Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus Chapter 31


__ADS_3

“Sayang, sebenarnya ada apa ini?” tanya Mama Zahra penasaran.


Kedua orang tua Zahra melihat putrinya kini sedang menjadi rebutan dua orang pria, bahkan mereka secara terang-terangan memperlihatkannya di depan mereka. Jika Matteo mengatakan di depan kedua orang tua Zahra jika dia mencintai putri mereka, mungkin kedua orang tua Zahra akan memberinya restu, itu di karenakan mereka sudah mengenal lama Matteo. Tapi jika Ardi yang mengatakan itu, bagaimana reaksi kedua orang tua Zahra?


“Matt, jangan bicara omong kosong!” seru Zahra.


“Zahra, apa maksud kamu? Aku hanya ingin tau apa hubungan dia sama kamu, hingga dia bela-belain datang ke sini hanya untuk mengantar kamu ke kampus,” ucap Matteo sambil menatap tajam ke arah Ardi.


“Sudah-sudah, Om nggak suka ada pertengkaran di rumah Om pagi-pagi. Zahra...lebih baik kamu pergi dengan Matteo, karena Papa lebih mengenal Matteo dari pada teman kamu si Ardi ini,” ucap papa Zahra.


Matteo tersenyum puas, ternyata ada yang memihak padanya. Ardi terlihat sangat tidak suka dengan keputusan papanya Zahra. Bagaimana pun dia tidak suka Zahra di antar oleh Matteo.


“Maaf, Om, Tante. Apa boleh saya bicara sebentar?" tanya Ardi.


“Kak...” Zahra terlihat sangat gelisah, apa yang akan di katakan pria itu kepada kedua orangtuanya.


Ardi tersenyum, “Om, sebenarnya saya bukan orang asing untuk putri anda, karena saya dan Zahra sebenarnya saling mencintai. Kami sebenarnya sudah menjalin hubungan, itu sebabnya saya datang ke sini untuk mengantarkannya. Jika Om masih ragu atau tidak percaya dengan keserius saya, saya bisa membuktinya kepada Om. Saya janji...” Ardi beranjak dari duduknya, dia lalu duduk berjongkok di samping sofa yang Zahra duduki. Pria itu lalu menggenggam tangan gadis itu, “saya janji, saya akan menjaga Zahra seperti saya menjaga nyawa saya sendiri,” imbuhnya.


Perkataan Ardi membuat kedua mata Zahra membulat dengan sempurna, gadis itu begitu terkesiap mendengar pernyataan Ardi begitu juga dengan Matteo dan kedua orang tua Zahra.


“Kak...” Zahra tidak tau harus berkata apa, jika dirinya mengelak pernyataan Ardi, maka itu akan membuat Matteo tidak akan mempercayai sandiwara mereka. Tapi jika dia mengiyakan pernyataan Ardi, lalu apa yang akan terjadi nantinya. Hubungan itu hanyalah sandiwara, tapi apa yang akan dia katakan kepada kedua orangtuanya jika hubungan itu berakhir setelah misinya selesai.


“Zahra, jelaskan kepada Papa, sebenarnya ada apa ini? Apa benar yang di katakan Ardi jika kalian berpacaran?” tanya papa Zahra dengan nada serius.


Gadis itu masih tetap diam, apa yang harus aku katakan, apa? Zahra tersentak saat Ardi mengecup punggung tangannya lalu menganggukkan kepalanya. Gadis itu pun menghela nafas panjang, “Pa...”

__ADS_1


“Om, ini semua nggak benar. Mana mungkin Zahra mempunyai hubungan dengan pria ini, sedangkan mereka belum lama saling mengenal,” ucap Matteo memotong ucapan Zahra.


“Kamu salah, aku dan Zahra sudah saling mengenal sejak dulu, bahkan sebelum kamu mengenal Zahra,” ucap Ardi lalu mencoba berdiri dan kembali duduk di sofa yang tadi dia duduki.


“Maksud kamu?” tanya Matteo terkejut.


“Om dan Tante apa sama sekali tidak ingat dengan saya?” tanya Ardi sambil menatap kedua orang tua Zahra. Kedua orang tua Zahra saling menatap, mereka sama sekali tidak mengingat siapa pria yang duduk di depan mereka saat


ini.


“Saya Radit, Om, Tante. Saya adalah remaja yang dengan tidak sengaja telah menabrak putri kalian 13 tahun yang lalu. Saya adalah teman sekolah Kenzo,” aku Ardi yang membuat kedua orang tua Zahra sangat terkejut mendengar pengakuannya.


“Jadi kamu anak itu, Om sama sekali tidak mengenali kamu,” ucap papa Zahra terkejut.


Saat kejadian itu, di rumah sakit Ardi sudah menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya, kejadian di mana mobilnya sama sekali tidak bisa menghindari kecelakaan itu karena tiba-tiba Zahra muncul di depan mobilnya, yang membuat dirinya tidak mungkin menghentikan mobilnya secara mendadak.


“Saya minta maaf, Om. Karena saya tidak bisa menemani Zahra sampai dia siuman,” ucap Zahra menyesal.


“Kenzo sudah mengatakan alasan kenapa kamu tidak bisa menunggu sampai Zahra sadar. Om juga tidak bisa memaksa kamu untuk tetap berada di samping Zahra, karena pendidikan kamu juga penting. Selain itu Zahra waktu itu juga masih sangat belia,” ucap papa Zahra.


Matteo masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, pemuda itu tetap tidak akan menyerah untuk mendapatkan hati Zahra. Matteo belum sepenuhnya yakin jika Ardi dan Zahra benar-benar mempunyai hubungan.


“Sayang, apa kamu sudah mengetahui semua itu?” tanya mama Zahra. Gadis itu menganggukkan kepalanya, “tapi kenapa kamu nggak menceritakan itu sama Mama dan Papa?” tanyanya lagi.


“Zahra pikir semua itu kan sudah berlalu, Ma. Dan sekarang Zahra baik-baik saja,” ucap Zahra.

__ADS_1


“Sekarang Papa tanya serius sama kamu, apa kamu dan Ardi benar-benar sedang menjalin hubungan, walau umur kalian terpaut cukup jauh?” tanya papa Zahra dengan nada serius.


“Pa, umur itu nggak jadi masalah, jika putri kita mecintai Ardi, kita juga nggak bisa menentangnya,” ucap mama Zahra.


“Papa tau, Ma. Tapi jika papa lihat-lihat, Ardi itu seumuran dengan adik Papa,” ucap papa Zahra yang mampu membuat Ardi membulatkan kedua matanya, bagaimana bisa? Pikirnya.


“Mana mungkin Pa, Ardi aja masih muda gini,” puji mama Zahra yang membuat suaminya mengernyitkan dahinya.


“Maksud Papa, Om Haikal?” tanya Zahra dan mendapat anggukkan dari papanya.


“Tapi kan wajah Om Haikal sudah kelihatan tua, Pa,” ledek Zahra sambil menahan tawa.


“Itu karena Om kamu selalu tertekan hidupnya karena ulah tante kamu yang nggak mempunyai perasaan itu,” ucap papa Zahra.


“Sudah-sudah, kenapa kalian malahan membicarakan orang yang nggak ada di sini,” ucap mama Zahra.


“Benar kata Om. Kak Ardi ini nggak pantas untuk menjadi kekasih Zahra, dia terlalu tua untuk Zahra. Apa Om nggak kasian sama Zahra, jika mereka menikah nanti dan mempunyai anak. Pasti Kak Ardi sudah semakin tua,” ucap Matteo sambil menatap sinis ke arah Ardi.


Zahra tidak menyangka suasananya akan menjadi serumit ini. Apa dia akan mengakui ucapan Ardi hanya untuk kepentingan sendiri untuk membuat Matteo menjauhinya? Tetapi yang dia lihat sekarang Matteo malahan semakin gencar melontarkan kata-kata pedas yang bisa menyakti hati Ardi.


“Sayang, kenapa kamu diam saja? Jika kamu memang mencintai Ardi, Mama dan Papa hanya ingin mendengar apa alasan kamu hingga mengambil keputusan itu?” tanya mama Zahra.


Ardi menatap lekat wajah Zahra yang kini tengah menundukkan wajahnya. Apa keputusan aku mengatakan semua itu salah? Apa ini bukan waktu yang tepat untuk menjalankan sandiwara ini? Ardi terlihat seakan menyesali ucapan yang telah dia lontarkan di depan kedua orang tua Zahra dan Matteo.


Niatnya ingin membantu gadis itu agar segera terlepas dari Matteo, tapi kenyataannya sikap gegabahnya malah membuat gadis itu terpojok.

__ADS_1


~oOo~


__ADS_2