
Setelah pulang dari kantor, Ardi mengajak Kevin untuk berbicara berdua di ruang kerjanya. Ini sudah dua bulan setelah masa berkabung kematian kedua orang tua Kay. Sudah waktunya Ardi memberikan apa yang seharusnya sudah dia berikan sejak dulu.
“Ayah, apa ada sesuatu yang penting? Nggak seperti biasanya Ayah mengajak Kevin untuk berbicara serius seperti ini?” Kevin memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya setelah pemuda itu mengirim pesan kepada sahabatnya jika dirinya tidak bisa keluar malam ini.
Malam itu sebenarnya Kevin ada janji dengan sahabatnya, untuk mengerjakan tugas sekolah di rumah salah satu sahabatnya. Tapi dia terpaksa harus membatalkan janji itu karena Ardi ingin membicarakan hal penting dengan dirinya.
“Apa malam ini kamu ada janji?” Ardi meletakkan dokumen kepemilikan rumah dan tanah di atas meja, dia lalu mendudukkan tubuh samping Kevin.
“Sebenarnya malam ini Kevin ada janji sama teman-teman Kevin untuk mengerjakan tugas sekolah.”
Ardi menghela nafas, “maafin Ayah, tapi Ayah sudah tidak bisa menunda ini lagi,” ucapnya.
“Apa itu?” tanya Kevin penasaran.
“Sekarang kamu sudah besar, kamu sudah bisa menjaga adik dan juga kedua orang tua kamu. Seharusnya Ayah memberikan ini sejak lama, tapi Ayah takut Bunda kamu akan kembali menolaknya.” Ardi mengambil dokumen itu dari atas meja, “tapi sekarang Ayah akan menyerahkan semua ini sama kamu,” imbuhnya lalu memberikan dokumen itu kepada Kevin.
“Apa ini, Ayah?” Kevin mengambil dokumen itu dari tangan Ardi, “ini untuk Kevin?” tanyanya kemudian.
Ardi menganggukkan kepalanya, “itu adalah hak kamu dan Bunda kamu,” ucapnya.
Kevin membuka dokumen itu dan membaca isi dokumen itu, “rumah ini...”
Ardi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, “itu rumah yang dulu kita tempati. Dimana begitu banyak kenangan di rumah itu. Itu pertama kalinya Ayah menjadi seorang Ayah, mendapatkan kamu sebagai anak Ayah adalah anugerah terindah yang pernah Ayah dapatkan,” ucapnya.
“Ayah...” Kevin lalu memeluk Ardi dengan sangat erat, “Kevin sayang sama Ayah,” ucapnya.
Ardi melepaskan pelukannya, “Ayah lebih sayang lagi sama kamu, jadilah anak yang berbakti, lindungi dan jaga adik, Ayah dan Bundamu, karena kamu adalah satu-satunya harapan mereka,” ucapnya.
Kevin menganggukkan kepalanya, “Kevin akan lakukan apapun permintaan Ayah,” ucapnya.
“Mulai besok kamu sudah bisa menempati rumah itu bersama dengan kedua orang tua kamu dan juga Ansel. Disana ada Bik Min dan Pak Dodik yang mengurus rumah itu, mereka yang akan membantu kalian nanti.”
Kevin terdiam, dia lalu menundukkan wajahnya, “apa itu berarti Kevin nggak bisa tinggal disini lagi sama Ayah?” tanyanya sedih.
Ardi mengusap bahu Kevin, “siapa yang bilang? Kapanpun kamu ingin tinggal di rumah ini, pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kamu. Tante Zahra dan Rasya pasti akan senang jika kamu mau tinggal bersama dengan kami lagi,” ucapnya.
“Yah,” panggil Kevin pelan.
__ADS_1
“Ya...apa ada yang ingin kamu katakan?”
“Tante Zahra selama ini sangat baik sama Kevin, dia juga menganggap Kevin seperti anaknya sendiri, apa Kevin juga boleh menganggap tante Zahra sebagai Mama Kevin?” Kevin bertanya masih dengan kepala yang tertunduk.
Ardi mengulas senyum, tanpa dia minta, justru Kevin yang meminta agar dia dia bisa memanggil Zahra dengan panggilan Mama, “Ayah nggak akan memaksa kamu untuk memanggil tante Zahra dengan panggilan Mama, tapi jika kamu ingin memanggil tante Zahra dengan panggilan Mama, Ayah nggak akan pernah melarang kamu, tapi...apa kamu sudah meminta izin sama Bunda dan Ayah kamu untuk itu?” tanyanya.
Kevin menggelengkan kepalanya, “tapi kenapa Kevin harus meminta persetujuan mereka? Kevin hanya ingin memanggil Mama, apa itu salah?” tanyanya.
“Tidak ada yang salah, tapi Bunda dan Ayah kamu harus tau, karena mereka yang lebih berhak untuk memutuskan.”
“Baiklah, Kevin akan meminta izin sama mereka, tapi jika mereka tetap tidak mengizinkan, Kevin tetap akan memanggil tante Zahra Mama, karena tante Zahra selama ini baik sama Kevin.” Kevin melihat jam di pergelangan tangannya, “Ayah, boleh Kevin pergi sekarang, sepertinya Kevin masih sempat untuk mengerjakan tugas dengan teman-teman Kevin,” pintanya.
Ardi menganggukkan kepalanya, “pergilah, bilang sama supir Ayah untuk mengantar kamu,” ucapnya.
Kevin menganggukkan kepalanya, dia lalu mencium tangan Ardi, “Kevin pergi dulu, Yah,” pamitnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
****
“Den Kevin, saya akan menunggu di mobil.”
“Tapi, Den...”
“Biar nanti aku yang akan bilang sama Ayah, jadi Pak Razak nggak usah khawatir.”
Pak Razak menganggukkan kepalanya, dia lalu masuk ke dalam mobil, setelah itu mobil itu mulai melaju dan meninggalkan tempat itu. Kevin lalu melangkahkan kakinya menuju pintu rumah sahabatnya itu dan mengetuk pintu itu. Tak berselang lama pintu itu mulai terbuka.
“Aku kira kamu nggak jadi datang.” seorang gadis cantik membuka pintu itu dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
“Apa aku sangat terlambat?”
Gadis itu menggelengkan kepalanya, “kita baru mau mulai,” ucapnya lalu menyuruh Kevin untuk masuk ke dalam rumahnya.
“Hai, Vin, datang juga kamu.” Aslan merangkul pundak Kevin dan mengajaknya menuju ruang tamu. Di sana sudah ada 2 sahabat Kevin yang lain, yaitu Nino dan juga Meta.
Meta adalah gadis yang sangat cantik, dengan hijab yang menutup kepalanya. Gadis itu adalah gadis yang pendiam. Kedua mata Kevin terus menatap wajah cantik itu, pemuda itu begitu mengagumi kecantikan gadis itu.
__ADS_1
“Jaga mata kamu dari Zina,” ucap Nino yang seiman dengan Meta.
“Apaan sih!” Kevin lalu mendudukkan tubuhnya di depan Meta, gadis itu hanya tersenyum saat melihat Kevin yang sejak tadi terus menatapnya.
“Ayo kita mulai mengerjakan tugasnya, “ucap Riri sambil duduk di samping Kevin.
Mereka pun terlihat sangat serius dalam mengerjakan tugas sekolah itu, tapi tidak dengan Riri, gadis itu tak henti-hentinya menatap wajah tampan Kevin yang sangat dia kagumi sejak dia pertama kali masuk di sekolah itu.
Nino yang melihat semua itu hanya menggelengkan kepalanya, bagaimana tidak, pemuda itu tau jika sahabatnya itu menyukai Meta, tapi sayang mereka berbeda keyakinan, dan itu yang membuat Kevin ragu untuk menyatakan perasaannya. Tapi Riri, yang sama kepercayaannya dengan Kevin, juga sangat mengagumi Kevin, ‘cinta segitiga yang sangat rumit,’ gumamnya dalam hati.
Setelah dua jam, mereka akhirnya menyelesaikan tugas sekolah mereka. Karena sudah malam, mereka memutuskan untuk langsung pulang.
“Aku duluan ya, sudah malam juga,” ucap Meta.
Nino menepuk bahu Kevin, “rumah kamu dan rumah Meta kan dekat, kenapa kamu nggak nebeng dia aja,” usulnya.
Riri menggandeng lengan Kevin, “kamu aku antar saja pulangnya, aku bisa bawa mobil kok. Kalau kamu bareng sama Mata, nanti kamu kedinginan,” ucapnya dengan nada menyindir.
Meta sudah terbiasa dengan sindiran-sindiran yang Riri tujukan untuk dirinya, tapi gadis itu hanya mendiamkan nya, dia tidak suka mencari musuh, apalagi Riri adalah teman sekelasnya dan juga mereka berada di satu kelompok belajar.
Kevin menurunkan tangan Riri dari lengannya, “terima kasih atas tawarannya, tapi lebih baik aku ikut Meta saja, karena rumah kita searah,” tolaknya.
Meta membulatkan kedua matanya, dia tidak menyangka Kevin yang terkenal kaya dan juga sangat dikagumi oleh kaum hawa di sekolahnya, mau naik motor bersama dengan dirinya.
“Apa aku boleh nebeng sama kamu?” Kevin bertanya dengan senyuman di wajahnya.
“Apa kamu nggak malu naik motor aku?” tanya Meta sambil menundukkan wajahnya.
“Kenapa harus malu, yang pentingkan aku bisa sampai di rumah,” ucap Kevin sambil menepiskan senyumannya.
Meta pun akhirnya menganggukkan kepalanya, dia lalu memberikan kunci motornya kepada Kevin. Mereka pun pamit pulang, Riri dengan perasaan kesal masuk ke dalam rumah. Nino hanya mengedikkan bahu, lalu berjalan menuju motornya yang dia parkirkan dia dekat motor Meta.
“Kevin, orang ketiga itu adalah setan, jadi jangan mampir kemana-mana, langsung pulang ke rumah,” ucap Nino lalu naik ke atas motornya.
Kevin berdecih, “aku juga bukan pria sebrengsek itu kali!” serunya kesal.
Kevin lalu meminta Meta untuk naik ke atas motor, Nino tersenyum saat melihat Meta yang berpegangan pada motor bagian belakang. Kevin lalu mulai melajukan motor itu dan di ikuti Nino di belakangnya.
__ADS_1
~oOo~