Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Sudah bertambah tua


__ADS_3

Setelah keadaan Kay mulai membaik, Arka beserta keluarganya membawanya ke Jogja. Sudah tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan di Pekanbaru, semuanya sudah hancur, Arka juga sudah menjual semuanya, hanya tersisa rumah peninggalan kedua orang tua Kay yang akan menjadi tempat mereka untuk mengenang kedua orang tua Kay.


Kay tidak akan pernah menjual rumah yang penuh dengan kenang-kenangan itu, dimana dia lahir dan dibesarkan di sana. Kasih sayang kedua orang tuanya tidak akan pernah luntur, tidak akan pernah dia lupakan meskipun mereka sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Mereka sudah bersiap-siap menuju ke bandara, sebelum masuk ke dalam taksi, Kay dan Arka menatap ke rumah yang masih terlihat indah meskipun rumah itu sudah berdiri sebelum Kay lahir.


Arka menggenggam tangan Kay, “kita setiap bulan akan tetap kesini, sekalian untuk mengunjungi makam Ayah dan Bunda. Aku juga sudah menyuruh asisten rumah tangga kita untuk tetap mengurus rumah ini,” ucapnya.


“Aku sangat berat untuk meninggalkan rumah ini, begitu banyak kenangan aku disini sama Ayah dan Bunda.”


Arka memeluk tubuh Kay, “sayang, aku tau apa yang kamu rasakan saat ini, tapi kamu juga jangan terlalu larut dalam kesedihan, masih ada Ansel dan Kevin yang masih sangat membutuhkan kamu,” ucapnya.


“Maafkan aku.”


“Ayo kita masuk.” Arka membukakan pintu taksi itu dan membantu Kay untuk masuk ke dalam taksi, dia lalu juga masuk ke dalam taksi itu.


Dalam perjalanan menuju bandara, Kay terus memeluk Ansel dengan sangat erat. Dialah yang paling menderita saat Kay terlalu terlarut dalam kesedihannya, karena selama ini yang begitu dekat dengan bundanya hanyalah Ansel. Kevin memang dekat dengan Kay, tapi sejak dia beranjak dewasa, dia sudah tidak sedekat itu lagi dengan Kay.


Sesampainya di Jogja, Kay, Arka, dan Ansel untuk sementara waktu tinggal di rumah kedua orangtua Arka. Karena mereka tidak mempunyai tempat tujuan lain selain rumah itu, sedangkan Kevin masih tetap tinggal di rumah Ardi, itu pun atas izin dari Kay dan Arka. Tapi setelah Arka mendapatkan rumah untuk mereka, Kevin akan kembali tinggal dengan mereka.


Arka mengajak Kay untuk beristirahat di dalam kamar, walaupun Kay sudah tidak begitu larut dalam kesedihannya, tapi kondisi tubuhnya masih sangat lemah, “tidurlah,” ucapnya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh Kay.


“Ka,” panggil Kay pelan.


“Hem...” Arka menatap kedua mata Kay.


“Jangan pergi, aku nggak mau sendirian.”


Arka tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, setelah itu dia lalu naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Kay. Arka menarik tubuh Kay dan mendekapnya, “aku nggak akan kemana-mana, sekarang tidurlah, kamu harus beristirahat agar kondisimu kembali pulih,” ucapnya.

__ADS_1


Kay menganggukkan kepalanya, dia semakin menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Arka. Arka mengecup puncak kepala Kay, dia pun ikut memejamkan kedua matanya, karena dia juga merasa sangat lelah.


Sedangkan Ansel saat ini tengah bermain bersama dengan Rasya dan juga Kevin. Arka memang menyuruh Kevin untuk mengajak Ansel bermain agar anak itu tidak bersedih.


“Ansel ingin apa, nanti kakak akan melakukan apapun yang Ansel minta,” ucap Kevin sambil berjongkok di depan Ansel.


Ansel menggelengkan kepalanya, “aku nggak mau apa-apa, Kak, aku hanya ingin menemani Bunda,” ucapnya.


“Sekarang Bunda sedang beristirahat, jadi Ansel nggak boleh mengganggu Bunda, lebih baik Ansel lanjutin mainan, kan ada Kak Rasya dan juga kakak disini,” ucap Kevin sambil mengusap puncak kepala Ansel.


Ansel menganggukkan kepalanya, “tapi kakak jangan kemana-mana ya,” pintanya.


“Iya, kakak nggak akan kemana-mana,” ucap Kevin sambil tersenyum.


Ardi dan Zahra yang saat ini tengah mengamati mereka, sangat bahagia melihat kedekatan mereka. Kevin yang sudah mulai beranjak dewasa juga sudah bisa menjaga kedua adik-adiknya.


“Aku nggak menyangka Kevin akan secepat itu tumbuh dewasa, karena sepertinya baru kemarin aku menggendongnya saat dia masih bayi,” ucap Ardi sambil menatap ke arah Kevin.


Ardi merangkul pundak istrinya itu, “meskipun sudah tua, tapi aku masih bisa memuaskan istri ku yang masih muda ini, bahkan kamu sampai lemas tak berdaya,” godanya.


Zahra mencubit pinggang Ardi hingga membuat pria itu meringis menahan sakit, “dasar!” ucapnya.


“Sayang, sepertinya sudah waktunya aku memberikan rumah itu kepada Kevin, agar dia bisa mengajak kedua orang tuanya untuk tinggal di rumah itu.”


Zahra mengangguk mengerti, “aku akan mendukung kakak. Kak Kay memang berhak atas rumah itu, karena sejak awal kakak membeli rumah itu memang untuknya,” ucapnya.


“Tapi Kay nggak mau menerima rumah itu, makanya aku memberikan rumah itu untuk Kevin, karena dia tetaplah anakku.”


“Lalu kapan kakak akan memberitahu Kak Arka?”

__ADS_1


“Setelah semua mulai membaik, sekarang yang terpenting adalah membuat Kay dan anak-anak agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.”


Zahra memeluk Ardi dengan sangat erat, dia lalu mendongakkan wajahnya, “aku bahagia bisa mempunyai suami yang begitu baik seperti kakak,” ucapnya lalu mencium kilas bibir suaminya itu.


Ardi tersenyum, dia lalu menarik kedua pinggang istrinya agar tubuh mereka semakin melekat, “apa kamu sengaja ingin menggodaku sayang?” tanyanya.


“Jika iya, kakak mau apa? apa kakak akan melakukan itu?” tantang Zahra dengan senyuman di wajahnya.


“Kapanpun aku siap, sayang,” ucap Ardi sambil mengedipkan salah satu matanya.


Ardi yang sudah terpancing oleh godaan istrinya yang hanya memberinya kecupan di bibirnya pun sudah tidak sanggup menahan gejolak di dalam dirinya. Ardi lalu mengajak Zahra menuju kamar untuk memenuhi hasrat di dalam dirinya yang sudah memuncak.


Zahra tidak menyangka suaminya akan semudah itu terbangkit birahinya hanya gara-gara sebuah kecupan kecil. Tapi wanita itu tidak menyesal karena telah membangkitan hasrat dalm diri suaminya, karena dirinya sendiri juga sangat menginginkan itu. Entah kenapa semenjak kehamilannya, dia begitu menginginkan belaian lembut suaminya.


Setelah melakukan pergulatan panas mereka yang hanya berlangsung sangat singkat, Ardi menutup tubuhnya dan juga Zahra yang polos itu dengan selimut. Pria itu lalu mengecup kening istrinya dengan sangat lembut.


“Kak, aku sudah nggak sabar ingin melihat anak-anak kita terlahir ke dunia, mereka pasti sangat lucu.” Zahra mengusap perutnya yang masih rata.


“Saat Cesa memberitahu aku kalau ternyata anak kita kembar, aku sungguh tidak percaya. Ini sungguh keajaiban,” ucap Ardi sambil meletakkan telapak tangannya di atas tangan istrinya yang saat ini sedang mengusap perutnya yang masih rata.


“Mungkin ini karena hadiah untuk kesabaran kita selama ini. Kita sudah menunggu dua tahun lebih, dan akhirnya aku hamil, dan calon anak kita ternyata kembar.”


Ardi memeluk istrinya dengan sangat erat, “aku janji akan membahagiakan kalian semua, aku nggak akan membiarkan kalian bersedih, aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu,” ucapnya.


“Aku juga sangat mencintai kakak, bahkan cinta aku lebih besar dari kakak,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.


Ardi mencium kilas bibir tipis istrinya itu, “sayang, sepertinya calon anak-anak kita ini masih sangat merindukan ayahnya, bagaimana kalau kita melakukannya sekali lagi? Aku janji akan pelan-pelan saat melakukannya agar nggak menyakiti mereka,” pintanya.


Zahra tersenyum, meskipun wajahnya saat ini merah merona, tapi dia tetap menganggukkan kepalanya, karena dia juga sangat menginginkannya. Ardi menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman, tanpa pikir panjang dia pun mulai membenamkan bibirnya ke bibir tipis istrinya. Pergulatan panas itu pun kembali terulang untuk kedua kalinya, keringat kembali mengucur deras membasahi kedua tubuh polos itu. Desahan-desahan kenikmatan kembali terdengar, dan itu membuat Ardi semakin bersemangat.

__ADS_1


‘Kak, terima kasih karena telah mencintaiku, menerima kekurangan aku, aku janji, apapun yang terjadi, aku nggak akan pernah meninggalkan kakak. Bagiku kakak adalah segala-galanya untukku,” gumam Zahra bersamaan dengan cengkraman kuat di kedua lengan suaminya, saat lenguhan panjang keluar dari mulutnya, tubuhnya bergetar hebat. Begitu juga dengan Ardi, tubuhnya kembali lemas, dan dia terbaring lemah di samping istrinya.


~oOo~


__ADS_2