Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus Chapter 32


__ADS_3

Zahra mengambil nafas lalu membuangnya secara perlahan, aku berharap ini adalah keputusan yang benar, “Pa, Ma. Semua yang di katakan Kak Ardi benar, kita memang menjalin hubungan,” ucapnya dengan senyuman di


wajahnya.


Pernyataan yang Zahra ucapkan sungguh membuat Ardi, Matteo dan kedua orangtuanya mengerjap tidak percaya. Apa lagi bagi Matteo, hatinya seperti tertusuk benda tajam yang sangat menyayat hatinya.


“Sayang, kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?” tanya mama Zahra terkejut.


Zahra mengangguk, “Zahra mohon, Papa dan Mama mau merestui hubungan kami,” ucapnya sambil menatap Ardi yang seketika membulatkan kedua matanya.


“Kalau Mama sih setuju aja, tapi ini bukanlah hal yang bisa kamu buat untuk main-main sayang. Jarak umur kalian itu...” Mama Zahra mengantungkan ucapannya.


“Zahra tau, Ma. Tapi bukannya itu malah baik untuk Zahra, karena Kak Ardi bisa menjaga dan mengajari Zahra tentang arti kehidupan. Kak Ardi memang lebih tua dari Zahra, tapi selain menjadi kekasih Zahra, Kak Ardi bisa


menjadi kakak, Om, bahkan orang tua untuk Zahra. Zahra percaya dengan keputusan yang Zahra ambil akan merubah kehidupan Zahra menjadi lebih baik,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.


“Zahra, apa yang kamu katakan, ini bukan keinginan kamu kan? Ini pasti karena kamu di paksa oleh pria ini kan?” tanya Matteo dengan rasa penuh kekecewaan.


Zahra menggelengkan kepalanya, “Kak Ardi sama sekali tidak pernah memaksa aku. Aku lah yang menyukai Kak Ardi lebih dulu, dia adalah pria dewasa yang berhati hangat yang pernah aku kenal,” ucapnya.


Papa Zahra memijit pelipisnya yang terasa pening, dia tidak menyangka putrinya akan jatuh cinta dengan pria yang bahkan umurnya sama seperti om nya sendiri. Tapi pria itu tau, jika putrinya bukanlah gadis yang gegabah dalam mengambil keputusan. Dia yakin putrinya sudah memikirkannya dengan matang.


“Pa...” panggil mama Zahra sambil mengusap lengan suaminya.


Papa Zahra hanya menepiskan senyuman, “Papa akan memberikan Ardi waktu untuk membuktikan ketulusannya. Papa nggak mungkin menyerahkan putri Papa satu-satunya kesembarang pria,” ucapnya.


“Pa!” pekik Zahra.


“Ini sudah keputusan Papa.”


“Tapi ini hanyalah hubungan pacaran, Pa. Zahra bukan mau menikah!” serunya.


“Apa kamu ingin main-main dengan sebuah hubungan?” tanya papa Zahra kecewa dengan pemikiran putrinya.


“Zahra hanya ingin...Zahra dan Kak Ardi...” Zahra bahkan tidak sanggup meneruskan ucapannya.


“Baiklah, Om. Saya akan membuktikan ketulusan saya kepada Zahra,” ucap Ardi.

__ADS_1


“Kak! Apa yang Kak Ardi lakukan?” tanya Zahra terkejut dengan keputusan pria itu.


Zahra beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar, dia tidak menyangka semuanya akan menjadi serumit ini. Kenapa papanya harus mengatakan semua itu, padahal ini hanyalah hubungan sementara yang tidak


akan berlanjut ke pernikahan.


Ardi beranjak dari duduknya, dia lalu berpamitan kepada kedua orang tua Zahra. Setelah itu pria itu berlari mengejar gadis itu.


“Zahra tunggu!” teriak Ardi sambil menarik tangan Zahra.


“Apa Kak Ardi puas!”


“Maafkan aku, aku pikir dengan aku mengatakan semua itu Matteo akan menyerah.”


“Jika Matteo sudah menyerah, apa masalah akan selesai? Nggak, Kak. Tapi akan timbul masalah baru lagi, kedua orang tua aku! Apa yang akan aku katakan nanti jika hubungan palsu ini berakhir, apa!” kini kedua sudut mata


Zahra sudah di penuhi air mata.


“Aku akan bertanggungjawab.” Ardi menggenggam kedua tangan Zahra, “jika kamu nggak ingin hubungan palsu ini berakhir maka aku nggak akan mengakhirinya,” imbuhnya.


mobil.


Ardi meraup wajahnya dengan kasar, dia tidak menyangka keputusan yang dia ambil akan membuat gadis itu begitu marah. Tapi Ardi tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan gadis itu, segala cara akan dia lakukan.


***


“Untuk apa kamu datang ke kantor aku, bukannya kamu mau mendaftar kuliah lagi?”


Zahra menarik salah satu kursi di depan meja kerja Kenzo lalu dia duduki, “aku sedang kesal, semua ini karena teman kakak itu,” keluhnya.


“Teman! Maksud kamu Ardi?” Zahra menganggukkan kepalanya, “memangnya apa yang di lakukan Ardi?” tanya Kenzo bingung.


“Dia mengatakan semuanya di depan Matteo, Mama dan Papa.”


“Aku nggak paham maksud kamu apa, mengatakan soal apa?”


“Kak Ardi menjalankan rencana sandiwara kita tanpa memberi tahu aku terlebih dahulu. Dia juga bilang kalau kami menjalin hubungan di depan Mama dan Papa. Apa itu nggak gila namanya?”

__ADS_1


Kenzo malah tertawa mendengar penjelasan Zahra, dan tentu itu membuat gadis itu semakin kesal.


Ardi memang sudah mulai gila, pikirnya. “Bukannya itu malah lebih baik,” ucapnya sambil menahan tawanya agar tidak semakin membuat sepupunya mengerucutkan bibirnya.


“Baik dari mananya coba, semakin tambah ruyam baru iya,” ucap Zahra kesal.


Terdengar pintu terbuka. Kenzo tau siapa yang datang, karena hanya pria ini yang masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. “itu orangnya datang, lebih baik kalian selesaikan urusan kalian. Aku nggak


mau ikut campur.” Kenzo lalu beranjak dari duduknya, “aku tinggal makan siang dulu. Jangan sekali-kali kalian membuat ruangan aku ini berantakan,” imbuhnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.


Ardi melangkahkan kakinya mendekati Zahra, “maafkan aku,” ucapnya.


“Dari mana Kak Ardi tau kalau aku ke sini? Apa Kak Ardi mengikutiku?”


Ardi menggelengkan kepalanya, “aku hanya menebak aja, dan ternyata kamu memang di sini,” ucapnya. Ardi mengajak Zahra untuk duduk di sofa, dia ingin berbicara serius dengan gadis itu.


“Apa kamu marah dengan keputusan yang aku ambil?”


“Sudah tau masih nanya, kenapa Kak Ardi tidak membicarakan itu sama aku dulu?”


“Karena situasinya mendesak, dan hanya itu yang aku pikirkan saat itu.”


“Apa Kak Ardi nggak menyadari jika yang kakak katakan tadi seakan kakak sedang melamar aku di depan kedua orang tua aku?” tanya Zahra dengan tatapan serius.


“Aku memang ingin malamar kamu, apa kamu menerima lamaran aku?” Ardi menopang dagunya dengan tangan kanannya, dia tatap wajah gadis itu yang kini tengah membulatkan kedua matanya.


“Aku nggak sedang bercanda ya, Kak. Bercanda kakak ini nggak lucu, dan aku nggak suka itu!”


Ardi menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, “aku memang nggak pandai dalam menyatakan cinta, kata-kata tadi muncul begitu saja,” ucapnya.


“Aku nggak percaya, bukannya Kak Ardi pernah menikah, pasti Kak Ardi sudah mahir dalam hal seperti itu. Kata-kata gombal yang Kak Ardi ucapkan saat masih berpacaran dengan Kak Kay.”


Ardi tersenyum kecil, mendengar kata pacaran dan itu pun menyebut nama wanita yang sangat dia cintai yang keluar dari mulut Zahra seakan kembali membuka luka lamanya. Pacaran, kata-kata gombal, apa aku pernah


mengatakan semua itu saat bersama dengan Kay? Pikirnya.


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2