
Arka tak ingin memaksa Kay untuk tetap di rumahnya.
"Sayang kamu mau jalan-jalan kemana?" tanya Arka kepada anaknya.
"Kevin mau ke taman bermain, kebun binatang, dan pantai," jawab Kevin dengan antusias.
"Ok, besok kita akan datangi semua tempat yang kamu sebutkan tadi," ucap Arka dengan mengusap lembut puncak kepala anaknya.
"Ayah janji?" tanya Kevin senang.
"Iya, Ayah janji."
"Arka kamu jangan terlalu memanjakan Kevin," ucap Kay tidak suka Arka terlalu memanjakan anaknya.
"Nggak apa-apa, sekali-kali, karena cuma itu yang bisa aku berikan ke Kevin. Kebahagiaan..." ucap Arka sambil menatap wajah anaknya.
"Kevin, sekarang kamu main dulu sama bibik ya, ada yang mau Bunda omongin sama Ayah," pinta Kay.
"Baik, Bunda," ucap Kevin lalu berdiri dan berjalan mendekati Bik Inah.
Kay mengajak Arka keluar rumah dan duduk dipinggiran kolam ikan. Kay ingin menanyakan tentang kata-kata yang pernah Arka ucapkan waktu di Jogja.
"Kamu mau bicara apa, Kay?" tanya Arka penasaran.
"Soal yang kamu ucapkan waktu di Jogja."
"Soal apa?"
"Kamu benar-benar nggak ingat atau hanya pura-pura?" tanya Kay dengan nada serius.
"Maksud kamu apa? Aku benar-benar nggak ngerti?" tanya Arka sambil mengerutkan dahi.
Kay menatap wajah Arka yang kini tengah menatapnya. Kay tidak tau harus memulainya dari mana. Kay takut Arka akan salah paham dengannya.
"Soal kamu yang ingin mencari calon istri," ucap Kay pelan.
"Oooo...." Arka memangut-mangutkan kepalanya.
"Kok cuma O jawaban kamu?"
"Aku kirain soal apa, ya aku serius. Aku sudah bosen hidup sendiri. Aku juga butuh seseorang untuk menemaniku dan memanjakan aku, kenapa? Kamu mau mencarikan calon istri untuk aku?" Tanya Arka dengan senyuman di wajahnya.
"Ih...ogah, kamu cari saja sendiri," tolak Kay sambil cemberut.
"Terus kenapa kamu menanyakan itu?" Tanya Arka penasaran.
"Bilang kalau kamu nggak setuju dan bilang kamu takut kehilangan aku dan nggak sanggup hidup tanpa aku," pikir Arka dalam hati.
"Aku cuma khawatir saja, apa calon istri kamu nanti bisa menerima Kevin? selain itu apa Kevin mau mempunyai ibu tiri," ucap Kay tanpa berani menatap Arka.
__ADS_1
"Ya...itu memang satu masalah sih, tapi aku akan mencari wanita yang bisa menerima anak aku. Karena bagi aku yang terpenting adalah kebahagiaan Kevin."
"Kalau begitu kamu nggak usah menikah saja, maka Kevin akan bahagia," ucap Kay antusias.
"Ya nggak bisa dong Kay, aku kan juga laki-laki normal yang butuh kasih sayang dan belaian. Masa aku harus menahan diri selamanya."
"Maksudnya, menahan diri gimana?" tanya Kay sambil mengernyitkan dahi.
"Masa aku harus memberi tahu kamu secara mendetail, kamu kan pernah menikah jadi kamu pasti tau maksud aku," ucap Kay dengan tersenyum manis.
Kay sontak langsung menghantam lengan Arka. Kay tidak menyangka hanya itu yang ada di pikiran Arka.
"Awww..sakit tau, kenapa kamu memukulku?" tanya Arka sambil mengusap lengannya yang terasa sakit.
"Di pikiran kamu hanya ada hal mesum kayak gitu! dasar!" seru Kay kesal.
"Bukan gitu Kay, semua orang kan juga butuh hal kayak gitu. Apa lagi aku kan laki-laki normal, butuh juga tempat untuk menyalurkan hasratku dan aku juga butuh seseorang yang mau mendengarkan setiap keluh kesah ku."
"Sudah aku nggak mau bicara sama kamu lagi, aku pulang dulu." Kay lalu berdiri.
"Kamu beneran nggak mau menginap di sini? Apa kamu nggak kasian sama Kevin?" tanya Arka memastikan.
Kay mencoba berfikir ulang, dia juga tidak ingin membuat Kevin sedih. Dan ini pertama kalinya Kevin tinggal di rumah Arka.
"Em...baiklah, tapi ini semua demi Kevin."
Kay mengikuti Arka dari belakang. Arka menunjukkan kamar Kay yang letaknya di sebelah kamar Arka.
Kay masuk ke dalam kamar dan takjub melihat suasana kamarnya. Di dalam kamar terdapat foto Kay dan Kevin juga foto Kay saat bersama Arka dan Kevin.
Kay mengambil salah satu bingkai foto yang terletak disudut meja dekat ranjang. Kay duduk di tepi ranjang dan menatap foto itu. Kay tersenyum menatap foto Arka saat tersenyum sambil mengendong Kevin. Arka terlihat sangat bahagia.
"Senyuman kamu dari dulu nggak pernah berubah, Ka. Senyum kamu itu yang telah membuat aku jatuh cinta. Andai kita bisa seperti dulu lagi, tapi aku merasa nggak pantas untuk kamu. Aku sudah menyakiti dan mengecewakan kamu, aku nggak mau menyakiti kamu lagi. Kamu pantas bahagia," ucap Kay sambil mencium foto Arka dan Kevin.
Kay keluar dari kamar dan menuruni tangga. Kay menghampiri Arka dan Kevin yang tengah asyik menonton Tv.
"Kok Bunda nggak diajak nonton? sudah ada Ayah, terus Bunda dilupain ni," ucap Kay lalu duduk di samping Kevin.
"Nggak kok, Bunda. Kevin nggak akan melupakan Bunda. Habis tadi Bunda lagi asyik melihat kamar jadi Ayah dan Kevin nggak mau menganggu Bunda," ucap Kevin sambil menatap bunda nya.
"Apa tadi Arka juga melihat ku saat aku mencium foto nya dan Kevin ya. Kalau Arka sampai melihatnya mau di taruh dimana muka aku," pikir Kay dalam hati.
"Kamu kenapa Kay, malah bengong?" tanya Arka dengan senyuman di wajahnya.
"E--nggak kok," ucap Kay gugup.
Arka memangku Kevin dan kini Arka menggeser duduknya agar lebih dekat sama Kay. Kay terkejut melihat tingkah Arka.
"Aku tadi melihat apa yang sedang kamu lakukan tadi di kamar," bisik Arka di telinga Kay.
__ADS_1
"Apa!" teriak Kay terkejut.
"Ada apa, Bun? Kok teriak?" tanya Kevin terkejut.
"Em...nggak ada apa kok sayang, kamu fokus lihat TV saja," sahut Kay sambil mengusap puncak kepala Kevin.
Arka hanya tersenyum melihat tingkah Kay yang saat ini terlihat sangat gugup. Arka berniat ingin menggoda Kay. Arka menyelipkan salah satu tangannya dibelakang Kay. Arka meraih pinggang Kay dan menariknya agar lebih dekat dengannya.
Kay sangat terkejut dengan sikap Arka, tapi Kay nggak bisa berbuat apa-apa karena ada Kevin di sana. Kay hanya menatap tajam ke arah Arka tapi Arka hanya tersenyum menatap Kay.
"Lepasin nggak!" ucap Kay pelan.
"Nggak mau."
"Awas ya, aku akan kasih kamu pelajaran nanti," ancam Kay.
"Aku nggak takut," ucap Arka pelan sambil menjulurkan lidahnya.
Kevin yang sudah sedari tadi mengantuk tertidur di pangkuan Arka. Kay memanfaatkan situasi itu untuk melepaskan tangan Arka dari pinggangnya, tapi usaha Kay sia-sia. Arka memegangnya dengan sangat erat bahkan kini tubuh mereka saling melekat.
"Ka! lepasin tangan kamu dari pinggang aku!" seru Kay yang mulai emosi.
"Kamu mau Kevin bangun."
"Apa mau kamu sebenarnya?"
"Aku nggak mau apa-apa, aku cuma ingin kamu menemani aku di sini," pinta Arka.
"Aku akan temani kamu, tapi singkirkan dulu tangan kamu."
Arka melepaskan tangannya dari pinggang Kay. Arka membawa Kevin ke dalam kamar. Arka keluar dari kamar dan menghampiri Kay yang masih duduk sambil menonton Tv.
Arka duduk di samping Kay dan menatap wajah Kay.
"Ngapain kamu ngelihatin aku kayak gitu?"
"Kamu masih cantik seperti dulu Kay, sudah 5 tahun, tapi kamu tetap nggak berubah sama sekali, masih tetap cantik," puji Arka.
"Nggak usah merayu aku, nggak akan mempan."
"Aku nggak merayu kamu, tapi itu tulus dari hati aku. Kay beneran kamu sudah nggak mencintai aku lagi?" tanya Arka serius.
Kay terdiam sambil menatap kedua mata Arka. Kay tidak menyangka Arka akan menanyakan itu lagi.
"Kan sudah aku bilang, Ka, semua itu sudah berlalu."
"Aku nggak menanyakan hubungan kita dulu, tapi aku menanyakan soal perasaan kamu sama aku. Apa kamu masih mencintaiku?"
~oOo~
__ADS_1