
Ardi kini tengah duduk di kursi kerjanya, hari ini begitu banyak berkas-berkas yang harus dia selesaikan. Entah mengapa beberapa hari ini fikirannya tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Kehadiran Kay di rumahnya,
kembalinya Zahra, hatinya seakan tengah dilema.
Ardi mengacak-acak rambutnya karena frustasi, “kenapa semua seperti ini. Kay...kenapa kamu harus tinggal di Jogja lagi, kenapa? Di saat aku mulai bisa melupakan kamu.” Ardi menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi
kerjanya, “Zahra, kenapa aku juga begitu sulit melupakan wajah kamu. Sebenarnya apa yang terjadi denganku, apa maksud semua ini?”
Terdengar suara pintu di ketuk, “masuk,” sahut Ardi dari dalam ruangannya.
Pintu terbuka dengan perlahan, Micel masuk ke dalam ruangan Ardi, “maaf, Pak. Saya hanya ingin mengingatkan jika malam ini anda ada acara makan malam dengan client,” ucapnya.
“Apa makan malam ini sangat penting?” tanya Ardi, mungkin karena suasana hatinya yang sedang gelisah, pria itu enggan untuk pergi kemana-mana.
“Ya, Pak. Karena ini menyangkut kerja sama kita dengan perusahaan mereka. Apa lagi kerja sama ini berhasil akan mengutungkan perusahaan.”
Ardi menghela nafas berat, “baiklah, nanti kamu temani saya. Kamu urus semuanya,” ucapnya dan langsung mendapat anggukkan dari Micel.
“Apa saya perlu datang ke rumah anda?” tanya Micel dengan penuh harap. Gadis itu ingin sekali datang ke rumah Ardi dan bertemu dengan keluarganya. Semenjak Kenzo mulai menyerah dengan dirinya, dia kini semakin gencar untuk mengejar cinta Ardi.
“OK, nanti aku tunggu di rumah.”
“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Micel lalu berjalan keluar.
Ardi kembali menyibukkan dirinya dengan setumpuk berkas di meja kerjanya, dia ingin sejenak melupakan masalah dalam hidupnya. Cinta yang belum tentu pasti mendapatkan balasan, untuk apa akua pikirkan, hanya bikin pusing kepala. Pikirnya.
***
Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, dia keluar dari kamarnya. Pria itu melihat Kay sedang kesusahan menenangkan Ansel yang tengah menangis, akhirnya dia memutuskan untuk menghampiri Kay, “kenapa Ansel
menangis?” tanyanya sambil mengambil Ansel dari gendongan Kay.
“Mungkin dia kangen sama Ayahnya.” Kay terkejut melihat Ansel yang langsung diam setelah di gendong oleh Ardi, “Kak Ardi memang pria berhati hangat, bukan hanya Kevin yang nyaman di gendongannya, tapi Ansel juga,” pikirnya dalam hati dengan senyuman di wajahnya.
“Kenapa kamu tersenyum, apa kamu terpesona dengan ketampanan aku?” tanya Ardi dengan senyuman di wajahnya.
__ADS_1
“Aku nggak akan bohong, Kak Ardi dari dulu memang tampan, tapi...” Kay mengantungkan ucapannya.
“Tapi apa?”
“Tapi masih ada yang lebih tampan dari Kak Ardi.” Kay mengusap puncak kepala Ansel.
“Hah..iya-iya.” Ardi bisa langsung menebak siapa yang di maksud oleh Kay.
“Kak Ardi kok udah rapi gini, mau ke mana?” tanya Kay sambil melihat penampilan Ardi dari atas sampai bawah.
“Aku ada acara makan malam dengan client. Ngomong-ngomong Arka ke mana?” tanya Ardi penasaran karena sejak dia pulang dari kantor dia tidak melihat adiknya itu.
“Arka pulang ke Pekanbaru untuk mengurus sesuatu, mungkin besok baru pulang.” Kay mengambil Ansel dari gendongan Ardi, “Ansel sama Bunda ya, Om Ardi mau pergi sayang,” ucapnya.
Ansel seakan tidak ingin lepas dari gendongan Ardi, “biar kan Kay, lagian aku masih nanti perginya,” ucap Ardi sambil menciumi pipi gembul Ansel.
Terdengar suara pintu di ketuk. “biar aku aja yang buka,” ucap Kay lalu berjalan menuju pintu utama.
“Kevin sama Rasya ke mana ya, kok dari tadi aku nggak melihat mereka.” Ardi berjalan menuju ruang tamu sambil mengendong Ansel yang kini sedang menarik-narik dasi yang dia kenakan.
“Gadis ini teman Kak Ardi?” tanya Kay lalu menyuruh Micel masuk.
Ardi menganggukkan kepalanya, “dia juga sekretaris aku.” Pria itu lalu menyerahkan Ansel kepada Kay, “Ansel nggak boleh nakal ya, harus nurut kata Bunda. Om Ardi harus pergi dulu,” imbuhnya. Ardi mengajak Micel
keluar dari rumah.
Kay melihat ada yang berbeda dengan tatapan gadis itu, “apa gadis itu menyukai Kak Ardi ya, tatapannya seakan-akan dia begitu menganggumi kak Ardi,” ucapnya. Kay menutup pintu lalu menguncinya.
Saat Ardi ingin membukakan pintu mobil untuk Micel, tiba-tiba dia mendengar seseorang memanggilnya. Pria itu pun menenggok ke arah sumber suara, “Kenzo!” serunya terkejut.
“Kamu mau ke mana?” tanya Kenzo sambil berjalan mendekat.
“Aku ada acara makan malam dengan cleint aku, kamu sendiri ada apa ke sini?” tanya Ardi penasaran.
“Aku mau membicarakan sesuatu hal yang penting.” Kenzo menatap ke arah Micel, “tapi aku hanya ingin bicara berdua sama kamu,” imbuhnya.
__ADS_1
“Apa harus sekarang?” Ardi melihat jam di pergelangan tangannya, “tapi sekarang aku sedang buru-buru,” imbuhnya.
Kenzo mendekatkan tubuhnya ke tubuh Ardi, “tapi ini ada hubungannya dengan Zahra,” bisiknya.
Micel begitu penasaran dengan apa yang di bicarakan Kenzo dengan Ardi, “kalian sedang membicarakan apaan sih, kenapa harus bisik-bisik?” tanyanya.
Ardi terlihat sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan. Makan malam ini sangat penting untuk kemajuan perusahaannya, tapi apa yang ingin di bicarakan Kenzo dengannya juga sangata membuat dirinya penasaran.
“Ardi, ayo kita berangkat sekarang, kita udah telat,” ucap Micel sambil menarik tangan Ardi.
“Kamu yakin ingin pergi dengan Micel? Apa kamu ingin melewatkan kesempatan ini?” Kenzo semakin membuat Ardi bingung.
“Ken, apa kita nggak bisa bicara besok aja, makan malam ini sangat penting buat perusahaan aku.” Ardi tidak mungkin melepaskan kerja sama yang sangat menguntungkan untuk perusahaannya.
Kenzo mengangguk, dia mengalah, “tapi aku nggak bisa menunggu sampai besok. Setelah urusan kamu selesai, kamu temui aku di rumah. Jika kamu tidak datang, aku anggap kamu menyerah,” ucapnya.
Micel mengernyitkan dahinya, “menyerah! Menyerah soal apa ya?” tanyanya penasaran.
“Ini bukan urusan kamu, jadi kamu nggak perlu tau,” ucap Kenzo ketus.
“Kenapa jawaban Kenzo seperti itu ke Micel? Bukannya dia sangat mencintai Micel, apa dia sudah menyerah?” gumam Ardi dalam hati.
Ardi mengangguk mengerti, “Micel ayo kita berangkat sekarang, aku ingin segera menyelesaikan urusan kerja sama ini,” ucapnya lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil.
Micel berjalan mendekati Kenzo, “apa yang sedang kamu rencanakan? Apa ini ada hubungannya dengan Zahra?” tanyanya.
“Kenapa kamu begitu penasaran? Apa kamu takut Ardi akan memilih Zahra? Jika itu benar-benar terjadi, usaha kamu selama ini untuk mendapatkan Ardi akan sia-sia,” sindir Kenzo sambil menyunggingkan senyuman.
“Kenapa kamu lakukan ini sama aku, kenapa?”
“Apa? Memangnya apa yang aku lakukan? Apa aku menyakiti kamu? Tapi rasa sakit yang kamu rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan. Selama ini aku sudah melakukan segala cara untuk mendapatkan hati kamu. Tapi apa...kamu sama sekali tidaak menghargai usaha aku,” ucap Kenzo lalu melangkahkan kakinya menjauh.
Ardi menyuruh Micel untuk masuk ke dalam mobil, dia sudah sabar ingin mendengar apa yang ingin di katakan sahabatnya itu, tapi dia terlebih dahulu harus menyelesaikan urusannya, karena diaa juga tidak mau kehilangan
kesempatan itu.
__ADS_1
~oOo~