
Satu minggu kemudian..
Ardi dan Kay sudah memutuskan untuk pindah ke kontrakan hari ini, setelah mengantar Kay ke kampus Ardi kembali ke rumah untuk mengemas pakaian serta barang barang yang akan dibawanya.
"Kamu jadi pindah sekarang sayang?" tanya Lina.
"Iya, Ma, kita harus belajar mandiri mulai dari sekarang agar Ardi bisa lebih bertanggungjawab untuk keluarga Ardi," ucap Ardi sambil memasukan baju-bajunya ke dalam koper.
Arka keluar dari kamarnya dan melewati kamar Ardi, dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Ardi dan mama nya.
"Apa! Kay mau pindah! enggak! aku nggak akan membiarkan Kay pergi dari rumah ini," ucap Arka lalu turun dari tangga.
Arka keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil, Arka melajukan mobilnya.
Sedangkan di kampus Kay sedang asyik mengobrol bersama Vero didepan kampus.
"Kay, aku penasaran sama suami kamu, kapan ni kamu mau mengenalkannya sama aku?"
"Siapa suruh kamu nggak datang saat acara tasyakuran pernikahan aku."
"Maaf, habisnya waktu itu Mama aku lagi sakit, jadi aku nggak bisa meninggalkan Mama aku sendirian, karena Papa aku lagi keluar kota," jelas Vero.
"Nggak apa-apa kok, nanti aku kenalin sama suami aku karena hari ini aku akan tinggal di kontrakan aku yang dulu."
"Kay! Arka! itu Arka sedang menatapmu,,dia kayaknya mau ke,arah sini deh," ucap Vero sambil melihat ke arah Arka.
Arka yang melihat Kay sedang mengobrol dengan Vero, berjalan menghampiri mereka.
"Ver, boleh aku bicara sebentar sama Kay?" pinta Arka.
"Kamu mau bicara apa, Ka? aku nggak ingin bicara berdua sama kamu," ucap Kay dingin.
"Tolong Ver, tinggalkan kami berdua," pinta Arka lagi.
"Baiklah, Kay...kalian harus segera menyelesaikan masalah kalian," ucap Vero lalu berjalan meninggalkan Kay dan Arka.
Arka menarik tangan Kay dan membawanya masuk ke dalam mobil. Arka melajukan mobilnya.
"Kamu mau bawa aku kemana?"
"Nanti kamu juga tau," ucap Arka sambil terus menyetir.
Arka menghentikan mobilnya di sebuah taman. Arka turun dari mobil dan membuka pintu mobil untuk Kay.
"Ayo turun!"
"Ngapain kita ke sini?"
Taman ini mengingatkan Kay tentang kenangan-kenangan saat Kay dan Arka masih bersama dulu. Kay keluar dari mobil.
Arka menarik tangan Kay dan membawanya ke sebuah tempat favorit mereka.
__ADS_1
"Apa kamu masih ingat tempat ini, Kay?"
"Ya."
"Ini adalah tempat kita menghabiskan waktu bersama, tempat kita untuk melepas rindu, kita melakukan semuanya di sini," ucap Arka sambil mengingat kenangan-kenangan indah mereka.
"Ka, untuk apa kamu mengajak aku ke sini?"
Arka berjalan mendekati Kay dan memeluk Kay dari belakang.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku, sudah cukup dengan kamu menikah dengan Kak Ardi, tapi jangan pergi dari rumah, aku nggak bisa jika tidak melihatmu," pinta Arka sambil menopang kan dagunya ke bahu Kay.
"Maafin aku, aku harus pergi dari rumah itu, karena aku nggak sanggup jika harus selalu melihatmu, aku ingin kamu segera melupakan aku," ucap Kay lalu melepas pelukan Arka.
"Aku nggak bisa, Kay. Aku nggak bisa melupakan kamu, semua kenangan indah kita selalu terngiang-giang di pikiran aku. Aku sangat mencintaimu Kay, bagaimana aku bisa melanjutkan hidup ini jika aku tak melihatmu."
"Aku melakukan ini juga demi kebaikan kamu, kamu akan lebih mudah melupakan aku jika kamu tidak melihat aku, begitu juga dengan aku, aku akan lebih mudah melupakan kamu."
Arka mendekati Kay dan memeluknya dengan erat.
"Lepasin, Ka!" teriak Kay sambil mencoba melepaskan pelukan Arka.
"Izinkan aku memelukmu sekali ini saja, aku merindukan pelukan ini," pinta Arka.
"Jangan menyiksa diri kamu Ka, banyak wanita cantik yang suka sama kamu, lanjutkan lah hidupmu dan lupakan aku."
Arka hanya diam dan terus memeluk Kay dengan sangat erat. Arka melepaskan pelukannya dan menatap Kay. Arka mendaratkan kecupan di bibir Kay.
"Sayang, aku tau kamu masih sangat mencintaiku, buktinya kamu nggak menolak ciuman dari aku, kenapa kamu lakukan ini sama aku?" tanya Arka sambil menempelkan keningnya di pundak Kay.
"Apa itu benar-benar yang kamu inginkan?" tanya Arka lalu melepaskan pelukannya.
"Ya...aku harap kamu menghormati keputusan aku."
"Baiklah, tapi dengan satu syarat."
"Syarat! Apa itu?"
"Kamu harus mengizinkan aku untuk menemui mu kapan pun aku mau, karena aku nggak bisa jika tidak melihatmu."
"Itu nggak mungkin, Ka, kalau kita terus bertemu bagaimana kita bisa saling melupakan?"
"Terserah kamu, pokoknya kapan pun aku merindukan mu aku akan temui kamu di kontrakan kamu, walaupun aku harus bertengkar dengan kak Ardi," ucap Arka ngotot.
"Ka...kenapa kamu jadi keras kepala seperti ini? aku nggak mau menyakiti Ardi, dia orang yang baik."
"Aku nggak akan menyakiti kak Ardi, aku akan menemui kamu kalau kak Ardi nggak ada di rumah."
"Kamu gila ya, Ka. Kamu menyuruh aku untuk membohongi Kak Ardi! kamu ingin kita berhubungan dibelakang Kak Ardi! kamu sakit jiwa ya! aku nggak percaya kamu tega melakukan ini sama aku!" teriak Kay marah.
"Ya...aku memang sudah gila, aku gila karena terlalu mencintaimu Kay!" teriak Arka.
"Cukup, Ka! aku ingin pulang!" teriak Kay emosi.
__ADS_1
Arka menarik Kay lalu menciumnya dengan paksa. Arka terus melangkah maju hingga tubuh Kay menempel di dinding. Kay terus meronta, tapi apa lah daya, tenaga Kay tidak sekuat tenaga Arka.
"Aku nggak akan pernah melepaskan kamu! ingat itu!" ancam Arka.
Kay terkulai lemas, air matanya mengalir deras. Melihat Kay menangis, Arka merasa sangat bersalah.
"Kay, maafin aku, aku terbawa emosi," ucap Arka sambil berjongkok di depan Kay.
"Kamu jahat, aku membenci mu, Ka!" teriak Kay keras.
Arka memeluk Kay, "maafin aku," ucapnya.
"Aku mau pulang sekarang!"
"Baiklah, ayo kita pulang." Arka membantu Kay berdiri.
Mereka berjalan menuju mobil, mereka masuk ke dalam mobil dan Arka melajukan mobilnya.Sesampainya di rumah, Kay membuka pintu.
Kay dan Arka masuk ke dalam rumah, Kay menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar.
Kok kamu sudah pulang, Kay?" tanya Ardi terkejut melihat Kay masuk ke dalam kamar.
"Aku nggak enak badan," ucap Kay berbohong.
"Maafin aku kak, aku nggak bisa jujur sama kamu kalau tadi aku pergi sama Arka, aku nggak mau menyakitimu," pikir Kay dalam hati.
"Kamu sakit apa? apa kita perlu pergi ke rumah sakit?" tanya Ardi cemas lalu menghampiri Kay dan membawanya duduk di sofa.
"Aku cuma pusing saja, mungkin hanya kecapekan."
"Aku ambilkan obat ya."
"Nggak usah, Kak. Aku tadi sudah minum obat di kampus," ucap Kay sambil menarik tangan Ardi.
Ardi duduk di samping Kay dan memeluknya.
"Apa kita tunda dulu kepindahan kita?"
"Nggak, kita pindah sekarang, aku sudah nggak sanggup jika harus satu atap sama Arka."
"Pasti sulit ya untuk melupakan Arka, kalian kan sudah pacaran selama tiga tahun, kalian menghabiskan waktu bersama-sama."
Kay melepaskan pelukan Ardi dan menatap Ardi.
"Kamu mau kan membantu aku untuk melupakan Arka?"
"Tentu saja, aku akan curahkan seluruh kasih sayang dan perhatian aku agar kamu bisa secepatnya melupakan Arka," ucap Ardi dengan senyuman di wajahnya.
"Terima kasih."
"Untuk apa berterima kasih, aku adalah suami kamu jadi sudah kewajiban aku untuk membahagiakan kamu."
"Tapi aku bukan istri yang baik, aku selalu menyakitimu."
__ADS_1
"Itu karena keadaan yang membuat kita seperti ini, tapi aku yakin suatu saat kamu akan bisa menerima aku seutuhnya," ucap Ardi lalu mengecup kening Kay.
~oOo~