
“Apa Kak Ardi benar-benar bisa membantu ku?” Ardi menganggukkan kepalanya, “tapi Matteo sudah mengenal Kak Ardi, dia nggak mungkin percaya begitu saja kalau Kak Ardi kekasih aku. Apa kakak yakin ini akan berhasil?” tanya Zahra ragu.
“Apa kamu meremehkan aku, asal kamu mau melakukan apa yang aku suruh, aku yakin Matteo akan percaya sama kamu.”
Zahra mengernyitkan dahinya, “melakukan apa maksud kakak?” tanyanya bingung.
“Ya kamu lakukan semua ucapan aku agar Matteo tidak curiga, misal nie ya, kamu rangkul lengan aku, terus kamu bersikap manja sama aku, mungkin dengan semua hal yang kita lakuin akan membuat Matteo percaya kalau
kita benar-benar pacaran,” ucap Ardi lalu kembali memasukkan satu suapan ke mulutnya.
“Apa semua itu harus?”
“Yang namanya orang pacaran kan memang seperti itu, selalu terlihat romantis. Apa kamu belum pernah pacaran?” tanya Ardi penasaran. Bagaimana hal seperti itu gadis itu pun tidak tau, kecuali gadis itu benar-benar belum pernah sekalipun menjalin hubungan dengan lelaki manapun.
Zahra menggeleng, “aku memang belum pernah pacaran,” ucapnya.
Terlihat senyuman merekah di wajah Ardi, belum pernah pacaran, kenapa aku bisa sebahagia ini, gumamnya.
“Kenapa Kak Ardi malahan tersenyum? Kak Ardi sedang meledekku ya?” tanya Zahra sambil mengerucutkan bibirnya.
“Hah...enggak, siapa juga yang meledekmu, aku hanya terkejut aja. Di lihat dari usia kamu, kamu ini sudah dewasa, tapi kok bisa sekalipun kamu belum pernah pacaran, apa kamu sama sekali tidak tertarik dengan lelaki?” tanya Ardi penasaran.
“Bukannya aku nggak tertarik dengan lelaki, hanya saja belum ada cowok yang bisa menarik hati aku. Belum ada yang mampu membuat hati ini berdebar-debar,” ucap Zahra dengan memepiskan senyumannya.
Ardi hanya mangut-mangut sambil terus menikmati makanannya, “aku akan membuat jantungmu berdebar-debar, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku,” gumamnya dalam hati.
Zahra kini mulai menikmati makanannya yang sudah mulai dingin. Ardi bahagia bisa makan berdua dengan Zahra, terima kasih Kenzo, terima kasih, pikirnya dengan senyuman di wajahnya, pria itu terus menatap gadis di depannya.
***
“Kak Ardi ke sini naik apa?” Zahra hendak membuka pintu mobilnya.
“Aku tadi ke sini dengan berlari.”
Zahra membulatkan kedua matanya dengan sempurna, “apa! Lari!” serunya terkejut.
__ADS_1
Ardi mengangguk, “kenapa, apa kamu tidak percaya?” tanyanya.
“Kenapa kakak berlari, memangnya kakak tadi dari mana? Sekarang mobil kakak di mana, biar aku antar kakak ke sananya?” tanya Zahra merasa bersalah. Gadis itu pikir Ardi terburu-buru menemuinya hingga dia membuat pria itu melupakan mobilnya.
“Aku dari kantor, mobil aku juga ada di parkiran kantor.”
“Kantor kakak di mana? Mau aku antar?” tawarnya.
Ardi mengangguk, “biar aku saja yang mengemudi,” ucapnya.
“Baiklah.” Zahra memberikan kunci mobilnya kepada Ardi.
Mereka lalu masuk ke dalam mobil, Ardi melajukan mobilnya meninggalkan restoran. Baru beberapa meter berjalan, Ardi menghentikan laju mobilnya.
“Kenapa berhenti?” tanya Zahra bingung.
“Kita sudah sampai,” ucap Ardi lalu membuka pintu mobil.
Gadis itu membuka pintu mobil lalu keluar dari mobil, “aku kira kantor kakak jauh, tapi ternyata Cuma beberapa meter dari restoran tadi,” ucapnya.
Ardi tersenyum, pria itu lalu menarik tangan Zahra masuk ke dalam loby kantornya. Zahra terkejut saat Ardi tiba-tiba menarik tangannya, Kak Ardi mau membawa aku ke mana? Pikirnya. Semua karyawan menatap Bos nya yang
“Kak, lepas! Kakak mau membawa aku kemana?” tanya Zahra penasaran.
“Katanya kamu ingin menajdi kekasih aku,” ucap Ardi dengan senyuman di wajahnya.
“Nggak! Siapa yang mau menjadi kekasih kakak, kita kan hanya bersandiwara.”
Ardi menarik Zahra masuk ke dalam lift. Hanya ada mereka berdua di dalam lift, keheningan ada di antara mereka. Pintu lift pun terbuka, mereka berjalan keluar dari lift.
“Sekarang kamu ikut aku keruangan aku.”
“Untuk apa aku ke ruangan kakak, nggak! Aku mau pulang,” tolak Zahra.
“Katanya kamu mau bersandiwara, semua itu kan juga butuh latihan agar terlihat seperti sungguhan, apa kamu mau semua akan sia-sia karena ada kecanggungan di antara kita?”
__ADS_1
Zahra nampak tengah berfikir, dia mulai mencerna kata-kata yang Ardi ucapkan. Ada benarnya juga ucapan Kak Ardi, pikirnya. Gadis itu akhirnya menganggukkan kepalanya.
Ardi mengulurkan tangannya, Zahra nampak mengernyitkan dahinya, “apa?” tanyanya bingung.
“Kita mulai latihan dengan hal-hal kecil seperti ini, bergandengan tangan saat berjalan,” ucap pria itu dengan senyumnya yang mengembang. Gadis itu menyambut uluran tangan pria itu. Ardi membawa Zahra menuju ruangannya.
Micel yang melihat kedatangan Ardi yang tengah mengandeng tangan Zahra, mengernyitkan dahinya, “apa-apaan ini? Kenapa Ardi bisa bersama dengan gadis itu? Kenapa juga Ardi harus membawa gadis itu ke kantor?” gerutunya dalam hati. Gadis itu mengepalkan tangannya.
Ardi berhenti di depan meja Micel, “nanti kalau ada yang mencari ku, bilang aku sedang sibuk dan tidak ingin diganggu,” ucapnya. Micel hanya bisa mengangguk, dia tidak mungkin akan menentang perintah atasannya itu,
bahkan mempertanyakan apa alasan bos nya itu membawa gadis itu ke kantor.
Zahra menyapa Micel, tapi gadis itu terkesan cuek dan acuh, “kenapa sikap Kak Micel seperi itu ke aku? Apa aku ada salah sama dia?” gumamnya dalam hati.
“Ayo kita masuk,” ajak Ardi lalu menarik tangan Zahra.
Zahra nampak kagum melihat ruangan kerja Ardi yang begitu luas dan rapi, “ruangan kerja kakak bagus juga, rapi,” pujinya.
Ardi mengajak Zahra untuk duduk di sofa, “kamu tau kan apa saja yang harus di lakukan sepasang kekasih?” tanyanya.
Zahra menggelengkan kepalanya, “aku nggak tau secara mendetailnya seperti apa. Aku hanya sering melihat teman-teman aku kalau sedang berkencan, mereka akan bergandengan tangan, dan...” Zahra mengantungkan
ucapannya.
“Berciuman,” tebak Ardi dan langsung mendapat anggukkan dari gadis itu.
“Kita nggak perlu melakukan itu, karena ini hanyalah sandiwara, jadi kamu tenang saja,” ucap Ardi. Pria itu tau apa yang sedang di pikirkan gadis itu.
“Lalu apa yang harus kita lakukan agar Matteo percaya kalau kita sepasang kekasih?”
Ardi nampak tengah berfikir, dia sendiri sebenarnya juga tidak tau apa yang harus dia lakukan, “kita akan pikirkan itu nanti,” ucapnya.
Zahra mengernyitkan dahinya, “lalu untuk apa di sini?” tanyanya kesal.
“Untuk menemaniku bekerja,” ucap Ardi dengan senyuman di wajahnya.
__ADS_1
“Hah...” kedua mata gadis itu membulat dengan sempurna.
~oOo~