
Tiba-tiba ada pelayan room service yang berjalan ke arahnya sambil mendorong rolling yang di atasnya sudah tertata makanan dan minuman di atasnya. Bahkan ada sekuntum mawar merah di atas rolling itu. Zahra nampak begitu panik, ‘apa yang harus aku lakukan?’
“Maaf nona, apa ada yang bisa saya bantu?” tawar pelayan room service itu.
Zahra menggelengkan kepalanya, mau tidak mau dia akhirnya mengetuk pintu kamar itu. Tak berselang lama pintu kamar itu terbuka.
Ardi yang tanpa melihat siapa yang ada di depan pintu itu pun lalu kembali masuk ke dalam kamar, dia lalu berteriak, “Ka, kamu kemana aja sih! Nggak tau apa aku menunggu kamu sejak tadi!” teriaknya.
Zahra membulatkan kedua matanya saat melihat siapa yang berada di dalam kamar itu, “Kak Ardi!” serunya terkejut.
Ardi yang mendengar suara yang begitu familiar di telinganya pun membalikkan tubuhnya, kedua matanya membulat dengan sempurna saat melihat bukan Arka yang berdiri di depan pintu itu melainkan Zahra, “sayang, ngapain kamu di sini?” tanyanya terkejut.
Zahra lalu masuk ke dalam kamar itu, pelayan room service itu juga ikut masuk ke dalam kamar itu. Zahra bertanya kepada Ardi kenapa dia ada di kamar itu.
“Maaf, tapi saya tidak memesan makanan,” ucap Ardi saat melihat pelayan room service itu ikut masuk ke dalam kamar itu.
“Tapi ini pesanan untuk kamar nomor 235 atas nama Tuan Ardi,” ucap pelayan room service itu.
Terdengar suara dering ponsel berbunyi, Ardi lalu melangkahkan kakinya menuju meja di samping ranjang, dia lalu mengambil ponsel itu, “Arka.” Dia lalu mengangkat panggilan itu, “kamu dimana sekarang?” tanyanya dengan nada sedikit keras.
“Tenang kak, jangan marah-marah begitu dong. Nanti cepat tua lo,” ledek Arka. Kay yang mendengar ledekan Arka untuk Ardi pun tidak bisa menahan tawanya.
“Kamu dimana? Lalu kenapa Zahra ada di hotel ini juga? Lalu makanan ini, apa kamu juga yang memesannya?”
“Apa kakak suka dengan kejutan yang aku kasih?”
Ardi mengernyitkan dahinya, “maksud kamu apa? Kejutan apa?” tanyanya bingung.
“Aku dan Kay sengaja mengatur semua itu untuk kakak dan Zahra. kami sengaja mengatur makan malam yang romantis untuk kakak dan Zahra. semua makanan itu memang aku yang pesan, anggap saja itu hadiah pernikahan dari aku dan Kay.”
Ardi menatap Zahra yang masih menunggu jawaban atas pertanyaannya tadi, begitu juga dengan pelayan room service yang masih menunggu jawaban darinya juga.
“Kita bicarakan lagi besok.” Ardi lalu mengakhiri panggilan.
__ADS_1
“Maaf, makanan itu memang untuk kamar ini.” Ardi lalu mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari dalam dompetnya lalu dia berikan kepada pelayan room service itu, “ini buat kamu, sekarang kamu boleh pergi,” ucapnya.
Pelayan room service itu menerima uang itu dan mengucapkan terima kasih sebelum pamit undur diri.
“Kak! kakak belum menjawab pertanyaan aku, kenapa kakak berada di kamar ini, lalu Kak Arka kemana? Dan sepasang suami istri yang Kak Kay katakan tadi?”
Ardi tersenyum, dia lalu mengajak Zahra untuk duduk di sofa, “kita sama-sama telah di kerjai oleh Arka dan Kay,” ucapnya.
Zahra mengernyitkan dahinya, “maksud kakak apa? Aku nggak ngerti?” tanyanya bingung.
Ardi menggenggam tangan istrinya, “mereka sengaja membuat kejutan ini untuk kita, mereka menyiapkan makan malam yang romantis ini untuk kita,” ucapnya.
“Apa! Jadi semua ini untuk kita?” Zahra melihat sekeliling kamar yang dipenuhi oleh kelopak bunga, bahkan di atas ranjang juga bertaburan kelopak bunga mawar.
“Tadi saat aku masuk ke kamar ini, aku sangat terkejut, aku kira resepsionis tadi salah memberikan cardlock sama aku, tapi setelah aku cek lagi ternyata benar ini kamar yang di pesan Arka.”
“Lalu untuk apa kakak ke sini sama Kak Arka?” tanya Zahra penasaran, apa alasan yang Kak Arka berikan ke Kak Ardi sama seperti yang Kak Kay katakan sama aku tadi? Pikirnya.
“Kata Arka, ada klien yang ingin bertemu di kamar hotel ini. Mereka ingin bertemu malam ini juga karena mereka akan kembali ke Amerika besok, makanya aku datang ke hotel ini.”
“Kak Kay juga memberi alasan yang sama, jadi kita sama telah di bohongi oleh mereka berdua.”
Ardi mengecup punggung tangan Zahra, “tapi meskipun aku sudah ditipu oleh mereka, aku merasa bahagia, karena kita bisa menghabiskan waktu bersama malam ini di kamar hotel ini, bahkan mendapatkan service makan malam yang romantis pula,” ucapnya.
Ardi lalu beranjak dari duduknya, dia lalu berjalan untuk mengambil rolling dan mendorongnya menuju tempat dimana Zahra duduk. Pria itu lalu menyalakan lilin yang berada di atas rolling itu, kemudian dia mematikan lampu kamar itu. Sekarang kamar itu hanya diterangi lampu duduk di dekat ranjang dan juga lilin yang baru saja Ardi nyalakan.
“Sungguh romantis,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.
Ardi mendudukkan tubuhnya di samping istrinya, “terima kasih,” ucapnya.
“Bukan kakak, tapi Kak Arka.” Zahra mengambil setangkai bunga mawar dari atas meja, lalu menghirup wangi bunga mawar itu, “dan Kak Kay,” imbuhnya.
Ardi yang awalnya merasa kesal saat mendengar Zahra memuji Arka pun akhirnya sedikit mereda saat Zahra kembali menyebutkan nama Kay.
__ADS_1
“Sayang, aku sebenarnya juga sudah berencana untuk menyiapkan makan malam yang romantis untuk kita, tapi malah keduluan sama Arka dan Kay,” ucap Ardi mencoba memberi alasan agar istrinya itu tidak terlalu kecewa, karena dirinya tidak bersikap romantis.
“Benarkah?” tanya Zahra sambil menatap kedua manik mata suaminya itu.
Ardi menganggukkan kepalanya, “setelah malam ini, aku akan mengatur makan malam yang romantis untuk kita berdua,” ucapnya.
Zahra tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, “aku lapar ni kak, kapan kita mulai makannya,” sindirnya.
Ardi tersenyum, “ayo kita makan sekarang, nanti keburu dingin lagi,” ajaknya.
Mereka pun mulai menikmati makanan yang tertata rapi di atas rolling itu. Ardi mengambil satu sendok makanan lalu dia sodorkan di depan mulut zahra, “sayang, aku ingin makan malam ini semakin romantis dengan aku menyuapimu,” ucapnya.
Tanpa pikir panjang Zahra membuka mulutnya dan menerima suapan dari suaminya. Makan malam itu berakhir dengan saling suap menyuap dari mereka berdua.
Ardi menarik tubuh Zahra agar semakin mendekat ke arahnya, “sayang, apa kamu sudah berhenti datang bulannya?” tanyanya.
Zahra sudah tau maksud pertanyaan suaminya itu, dengan menundukkan wajahnya wanita itu menganggukkan kepalanya pelan. Terlihat senyuman merekah dari kedua sudut bibir Ardi.
“Jadi malam ini kita bisa melakukannya?” Zahra kembali menganggukkan kepalanya.
“Tunggu sebentar ya sayang,” ucap Ardi lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ranjang. Pria itu mengangkat gagang telepon yang memencet nomor panggilan room service. Ardi menyuruh pelayan room service untuk mengambil sisa-sisa makan malam mereka.
Tak berselang lama suara ketukan pintu mulai terdengar. Ardi melangkahkan kakinya menuju pintu dan membukanya. Pria itu lalu membiarkan pelayan room service untuk membawa keluar rolling yang tadi di bawa. Setelah pelayan room service itu keluar, Ardi menutup pintu kamar itu dan menguncinya.
“Sayang, kamu tunggu sebentar ya, aku mau mandi dulu.”
Zahra mengangguk pelan, Ardi lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Zahra lalu beranjak dari duduknya, “apa yang harus aku lakukan? Apa aku benar-benar sudah siap melakukannya? Tapi jika aku menolaknya, aku kasihan dengan Kak Ardi, dia sudah menunggu selama ini.”
Zahra tampak tengah mondar-mandir sambil menggigit ujung kuku jari telunjuknya. Kedua matanya terus menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, yang menandakan Ardi masih membersihkan dirinya.
Zahra segera mendudukkan tubuhnya di atas ranjang saat mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Wanita itu menundukkan wajahnya, dia tidak berani menatap ke arah pintu kamar mandi itu.
Ardi keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya, kedua matanya menatap ke arah sosok wanita cantik yang kini menundukkan wajahnya. Dengan perlahan Ardi melangkahkan kakinya menuju ranjang.
__ADS_1
Ardi lalu mendudukkan tubuhnya di samping istrinya, dia lalu menggenggam tangan istrinya lalu mengecup punggung tangannya, “apa kamu sangat gugup sayang?” tanyanya.
~oOo~