Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Kado terindah


__ADS_3

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Zahra kembali ke dalam ruang kerjanya. Tubuhnya merasa sangat lelah, apalagi tadi dia baru saja menangani korban kecelakaan yang lukanya bahkan tidak bisa Zahra bayangkan.


“Kasian ibu tadi, untung dia langsung dibawa ke rumah sakit, kalau nggak...” Zahra menggelengkan kepalanya, “aku bahkan tidak sanggup untuk membayangkannya.”


Terdengar suara ketukan di pintu, “masuk,” sahut Zahra dari dalam ruangannya.


Pintu itu dengan perlahan mulai terbuka, “halo sayang.” Ardi dan Rasya masuk ke dalam ruangan Zahra.


“Kak Ardi, Rasya!” Zahra terlihat sangat terkejut saat melihat orang-orang yang dia sayangi datang mengunjunginya, “tumben kakak datang ke sini, bersama Rasya lagi,” ucapnya sambil beranjak dari duduknya. Dia lalu berjalan menghampiri suami dan juga Rasya.


“Aku kesini hanya ingin mengantar Rasya, katanya ada yang ingin dia katakan,” ucap Ardi sambil mengusap puncak kepala Rasya.


Zahra berjongkok di depan Rasya, “tumben kamu ingin bertemu dengan tante, apa ada sesuatu yang terjadi?” tanyanya.


Rasya menggelengkan kepalanya, “Rasya hanya ingin mengucapkan terima kasih sama tante, makasih untuk hadiah ulang tahunnya,” ucapnya.


Zahra memeluk Rasya, “selamat ulang tahun ya sayang, maaf tante baru bisa mengucapkan selamat untuk kamu. Apa kamu suka dengan hadiah yang tante berikan?” tanyanya sambil melepaskan pelukannya.


“Suka tante,” ucap Rasya sambil tersenyum.


“Sayang, apa pekerjaan kamu sudah selesai? Kalau sudah bagaimana kalau kita pergi makan malam bersama,” usul Ardi.


Zahra tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, “tapi tunggu sebentar ya, Kak. Aku masih ada satu pasien yang harus aku periksa,” ucapnya lalu beranjak berdiri.


“Baiklah, aku dan Rasya akan menunggu di sini saja,” ucap Ardi.


Zahra lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya. Ardi mengajak Rasya untuk duduk di sofa.


“Sayang, boleh Papa tanya sesuatu sama kamu?” Rasya menganggukkan kepalanya, “sayang, apa kamu sayang sama tante Zahra?” tanyanya.


“Rasya sayang sama tante Zahra, tante selama ini sangat baik sama Rasya.”


“Lalu kenapa sampai sekarang kamu belum memanggil tante Zahra dengan panggilan Mama?”


Rasya terdiam, dia lalu menundukkan wajahnya, “Pa, apa tante Zahra akan menjadi ibu tiri yang kejam?” tanyanya pelan.


Ardi mengernyitkan dahinya, “kenapa kamu menanyakan itu sayang?” tanyanya terkejut.


“Kata Mama, ibu tiri itu kejam. Rasya takut jika nanti tante Zahra akan menjadi ibu tiri yang kejam.”


Ardi membulatkan kedua matanya, ‘Monic! Apa yang sudah kamu katakan sama anak aku? apa kamu sudah meracuni pikiran anak aku? apa motif kamu melakukan itu?’


“Sayang, nggak semua ibu tiri itu kejam. Buktinya selama ini tante Zahra baik sama kamu.” Ardi lalu menggenggam tangan Rasya, “tante Zahra akan menjadi ibu yang baik untuk kamu sayang, tante Zahra juga nggak akan menjadi ibu tiri yang kejam,” bujuknya.


“Tapi Rasya takut, Pa. Mama bilang tante Zahra hanya sayang sama Papa, tante Zahra mendekati Rasya hanya untuk bisa mendapatkan Papa, Tante Zahra ingin memisahkan Rasya dari Papa.”


Ardi menggelengkan kepalanya, “itu semua bohong sayang. Tante Zahra baik sama kamu karena dia sayang sama kamu. Kan dulu Papa pernah bilang sama kamu, Papa akan menuruti apapun keputusan kamu, jika kamu nggak mengizinkan Papa untuk menikah dengan Tante Zahra, maka Papa nggak akan menikah dengannya. Tapi kamu mau menerima tante Zahra dan mengizinkan Papa untuk menikah denganya,” ucapnya.


“Apa Mama membenci Tante Zahra?”


Ardi menggelengkan kepalanya, “mungkin Mama hanya sedang ada masalah sayang, makanya Mama bersikap seperti itu,” ucapnya. Pria itu tidak ingin anaknya membenci ibunya, tapi dia juga tidak akan membiarkan Monic untuk meracuni pikiran Rasya.


“Sekarang Papa mau tanya sama kamu, apa yang Rasya rasakan saat bersama dengan Tante Zahra? apa Tante Zahra pernah berbuat jahat sama kamu?” Rasya menggelengkan kepalanya, “apa Tante Zahra pernah mengganggu Rasya saat Rasya sedang bersama dengan Papa? Rasya kembali menggelengkan kepalanya, “itu berarti Tante Zahra nggak berniat untuk merebut Papa dari kamu, Tante Zahra juga nggak berniat untuk memisahkan Rasya dari Papa,” ucapnya.


“Jadi selama ini Mama sudah membohongi Rasya.”

__ADS_1


Ardi memeluk Rasya, “mulai sekarang Rasya harus mendengarkan apa kata hati Rasya, jangan memperdulikan omongan orang lain, karena hanya Rasya yang bisa menilai, Tante Zahra itu baik atau jahat,” ucapnya.


Rasya mengangguk mengerti, “baik, Pa. Rasya akan mengingat apa yang Papa katakan,” ucapnya.


Zahra yang sudah menyelesaikan semua pekerjaannya pun kembali ke dalam ruangannya. Zahra mengernyitkan dahinya saat melihat Ardi dan Rasya saling berpelukan.


“Apa tante manganggu nie?” Zahra melangkahkan kakinya mendekat.


Ardi tersenyum sambil mengusap puncak kepala Rasya, “kamu sudah selesai sayang?” tanyanya.


Zahra menganggukkan kepalanya, “kita mau makan malam di mana, Kak?” tanyanya. Wanita itu lalu melepas jas putih yang dia pakai lalu dia letakkan di gantungan baju yang tersedia di belakang kursi kerjanya. Dia lalu mengambil tas dan dia kalungkan di pergelangan tangannya.


“Ayo,” ajaknya.


Ardi mengangguk, dia lalu beranjak dari duduknya, “ayo sayang,” ajaknya sambil menggandeng tangan Rasya. Mereka lalu keluar dari ruangan itu.


Samuel yang juga sudah menyelesaikan pekerjaannya tidak sengaja berpapasan dengan mereka bertiga saat berada ingin kembali ke ruangannya, “kalian mau kemana nie?” tanyanya.


“Kami mau makan malam, Kak. Apa kakak sudah selesai bekerja?” tanya zahra.


“Iya, tapi aku masih ada urusan penting,” ucap Samuel.


“Kalau begitu aku duluan ya, Kak,” ucap Zahra dan mendapatkan anggukkan kepala dari Samuel.


Ardi menepuk bahu Samuel, “jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan kamu, pikirkan juga kehidupan pribadi kamu, nanti kamu jadi perjaka tua lagi,” ledeknya.


“Kak!” pekik Zahra dengan sorot mata yang tajam.


Samuel menurunkan tangan Ardi dari pundaknya, “lebih baik jadi perjaka tua, daripada terburu menikah dan akhirnya kandas di tengah perjalanan,” ledeknya balik.


Samuel tau jika Ardi hanya bercanda dengannya, tapi Zahra tidak tau itu, “iya-iya, aku pergi, lagian aku juga malas menanggapi suami kamu ini,” sindirnya.


“Mau aku kenalin sama teman wanita Kenzo nggak? Nggak apa-apa kan dapat bekas kakak tiri kamu,” ledek Ardi sambil tersenyum.


“Aku nggak butuh!” Samuel lalu melangkahkan kakinya menjauh.


Zahra mendengus kesal, dia lalu menarik tangan Rasya dan buru-buru keluar menuju lobby. Ardi tersenyum melihat tingkah istrinya itu, sungguh menggemaskan, sudah nggak sabar aku ingin melahapnya malam ini, pikirnya.


***


 


Sesampainya di restoran mereka lalu memesan makanan dan minuman. Zahra terus mendiamkan suaminya, dia hanya mengajak Rasya bicara dan bersikap cuek dengan Ardi.


“Kenapa kamu marah sama aku?” Ardi mencemberutkan bibirnya.


Zahra hanya diam, dia tidak menggubris pertanyaan Ardi.


“Sayang, tolong bilangin sama tante Zahra, kalau Papa minta maaf.” Akhirnya Ardi meminta tolong anaknya untuk menyampaikan permintaan maafnya.


“Tante, tolong maafin Papa, ya,” pinta Rasya.


“Sayang, bilangin sama Papa kamu, Tante nggak akan memaafkannya,” pinta Zahra.


Ardi menampakkan wajah memelasnya, ‘bisa berabe kalau Zahra sampai ngambek, bisa-bisa nanti malam aku nggak dapat jatah lagi.’ “sayang, tolong bilangin sama Mama kamu, Papa benar-benar menyesal,” pintanya.

__ADS_1


“Ma, Papa sangat menyesal, apa Mama nggak bisa memaafkan Papa?” Rasya tidak menyadari jika saat ini dirinya sudah memanggil Zahra dengan panggilan Mama.


Zahra dan Ardi saling menatap, mereka membulatkan kedua mata mereka.


“Sayang, coba ulangi kata-kata kamu tadi,” pinta Zahra sambil menajamkan pendengarannya. Dia ingin memastikan jika dia tidak salah dengar.


“Papa sangat menyesal, Ma. Apa Mama nggak bisa memaafkan Papa?”


Zahra tersenyum haru, meskipun Rasya mengatakan itu tanpa dia sadari, tapi bagi Zahra itu sudah lebih dari cukup. Kedua sudut mata Zahra pun mulai mengeluarkan cairan bening.


“Kenapa Mama malah menangis? Apa Rasya sudah melakukan kesalahan? Jika Mama nggak ingin memaafkan Papa juga nggak apa-apa kok, tapi Mama jangan menangis, Rasya kan jadi ikutan sedih,” ucap Rasya sambil menghapus air mata yang keluar dari kedua sudut mata Zahra.


“Ini air mata kebahagiaan sayang, tante sangat bahagia, akhirnya Rasya mau memanggil tante dengan sebutan Mama,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.


“Apa tante nggak suka saat Rasya memanggil tante dengan panggilan Mama?” tanya Rasya sambil menundukkan wajahnya.


Zahra memeluk Rasya, “justru tante merasa sangat senang sayang, sudah sejak lama tante menunggu momen-momen ini, akhirnya hari ini tiba,” ucapnya.


“Maafin Rasya ya, Ma. Baru sekarang Rasya bisa memanggil Mama,” ucap Rasya sambil memeluk Zahra dengan sangat erat.


Ardi yang melihat adegan di depan matanya pun ikut terharu, anaknya akhirnya mau menerima Zahra sebagai ibu sambungnya.


“Kok Papa nggak diajak berpelukan?” Ardi lalu memeluk Rasya dan juga Zahra, “akhirnya keluarga kita sekarang sudah lengkap,” ucapnya.


“Makasih ya, Kak. karena kakak sudah membujuk Rasya untuk memanggil aku Mama,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.


“Aku sama sekali nggak membujuk Rasya sayang, aku hanya bilang sama Rasya untuk mengikuti apa kata hatinya, karena kata hatinya nggak akan membohonginya,” ucap Ardi sambil mengusap puncak kepala Rasya.


“Makasih ya sayang, Mama janji akan menjadi Mama yang baik untuk Rasya,” ucap Zahra sambil mengusap lembut pipi Rasya.


Anak kecil itu pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis. Tak berselang lama makanan yang mereka pesan datang, pelayan menata makanan itu ke atas meja. Dan di belakang pelayan itu ada satu pelayan lagi yang sedang berjalan ke arah meja mereka sambil mendorong kue tart ukuran besar.


“Apa kamu suka dengan kejutannya sayang?” tanya Zahra sambil menatap ke arah Rasya.


Rasya menganggukkan kepalanya, “terima kasih ya, Ma,” ucapnya sambil tersenyum senang.


Pelayan itu pun mulai menyalakan lilin di kue tart itu. Ardi dan Zahra mulai menyanyikan lagu ulang tahun sambil bertepuk tangan. Setelah itu mereka menyuruh Rasya untuk meniup lilin itu.


“Selamat ulang tahun ya sayang, semoga kamu menjadi anak yang pintar dan sayang sama Papa dan Mama,” ucap Ardi. Zahra juga mengucapkan selamat ulang tahun kepada Rasya untuk kedua kalinya, dia lalu mengambil sesuatu dari dalam tas nya dan memberikan itu kepada Rasya.


“Ini untuk Rasya, Ma?” tanya Rasya sebelum mengambil kotak berbentuk persegi panjang itu.


Zahra menganggukkan kepalanya, “ini untuk kamu sayang, ini dari Mama dan Papa,” ucapnya.


Rasya mengambil kotak itu, “makasih ya, Ma, Pa. Rasya sayang sama Mama dan Papa,” ucapnya sambil mencium pipi papa dan juga mamanya.


“Rasya mendapatkan kado terindah di ulang tahun Rasya kali ini,” ucap Rasya sambil tersenyum.


“Apa itu sayang?” tanya Zahra penasaran.


“Mama, Mama adalah kado terindah yang Rasya dapatkan di ulang tahun Rasya kali ini,” ucap Rasya sambil tersenyum.


Zahra memeluk Rasya dengan sangat erat, “Mama sayang banget sama Rasya, terima kasih karena Rasya mau menerima tante sebagai Mama Rasya,” ucapnya.


“Akhirnya keluarga aku sudah kembali lengkap, makasih sayang, makasih kamu sudah melengkapi keluarga kecil aku.” Ardi menggenggam tangan Zahra lalu mengecupnya. Zahra hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang merekah dari kedua sudut bibirnya.

__ADS_1


~oOo~


__ADS_2