
Setelah mengantarkan Rasya ke sekolah, Ardi mengajak Zahra ke suatu tempat. Tempat itu adalah tempat dimana Ardi sering menghabiskan waktunya sendirian. Tempat itu sangat indah dan sangat sejuk, udaranya begitu segar. Ardi tidak pernah mengajak siapapun ke tempat itu, karena itu adalah tempat rahasia Ardi jika dirinya sedang galau dan ingin menyendiri.
“Tempatnya sangat bagus, tapi kenapa kakak nggak pernah mengajak aku ke sini?” Zahra melihat pemandangan yang berada tepat di depannya, dia melihat air terjun yang terlihat begitu indah di depan matanya. Air itu terlihat sangat jernih, siapapun yang melihat air itu pasti ingin menceburkan diri ke dalamnya untuk menikmatinya betapa dinginnya dan segarnya air itu.
“Karena aku nggak pernah mengajak siapapun ke sini, ini adalah tempat aku untuk menyendiri dan merenung.” Ardi mengajak Zahra untuk duduk di gazebo yang ada di tempat itu. Mereka lalu duduk di gazebo itu.
Ardi menggenggam tangan Zahra, “sayang, maafin aku ya, atas kejadian tadi pagi saat di meja makan,” ucapnya. Ardi masih kepikiran tentang apa yang tidak sengaja dia ucapkan di depan Zahra, apalagi dia membawa-bawa nama Kay.
“Aku tau kok, Kak. kalau aku ini sama sekali nggak tau tentang kakak. Apa makanan kesukaan kakak pun aku nggak tau, tapi Kak Kay yang sudah lama berpisah dengan kakak saja masih mengingat semuanya.” Zahra mengatakan semua itu tanpa menatap kedua mata suaminya, dia lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Aku mengatakan itu nggak sengaja sayang, aku nggak bermaksud untuk mengingat masa lalu aku,” jelas Ardi.
Zahra menghela nafas panjang, dia lalu mengalihkan tatapannya untuk menatap wajah suaminya, “aku tau Kak, jadi nggak usah membahas itu lagi, aku nggak marah kok sama kakak,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya.
“Aku janji nggak akan keceplosan seperti tadi, aku akan menjaga mulut aku ini agar nggak berbicara omong kosong lagi,” ucap Ardi sambil memukul mulutnya dengan telapak tangannya.
Zahra menggenggam tangan suaminya, “kenapa kakak memukul mulut kakak itu, kalau sampai luka bagaimana? Aku kan jadi nggak bisa mencium kakak nanti,” ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Mendengar apa yang Zahra ucapkan membuat Ardi menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman, “meskipun mulut aku ini sakit, aku masih bisa mencium kamu kok sayang, aku akan menahan rasa sakit itu,” godanya.
Zahra memukul dada bidang suaminya, “dasar!” serunya.
Ardi mengangkup kedua pipi Zahra dengan kedua telapak tangannya, dia lalu mulai membenamkan bibirnya ke bibir tipis istrinya, mulai mengecap bagian-bagian bibirnya dengan sangat lembut. Zahra hanya mampu memejamkan kedua matanya sambil menikmati setiap pangutan yang suaminya berikan pada bibirnya. Setelah merasa puas, Ardi pun mengakhiri ciumannya, dia tidak akan sanggup melanjutkan kembali ciuman panasnya itu, karena itu akan sangat berbahaya untuknya.
Setelah merasa pernapasannya sudah kembali normal, mereka saling menatap satu sama lain. Terlihat senyuman merekah dari kedua sudut bibir mereka.
“Sayang, maafin sikap Rasya tadi ya, mungkin dia nggak bermaksud untuk ingkar janji sama kamu, tapi mungkin dia nggak bisa menolak saat Kay menyiapkan sarapan untuknya.” Ardi tau jika tadi pagi Zahra juga sangat kecewa karena Rasya lebih memilih makan makanan yang sudah disiapkan oleh Kay dari pada menunggu dirinya.
“Aku nggak marah kok Kak sama Rasya, tapi aku kecewa dengan sikap Kak Kay. Seharusnya Kak Kay kan tau kalau sekarang ini Rasya sudah menjadi tanggung jawab aku. Tadi saat aku ingin membangunkan Rasya juga dilarang oleh Kak Kay, katanya aku lebih baik membantu Mama memasak di dapur, kan seharusnya Kak Kay nggak bersikap seperti itu sama aku. Kak...atau jangan-jangan Kak Kay masih suka ya sama kakak, hingga Kak Kay benci sama aku,” tebak Zahra.
__ADS_1
Ardi menggenggam tangan Zahra, “jangan berpikiran yang macam-macam, mana mungkin Kay masih suka sama aku. Apa kamu nggak lihat betapa dia sangat mesra dengan suaminya?” tanyanya.
“Tapi kan kita nggak tau apa yang ada di hati Kak Kay, bisa saja kan dia...”
Ardi menutup mulut Zahra dengan jari telunjuknya, “itu nggak mungkin terjadi. Selain itu kamu nggak perlu cemas, wanita yang sangat aku cintai hanyalah kamu, istri aku, cintaku dan penyemangat hidupku,” ucapnya.
Zahra menundukkan wajahnya, “sampai kapan Kak Kay akan tinggal di Jogja?” tanyanya.
“Aku nggak tau, tapi Arka bilang dia masih ada pekerjaan di Jogja, jadi dia akan tinggal sementara di rumah. Memangnya kenapa sayang?” tanya Ardi penasaran. Zahra menggelengkan kepalanya.
“Apa kamu merasa nggak nyaman dengan kehadiran Kay di rumah?” imbuh Ardi.
“Kak...bukannya aku nggak nyaman, tapi Kak Kay kan mantan istri Kakak. Aku hanya nggak ingin ada masalah diantara kita nantinya,” ucap Zahra lirih.
Ardi mengernyitkan dahinya, “maksud kamu apa sayang? Apa kamu nggak percaya sama aku? apa kamu berpikir kalau aku masih ada rasa sama Kay?” tanyanya bingung.
Zahra menggelengkan kepalanya, “bukan itu Kak maksud aku, aku hanya nggak ingin Kak Kay menghalangi aku untuk dekat sama Rasya, jika itu sampai terjadi siapa yang akan aku salahkan?” ucapnya.
Zahra mendengus kesal mendengar apa yang Ardi katakan, “kenapa Kakak malah marah sama aku? jadi ini salah aku, dan kakak lebih membela mantan istri kakak itu!” serunya.
“Sayang, aku nggak marah sama kamu, maafkan aku ya,” pinta Ardi dengan wajah memelasnya.
Zahra beranjak dari duduknya, “aku ingin pulang,” ucapnya kesal.
Ardi kembali menggenggam tangan istrinya itu lalu kembali mendudukkannya di sampingnya, “jangan ngambek gitu dong, nanti cantiknya hilang lo,” godanya.
“Biarin, kalau cantik aku hilang, apa kakak juga akan meninggalkan aku?”
Ardi menangkup kedua pipi Zahra dengan kedua telapak tangannya, “meskipun wajah kamu berubah jadi jelek, aku nggak akan pernah berpaling dari kamu, karena apa? Karena yang aku sukai dari kamu bukan hanya wajah cantik kamu, tapi juga hati kamu yang sangat lembut, baik, dan penyayang,” ucapnya.
__ADS_1
Zahra tersenyum senang, “aku juga sangat mencintai kakak, maaf, jika aku sudah marah-marah nggak jelas sama kakak,” ucapnya.
“Aku tau kok kenapa kamu marah, tapi kamu juga harus ngertiin Rasya, dia nggak mungkin bisa lepas dari Kay begitu saja. Rasya sudah dekat dengan Kay sejak dia berusia satu setengah tahun, Kay lah yang memberinya kasih sayang seorang ibu yang nggak bisa Rasya dapatkan dari ibu kandungnya. Mungkin Kay juga nggak bermaksud untuk menghalangi kamu dekat dengan Raysa, coba nanti kamu bicara baik-baik sama Kay.” Zahra tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
“Kak...” panggil Zahra pelan.
“Hem...” Ardi menatap wajah cantik istrinya, “ada apa?” tanyanya kemudian.
“Apa mantan istri kakak yang kedua nggak pernah sekalipun menemui Rasya?”
“Dia dulu pernah menelponku untuk menanyakan kabar Rasya, tapi aku nggak pernah memberitahu Rasya tentang itu.”
“Kenapa?”
Ardi menghela nafas panjang, “karena aku nggak ingin Rasya kembali teringat akan kenangan-kenangan buruknya saat tinggal bersama dengan ibunya. Rasya memang sudah lupa dengan kejadian saat dia masih kecil dulu, tapi aku masih sangat mengingatnya dengan jelas,” ucapnya.
Zahra bisa melihat raut wajah kesedihan di wajah suaminya, dia pun menggenggam tangan suaminya, “maafin aku ya, Kak. nggak seharusnya aku menanyakan ini sama kakak,” ucapnya.
“Aku lapar, apa kamu ingin makan? Setelah itu kita jemput Rasya, dia pasti sudah hampir pulang sekolah,” ajak Ardi dengan senyuman di wajahnya.
Zahra senang melihat suaminya kembali tersenyum, “kita jemput Rasya dulu saja, setelah itu kita makan siang bertiga, kan lebih asyik,” ucapnya.
Ardi menganggukkan kepalanya, dia lalu mengusap puncak kepala istrinya, “makasih ya, karena kamu masih memikirkan Rasya. Aku yakin nggak akan lama lagi Rasya akan memanggil kamu Mama,” ucapnya.
“Semoga saja,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.
Mereka pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu, dan menuju ke sekolah Rasya untuk menjemputnya. Dalam perjalanan menuju sekolah Rasya, Ardi terus menggenggam tangan Zahra, bahkan sesekali dia juga mengecup punggung tangan istrinya itu hingga membuat Zahra selalu tersenyum bahagia.
~oOo~
__ADS_1