
Ardi yang tengah duduk di teras depan rumahnya, melihat sebuah motor yang masuk ke halaman rumahnya. Pria itu mengernyitkan dahinya, ‘Kevin bersama dengan siapa itu?’ tanyanya dalam hati.
Kevin turun dari motor, begitu juga dengan Meta, “makasih ya sudah mau memberi aku tumpangan sampai rumah,” ucapnya sambil memberikan kunci mobil itu kepada gadis berhijab itu.
“Sama-sama, kalau begitu aku pulang dulu.”
Kevin hanya menganggukkan kepalanya, sebenarnya ingin sekali Kevin menyuruh Meta untuk mampir ke rumahnya, tapi berhubung waktu sudah malam, dia pun mengurungkan niatnya. Pemuda itu melihat gadis itu sudah melajukan motornya keluar dari gerbang rumahnya.
“Siapa gadis itu?” tanya Ardi yang sudah berdiri di belakang Kevin.
Kevin membulatkan kedua matanya, “A—ayah, sejak kapan Ayah ada disini?” tanyanya terkejut.
“Baru saja, tapi Ayah sudah melihat semuanya. Siapa gadis itu?” tanyanya lagi.
“Em...dia teman sekelas Kevin, Yah. Namanya Meta, tadi Kevin numpang sama Meta karena rumah Meta searah dengan rumah Kevin.”
Ardi menepuk bahu Kevin, “kamu ini cowok sayang, bukankah seharusnya seorang cowok yang mengantarkan ceweknya pulang, tapi kenapa ini malah sebaliknya,” godanya.
Kevin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “lain kali Kevin yang akan mengantar dia pulang,” ucapnya malu-malu.
“Anak Ayah ini ternyata sudah mulai tertarik dengan lawan jenis ya,” goda Ardi dengan senyuman di wajahnya.
Kevin yang wajahnya mulai memerah karena merasa malu pun bergegas melangkahkan kakinya menuju pintu dan masuk ke dalam rumah itu. Ardi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kevin yang sudah mulai beranjak dewasa itu.
***
Sepulang dari sekolah, Kevin dan Ardi pergi ke rumah kedua orang tua Ardi. Kevin ingin memberikan dokumen rumah itu kepada ayah dan bundanya.
“Dimana Kay?” tanya Ardi saat mereka masuk ke dalam rumah itu.
“Kay ada di kamar, Kak. ada perlu apa kakak mencari istri aku?” tanya Arka penasaran.
“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua.”
__ADS_1
“Kalau begitu biar aku panggil Kay dulu.” Arka lalu melangkahkan kakinya menaiki tangga dan menuju kamarnya, dia lalu masuk ke dalam kamarnya, “sayang, Kak Ardi mencari kamu,” ucapnya.
Kay mengernyitkan dahinya, “untuk apa Kak Ardi mencariku?” tanyanya bingung.
“Aku juga nggak tau, tapi katanya ada yang ingin kakak bicarakan dengan kita berdua.”
Mereka pun lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu dan menemui Ardi dan Kevin yang sudah menunggu mereka di ruang tamu. Mereka lalu duduk saling berhadapan dengan Ardi dan juga Kevin, hanya meja bundar yang menjadi penghalang untuk mereka.
Ardi lalu menyuruh Kevin untuk bicara dengan kedua orang tuanya, “ada yang ingin Kevin bicarakan dengan kalian berdua,” ucapnya.
Kevin mengambil dokumen dari dalam tas ranselnya, “Kevin hanya ingin memberikan ini untuk Ayah dan Bunda,” ucapnya lalu memberikan dokumen itu kepada ayahnya.
“Apa ini sayang?” tanya Arka sambil menerima dokumen itu.
“Itu adalah dokumen rumah yang dulu Kevin tempati bersama dengan Ayah Ardi dan Bunda. Ayah Ardi memberikan rumah itu untuk Kevin, dan sekarang Kevin berikan itu untuk Ayah dan Bunda,” ucap Kevin.
Kay mengambil dokumen itu dari tangan Arka, “Kak, aku nggak bisa menerima ini,” tolaknya lalu meletakkan dokumen itu ke atas meja.
“Aku tau kamu pasti akan menolaknya, tapi aku memberikan itu untuk Kevin. Karena sejak awal rumah itu aku beli untuk kalian,” ucap Ardi.
“Kamu tenang saja, Zahra sudah setuju kalau aku memberikan rumah itu untuk Kevin, karena Zahra juga tahu rumah itu memang aku beli untuk kalian,” ucap Ardi.
“Apa kakak yakin ingin memberikan rumah itu untuk Kevin?” tanya Arka memastikan.
Ardi menganggukkan kepalanya, “sejak awal rumah itu memang milik Kevin,” ucapnya.
“Ayah, Bunda, mulai hari ini kalian bisa menempati rumah itu. Tapi ada hal lain yang ingin Kevin bicarakan dengan kalian,” ucap Kevin sambil menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian.
“Apa itu sayang?” tanya Kay penasaran.
Kevin menatap Ardi, “apa boleh Kevin tetap tinggal bersama dengan Ayah Ardi?” tanyanya.
“Kenapa sayang, apa kamu nggak suka tinggal dengan Ayah dan Bunda?” tanya Kay terkejut.
“Bukan seperti itu, Bun, tapi jarak sekolah Kevin lebih dekat jika dari rumah Ayah Ardi, selain itu Kevin masih ingin tinggal bersama dengan Ayah Ardi,” ucap Kevin.
__ADS_1
Arka dan Kay saling menatap, “tapi sayang, Bunda ingin kamu tinggal bersama dengan kami,” ucap Kay.
Ardi menepuk bahu Kevin, “turuti permintaan Bunda kamu, kamu bisa sesekali menginap di rumah Ayah,” ucapnya.
Kevin pun akhirnya mengangguk kan kepalanya, “Bun, apa boleh Kevin memanggil tante Zahra dengan panggilan Mama?” tanyanya pelan.
Kay membulatkan kedua matanya, “tapi kenapa sayang, apa selama ini kasih sayang Bunda nggak cukup untuk kamu?” tanyanya terkejut.
“Bukan seperti itu, Bun. Kasih sayang Bunda sudah cukup untuk Kevin, hanya saja Kevin ingin menganggap tante Zahra sebagai ibu Kevin juga, sama seperti Ayah Ardi selama ini,” ucap Kevin.
Kay lalu menatap Ardi, “apa kakak yang menyuruh Kevin untuk memanggil Zahra, Mama?” tanyanya.
“Bukan Ayah Ardi yang meminta Kevin, Bunda. Tapi itu keinginan Kevin sendiri, selama ini tante Zahra sangat baik kepada Kevin, tante Zahra menganggap Kevin seperti anaknya sendiri, sama seperti Rasya. Apa salah jika Kevin juga ingin menganggap tante Zahra sebagai ibu Kevin?” tanya Kevin.
“Kay, kamu jangan salah paham, aku dan Zahra nggak pernah sekalipun meminta Kevin untuk memanggil Zahra dengan panggilan Mama. Kevin juga meminta izin sama aku untuk itu, tapi aku nggak langsung menyetujui itu. Aku ingin Kevin meminta izin dulu sama kamu dan Arka, karena kalian lah yang berhak memutuskan,” jelas Ardi.
“Apa Zahra tau dengan niat Kevin itu?” tanya Kay.
Ardi menggelengkan kepalanya, “aku belum memberitahu Zahra soal ini, karena aku nggak mau nanti kamu malah semakin menyalahkan dia, padahal dia sama sekali nggak tau apa-apa,” ucapnya.
Arka menggenggam tangan Kay, “sayang, biarkan Kevin melakukan apa yang dia mau, dia sudah besar sayang jadi kamu nggak perlu melarangnya. Kamu dan Zahra bahkan sangat dekat, apa kamu masih berpikir dia akan merebut Kevin dari kamu?” tanyanya.
“Tapi, Ka...”
“Selama ini Zahra nggak pernah melarang Rasya untuk memanggil kamu Bunda, lalu apa salahnya jika Kevin memanggil Zahra, Mama. Bukankah itu akan lebih baik, karena banyak orang yang menyayangi anak kita,” bujuk Arka.
Kay menatap Kevin yang saat ini menundukkan wajahnya, “sayang, apa kamu masih sayang sama Bunda?” tanyanya.
Kevin menganggukkan kepalanya, “Kevin sangat menyayangi Bunda, karena Bunda yang melahirkan dan membesarkan Kevin, mencurahkan kasih sayang dan perhatian untuk Kevin,” ucapnya.
Kay tersenyum, “baiklah, kamu boleh memanggil tante Zahra dengan sebutan Mama, tapi jangan pernah melupakan jika Bunda adalah ibu kandung kamu, dan Bunda akan terus menyayangi kamu,” ucapnya.
Arka, Ardi dan Kevin tersenyum bahagia, Kevin lalu beranjak dari duduknya dan memeluk bundanya dengan sangat erat dan mengucapkan terima kasih. Setelah berbincang-bincang, Ardi pamit undur diri, dia meminta Kevin untuk menginap di rumah kedua orang tuanya, karena Ardi tau jika Arka dan Kay sangat merindukan Kevin.
~oOo~
__ADS_1