Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus Chapter 19


__ADS_3

Terdengar suara ketukan di pintu. Ardi berjalan menuju pintu untuk membuka pintu itu, “kamu!” serunya terkejut saat melihat Kenzo datang ke rumahnya.


“Boleh aku masuk?” Ardi mengangguk lalu melangkah masuk dan di ikuti oleh Kenzo di belakangnya.


“Tumben kamu datang ke rumah aku, biasanya ngajak ketemuan di cafe.” Ardi duduk di sofa ruang tamu. Pria itu meminta asisten rumah tangganya untuk membuatkan dua cangkir kopi.


“Anak kamu dan kedua orang tua kamu ke mana? Tumben sepi?” tanya Kenzo sambil menatap ke sekeliling.


“Mereka pergi keluar. Kamu ini kebiasaan ya, di tanya bukannya menjawab tapi malah balik bertanya.” Asisten rumah tangga Ardi datang sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan sepiring camilan dan


meletakkannya di atas meja.


Kenzo menyengir kuda, “aku ingin memberi tahu kalau Zahra akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jogja dan meneruskan kuliahnya di sini,” ucapnya. Pria mengucapkan terima kasih kepada asisten rumah tangga Ardi.


Ardi mengambil secangkir kopi dari atas meja, dia lalu meniupnya secara perlahan sebelum meneguknya, “kenapa kamu memberi tahu itu sama aku, itu kan bukan urusan aku,” ucapnya lalu meneguk kopi secara perlahan lalu kembali meletakkannya ke atas meja.


“Karena aku pikir Zahra memutuskan itu setelah dia menelfon kamu waktu itu. Saran kamu lah yang membuatnya berubah pikiran.”


“Kok kamu tau Zahra menelfon aku?” tanya Ardi penasaran.


“Karena sebelum dia menelfon kamu, dia meminta nomor telfon kamu ke aku.” Kini giliran Kenzo yang mulai menikmati kopi yang berwarna hitam pekat itu.


“Meminta nomor aku! Bukannya dia sudah punya nomor telfon aku?” Ardi mengernyitkan dahinya.


Kenzo merasakan panas di lidah, pemuda itu terlalu bernafsu untuk menikmati kopi yang terlihat sangat nikmat itu, hingga dia lupa kalau kopi itu tersaji dalam keadaan panas.


“Kamu kenapa? Masa minum kopi aja harus di ajarin dulu,” ledek Ardi sambil menahan tawa melihat sahabatnya sedari tadi menjulurkan lidahnya karena merasa kepanasan karena lidahnya bersentuhan dengan cairan hitam pekat itu.


“Nomor kamu sudah di hapus sama Zahra, katanya nggak penting juga nyimpen nomor telfon kamu. Kamu juga bukan siapa-siapa dia, pacar bukan, teman bukan, saudara juga bukan. Dia juga bilang kalau kalian juga nggak bakalan bertemu lagi,” ucap Kenzo sambil kembali menikmati secangkir kopi di tangannya, tapi kali ini pria itu lebih berhati-hati.

__ADS_1


“Memangnya menyimpan nomor seseorang itu harus ada hubungan dulu ya. Kalau kita saling kenal tapi tidak dekat, apa kita nggak boleh menyimpan nomor orang itu? Sepupu kamu itu aneh juga ternyata.” Ardi menghela


nafas panjang, jadi selama ini gadis itu berfikiran seperti itu tentangnya.


“Ya nggak juga, mungkin cara pikir dia beda sama cara pikir kita, atau mungkin sudah terlalu banyak nomor telfon dalam ponselnya hingga dia tidak mau menyimpan nomor kamu. Selain itu dia juga nggak kenal dekat sama kamu,


selama ini kalian juga tidak saling menyapa satu sama lain setelah urusan kamu sama dia selesai, iya kan?” tebak Kenzo, dan ternyata tebakkannya itu 100% benar saat dia melihat exspresi sahabatnya itu.


“Buat apa menyapa, sedangkan kita nggak akrab juga. Nanti dia berfikir aku mencoba menggoda dia lagi, padahal kenyataannya...”


“Iya...” potong Kenzo sambil menahan tawa.


Ardi melempar bantal sofa ke arah sahabatnya itu, tapi untung dengan sigap pria itu langsung menangkap bantal sofa itu yang hampir saja menggenai wajah tampannya.


“Aku sebenarnya masih penasaran sama kamu. Apa kamu benar-benar tertarik dengan sepupu aku itu?” kali ini nada bicara Kenzo berubah menjadi nada serius.


Terdengar suara pintu terbuka. Kedua orang tua Ardi dan juga anaknya masuk ke dalam rumah.


“Siang Tante, Om.” Kenzo berdiri lalu mencium tangan kedua orang tua Ardi.


“Lanjutin aja ngobrol kalian, kami masuk dulu,” ucap Jonny lalu melangkah pergi dan di ikuti oleh Lina.


Rasya berjalan mendekati papanya, “Pa...pinjam ponselnya,” pintanya.


“Mau di pakai buat apa?” Ardi mengambil ponselnya dari saku celananya. Ardi menyuruh anaknya untuk menyapa Kenzo.


“Halo, Om,” ucapnya lalu mencium tangan Kenzo.


“Anak kamu lucu, aku jadi pengen punya anak,” ucap Kenzo sambil mengusap puncak kepala Rasya.

__ADS_1


“Papa...siniin ponselnya,” pinta Rasya lagi.


“Memangnya ponselnya mau buat apa?” tanya Ardi sambil memberikan ponselnya kepada anaknya.


“Rasya mau telfon Bunda, Rasya kangen sama Bunda.” Rasya lalu pergi meninggalkan papanya dan juga Kenzo.


“Kamu masih berhubungan dengan Kay?” tanya Kenzo penasaran. Tidak ada yang Kenzo tidak tau soal cerita hidup Ardi. Dari pernikahan pertamanya hingga pernikahan keduanya yang akhirnya semua kandas di tengah jalan, hingga membuat sahabatnya terpuruk kejurang yang teramat dalam.


Ardi beranjak dari duduknya, “lebih baik kita bicara di luar,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Mau tidak mau Kenzo mengikuti Ardi dari belakang.


Kini mereka mengobrol di halaman rumah. Ardi duduk berjongkok di samping Kenzo.



“Aku bukannya nggak mau melupakan Kay, tapi Rasya begitu menyayangi Kay dan sudah menganggapnya sebagai bundanya. Aku juga nggak bisa melarang Rasya untuk memanggil Kay bunda, sedangkan Kay tidak keberatan dengan hal itu.”


“Lalu kamu, bagaimana perasaan kamu untuk Kay? Apa kamu masih mencintainya, mengharapkannya untuk kembali lagi sama kamu?”


Ardi menggelengkan kepalanya, “aku nggak mungkin sampai melakukan itu, mana aku tega memisahkan mereka untuk kedua kalinya. Cukup sekali saja aku memisahkan Arka dengan Kay, dan itu nggak akan pernah terulang lagi. Mereka sudah bahagia sekarang, ada Kevin dan Ansel yang sangat membutuhkan kasih sayang mereka. Apa aku akan tega merusak kebahagiaan mereka hanya untuk memenuhi egoku sendiri,” ucapnya.


“Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?”


Ardi mengerdikan kedua bahunya, “aku nggak tau. Aku takut untuk memulai hubungan lagi, aku nggak mau menyakiti orang lain lagi,” ucapnya.


“Apa kamu menyukai Micel? Karena dari apa yang aku lihat selama ini sepertinya Micel tertarik sama kamu, itu sebabnya dia selalu menolak ku.”


Ardi lalu berdiri, dia memasukkan kedua telapak tangannya ke saku celananya, lalu menatap sahabatnya yang masih duduk di sampingnya, “aku hanya menganggap Micel sebagai sahabat aku. Micel memang gadis yang sangat baik dan juga perhatian, tapi aku sama sekali tidak menyukainya,” ucapnya.


Kenzo bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan sahabatnya, dengan begitu dia bisa terus memperjuangkan cintanya kepada gadis itu, “kalau dengan Zahra, apa yang kamu rasakan? Bukannya waktu itu kamu memujinya imut?” tanyanya penasaran.

__ADS_1


Ardi sejenak terdiam, hingga membuat sahabatnya kembali bertanya untuk kedua kalinya, “kamu yakin tidak ada rasa sama Zahra?” tanyanya lagi.


~oOo~


__ADS_2