
“Kenapa kamu bertanya itu?” tanya Ardi sambil mengernyitkan dahinya.
“Aku hanya penasaran saja, apa kamu memang tertarik dengan sepupu aku itu.”
“Kenapa kamu bisa berfikiran seperti itu?”
“Karena saat kamu melihat Zahra, tatapan mata kamu berbeda. Seperti ada sesuatu di dalamnya, tapi aku nggak tau apa itu. Selain itu saat aku meminta pendapat kamu waktu itu tentang masalah Zahra, sepertinya kamu
bersemangat sekali ingin menyuruhnya pulang ke Jogja.”
Ardi menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka sahabatnya bisa berfikiran seperti itu tentangnya. Tapi dia juga tidak bisa memungkiri kalau akhir-akhir ini gadis itu sering muncul di benaknya.
“Aku nggak akan melarang kamu untuk menyukai Zahra, aku hanya takut kamu sakit hati nantinya,” ucap Kenzo lalu berdiri.
“Sakit hati! Maksud kamu apa?” tanya Ardi bingung.
“Sebenarnya ada pemuda yang juga sangat menyukai Zahra dari dulu, bahkan dia rela menunggu Zahra sampai dia lulus kuliah nantinya.”
“Siapa pemuda itu?” tanya Ardi penasaran.
Kenzo mengernyitkan dahinya sambil tersenyum, ternyata dugaannya benar. Sahabatnya ini benar-benar tertarik dengan sepupunya, jika tidak kenapa dia begitu penasaran dengan pemuda yang dia ceritakan saat ini.
“Siapa pemuda itu?” tanya Ardi lagi.
“Namanya Matteo Zaidan, dia kakak kelas Zahra.”
“Apa Zahra juga menyukai pemuda itu?” tanya Ardi terlihat semakin penasaran.
Kenzo semakin mengernyitkan dahinya, “kamu menanyakan itu bukan karena kamu cemburu kan?” tanyanya penasaran.
“Hah...e—nggak. Siapa juga yang cemburu,” elak Ardi sambil menatap ke arah lain.
“Sudah deh nggak usah mengelak lagi, aku nggak mudah untuk kamu bohongi. Aku sudah mengenalmu lama, aku tau bagaimana exspresi kamu saat berbohong.”
__ADS_1
“Aku nggak tau apa yang terjadi sama aku akhir-akhir ini.” Ardi menggerakan kakinya untuk menendang kerikil di depannya.
“Maksud kamu?”
“Tatapan mata Zahra mengingat aku sama Kay, tatapan mata mereka sama. Kemarin saat aku menelfon Kay karena Rasya sangat merindukannya. Aku melihat tatapan mata Kay, yang membuat aku bingung adalah saat aku melihat tatapan mata itu tiba-tiba wajah Zahra muncul di pikiran aku.” Ardi menghela nafas panjang, “aku nggak tau apa yang terjadi dengan diriku, mungkin benar kata kamu, aku sudah mulai gila,” imbuhnya.
Kenzo tertawa terbahak-bahak hingga membuat Ardi mengernyitkan dahinya, “kenapa kamu malah tertawa seperti itu, apa kamu bahagia di atas masalah aku?” tanyanya lalu mendengus kesal.
“Udah berumur tapi masih belum tau dengan apa yang kamu rasakan saat ini,” ledek Kenzo.
“Maksud kamu apa? Kenapa kamu bawa-bawa umur segala?”
“Kamu itu sudah dua kali menikah, walau dalam pernikahan kamu itu, kamu hanya sekali merasakan jatuh cinta. Tapi meskipun hanya sekali, seharusnya kamu sudah paham dengan apa yang kamu rasakan saat ini,” ucap Kenzo
sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
“Maksud kamu aku jatuh cinta dengan Zahra?” tanya Ardi sambil mengernyitkan dahinya.
“Nggak mungkin, aku nggak mungkin jatuh cinta sama sepupu kamu itu, apa lagi umur kita yang terpaut sangat jauh. Selain itu aku hanya dua kali bertemu dengannya, bagaimana itu bisa di sebut cinta?” Ardi terus
menggelengkan kepalanya, dia berusaha menyangkal persepsi sahabatnya itu.
“Cinta itu bisa datang kapan aja dan dengan orang yang sama sekali tidak kita duga.”
“Tapi nggak harus Zahra juga kan?”
“Memangnya kenapa? Zahra cantik, muda, apa lagi tatapan matanya mengingatkan kamu sama cinta pertama mu.”
“Tapi itu tidak mungkin. Aku nggak mungkin jatuh cinta dengan Zahra.” Ardi tetap tidak mau mengakui jika dirinya kini sudah berpaling dari Kay, bahkan gadis yang sudah menarik hatinya masih terlalu muda.
“Terserah kamu mau mengakuinya atau tidak!” kenzo berjalan menuju mobilnya, dia lalu membuka pintu mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil, pria itu kembali menatap sahabatnya yang masih diam mematung, “besok temani aku untuk menjemput Zahra di bandara, aku tunggu di rumah,” imbuhnya lalu masuk ke dalam mobil.
Kenzo lalu melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Ardi. Ardi masih diam mematung menatap mobil sahabatnya yang sudah tak nampak di depan matanya.
__ADS_1
“Bandara, kenapa aku harus menjemput Zahra, memangnya dia siapa aku?”
***
Mekispun semalam Ardi sudah berfikir untuk tidak menemani Kenzo ke bandara, tetapi entah mengapa saat ini pria itu tengah berdiri di depan rumah sahabatnya itu.
“Kenapa aku harus ke sini, Kenzo pasti akan semakin meledekku nantinya.” Saat Ardi ingin melangkah pergi tiba-tiba pintu besar di depannya mulai terbuka. Kenzo dengan tawanya yang renyah melangkah keluar.
“Tertawa aja terus!” seru Ardi kesal.
“Sebegitu rindunya ya kamu sama Zahra, hingga jam segini kamu sudah di rumah aku,” ledek Kenzo.
“Maksu kamu apa? Bukannya kemaren kamu memintaku untuk menemani kamu menjemput Zahra di bandara?”
“Iya, tapi nggak sepagi ini juga kali.” Kenzo mendudukkan tubuhnya di kursi teras depan.
Ardi duduk di kursi satunya, yang letaknya tak jauh dari Kenzo, “memangnya jam berapa kamu menjemput sepupu kamu itu?” Ardi terlihat salah tingkah. Dia pikir sahabatnya itu akan menjemput sepupunya di jam pagi seperti sekarang ini.
“Nanti siang, sekitar jam 1 nan mungkin,” ucap Kenzo sambil menahan tawa.
“Hah!” Ardi membulatkan kedua matanya, mulutnya menganga tidak percaya. Pria itu merutuki dirinya sendirinya, kenapa dia tidak bertanya dulu sebelum datang ke sini. Bodoh! Bodoh! Umpatnya dalam hati.
“Sekarang kan baru jam 09.00 pagi nih, enaknya kita ngapain?” tanya Kenzo sambil memegang perutnya yang mulai terasa sakit karena terus menerus tertawa, tentu saja menertawakan tingkah bodoh sahabatnya itu. Sudah mulai gila beneran kayaknya, pikirnya dalam hati.
Ardi beranjak dari duduknya, “mendingan aku pulang aja. Aku nggak jadi menemani kamu,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya.
“Tunggu!” teriak Kenzo lalu berdiri. Pria itu lalu berjalan menghampiri sahabatnya, “ikut aku,” ucapnya lalu membuka pintu mobil Ardi dan masuk ke dalam mobil.
Ardi mengernyitkan dahinya lalu membuka pintu pengemudi dan masuk ke dalam mobil, “kenapa kamu ikut aku?” tanyanya sambil menatap sahabatnya itu.
“Kita beli hadiah untuk menyambut kepulangan Zahra. Masa kamu ingin menjemputnya dengan tangan kosong.” Ardi mengangguk mengerti lalu melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Kenzo.
~oOo~
__ADS_1