
Kini Zahra dan Ardi sudah kembali ke rumah kedua orangtua Ardi. Papa Zahra sudah mulai berangsur pulih. Awalnya Zahra sangat berat untuk meninggalkan kedua orang tuanya lagi, tapi dia sekarang adalah seorang istri dan sudah kewajiban seorang istri untuk mengikuti kemanapun suaminya itu pergi.
Bukan hanya Zahra, kedua orangtua Zahra juga sangat berat melepaskan kepergian putri mereka satu-satunya. Selama satu bulan ini rumah itu kembali ramai, setelah sekian bulan Zahra menikah dan tidak tinggal di rumah itu lagi. Apalagi setelah kehadiran Rasya di rumah itu yang semakin meramaikan rumah itu.
Kehadiran Rasya sungguh membuat kedua orang tua Zahra bahagia, mereka bahkan sudah tidak sabar ingin melihat cucu mereka dari Ardi dan Zahra. Tapi mereka akan tetap menyayangi Rasya meskipun Zahra sudah memberikan mereka cucu.
Pagi ini semua keluarga Ardi berkumpul di meja makan, mereka sedang sarapan pagi bersama.
“Ma, Pa, ada sesuatu yang ingin Ardi sampaikan sama Mama dan Papa,” ucap Ardi.
“Apa itu sayang?” tanya Lina penasaran.
“Ardi dan Zahra sudah memutuskan untuk tinggal di rumah kami sendiri, Ardi dan Zahra ingin belajar hidup mandiri,” ucap Ardi.
“Memangnya kenapa? Apa kalian tidak suka tinggal disini?” tanya Lina terkejut.
“Bukan seperti itu, Ma.” Zahra sungguh tidak tega melihat mama mertuanya bersedih seperti itu, apalagi selama ini mama mertuanya itu sangat baik kepadanya.
“Ardi dan Zahra hanya ingin hidup mandiri, Ma. Lagi pula kami kan sudah menikah, kami tidak ingin merepotkan Mama dan Papa lagi,” ucap Ardi.
Lina menghela nafas, “baiklah, jika itu keinginan kalian. Mama juga tidak bisa memaksa kalian untuk tetap tinggal disini, tapi kalian sering-seringlah datang kesini untuk menjenguk Mama dan Papa,” ucapnya.
Ardi dan Zahra menganggukkan kepalanya, “kami akan terus datang ke rumah ini, Ma. Apalagi Rasya sepulang sekolah akan ke sini dulu, nanti baru Ardi jemput untuk pulang ke rumah,” ucap Ardi sambil mengusap puncak kepala Rasya.
***
Sore pun tiba, sudah saatnya Ardi, Zahra dan Ardi untuk pindah ke rumah baru mereka. Mereka pun mulai berpamitan dengan kedua orangtuanya.
“Ardi pergi dulu ya, Ma, Pa.” Ardi lalu mencium tangan mama dan papanya.
“Jaga istri dan anak kamu baik-baik, jadilah suami dan ayah yang baik untuk istri dan juga anak-anak kamu,” ucap Lina lalu memeluk Ardi.
Ardi hanya mampu menganggukkan kepalanya, sebenarnya dia tidak tega meninggalkan kedua orang tuanya sendirian, tapi sekarang dia sudah mempunyai keluarga sendiri, jadi sudah seharusnya dia memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya itu.
Zahra lalu mencium tangan mama dan papa mertuanya.
“Mama titip Ardi dan juga Rasya ya sayang, semoga kalian akan hidup bahagia,” ucap Lina lalu memeluk Zahra.
__ADS_1
“Baik, Ma.” Zahra lalu melepaskan pelukannya.
“Doakan saja yang terbaik untuk kami, Ma,” pinta Ardi.
“Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian semua,” ucap Lina dengan senyuman di wajahnya.
Jonny juga mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga anak bungsunya itu. Setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya, Ardi, Zahra, dan Rasya pun memasuki mobil. Ardi lalu melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya.
Sesampainya di tempat tujuan, mereka lalu keluar dari mobil. Zahra sangat terkejut melihat rumah baru mereka, “Kak, rumahnya besar sekali, halamannya juga sangat luas,” ucapnya kagum.
“Ayo masuk,” ajak Ardi lalu membuka pintu rumah itu.
Rumah itu memang sengaja Ardi beli untuk keluarga kecilnya. Bahkan rumah itu lebih besar dari rumah yang dulu dia tempati bersama dengan Kay dan Kevin. Ardi berharap rumah itu akan menjadi saksi bisu kebahagiaannya dengan keluarga kecilnya.
Ardi lalu mengajak Rasya ke kamar barunya. Kamar Rasya terletak di lantai atas, kamar itu terlihat sangat luas, bahkan lebih luas dari kamar lamanya. Kamar itu didekorasi seperti apa yang Rasya inginkan.
“Apa Rasya suka dengan kamarnya?” tanya Ardi sambil duduk di tepi ranjang.
Rasya menganggukkan kepalanya, “suka, Pa,” ucapnya senang.
Ardi mengusap puncak kepala Rasya, “sekarang kamu beresin semua pakaian kamu dan masukkan kedalam lemari, Papa akan keluar dulu,” ucapnya.
“Baik, Pa.” Rasya pun mulai membuka kopernya dan memindahkan semua pakaiannya ke dalam lemari pakaian.
Ardi memeluk Zahra dari belakang, “apa kamu suka dengan kamar ini sayang?” tanyanya sambil menopangkan dagunya ke bahu istrinya.
Zahra menganggukkan kepalanya, “tapi, Kak. kenapa kamar kita ada di lantai bawah? Kenapa tidak di lantai atas sama seperti kamar Rasya?” tanyanya penasaran.
“Karena kamar lantai atas hanya ada dua kamar, dan itu berdekatan dengan kamar Rasya.”
“Memangnya kenapa kalau berdekatan dengan kamar Rasya? kan itu bagus, Kak.”
Ardi lalu membalikkan tubuh istrinya agar menghadapnya, “sayang, justru itu tidak bagus untuk Rasya,” ucapnya sambil mencolek hidung mancung istrinya.
Zahra mengernyitkan dahinya, “maksud kakak apa? aku nggak mengerti?” tanyanya bingung.
“Sayang, kalau kita tidur di kamar atas, nanti Rasya bisa mendengar suara-suara yang tidak seharusnya dia dengar. Nanti itu akan berdampak buruk untuk perkembangan Rasya.”
Zahra membulatkan kedua matanya, “ih...kakak ini apa-apaan sih!” wajah Zahra seketika merona merah.
__ADS_1
“Tapi kan itu benar sayang, apa kamu lupa jika setiap malam kamu yang keras suaranya saat kita melakukan itu,” goda Ardi dan itu semakin membuat wajah Zahra semakin merah merona.
“Tapi kan semua itu gara-gara kakak, aku kan juga tidak bisa menahan untuk tidak berteriak,” ucap Zahra sambil mengerucutkan bibirnya.
Ardi mencium kilas bibir tipis istrinya itu, “tapi aku senang saat kamu mendesah dengan sekeras itu, setelah mendengar desahan kamu itu, aku semakin bersemangat. Aku bahkan semakin nggak bisa mengendalikan gejolak dalam diriku,” akunya.
“Dasar!” Zahra lalu memukul dada bidang suaminya.
Ardi lalu memeluk tubuh istrinya, “apa kita perlu melakukan itu sekarang? Sepertinya si jerry mulai terbangun,” bisiknya pelan di telinga Zahra.
“Jangan macam-macam deh, apa kakak lupa sekarang kita hanya tinggal bertiga di rumah ini? Kita harus menunggu Rasya benar-benar tidur dulu.”
Tubuh Ardi seketika lemas, tapi apa yang dikatakan istrinya itu ada benarnya juga. Bagaimanapun Rasya juga membutuhkan perhatian mereka.
“Kak, menu makan malam kita malam ini apa? kita kan belum belanja untuk kebutuhan sehari-hari.”
“Kita pesan delivery saja. Kita tanya sama Rasya dia mau makan apa.”
Zahra menganggukkan kepalanya, “kalau begitu kakak tanya sama Rasya mau makan apa, aku akan membereskan kamar ini dulu, dan memindahkan semua pakaian ini ke dalam lemari pakaian,” ucapnya.
“Baiklah, nanti kalau makanannya sudah datang, aku akan memanggil kamu. Aku akan menemani Rasya menonton televisi dulu.” Ardi lalu keluar dari kamarnya, sedangkan Zahra mulai membuka kopernya dan memindahkan pakaiannya dan juga suaminya ke dalam lemari pakaian.
Ardi saat ini sedang berada di ruang tengah bersama dengan Rasya, mereka sedang asyik melihat acara bola kesukaan mereka. Ayah dan anak itu memang kompak kalau sudah berurusan dengan sepak bola.
Zahra yang sudah selesai membereskan kamarnya pun keluar dari kamarnya, dia berjalan menghampiri suami dan juga Rasya. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya saat melihat begitu banyak kulit kacang yang berserakan di atas meja.
Terdengar suara bel berbunyi, Zahra lalu melangkahkan kakinya menuju pintu untuk membuka pintu itu. Ternyata yang datang adalah delivery makanan yang mereka pesan. Setelah membayar dan menerima makanan itu, Zahra segera menyiapkan makanan itu ke atas piring dan meletakkan ke atas meja makan.
Zahra lalu memanggil suami dan anaknya untuk segera makan malam. Mereka pun makan dengan sangat lahap, terutama Rasya, karena itu adalah makanan kesukaan anak itu. Setelah selesai makan, Ardi menyuruh Rasya untuk tidur, karena malam semakin larut.
Karena ini pertama kalinya mereka tinggal di rumah itu, rasanya ada yang berbeda. Tidak ada lagi tawa canda dari kedua orangtua Ardi. Rasya juga merasa kehilangan mereka, karena biasanya anak itu di peluk oleh neneknya sebelum tidur.
“Sayang, apa mau Mama temani tidur?” tawar Zahra.
Rasya menganggukkan kepalanya, anak itu terlihat sangat senang. Zahra meminta suaminya untuk menunggunya di kamar, sedangkan dirinya ingin menemani Rasya tidur terlebih dahulu.
Ardi mengecup puncak kepala Rasya, “selamat tidur ya sayang, semoga mimpi indah,” ucapnya.
Rasya menganggukkan kepalanya. Zahra dan Rasya pun mulai menaiki anak tangga satu persatu untuk menuju ke kamar Rasya. Sedangkan Ardi melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
__ADS_1
Ardi merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, dia lalu menatap langit-langit kamarnya, “kenapa rasanya sangat berbeda ya, saat aku tinggal bersama Kay dulu rasanya tidak seperti ini.” Pria itu lalu memiringkan tubuhnya untuk menatap bingkai foto yang berada di atas meja dekat ranjangnya, “rasanya lebih nyaman saat bersama dengan Zahra dan Rasya, tidak ada lagi rasa bersalah dalam diriku. Semoga ini adalah awal kebahagiaan untuk keluarga kecilku.”
~oOo~