
Ardi menggenggam tangan Zahra, “aku akan berusaha untuk meyakinkan papa kamu, kamu nggak usah khawatir, aku yakin papa kamu akan merestui hubungan kita,” ucapnya. Zahra mengangguk. Ardi lalu kembali melajukan mobilnya.
Sesampainya di rumah Zahra, Ardi membukakan pintu mobil untuk Zahra. gadis itu lalu keluar dari mobil Ardi.
“Lebih baik Kak Ardi langsung pulang saja, lagian ini juga sudah larut malam.”
“Apa nggak seharusnya aku menyapa kedua orang tua kamu, nggak enakkan kalau aku langsung pulang begitu saja.”
Zahra menggeleng, “besok saja. Lagian ini juga sudah malam, Kak,” ucapnya.
Ardi menghela nafas, dia lalu mengecup kening Zahra, “ya sudah, kamu masuk dulu, setelah itu aku baru pulang,” ucapnya.
Zahra melambaikan tangannya, dia lalu berjalan menuju pintu utama. Ardi masuk ke dalam mobil setelah Zahra benar-benar masuk ke dalam rumah. Ardi lalu melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Zahra.
“Kamu pulang diantar sama siapa sayang?” tanya mama Zahra saat melihat Zahra yang hendak menaiki tangga.
Zahra mengurungkan niatnya dan melangkahkan kakinya menghampiri mamanya, dia lalu duduk di samping mamanya, “kok jam segini Mama belum tidur?” tanyanya.
“Mama nungguin kamu sayang, kok kamu baru pulang?”
“Tadi Zahra ngobrol dulu sama Kak Kenzo dan Kak Samuel,” ucap Zahra berbohong.
Mama Zahra memegang tangan kiri Zahra, “Mama nggak pernah lihat kamu memakai cincin ini?” tanyanya penasaran.
Zahra menarik tangannya dan menutup telapak tangan kirinya dengan telapak tangan kanannya, “em...Zahra baru memakainya, Ma,” ucapnya gugup.
“Zahra, apa ada yang kamu sembunyikan dari Mama?”
Zahra menundukkan wajahnya, dia lalu meremas jemari-jemari tangannya, “sebenarnya cincin ini pemberian Kak Ardi, Ma,” ucapnya pelan.
Kedua mata mamanya Zahra membulat dengan sempurna, mulutnya menganga tidak percaya, “maksud kamu apa sayang?” tanyanya terkejut.
“Tadi saat Mama dan Papa pulang, Zahra bertemu dengan Kak Ardi di acara pernikahan Kak Kenzo.”
“Bukankah kamu bilang sama Mama kalau Ardi sudah menikah?”
“Semua itu ternyata hanya salah paham, Ma. Kak Ardi ternyata belum menikah. Kak Ardi sudah menjelaskan semuanya sama Zahra, dan tadi Kak Ardi sudah melamar Zahra di acara pernikahan Kak Kenzo.”
Mama Zahra menggenggam tangan putrinya, “jadi kamu menerima lamaran Ardi?” Zahra mengangguk, “kamu sudah yakin dengan keputusan kamu?” Zahra kembali menganggukkan kepalanya, “lalu kapan Ardi akan melamar kamu secara resmi sama Mama dan Papa?”
__ADS_1
Zahra menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, “jadi Mama merestui hubungan kami?” tanyanya senang.
Mama Zahra mengangguk, “Mama tau jika selama ini kamu masih sangat mengharapkan Ardi. Tapi sebelum itu kamu harus meyakinkan Papa kamu. Kamu tau kan Papa kamu sangat kecewa dengan Adri saat tiba-tiba memutuskan hubungan kalian saat itu?” ucapnya.
Zahra terlihat sangat bingung. Apa dia harus mengatakan hal yang sebenarnya terjadi empat tahun yang lalu? Soal sandiwara yang mereka lakukan dulu.
“Ma,” panggil Zahra lirih.
“Hem...apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan?”
Zahra mengangguk, “sebenarnya empat tahun yang lalu, Zahra dan Kak Ardi nggak pernah menjalin hubungan, selama ini kita hanya bersandiwara,” ucapnya pelan.
“Maksud kamu?” Mama Zahra terlihat sangat terkejut.
Akhirnya Zahra menceritakan semuanya kepada mamanya, tidak ada yang dia tutup-tutupi lagi. Dia tidak ingin lagi menyembunyikan semuanya, jika dia ingin mendapatkan restu dari kedua orangtuanya, jalan satu-satunya adalah menceritakan hal yang sebenarnya.
“Kenapa kamu sampai melakukan semua itu sayang?” Mama Zahra tidak menyangka putrinya akan membohonginya selama ini. Dia bahkan sudah mempermainkan sebuah hubungan, dan kepercayaan kedua orangtuanya.
“Maafin Zahra, Ma. Semua itu Zahra lakukan agar Matteo melupakan Zahra. zahra hanya ingin Matteo bahagia, karena Zahra nggak bisa membalas perasaan Matteo.” Zahra menundukkan wajahnya, “Zahra juga nggak menyangka kalau akhirnya Zahra akan benar-benar jatuh cinta sama Kak Ardi,” imbuhnya.
Mama Zahra tidak tau harus berkata apa, saat ini dia benar-benar shock mendengar kebenaran ini. Mama Zahra meminta Zahra untuk beristirahat, karena besok dia harus bekerja. Mereka akan membicarakan semua itu setelah pikiran mereka jernih.
Zahra menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya. Terdengar suara pintu diketuk, “masuk,” sahutnya.
Samuel membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Zahra. Pria itu lalu mendudukkan tubuhnya di kursi yang terletak di depan meja kerja Zahra, “kamu nggak pergi makan siang?” tanyanya.
“Aku sedang nggak selera makan.”
“Apa ada masalah?”
Zahra menghela nafas panjang, “aku sudah menceritakan semuanya sama Mama, tentang sandiwara yang aku dan Kak Ardi lakukan empat tahun yang lalu,” ucapnya.
“Tante pasti sangat shock,” tebak Samuel.
Zahra mengangguk, “aku takut Mama akan merubah keputusannya, aku takut Mama nggak akan merestui hubungan aku dengan Kak Ardi,” ucapnya.
“Itu nggak akan terjadi, aku kenal siapa mama kamu, dia nggak akan membiarkan kamu sedih. Mama kamu pasti akan tetap merestui hubungan kalian.”
__ADS_1
“Semoga saja.”
Pintu kembali di ketuk, “masuk,” sahut Zahra. kedua mata Zahra membulat dengan sempurna saat melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya, “Kak Ardi!” serunya terkejut.
Ardi tersenyum lalu melangkahkan kakinya menghampiri Samuel dan Zahra, “apa aku mengganggu sedang mengganggu kalian?” tanyanya.
“Kak Ardi tau dari mana kalau aku kerja di sini?” tanya Zahra penasaran.
“Aku yang memberi tahunya,” ucap Samuel sambil menyengir kuda.
“Apa kamu masih ada pekerjaan?” tanya Ardi.
Zahra menggelengkan kepalanya, “memangnya kenapa?” tanyanya.
“Aku ingin mengajakmu makan siang di rumah aku, sekalian aku ingin mengenalkan kamu kepada Papa dan juga Rasya,” ucap Ardi.
Samuel dan Zahra mengernyitkan dahinya, “siapa itu Rasya?” tanya mereka bersamaan.
“Anak aku, apa aku belum pernah cerita soal Rasya?”
Zahra menggelengkan kepalanya, “kakak hanya bilang kakak mempunyai anak, tapi kakak nggak memberi tahu siapa namanya,” ucapnya.
“Aku akan mengenalkannya, tapi...apa kamu mau makan siang di rumah aku dan bertemu dengan keluarga ku?” tanya Ardi.
Zahra menatap Samuel, pria itu mengangguk, “baiklah.” Zahra lalu melepas jubah putih yang dia pakai, “ayo kita berangkat sekarang,” ucapnya sambil merangkul lengan Ardi.
“Kalau begitu kami pergi dulu,” ucap Ardi dan langsung mendapat anggukkan dari Samuel. Mereka lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Zahra.
Semua mata memandang ke arah Zahra dan Ardi. Ini pertama kalinya mereka melihat Zahra bergandengan tangan dengan seorang pria. Zahra terlihat cuek, dia tidak peduli dengan apa yang mereka katakan, tapi tidak dengan Ardi.
Zahra dan Ardi sudah berada di dalam mobil. Zahra melihat wajah Ardi yang berubah menjadi murung dan pendiam, “Kak Ardi kenapa?” tanyanya cemas.
“Maafin aku ya, nggak seharusnya aku membuat kamu malu di depan teman kerja kamu.”
Zahra menggenggam tangan Ardi, “kenapa kakak memperdulikan semua omongan mereka. Mereka hanya iri karena aku bisa mendapatkan pria setampan Kak Ardi,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
“Apa kamu nggak menyesal karena menerima lamaran aku?”
“Aku nggak akan pernah menyesal,” ucap Zahra sambil mencium kilas bibir Ardi. Terlihat senyuman merekah dari bibir Ardi, dia bersyukur bisa mendapatkan Zahra. Meskipun dia lebih muda darinya, tapi ternyata pemikirannya lebih dewasa darinya.
__ADS_1
~OoO~