perhatian dan kasih sayang kamu, lama-lama hati Micel akan luluh.” Ardi lalu beranjak dari duduknya, “dan soal Zahra, aku sama sekali tidak tertarik dengannya, jadi kamu nggak usah khawatir. Hubungan aku sama Zahra hanya sekedar perasaan bersalah aku dan sekarang sudah selesai,” imbuhnya lalu melangkah pergi.


Kenzo mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Apa dirinya akan terus mengejar cintanya, di saat dirinya tau gadis yang di sukai ternyata menyukai pria lain yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.


***


Ardi membuka pintu dan masuk ke dalam kamar putranya, dia melihat putranya tengah duduk di tepi ranjang dengan menundukkan wajahnya. Pria itu berjalan mendekat, “kenapa sayang, kok sedih gitu?” tanyanya sambil duduk di samping putranya.


“Rasya kangen sama Bunda. Kapan kita akan ke rumah Kak Kevin lagi?”


Ardi mengusap puncak kepala putranya, “maaf ya sayang, untuk saat ini Papa nggak bisa mengantar Rasya untuk ketemu sama Kak Kevin. Jika Rasya kangen sama Bunda, Papa akan menelfon Bunda, apa Rasya mau?” tanyanya.


Ardi mengambil ponselnya dari saku celananya, lebih baik aku telfon Arka saja, nggak mungkin kan aku menelfon Kay, pikirnya. Pria itu lalu membuka kontak di layar pipih itu dan mencari nama Arka. Setelah ketemu dia lalu menekan tombol untuk melakukan vidio call.


Tak butuh waktu lama panggilan itu pun tersambung, tapi raut wajah pria itu seakan terkejut melihat sosok yang dia lihat di layar pipih itu.


“Kak Ardi, ada apa?” terdengar suara wanita dari layar pipih itu, tentu saja itu suara wanita yang tidak ingin dia hubungi tadi.


“Em...apa Arka ada?” tanyanya dengan nada gugup.


“Arka sedang di dalam kamar mandi, Kak. Apa ada yang penting? Nanti aku sampaikan.”

__ADS_1


Rasya tengah menunggu papanya yang tengah mengobrol dengan wanita yang sudah dia anggap sebagai bundanya itu.


“Sebenarnya, aku...” Ardi menghentikan ucapannya saat putranya menarik lengan kemejanya.


“Ada apa, Kak?” tanya Kay penasaran.


Ardi menatap lekat kedua mata Kay yang terlihat jelas di layar pipih itu, sorot mata teduh yang sangat dia rindukan. Tapi saat melihat tatapan mata itu entah mengapa wajah Zahra terlintas di benaknya. Pria itu menggelengkan kepalanya, mencoba menepis apa yang muncul di benaknya, aku sudah gila pasti, pikirnya.


Kay mengernyitkan dahi melihat tingkah Ardi yang aneh, ada apa dengannya, pikirnya.


“Papa...Rasya ingin bicara sama Bunda,” rengek anak itu.


“Sayang, apa kamu ada di samping papa kamu?” tanya Kay terkejut saat mendengar rengekkan anak itu.


Ardi tersadar dari lamunannya, “ah...maaf, Kay. Sebenarnya aku menelfon karena Rasya katanya kangen sama kamu,” ucapnya gugup.


Kay tersenyum mendengar ucapan Ardi, “kenapa Kak Ardi nggak bilang dari tadi, mana Rasya, aku ingin bicara dengannya,” ucapnya.


Senyuman itu lagi, bisa gila aku, pikirnya. Ardi segera memberikan ponselnya kepada putranya. Dia lalu berjalan menuju pintu meninggalkan anaknya untuk mengobrol dengan Kay.


Ardi menghentikan langkahnya, dia tatap anaknya yang terlihat sangat senang bisa berbicara dengan Kay, “kenapa tadi aku bisa memikirkan Zahra saat melihat tatapan mata Kay. Ada apa denganku?” Ardi menggelengkan kepalanya, “mungkin ini gara-gara tadi siang Kenzo membahas soal Zahra. Iya...mungkin hanya gara-gara itu,” tepisnya.


Pria itu lalu melangkah keluar dan menutup pintu, dia tidak menyangka akan melihat wajah Kay lagi setelah beberapa bulan tidak bertemu. Dia bahkan tidak pernah menghubunginya sama sekali. Jika Rasya ingin bicara dengan Kay, dirinya hanya akan menghubungi adiknya.


Zahra...kenapa kamu muncul di pikiran aku? Kenapa?


~oOo~

__ADS_1




__ADS_2