Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Kamu sedang apa disini?


__ADS_3

Hari-hari Ardi dan Zahra sudah kembali seperti biasanya, masa cuti yang mereka ambil sudah mereka gunakan sepenuhnya. Kini mereka mulai melakukan rutinitas yang biasanya mereka lakukan. Seperti pagi ini, setelah mengantarkan Rasya ke sekolah. Ardi lalu bergantian mengantar Zahra ke rumah sakit.


Awalnya Zahra menolak, karena jarak rumah sakit dan kantor suaminya itu berbeda arah, dan itu akan memakan waktu lama untuk pria itu menuju kantornya. Tapi Ardi tetap bersikukuh untuk mengantarkan istrinya. Zahra juga tidak ada pilihan lain selain menerima tawaran suaminya itu.


Sesampainya di rumah sakit, Ardi terlihat begitu enggan untuk melepaskan genggaman tangannya dari tangan istrinya, “apa hari ini kita bolos kerja aja?” usulnya.


Zahra menggelengkan kepalanya, “jangan aneh-aneh deh, Kak,” ucapnya.


“Tapi sayang, aku masih ingin bersama dengan kamu,” ucap Ardi sambil mengerucutkan bibirnya.


Zahra melepas genggaman tangan suaminya, “hari ini aku banyak pasien yang harus aku tangani, jadi maafin aku ya, lain kali kita pergi jalan-jalan sama Rasya,” ucapnya sambil tersenyum.


“Sayang, aku lihat akhir-akhir ini Rasya sangat dekat dengan kamu. Tapi kenapa Rasya belum mau memanggil kamu Mama, ya?” tanya Ardi penasaran.


“Nggak apa-apa kali kak, aku akan nggak akan memaksa Rasya untuk memanggil aku Mama. Aku akan tetap menunggu hingga saatnya tiba.” Zahra lalu mencium punggung tangan suaminya, “aku pergi dulu ya, Kak,” imbuhnya lalu membuka pintu mobil.


Ardi menarik tangan istrinya itu, dia lalu mengecup keningnya, “nanti aku jemput, kamu pulang jam berapa?” tanyanya.


“Seperti biasanya.”


Ardi mengangguk, “mungkin aku akan datang sedikit terlambat, tapi aku akan tetap menjemputmu, kamu mau kan menungguku?” tanyanya.


“Baiklah.” Zahra lalu keluar dari mobil itu, lalu menutup pintu mobil itu.


Zahra melambaikan tangannya saat mobil suaminya sudah mulai melaju meninggalkan halaman rumah sakit. Wanita itu lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam lobi rumah sakit. Di sana wanita itu berpapasan dengan kakak sepupunya.


“Pagi, Kak,” sapa Zahra saat melihat Samuel yang juga baru masuk ke dalam lobi rumah sakit.


“Pagi, Ra. Tumben jam segini kamu sudah datang?”


Zahra berjalan beriringan dengan Samuel, “tadi aku diantar sama suami aku, sekalian mengantar Rasya ke sekolah, jadi aku sampai sini lebih awal,” ucapnya.


“Bagaimana hubungan pernikahan kalian, lancar-lancar aja kan?”


Zahra mengangguk, “semua keluarga Kak Ardi baik sama aku, apalagi Mama mertuaku, dia sangat perhatian sama aku, Kak,” ucapnya sambil tersenyum.


Samuel mengusap puncak kepala Zahra, “syukur deh kalau begitu, akhirnya adikku yang manja ini akhirnya bahagia juga,” ucapnya.


“Memangnya kapan aku nggak bahagia?”

__ADS_1


“Apa kamu lupa, selama empat tahun ini kamu terus merengek sama aku, tentang pria yang sekarang menjadi suami kamu itu? Aku bahkan sampai bosan mendengar keluh kesah kamu itu,” aku Samuel.


Zahra menghentikan langkahnya, “jadi selama ini kakak nggak tulus mendengarkan curhatan aku.” wanita itu mengerucutkan bibirnya.


“Bukannya aku nggak tulus, tapi setiap kamu cerita selalu Ardi yang kamu bahas, kayak nggak ada yang lain. Aku kan jadi bosan mendengarkan cerita itu-itu aja,” keluh Samuel.


Zahra mendengus kesal, dia lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Samuel yang masih tampak bingung dengan tingkah sepupunya itu, “apa dia lagi PMS ya, kenapa tiba-tiba marah kayak gitu?” tanya Samuel bingung. Pria itu pun akhirnya mengejar sepupunya itu.


***


Printer berbunyi nyaring meramaikan suasana pagi yang sepi di kantor. Secarik kertas HVS ukuran F4 keluar perlahan dari dalam mesin itu. Radika baru saja saja print out laporan stock periode on hand dari sistem. Dia memegang tanggung jawab untuk mengurus stok gudang dan ATK. Laporan hasil print out itu lalu diambilnya dan dia segera pergi ke gudang.


Radika ingin memberikan laporan yang dia bawa kepada asisten managernya, “tumben jam segini Pak Salim belum datang?” pria itu akhirnya keluar dari gudang itu.


Saat dia ingin menuju ke ruangannya, dia berpapasan dengan Revan, asisten pribadi Ardi. Revan dan Radika adalah teman seperjuangan saat melamar di perusahaan Ardi. Tapi nasib Revan lebih beruntung, karena dia diangkat menjadi asisten pribadi Ardi.


“Van, apa aku boleh minta tolong sama kamu?”


“Kamu mau minta tolong apa?”


Radika memberikan hasil laporan yang baru dia print out tadi, “tolong berikan ini sama Pak Salim, jika nanti kamu bertemu dengannya,” ucapnya.


Pria itu lalu melangkahkan kakinya meninggalkan sahabatnya itu. Dia kini tengah menuju ruang Ardi. Revan mengangkat tangan kanannya untuk mengetuk pintu atasannya itu sebanyak tiga kali ketukan. Setelah mendengar sahutan dari dalam ruangan itu, pria itu lalu membuka pintu itu dan masuk ke dalam ruangan atasannya itu.


“Ada yang bisa saya bantu, Bos?” tanyanya sambil melangkah menuju meja kerja Ardi.


“Aku hanya ingin tau, apa kerja sama kita dengan PT Angkasa berjalan lancar?” tanya Ardi sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang.


Revan menganggukkan kepalanya, “semuanya lancar, Bos,” ucapnya.


Ardi lalu membicarakan tentang kerjasama itu dengan asisten pribadinya itu, percakapan itu berlangsung cukup lama. Hingga kembali terdengar ketukan di pintu, “masuk,” sahut Ardi.


Seorang gadis membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Ardi, “maaf, Pak. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda,” ucapnya.


“Siapa?” tanya Ardi penasaran, karena dia merasa tidak mempunyai janji dengan siapapun selain asisten pribadinya itu.


“Katanya tadi namanya Nona Monic,” ucap gadis itu yang tak lain adalah sekretaris Ardi.


Ardi membulatkan kedua matanya, “apa kamu nggak salah mendengar namanya? Apa dia benar-benar bernama Monic?” tanyanya memastikan.

__ADS_1


Gadis itu menganggukkan kepalanya. Wanita yang sejak tadi menunggu di luar ruangan itu sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam ruangan itu. Dia lalu masuk ke dalam ruangan itu sebelum di suruh oleh Ardi maupun gadis itu.


“Hai, Ar. Lama kita nggak bertemu, kamu apa kabar?” tanya wanita itu.


“Monic!” Ardi terlihat begitu terkejut saat melihat mantan istri keduanya mendatangi kantornya, “kamu sedang apa disini?” tanyanya kemudian. Pria itu lalu menyuruh sekretaris dan asisten pribadinya untuk keluar dari ruangannya.


“Kenapa kamu datang ke sini tanpa memberi kabar dulu sama aku?” Ardi lalu berjalan menuju meja kerjanya, dia lalu mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya.


Monic mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi yang berada di depan meja kerja Ardi, “ponsel aku hilang saat di bandara, jadi aku nggak bisa menghubungi kamu. Sudah 7 tahun kita nggak bertemu, tapi wajah kamu masih tetap tampan seperti dulu,” pujinya.


“Nggak usah berbasa-basi, untuk apa kamu datang ke sini?” tanya Ardi saat dirinya tidak suka mendengar pujian untuk dirinya keluar dari mulut Monic.


“Aku kangen sama anak aku, aku ingin bertemu dengannya. Rasya pasti juga sangat merindukan aku,” ucap Monic sambil tersenyum.


“Jangan pernah mengusik anak aku, dia sudah melupakan semua yang telah kamu perbuat padanya. Jika kamu menemuinya, apa itu nggak akan membuat Rasya kembali teringat dengan kenang-kenangan buruknya itu?” Ardi hanya tidak ingin anaknya kembali teringat dengan trauma masa kecilnya, meskipun itu hanya kecil kemungkinannya untuk Rasya kembali mengingat masa kecil dulu.


“Rasya pasti sudah melupakan semua itu, lagian itu kan terjadi saat Rasya masih sangat kecil. Jadi Rasya pasti mau menerima kehadiran aku lagi.” Monic lalu beranjak dari duduknya, “aku datang ke sini hanya untuk memberi tahu kamu itu, agar kamu nggak terkejut saat melihat aku ada di rumah kamu,” imbuhnya.


“Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan benar-benar datang ke rumah aku?”


Monic menganggukkan kepalanya, “hari ini juga aku akan menemui anak aku,” ucapnya.


“Tapi Rasya pasti belum pulang sekolah, jadi kamu jangan pernah datang ke rumah aku tanpa seizin dari aku!” seru Ardi.


“Kenapa, bukankah itu dulunya juga rumah aku?” Monic menepiskan senyumannya, dia lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


Apa yang harus aku lakukan? Jika Zahra bertemu dengan Monic nanti, apa yang akan terjadi? Apa Zahra akan menerima kehadiran Monic di rumah itu? Lalu Rasya, apa dia juga mau menemui ibunya?


Ardi terlihat tengah mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Baru satu bulan dia menikmati kebahagiaan bersama dengan Zahra, tapi kenapa sekarang Monic kembali muncul ke dalam kehidupannya? Lalu apa yang harus dia lakukan nantinya?


~oOo~


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2