Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Dokter juga manusia


__ADS_3

Zahra dan Samuel kini tengah berada di kantin rumah sakit, mereka baru saja selesai memeriksa pasien-pasiennya. Zahra akhir-akhir ini sering merasa kelelahan, wajahnya pun terlihat sangat pucat.


“Ra, apa kamu yakin kamu nggak apa-apa? wajah kamu pucat gitu?” tanya Samuel merasa sangat cemas.


Zahra menganggukkan kepalanya, “aku nggak apa-apa kok, Kak. Aku hanya capek saja,” ucapnya.


“Kalau begitu kamu tidur aja dulu di ruangan aku, di ruangan aku ada ranjang yang biasa aku pakai untuk tidur siang.”


Zahra pun kembali menganggukkan kepalanya, “aku ke ruangan kakak sekarang saja,” ucapnya lalu beranjak dari duduknya.


“Apa kamu nggak habiskan dulu makanan kamu?”


“Aku nggak selera makan, Kak.” Zahra pun melangkahkan kakinya keluar dari kantin itu. Samuel yang merasa tidak tega pun mengikuti Zahra dari belakang.


Setelah berada di ruangan Samuel, Zahra langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu. Samuel lalu menyelimuti tubuh Zahra.


“Aku akan membangunkan kamu kalau sudah waktunya pulang.” Zahra hanya menganggukkan kepalanya.


Samuel meninggalkan Zahra agar dia bisa beristirahat, dia lalu kembali duduk di kursi kerjanya, “apa yang sebenarnya terjadi dengan Zahra, kenapa dia terlihat begitu kelelahan? Padahal akhir-akhir ini pasiennya tidak begitu banyak.”


Terdengar ketukan di pintu, “masuk,” sahut Samuel dari dalam ruangannya.


Pintu itu mulai terbuka secara perlahan, seorang pria masuk ke dalam ruangan itu. Samuel mempersilahkan pria itu untuk duduk.


“Bagaimana keadaan Mama saya, Dok? Apa Mama saya bisa disembuhkan?” tanya pria itu yang tak lain adalah Matteo.


“Anda tenang saja, pasien masih bisa disembuhkan, tapi saya harus meminta persetujuan dari keluarga untuk mengangkat rahim pasien. Karena kanker rahim yang pasien derita sudah mulai menyebar.”


Matteo pun langsung menganggukkan kepalanya, “lakukan apapun yang bisa menyelamatkan Mama saya, Dok,” ucapnya.


Samuel lalu memberikan formulir persetujuan tindakan operasi dan pengangkatan rahim, “anda harus menandatangani surat persetujuan ini,” ucapnya.


Matteo pun langsung menandatangani surat perjanjian itu, “saya mohon selamatkan Mama saya,” pintanya.


Samuel menganggukkan kepalanya, “saya akan melakukan yang terbaik,” ucapnya.


Zahra sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia pun mengubah posisinya menjadi duduk. Samar-samar wanita itu mendengar suara yang tidak asing di telinga nya, dia pun beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan itu.


Kedua mata Zahra membulat dengan sempurna saat dia melihat sosok yang sangat dia kenal, “Matteo!” panggilnya keras.


Matteo pun menengok ke arah sumber suara, pria itu juga sama terkejutnya dengan Zahra, “Zahra!” serunya.


Zahra melangkahkan kakinya mendekati Matte dan Samuel, “sedang apa kamu disini?’ tanyanya penasaran.


“Mamanya adalah pasien aku,” ucap Samuel.


Zahra membulatkan kedua matanya, “apa? Mama kamu di rawat disini? Memangnya tante sakit apa?” tanyanya cemas.


“Mama aku terkena kanker rahim stadium dua,” ucap Matteo sedih.


Zahra lalu duduk di samping Matteo, “kenapa kamu nggak memberitahu aku, sejak kapan tante dirawat disini?” tanyanya.


“Sudah satu minggu ini,” ucap Matteo.

__ADS_1


“Ra, apa kamu mengenalnya?” tanya Samuel penasaran.


Zahra menganggukkan kepalanya, “Matteo adalah kakak kelas aku, tapi dari segi umur kita sama,” ucapnya.


“Oh...begitu,” ucap Samuel sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.


Matteo melihat jas putih yang di pakai oleh Zahra, “apa kamu dokter di rumah sakit ini?” tanyanya.


Zahra tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, “aku berhasil menjadi seorang dokter, aku baru saja menyelesaikan masa koasku,” ucapnya.


Matteo mengulurkan tangannya, “selamat ya, maaf aku terlambat memberi kamu selamat,” ucapnya.


“Makasih ya,” ucap Zahra sambil menjabat tangan Matteo.


“Apa aku boleh menemui tante?” tanya zahra.


Matte menganggukkan kepalanya, “Mama pasti senang saat melihatmu,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


Mereka pun beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Samuel.


“Apa-apaan mereka itu, kenapa mereka pergi tanpa pamit sama aku, apa mereka menganggap aku nggak ada!” seru Samuel kesal saat Zahra dan Matteo keluar dari ruangannya tanpa berpamitannya dengannya dan pergi begitu saja.


***


 


Zahra dan Matteo masuk ke dalam kamar ruang inap Mamanya Matteo, Zahra melihat mamanya Matteo tengah terbaring di atas ranjang. Tubuh mama Matteo terlihat lebih kurus dari biasanya.


“Itu karena penyakit yang Mama derita beberapa tahun ini.” Mereka lalu melangkahkan kakinya menuju ranjang.


Matteo menyentuh telapak tangan mamanya, “Ma, coba tebak siapa yang menemui Mama sekarang?” ucapnya.


Mama Matteo membuka kedua matanya secara perlahan, kedua matanya mulai mengerjab berkali-kali saat melihat sosok yang berdiri di samping ranjangnya, senyuman mulai muncul dari kedua sudut wanita paruh baya itu, “Zahra sayang, apa tante saat ini sedang bermimpi?” tanyanya masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Zahra menggenggam tangan mamanya Matteo, dia lalu mendudukkan tubuhnya di kursi dekat ranjang itu, “ini memang Zahra, tante. Tante apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu?” tanyanya.


“Sayang, kamu kemana saja, kenapa kamu sudah nggak pernah datang ke rumah tante lagi, apa Matteo menyakiti kamu?”


“Ma...” Matteo belum sempat menceritakan kepada mamanya jika Zahra mencintai pria lain.


Zahra menepiskan senyumannya, “maafkan Zahra tante, akhir-akhir ini Zahra sibuk kuliah. Dan sekarang zahra sibuk dengan pekerjaan Zahra sebagai seorang dokter,” ucapnya.


“Apa sayang? Sekarang kamu sudah menjadi seorang dokter? Tante senang mendengarnya.” Wanita paruh baya itu lalu menarik salah satu tangan Matteo dan menyatukannya dengan tangan Zahra. kedua mata Zahra dan Matteo membulat dengan sempurna, “tante berharap setelah tante sembuh nanti, tante bisa melihat kalian segera menikah,” ucapnya penuh harap.


Matteo pun secepatnya menarik tangannya, “Ma, apa yang Mama lakukan? Matteo kan sudah pernah bilang sama Mama, Matteo nggak ingin menikah!”


Kedua mata Zahra semakin membulat dengan sempurna, dia tidak menduga jika sampai sekarang Matteo bahkan belum menikah.


“Tapi kenapa sayang, sekarang Zahra sudah di sini, bukankah kalian saling mencintai? Bukankah kamu dulu pernah bilang sama Mama kalau kamu akan menikah dengan zahra,” ucap Mama Matteo.


“Matt...kamu...”


“Ra, jangan dengerin apa yang dikatakan sama Mama aku, dan aku minta maaf untuk semua ini,” ucap Matteo.

__ADS_1


Zahra menarik tangan Matteo dan membawanya keluar dari ruang inap itu, “apa maksud semua ini, Matt?” tanyanya saat mereka sudah berada di luar kamar itu.


“Aku minta maaf. Aku belum memberitahu Mama kalau kamu lebih memilih pria lain ketimbang aku.”


“Tapi kenapa? Apa kamu nggak melihat betapa tante sangat berharap tadi?”


“Aku ingin memberitahu Mama, tapi saat itu Mama aku sedang sakit. Aku nggak ingin menambah beban pikiran Mama aku.”


Zahra menghela nafas panjang, “lalu sekarang apa yang akan kamu katakan sama Mama kamu? Kamu harus katakan yang sebenarnya,” pintanya.


“Ra, apa aku sama sekali nggak ada harapan lagi untuk bisa bersama denganmu seperti dulu lagi?” tanya Matteo dengan kedua mata sendunya.


Zahra menggelengkan kepalanya, “aku nggak bisa, Matt. Karena sekarang aku sudah menjadi milik orang lain,” ucapnya.


“Apa maksud kamu?”


“Karena Zahra sudah menikah denganku!” seru Ardi yang saat ini tengah berjalan menghampiri mereka.


“Kak Ardi!” seru Zahra terkejut, “kenapa Kak Ardi datang ke sini?” tanyanya kemudian.


Matteo terlihat begitu shock saat mendengar apa yang dikatakan Ardi, ‘jadi Zahra sudah menikah dengan dia, jadi saat itu mereka benar-benar serius,’ gumamnya dalam hati.


Ardi merengkuh pinggang istrinya, “tentu saja untuk menemui kamu dong sayang, aku kangen sama kamu,” godanya sambil mencolek hidung mancung Zahra.


Ardi lalu menatap ke arah Matteo, “hai, lama kita tidak bertemu, kamu apa kabar?” tanyanya sambil mengulurkan tangannya.


Matteo menjabat uluran tangan Ardi, “baik,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya.


“Siapa yang sakit sayang, kenapa Matteo ada disini?” tanya Ardi penasaran.


“Mamanya matteo yang sedang di rawat di sini, dia pasiennya Kak Samuel,” ucap Zahra.


“Apa aku boleh menjenguknya?” tanya Ardi.


Zahra dan Matteo saling menatap, ‘bagaimana ini, jika Kak Ardi bertemu dengan tante sekarang, semuanya akan kacau. Aku nggak ingin membuat kesehatan tante semakin memburuk nantinya,’ gumam Zahra dalam hati.


Zahra memberi kode kepada Matteo agar melarang Ardi untuk menemui mamanya. Matteo mengerti isyarat yang Zahra berikan.


“Maaf, bukannya aku ingin melarang kamu untuk menemui Mama aku, tapi saat ini Mama sedang beristirahat,” ucap Matteo.


Ardi pun mengerdikkan kedua bahunya, “ya sudah kalau begitu, aku akan menjenguk Mama kamu lain kali saja,” ucapnya.


Zahra dan Matte bisa bernafas lega, “Kak, sedang apa kakak di sini? Bukahkan ini sudah lewat jam makan siang?” tanyanya penasaran.


Ardi menggenggam tangan istrinya, “aku khawatir sama kamu sayang, bukankah kamu bilang sedang tidak enak badan, tapi kamu masih tetap ingin berangkat kerja,” ucapnya cemas.


“Aku nggak apa-apa kok, Kak. apa kakak lupa kalau istri kakak ini seorang dokter?” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.


“Dokter itu kan juga manusia sayang, jadi dokter juga bisa sakit.” Ardi lalu mengecup punggung tangan istrinya itu, “sekarang kita pulang ya, kamu juga harus menjaga kesehatan kamu,” bujuknya.


Matteo yang melihat kemesraan Ardi dan Zahra semakin membuat hatinya terluka, sampai sekarang pria itu belum bisa melupakan Zahra. Sudah berkali-kali pria itu mencoba, tapi tidak pernah berhasil.


~oOo~ 

__ADS_1


__ADS_2