Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus Chapter 16


__ADS_3

Seperti hari-hari biasanya, Kenzo selalu meluangkan waktunya untuk pergi ke kantor Ardi. Tapi pria itu ke sana bukan untuk menemui sahabatnya melainkan gadis yang sangat di sukainya. Micel mendengus kesal saat melihat Kenzo yang tengah berjalan ke arahnya.


“Ciang Micel cayang,” sapa Kenzo dengan nada di buat-buat, tapi itu membuat gadis yang berada di depannya serasa ingin muntah. Micel sudah tidak tau lagi bagaimana caranya memberi tahu pria di depannya itu agar tidak lagi mengganggunya.


“Kenapa kamu datang ke sini lagi? Jika kamu ingin bertemu dengan Ardi, dia ada di ruangannya.” Micel bahkan tidak menatap wajah Kenzo.


Bukan Kenzo namanya kalau dia begitu saja langsung menyerah. Kenzo adalah tipikal pria yang suka memaksa, dia juga tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang dia mau. Kenzo memang suka gonta ganti pasangan, itu juga yang membuat Micel enggan untuk membuka hatinya untuk Kenzo.


“Aku ke sini bukan untuk menemui Ardi, tapi aku ke sini untuk mengajak kamu makan siang. Aku harap kali ini kamu tidak akan menolaknya,” pinta Kenzo.


“Maaf, aku tidak mempunyai selera makan,” tolak Micel.


“Kenapa? Apa kamu sakit?” tanya pria itu dengan cemas, pria itu lalu menyentuh kening Micel, reflek Micel menepis tangan Kenzo.


“Maaf, aku hanya khawatir, aku takutnya kamu demam,” ucap Kenzo sambil menepiskan senyumannya.


Micel menatap lekat kedua mata Kenzo, “kenapa yang sangat perhatian sama aku malahan Kenzo, bukannya Ardi. Aku sudah menyatakan cinta aku, tapi sampai sekarang sikapnya sama saja. Dia bahkan tidak seperhatian Kenzo seperti saat ini,” gumamnya dalam hati.


Ardi keluar dari ruangannya untuk makan siang, entah mengapa hari ini cacing di dalam perutnya sudah meronta-ronta. Pria itu menggelengkan kepalanya saat melihat sahabatnya masih saja datang ke kantornya untuk menggoda sekrestarisnya. Ardi melangkahkan kakinya mendekati sahabat-sahabatnya, “masih gencar aja ni,” ledeknya.


“Aku nggak akan menyerah sebelum bisa mendapatkan hatinya,” ucap Kenzo sambil menatap gadis di depannya.


“Mau makan siang bareng, entah mengapa siang ini aku merasa sangat lapar,” ajak Ardi.


Micel tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, dia lalu beranjak dari duduknya. Kenzo mengernyitkan dahinya, “katanya tadi kamu tidak lapar,” ucapnya.


“Kalian selesaikan saja urusan kalian, aku pergi dulu,” ucap Ardi lalu melangkah meninggalkan Kenzo dan Micel.


“Ayo kita makan bertiga, lebih asyik,” ucap Micel lalu berjalan menyusul Ardi.

__ADS_1


“Tunggu aku!” seru Kenzo sambil berlari mengejar kedua sahabatnya yang sudah jauh di depan.


***


“Kalian mau makan apa, biar aku yang traktir,” ucap Kenzo sambil membaca buku menu yang berada di tangannya, sesekali dia melirik ke arah Micel yang kini juga tengah sibuk dengan buku menu di tangannya.


“Aku pesan nasi goreng spesial dan juga es lemon tea,” ucap Ardi.


“Aku juga sama kayak Ardi saja,” ucap Micel.


“Ok...kita pesan itu saja.” Kenzo lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman.


“Maaf, Ken. Aku nggak bermaksud untuk mengganggu kencan kamu,” ucap Ardi saat melihat wajah sahabatnya itu di tekuk, bahkan sudah mau menyerupai kertas buram yang sudah di remas hingga tak berbentuk lagi.


“Kalau nggak ada kamu mungkin Micel nggak mau makan siang sama aku,” ucap Kenzo sambil mengerucutkan bibirnya. Pria itu menatap Micel yang kini tengah menatap sahabatnya yang duduk di depannya.


“Udahlah, lagian ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan juga sama kamu,” ucap Kenzo.


“Soal apa?” tanya Ardi penasaran. Tidak mungkin ini menyangkut soal pekerjaan, karena soal kerja sama mereka sudah beres.


“Ini soal Zahra,” ucap Kenzo yang sontak membuat Micel mengernyitkan dahi dan menajamkan pendengarannya, gadis itu tidak ingin tertinggal satu informasi apa pun itu tentang Zahra yang sudah Micel anggap sebagai saingannya untuk mendapatkan cinta Ardi.


“Kenapa kamu mau berbicara soal Zahra sama aku?” tanya Ardi bingung.


“Aku ingin meminta pendapat kamu,” tanya Kenzo dengan nada serius.


“Tentang apa?” Ardi mengernyitkan dahinya.


“Kamu tau kan kalau Zahra itu anak tunggal, dia memutuskan untuk kuliah ke Jepang dan mengambil kejurusan kedokteran itu karena dia bosan berada di rumah yang sama sekali tidak ada orang yang memperhatikannya.” Kenzo menjeda ucapannya.

__ADS_1


“Terus kamu mau minta pendapat apa dari aku?” tanya Ardi yang masih terlihat bingung dengan maksud sahabatnya itu.


“Mengambil kuliah jurusan kedokteran itu nggak seperti kita mengambil jurusan ekonomi atau yang lain, yang hanya membutuhkan waktu 4 tahun atau bahkan kurang. Tapi jurusan kedokteran itu kita harus kuliah minimal 6 tahun untuk benar-benar menjadi seorang dokter. Setelah lulus S1 itu baru mendapat gelar sarjana kedokteran, belum menjadi dokter. Itu pun jika kita benar-benaar serius belajar, jika tidak bisa lebih dari itu,” jelas Kenzo, tapi itu tidak membuat Ardi bisa cepat menangkap maksud sahabatnya itu.


“Langsung pada intinya saja, aku nggak mau berbelit-belit. Kamu mau minta pendapat apa dari aku soal Zahra?” tanya Ardi untuk kesekian kalinya.


“Kedua orang tua Zahra ingin meminta Zahra kembali tinggal di Jogja, dia ingin Zahra kuliah di Jogja, padahal Zahra sudah satu tahun kuliah di Jepang. Jika Zahra kembali ke Jogja, dia akan mengulang kembali semua dari awal. Aku mau tanya pendapat kamu, apa yang harus Zahra lakukan? Apa dia harus menyerah dan kembali ke Jogja, padahal dia sudah suka tinggal di sana, dia tidak merasa kesepian seperti di sini,” jelas Kenzo.


“Aku nggak tau harus jawab apa, karena semua itu terserah sama Zahranya. Jika dia sayang sama kedua orangtuanya, dia akan kembali ke Jogja untuk menemani kedua orangtuanya, tapi jika dia lebih mementingkan dirinya sendiri, aku juga nggak tau. Kenapa kamu minta pendapat aku, kenapa tidak langsung kamu tanyakan kepada Zahra apa yang dia inginkan,” ucap Ardi.


Pelayan datang menghampiri meja mereka untuk mengantarkan makanan dan minuman yang mereka pesan.


“Kita lanjut nanti, aku mau makan dulu, perut aku lapar,” ucap Ardi lalu mulai menyatap nasi goreng spesial yang dia pesan.


“Kalau menurut aku sih, lebih baik Zahra meneruskan kuliahnya, bukannya menjadi dokter itu adalah impiannya,” ucap Micel. Tapi maksud gadis itu memberikan pendapat itu hanya semata-mata agar Zahra tidak kembali ke Jogja. Dia takut kembalinya Zahra akan membuat Ardi kembali dekat dengan gadis itu.


“Tapi...jika Zahra mengambil keputusan itu, berarti dia egois. Impian dia tetap akan tercapai, dia bisa tetap kuliah kedokteran di sini. Lagian dia kan baru satu tahun kuliah di sana, dan dia bisa memulai lagi dari awal di sini. Zahra juga masih muda, dia masih bisa mengejar impiannya,” ucap Ardi sambil menikmati makanannya.


Micel mengernyitkan dahinya, gadis itu begitu penasaran, kenapa dari tadi Ardi memberikan pendapat agar Zahra kembali ke Jogja, “kenapa kamu sepertinya seakan-akan mengharapkan Zahra kembali lagi ke Jogja, apa diam-diam kamu sangat merindukan gadis itu?” tanyanya penasaran.


~oOo~


ZAHRA



ARDI


__ADS_1


__ADS_2