Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus chapter 40


__ADS_3

“Aku...aku...aku akan buktikan pada kalian kalau aku dan Kak Ardi memang pacaran. Aku...aku akan...” Zahra membulatkan kedua matanya, saat Ardi menakup kedua pipinya lalu mendaratkan ciuman di bibirnya.


Ciuman pertamaku! Teriaknya dalam diam. Kenzo dan Matteo juga tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Ardi benar-benar melakukan rencananya dengan sangat baik.


Zahra ingin sekali mendorong tubuh Ardi sekarang juga, tapi gadis itu tidak berani melakukannya, jika dia melakukan itu maka pengorbanannya akan sia-sia. Itu akan membongkar sandiwaranya selama ini. Tapi Zahra tidak habis pikir, kenapa Ardi masih betah menyatukan bibirnya?


Zahra juga merasakan Ardi memberikan pangutan lembut pada bibirnya yang membuat jantungnya berdesir. Detak jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya, “ada apa dengan jatungku? Kenapa rasanya seakan ingin


meledak?” gumamnya dalam hati.


Ardi mengakhiri ciumannya dengan nafas yang terengah-engah, bukan hanya Ardi, bahkan Zahra seakan kehabisan nafas jika Ardi tidak segera mengakhiri ciuman mereka. Dengan nafas yang masih memburu, Ardi memeluk tubuh Zahra dengan sangat erat, “aku mencintaimu, sangat...sangat mencintai mu,” ucapnya.


Kenzo menepukkan kedua telapak tangannya berkali-kali, “aku nggak menyangka kalian akan senekat ini untuk membuktikan kepada kami tentang hubungan kalian. Aku percaya pada kalian setelah melihat semua ini,” ucapnya


dengan tersenyum puas karena berhasil membuat Zahra dan Ardi berciuman di depan Matte dan juga dirinya.


Matteo menggepalkan kedua tangannya, hatinya begitu terasa sakit. Apa ini yang harus dia lihat?


Zahra mengusap bibirnya yang basah karena ulah Ardi, dia lalu menatap Matteo, “Matt, aku tau kamu kecewa sama aku. Tapi...”


Matteo menampakkan senyuman getir, “aku percaya, maaf kalau selama ini kamu terganggu dengan kehadiran aku,” ucapnya lalu berdiri.


“Matt, kita memang tidak di takdirkan untuk bersama, tapi apa kamu akan mengakhiri persahabatan kita selama ini? Aku ingin kamu bahagia, apa kamu tidak ingin aku bahagia juga?” tanya Zahra dengan kedua mata sendunya.


“Seharusnya aku menyadari ini sejak dulu, tapi aku nggak menyesal karena telah menunggumu selama ini. Kamu tenang saja, kita akan tetap berteman,” ucap Matteo lalu melangkahkan kakinya menjauh.

__ADS_1


Maafin aku, Matt. Semoga kamu bahagia, dan mendapatkan wanita yang juga mencintai kamu. Zahra menatap kepergian Matteo. Setelah itu Zahra mengalihkan tatapannya menatap Kenzo dan Ardi dengan sorot mata yang


tajam, seperti singa yang siap menerkam mangsanya.


Kenzo menelan saliva nya, tatapan itu membuatnya seakan tengah terancam, bahaya ada di depan matanya saat ini. Pria itu lalu beranjak dari duduknya, “em...kayak nya aku harus pergi dulu, aku lupa kalau sekarang aku urusan penting. Selamat untuk ciuman kalian, aku pergi dulu,” ucapnya lalu bergegas pergi dari suasana mencengkam itu.


Kenzo! Awas ya kamu! Ardi menyengir kuda, “Zahra...aku...aku...aku bisa jelasin semuanya,” ucapnya sambil menelan salivanya.


“Menjelaskan! Apa yang Kak Ardi bisa jelaskan! Apa!”


“Aku melakukan itu agar mereka percaya dengan hubungan kita. Bukankah dengan itu Matteo percaya dengan hubungan kita, dia juga sudah menyerah dengan cintanya sama kamu, benarkan?”


“Tapi apa harus dengan seperti itu, apa Kak Ardi harus mengambil ciuman pertama aku? Apa yang Kak Ardi pikirkan sekarang? Bukankah aku nampak seperti gadis murahan yang bisa kakak cium kapan saja!”


itu tentang kamu,” ucapnya.


Zahra menghempaskan genggaman tangan Ardi, “aku memang polos, Kak. Aku nggak tau apa-apa soal pacaran, tapi aku bukan gadis murahan,” ucapnya lalu beranjak dari duduknya.


“Aku minta maaf, aku janji nggak akan melakukan itu lagi tanpa izin kamu dari,” pinta Ardi.


Zahra menghela nafas panjang, “Kak, makasih atas bantuan kakak selama ini. Atas bantuan kakak, Matteo mau melepaskan cintanya padaku, misi kita berhasil,” ucapnya.


“Maksud kamu apa?”


“Bukankah kalau misi kita berhasil, itu tandanya sandiwara di antara kita harus berakhir? Kita nggak perlu bersandiwara lagi di depan orang lain kalau kita sedang berpacaran. Terima kasih untuk semuanya, aku harus

__ADS_1


pergi,” ucap Zahra lalu melangkahkan kakinya menjauh.


Ardi mengacak-acak rambutnya, “apa aku salah langkah? Kenapa semua menjadi seperti ini? Nggak! Nggak! Aku nggak akan melepaskan Zahra, aku akan mengatakan kalau aku sungguh-sungguh mencintainya,” ucapnya.


Ardi beranjak dari duduknya, dia lalu bergegas mengejar Zahra, “Zahra tunggu!” teriaknya saat melihat gadis itu hendak masuk ke dalam taksi.


Zahra tidak mengubris teriakan Ardi, dia masuk ke dalam taksi dan meminta supir taksi untuk melajukan taksinya.


Ardi mengetuk jendela taksi itu, “Zahra dengerin aku dulu!” serunya. “Ah....sial!” umpatnya.


Zahra menatap keluar jendela, gadis itu mulai menitihkan air mata, “kenapa hati aku begitu sakit? Kenapa?”


Zahra mendengar notifikasi pesan masuk di ponselnya, dia lalu mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Pesan dari nomor tidak di kenal, “siapa ini?” Zahra membaca pesan itu...


Temui aku di taman sekarang juga, kalau kamu tidak datang kamu akan menyesal karena telah mengabaikan pesan ini


“Apa maksudnya ini? Siapa dia?” Zahra lalu meminta supir taksi untuk mengantarkannya ke taman. Gadis itu begitu penasaran dengan orang yang telah memberinya ancaman lewat pesan teks.


“Siapa dia, apa dia Matteo?” Zahra menggelengkan kepalanya, “nggak, ini bukan nomor Matteo. Tapi dari mana dia bisa mendapatkan nomor aku?”


Taksi berhenti di sebuah taman. Zahra memberikan ongkos taksi kepada supir taksi, setelah itu dia membuka pintu dan keluar dari taksi. Gadis itu berjalan masuk ke dalam taman, dia melihat ada seseorang yang tengah melambaikan tangan ke arahnya.


Kedua mata Zahra membulat dengan sempurna, “dia...


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2