
Zahra, Ardi dan Rasya, akhirnya sampai di Pekanbaru. Kini mereka tengah berdiri di depan pintu rumah Kay. Walaupun Ardi sudah melupakan semuanya dan membuka lembaran baru, tapi setiap dirinya menginjak rumah itu, kenangan-kenangan itu masih teringat jelas di pikirannya.
“Kak Ardi kenapa?” tanya Zahra saat melihat Ardi hanya diam mematung di depan pintu. Dia bahkan tidak menggerakkan salah satu tangannya untuk memencet tombol di dekat pintu itu.
“Hem...” Ardi memiringkan wajahnya menatap Zahra, “apa?” tanyanya balik.
“Kak Ardi kenapa hanya diam saja. Apa kita akan terus berdiri di depan pintu seperti ini?”
“Maaf...” Ardi lalu menggerakkan tangan kanannya untuk memencet tombol bel itu.
Terdengar suara sahutan dari dalam, dan tak berselang lama pintu itu mulai terbuka.
“Halo sayang,” ucap Ardi saat pintu itu terbuka dengan sepenuhnya.
“Ayah...” Kevin langsung memeluk Ardi dengan sangat erat, “Kevin kangen sama Ayah,” imbuhnya.
Ardi melepas pelukannya, “Ayah juga kangen sama kamu,” ucapnya.
“Kak Kevin nggak kangen sama aku?” Rasya mengerucutkan bibirnya.
“Kakak juga kangen sama kamu,” ucap Kevin lalu memeluk Rasya.
Kevin menyuruh Ardi, Zahra dan Rasya untuk masuk ke dalam rumah, dia juga mempersilahkan mereka untuk duduk. Kevin berniat untuk memanggil bunda nya dan juga oma dan opa nya.
“Kak Ardi kok nggak bilang-bilang kalau mau datang ke sini?” Kay berjalan menghampiri mereka, dia melihat ke arah Zahra, “Zahra, apa kabar?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya saat dirinya sudah berdiri tepat di depan Zahra.
Zahra menyambut uluran tangan Kay, “baik, Kak,” sahutnya.
“Arka kemana? Dan kedua orangtua kamu?” tanya Ardi.
“Arka belum pulang, kalau Ayah dan Bunda, mereka sedang tidur siang,” ucap Kay lalu mendudukkan tubuhnya tepat di depan Zahra.
Ansel berlari menuju ruang tamu, “Bunda, mau minum susu,” rengeknya.
Ardi beranjak dari duduknya, dia lalu mendekati Ansel dan menggendongnya, “halo sayang, apa kabar?” tanyanya.
“Baik, Om. Om sendiri apa kabar?” tanya Ansel balik.
__ADS_1
“Baik, sayang.” Ardi lalu menciumi kedua pipi Ansel hingga membuat anak kecil itu tertawa geli.
“Om...geli, Om...” ucapnya sambil tertawa.
“Om kangen banget sama kamu, sekarang kamu sudah tumbuh besar,” ucap Ardi lalu menurunkan Ansel.
Ansel melihat ke arah Zahra yang kini tengah menatapnya dengan senyuman di wajahnya, “tante ini siapa, Om?” tanyanya.
“Tante ini namanya Tante Zahra.” Ardi tersenyum menatap Zahra, “Tante Zahra cantikkan,” imbuhnya.
Ansel menganggukkan kepalanya, “cantik. Apa Tante Zahra ini akan menjadi tantenya Ansel?” tanyanya.
Zahra beranjak dari duduknya, dia lalu duduk berjongkok di depan anak kecil yang baru berusia enam tahun itu, “apa tante boleh jadi tantenya Ansel?” tanyanya.
“Boleh, tapi Ansel punya syarat,” ucapnya.
Ardi dan Zahra saling menatap, mereka sama-sama mengernyitkan dahinya, “syarat, kok ada syaratnya,” ucap Ardi.
“Karena Bunda selalu memberi syarat kepada Ayah jika Ayah menginginkan sesuatu,” ucap Ansel hingga membuat Kay membulatkan kedua matanya.
Ardi lalu menatap Kay, Kay menunduk malu, dia tidak menyangka Ansel akan mendengar dan mengingat semuanya saat dirinya bersama dengan Arka, “memang apa yang Bunda minta dari Ayah kamu?” tanyanya.
Zahra lalu mengusap lengan Ansel, “lalu apa syaratnya agar tante bisa jadi tante kamu?” tanyanya.
Ansel tampak tengah berfikir, “Ansel ingin mainan robot-robotan,” ucapnya.
“Zahra, jangan kamu turutin permintaan Ansel, nanti dia bisa jadi manja,” ucap Kay.
Zahra tersenyum, “Ok. Tante akan membelikan kamu mainan, tapi tante juga punya satu syarat untuk kamu,” ucapnya.
Ansel terlihat sangat senang, “Ansel akan lakukan apapun yang tante minta,” ucapnya antusias.
Zahra menepuk pipi kanannya, “cium tante di sini,” ucapnya.
Ansel menuruti permintaan Zahra, anak kecil itu mencium pipi Zahra, bukan hanya pipi kanan tapi kedua pipi Zahra.
“Sekarang cium Om juga,” ucap Ardi lalu duduk berjongkok di samping Zahra.
__ADS_1
Ansel lalu mencium kedua pipi Ardi, “apa tante dan om benar-benar akan membelikan Ansel robot-robotan?” tanyanya kemudian.
Zahra beranjak dari duduknya, dia lalu mengambil paper bag yang yang sudah dia persiapkan sebelum mereka berangkat ke Pekanbaru. Dia lalu melangkahkan kakinya mendekati Ansel, dia kembali berjongkok di depan Ansel, “Tante nggak mungkin bohong sayang, sekarang juga Tante akan memberikan apa yang Ansel mau,” ucapnya sambil memberikan paper bag itu kepada Ansel.
“Ini apa tante?” Ansel menerima paper bag itu, dia lalu melihat isi paper bag itu. Terlihat senyuman merekah di bibir mungil anak itu, “makasih tante,” ucapnya saat melihat isi paper bag itu. Sebuah robot dengan ukuran yang lumayan besar, bahkan robot itu disertai dengan remot control.
“Sama-sama sayang,” ucap Zahra sambil mengusap lengan Ansel.
“Sayang, kamu jadi minum susu nggak?” tanya Kay.
Ansel menggelengkan kepalanya, “Ansel mau main robot-robotan sama Tante Zahra,” ucapnya lalu menarik tangan Zahra dan pergi menjauh.
“Tumben Ansel mau main sama orang yang baru dia kenal,” ucap Kay heran.
Ardi berdiri, dia lalu kembali mendudukkan tubuhnya di sofa, “itu lah spesialnya Zahra, semua orang pasti menyukainya,” ucapnya.
“Kenapa Kak Ardi mengajak Zahra ke sini? Apa ada sesuatu yang penting yang ingin kakak sampaikan?” tanya Kay penasaran.
“Aku hanya ingin mengenalkan Zahra sama kalian semua, aku juga ingin Zahra dekat dengan keluarga di sini.”
Kay mengernyitkan dahinya, “maksud kakak apa?” tanyanya.
“Aku dan Zahra saat ini sedang menjalin hubungan yang serius. Aku juga sudah melamarnya, tapi aku belum menentukan kapan kami akan menikah. Aku ingin Rasya dekat dengan Zahra terlebih dahulu.”
“Aku senang mendengarnya, akhirnya Kak Ardi menemukan wanita yang mau menerima Kak Ardi apa adanya.” Kay menundukkan wajahnya, “Kak, aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan dulu. aku tau semua itu sudah berlalu, tapi sampai sekarang aku masih merasa sangat bersalah sama kakak,” imbuhnya.
“Sudahlah Kay. Aku sudah memaafkan kamu, aku juga salah dalam kandasnya pernikahan kita dulu. sekarang kamu sudah bahagia dengan Arka, aku juga akan memulai lembaran hidup aku yang baru bersama dengan Zahra,” ucap Ardi dengan senyuman di wajahnya.
“Apa Rasya mau menerima Zahra sebagai ibunya?”
Ardi menatap Rasya yang sedang asyik bermain dengan Kevin, “Zahra sedang berusaha untuk dekat dengan Rasya, dan sepertinya Rasya sudah bisa menerima kehadiran Zahra. buktinya dia mengizinkan Zahra untuk ikut kemari,” ucapnya.
“Tapi kak...” Kay menghentikan ucapannya. Apa aku harus mengatakan ini sama Kak Ardi? Tapi kalau dia tersingung bagaimana?
“Tapi apa Kay?”
Kay menghela nafas panjang, aku harus mengatakan ini, “Kak, jika kakak menikah dengan Zahra, aku nggak ingin Kevin juga menganggap Zahra sebagai ibunya,” ucapnya.
__ADS_1
“Kenapa? Bukankah Kevin juga anak aku?” tanya Ardi sambil mengernyitkan dahinya.
~oOo~