
Kini Kay dan Ardi tinggal di rumah Lina. Lina dan Jonny senang atas kehadiran mereka, suasana rumah menjadi ramai kembali.
Hari berganti hari, minggu berlalu dan bulan berganti bulan tak terasa Kevin sudah genap berusia satu tahun.
Kay dan Ardi senang melihat pertumbuhan anaknya, anaknya begitu tampan dan manis. Saat ini Kevin sedang senang-senangnya belajar berjalan dan berbicara, ucapan yang pertama Kevin ucapkan adalah bunda. Walau masih terbata-bata dan tidak begitu jelas, tapi Kay sangat senang dan terharu karena ini pertama kalinya bagi Kay dipanggil bunda oleh putranya.
"Bunda sayang sama Kevin, putra kesayangan Bunda," ucap Kay sambil mencium kedua pipi gembul Kevin.
"Bu..da...ayang Evin," ucap Kevin terbata-bata.
"Iya, Bunda sayang Kevin," ucap Kay sambil memeluk Kevin.
Ardi dan Lina terharu melihat kedekatan Kevin dan Kay. Ardi menghampiri Kay dan Kevin, dipeluknya anak dan istri tercintanya.
"Kevin sayang nggak sama Ayah," ucap Ardi sambil memangku Kevin.
Kevin menganggukkan kepalanya. Ardi memeluk Kevin dengan sangat erat, dia terlihat begitu menyayangi anaknya.
"Ayo sekarang Kevin harus bobok siang dulu," ucap Kay.
"Biar Kevin tidur sama aku saja," ucap Ardi lalu mengendong Kevin dan berjalan menuju kamar.
Sejak ada Kevin Ardi kini tidur di kamar tamu yang ada dibawah. Ardi membuka pintu kamar.
Ardi dan Kevin masuk ke dalam kamar, dia merebahkan tubuh Kevin di atas ranjang. Ardi tidur di samping Kevin, tak butuh waktu lama Kevin dan Ardi terlelap.
Kay dan Lina sedang mengobrol di ruang keluarga.
"Terima kasih sayang karena kamu mau tinggal disini lagi," ucap Lina.
"Justru Kay yang seharusnya berterimakasih sama Mama, karena Mama sudah mau membantu Kay dalam merawat Kevin," ucap Kay sambil menggenggam tangan mertuanya.
"Semenjak ada kalian di sini rumah ini jadi ramai lagi, suara tawa Kevin membuat rumah ini lebih ceria."
"Kay nggak menyangka waktu cepat berlalu, rasanya baru kemarin Kay merasakan sakit saat melahirkan Kevin, tapi sekarang sudah setahun saja. Kevin juga sudah mulai pandai berbicara dan berjalan. Kay bahagia, Ma, bisa memiliki Kak Ardi dan Kevin dalam hidup Kay."
Kay menatap mama mertuanya yang kini tengah gelisah, seperti ada sesuatu yang tengah dia sembunyikan.
"Ada apa, Ma? sepertinya ada sesuatu yang mau Mama katakan?" tanya Kay penasaran.
__ADS_1
"Em...sebenarnya minggu depan Arka mau balik ke sini, apa kamu nggak apa-apa kalau ketemu sama Arka?" tanya Lina sambil menatap Kay.
Kay mengambil nafas panjang dan menghembuskan nya, mau tidak mau Kay harus tetap bertemu dengan Arka, karena Arka adalah adik dari suaminya.
"Kay nggak apa-apa kok, Ma. Ini kan rumah Arka juga, jadi Kay nggak mungkin melarang Arka untuk tinggal di sini."
"Terima kasih sayang," ucap Lina sambil memeluk Kay.
"Sekarang Kay sudah bahagia dengan rumah tangga Kay, Ma. Jadi nggak mungkin Arka akan menganggu Kay lagi, Mama nggak usah khawatir."
"Mama tau sayang, Arka juga bilang sama Mama kalau dia sudah mengikhlaskan kamu bersama Ardi, sekarang Arka juga lagi dekat sama seseorang, kemarin Arka memberi Mama foto mereka."
"Kay senang akhirnya Arka bisa mendapatkan wanita yang sangat mencintainya," ucap Kay dengan senyuman di wajahnya.
"Kamu mau lihat fotonya? dia sangat cantik. Arka memang pandai dalam memilih pacar."
"Boleh, Ma. Kay juga penasaran secantik apa wanita itu."
Lina mengambil ponselnya dari atas meja dan membuka galeri foto. Dia menunjukan foto Arka dengan kekasihnya kepada Kay.
"Dia sangat cantik, Ma, bahkan lebih cantik dari Kay. Arka memang pandai dalam mencari pacar," ucap Kay dengan menepiskan senyuman.
Kay tersenyum mendengarnya, walau disudut hatinya terasa amat sakit saat melihat Arka bersama wanita lain, tapi itu bukan rasa cemburu, karena bagi Kay keluarga kecilnya adalah segala-galanya.
"Sayang, bantuin Mama menyiapkan makan siang ya, karena nanti Papa juga akan pulang untuk makan siang," pinta Lina.
"Baik, Ma."
Lina dan Kay berjalan menuju dapur. Kay dan Lina sedang memasak makanan untuk makan siang, setelah satu jam makanan pun siap. Setelah selesai menyiapkan makanan di meja makan Kay berniat untuk mengajak Ardi makan siang. Kay berjalan menuju kamar, dia lalu membuka pintu kamar.
Kay masuk ke dalam kamar dan menghampiri Ardi yang tengah terlelap sambil memeluk Kevin. Kay lalu mencium pipi Ardi.
"Ayah ayo bangun, makan siang dulu."
"Em..." Ardi hanya mengerakkan tubuhnya dan berbalik lalu memeluk Kay.
"Ayah, ayo bangun makan siang dulu," ucap Kay lagi.
Ardi membuka matanya dengan perlahan, dia menatap wajah cantik istrinya.
__ADS_1
"Cium dulu dong, baru Ayah akan bangun," ucap Ardi sambil memanyunkan bibirnya.
Kay membungkukkan badannya dan langsung mencium kilas bibir Ardi.
"Sudah, ayo bangun."
Ardi bangun dari tidurnya dan turun dari ranjang, dia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka nya.
"Bunda...ke sini sebentar!" teriak Ardi.
"Ada apa sih, Yah," ucap Kay sambil berjalan menuju kamar mandi.
Ardi menarik tangan Kay dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Ardi langsung mendaratkan ciuman ke bibir Kay.
"Em..lepas, Yah," ucap Kay yang terkejut karena tiba-tiba Ardi menarik dan menciumnya.
"Bunda, tolongin Ayah," rengek Ardi.
"Ada apa?" tanya Kay bingung.
"Gara-gara ciuman bunda tadi sekarang Ayah jadi kepengen," rengek Ardi lalu mencium kilas bibir Kay.
"Ini pasti cuma alasan Ayah saja kan," ucap Kay curiga.
"Nggak Bun, Ayah serius, pokoknya Bunda harus tanggungjawab."
Ardi mencium bibir Kay, kini mereka terhanyut dalam dunia mereka sendiri. Racauan-racauan kenikmatan keluar dari mulut Kay dan Ardi. Setelah merasa puas Ardi menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Kay. Tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga.
"Dasar, siapa yang minta, siapa yang lemas duluan," ucap Kay sambil mengusap lembut punggung suami yang sangat dicintainya.
"Sekarang ayo kita mandi, kasian Mama dan Papa sudah menunggu," imbuh Kay.
"Nanti malam kita terusin lagi ya," pinta Ardi lalu mengecup kening Kay.
"Ayah!" teriak Kay kesal.
"Habisnya enak sih," ucap Ardi sambil tersenyum manis.
Kay dan Ardi keluar dari kamar mandi. Kay melihat Kevin masih tertidur lelap. Setelah selesai berpakaian Ardi memeluk tubuh Kay.
"Ayah sangat mencintai Bunda, jangan pernah meninggalkan Ayah, karena Ayah nggak bisa hidup tanpa Bunda dan Kevin. Kalian sangat berharga untuk Ayah," ucap Ardi lalu mengecup kening Kay.
__ADS_1
"Bunda nggak akan pernah meninggalkan Ayah, karena bagi Bunda, Ayah juga separuh jiwa Bunda. Tanpa Ayah hidup Bunda tidak akan lengkap," ucap Kay sambil menatap wajah Ardi dan mencium kilas bibirnya.
~oOo~