
Hari ini Ardi sengaja menjemput Zahra dari rumah sakit, karena dia ingin mengajak Zahra untuk fitting baju. Sebenarnya Zahra sudah menemukan gaun yang cocok yang akan dia pakai, tapi ternyata ada kendala yang mengharuskan mereka untuk mengganti gaun itu. Untung Mama Zahra memberitahukan butik langganan keluarganya.
Ardi menghentikan mobilnya tepat di parkiran rumah sakit, dia lalu keluar dari mobil dan melangkah masuk menuju lobby rumah sakit. Semua karyawan rumah sakit itu sudah pada tau kalau Ardi adalah calon suami Zahra, hingga tak ada lagi dokter wanita atau perawat yang berani menggodanya.
“Apa kamu sudah siap?” tanya Ardi saat dia sudah berada di ruang kerja Zahra.
Zahra hanya menganggukkan kepalanya, dia lalu mengambil tas dan dia kalung kan di pergelangan tangannya. Mereka lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu untuk menuju parkiran. Mereka lalu masuk ke dalam mobil, Ardi pun mulai melajukan mobilnya.
Dalam perjalan menuju butik terlihat dengan jelas raut wajah Zahra yang cemberut.
“Kok cemberut gitu mukanya, apa mau aku cium biar nggak cemberut lagi,” goda Ardi sambil terus menatap ke depan.
“Biarain aja, habisnya aku kesal!”
“Jangan kesal gitu dong, nanti cantiknya hilang lo,” goda Ardi lagi.
“Kak, kalau nanti nggak ada gaun yang aku suka bagaimana?”
Ardi menggenggam tangan Zahra, “aku akan menemani kamu mencari gaun apapun yang kamu suka,” ucapnya.
Sesampainya di butik, mereka keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam butik. Di dalam butik itu terpajang berbagai macam dan bentuk gaun pengantin yang terlihat sangat indah dan elegan.
Ardi tengah melihat Zahra yang mencoba beberapa gaun pengantin. Setiap kali Zahra meminta pendapat Ardi, pria itu selalu menolak pilihan wanita itu, karena Ardi sudah memiliki pilihan sendiri, yang tentunya wanita itu juga akan menyukainya, karena gaun itu sama seperti selera wanita itu.
“Kak, aku capek nih ganti baju melulu. Masa dari tadi nggak ada yang cocok buat aku sih!” Zahra terlihat sangat kesal, dia merasa dirinya telah di kerjain oleh calon suaminya itu.
“Ehmmm...ehmmm.” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Ardi.
“Kak! aku beneran sudah capek ini.”
Ardi menahan tawa saat melihat Zahra yang terlihat begitu kesal. Bahkan bibirnya yang terus mengerucut itu sungguh terlihat begitu menggemaskan. Ingin sekali dia lahap bibir tipis berwarna merah muda itu. Tapi Ardi mencoba menahannya, karena dia sedang berada di tempat umum. Ardi membayangkan bagaimana raut wajah Zahra saat mereka melakukan malam pertama mereka, apa dia juga akan menggemaskan seperti itu? Ini belum saatnya, nggak seharusnya aku memikirkan itu, walau sebenarnya aku sudah nggak sabar ingin melakukan malam pertama bersama dengannya, pikirnya.
“Aku sudah mempunyai pilihan untukmu.”
“Ya ampun, Kak. kalau tau begitu kenapa kakak menyuruh aku untuk memilih gaun sendiri, aku kan capek dari tadi gonta ganti baju nggak kelar-kelar,” keluh Zahra.
__ADS_1
Ardi mengusap puncak kepala Zahra, “aku sengaja agar kamu bisa puas memakai gaun-gaun pengantin itu,” ucapnya.
“Puas apanya, capek baru iya.” Zahra lalu melipat kedua lengannya di dada, dia lalu memalingkan tatapannya, tanda kalau dia marah.
“Jangan marah gitu dong, sekarang kamu coba gaun yang aku pilih,” bujuk Ardi.
“Ya sudah, mana gaun yang kakak pilih.”
“Aku ada dua pilihan, satu gaun untuk pemberkatan kita dan satu lagi untuk acara resepsi pernikahan kita.”
“Iya, aku ikut aja apa kata kakak,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.
Ardi memanggil pelayan, “tolong tunjukkan gaun yang sudah aku pilih tadi,” pintanya.
Pelayan itu mengajak Ardi dan Zahra untuk melihat gaun yang sudah Ardi pilih. Zahra membulatkan kedua matanya saat melihat gaun yang terpajang di patung manekin, gaun itu terlihat sangat indah, bahkan lebih indah dari gaun-gaun yang telah dia pilih dan coba tadi.
“Bagaimana sayang?” Ardi melihat wajah Zahra yang sumringah. Dia tau pasti jika Zahra sangat menyukai gaun yang dia pilih, melihat dari ekspresi wajah wanita itu.
“Bagus banget, Kak. Aku sangat menyukainya,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.
“Nona, anda terlihat sangat cantik, anda adalah pengantin wanita tercantik yang pernah saya lihat,” puji pelayan itu.
“Benarkah.” Zahra menatap tubuhnya yang berbalut gaun pengantin itu dari balik cermin, “gaun ini sangat cantik di tubuh aku, Kak Ardi memang pandai memilih gaun, aku sangat menyukainya,” imbuhnya.
Zahra lalu berjalan dengan perlahan untuk menghampiri Ardi. Wanita itu lalu meminta pendapat pria itu. Terlihat senyuman di wajah cantik Zahra saat Ardi memujinya cantik dan mengacungkan kedua ibu jarinya. Setelah itu Zahra mencoba gaun yang kedua, dan ternyata gaun itu juga sangat cocok dan terlihat cantik di tubuhnya.
Akhirnya mereka mengambil kedua gaun itu. Setelah dari butik Ardi mengajak Zahra untuk berjalan-jalan, sekalian melihat gereja yang akan mereka gunakan untuk melakukan pemberkatan besok. Semua sudah hampir mencapai finish.
Zahra terlihat sangat kagum saat melihat dekorasi gereja itu, yang dipenuhi dengan bunga-bunga. Ardi memeluk Zahra dari belakang, dia lalu menopangkan dagunya ke bahu wanita itu, “aku sudah nggak sabar ingin segera menikah denganmu, dan menjadikan kamu istriku, agar nggak akan ada lagi yang melarangku untuk melakukan apapun sama kamu,” ucapnya.
Zahra membalikkan tubuhnya untuk menghadap Ardi, “memangnya kakak mau ngapain?” godanya.
“Aku sudah nggak sabar ingin menerkammu, apa kamu nggak tau betapa susahnya aku menahan diri selama ini, apalagi saat melihatmu mengenakan pakain seksi dan terlihat sangat cantik,” goda Ardi sambil mencubit hidung mancung Zahra.
Mendengar perkataan Ardi membuat kedua pipi Zahra merona merah, “em...ayo kita pulang,” ucapnya mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Ardi yang menyadari jika Zahra tengah tersipu malu pun terus ingin menggodanya, “apa kamu juga merasakan dengan apa yang aku rasakan? Apa kamu juga sudah nggak sabar ingin melakukan malam pertama denganku?” godanya sambil menggerakkan kedua alisnya naik turun.
Zahra memukul pelan dada bidang Ardi, “kenapa kakak malah membahas itu, aku kan malu,” ucapnya.
“Kenapa harus malu, besok kita akan menikah di sini. Setelah itu kita akan melakukan malam—”
Zahra menutup mulut Ardi dengan jari telunjuknya, “jangan bahas itu sekarang, aku malu, Kak,” pintanya.
Ardi menakup kedua pipi Zahra dengan kedua telapak tangannya, dia lalu membenamkan bibirnya ke bibir tipis berwarna merah muda itu. Zahra melingkarkan kedua lengannya ke leher Ardi, dia mulai memejamkan kedua matanya dan menikmati pangutan yang Ardi berikan pada bibir tipisnya.
Ardi menarik tubuh Zahra agar semakin melekat di tubuhnya, ciuman panas itu berlangsung cukup lama hingga seakan-akan membuat keduanya seakan kehabisan nafas. Zahra mendorong pelan tubuh Ardi agar melepaskan bibirnya, dia lalu mulai menghirup udara untuk mengisi paru-parunya. Begitu pula dengan Ardi, dia juga mulai menghirup udara dengan perlahan.
Setelah merasa pernapasannya mulai teratur, Ardi lalu menautkan jemarinya ke jemari tangan Zahra, “ayo kita pulang, tapi sebelum kita pulang, kita mampir dulu ke restoran untuk makan, aku lapar,” ucapnya.
“Apa gara-gara ciuman tadi kakak jadi kehabisan tenaga,” ledek Zahra.
“Apa kamu meragukan stamina aku?” goda Ardi sambil kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Zahra. Zahra membulatkan kedua matanya, dia lalu menggelengkan kepalanya, “aku akan buktikan saat malam pertama kita, seberapa kuatnya stamina aku,” imbuhnya dengan senyuman di wajahnya.
Zahra hanya menelan ludah, dia diam mematung dan tidak mengucapkan sepatah katapun. Ardi mengecup kening Zahra, dia lalu mengajak Zahra untuk keluar dari gereja itu. Mereka lalu masuk ke dalam mobil, Ardi lalu melajukan mobilnya.
Dalam perjalanan Zahra masih memikirkan perkataan Ardi saat di gereja tadi. Tentang apa yang akan Ardi buktikan saat malam pertama mereka. Malam pertama itu adalah pengalaman pertama untuk Zahra, dia sebenarnya takut untuk melakukan itu. Apa saat melakukan itu akan terasa sakit? Lalu...saat Kak Ardi melepas semua pakaian aku...aku...” Zahra menggelengkan kepalanya berkali-kali hingga membuat Ardi yang saat itu menatapnya seketika mengernyitkan dahinya.
“Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Ardi penasaran.
Zahra mengalihkan pandangannya menjadi menatap Ardi, “em...bukan apa-apa kok, Kak,” ucapnya.
“Yakin.” Zahra menganggukkan kepalanya, dan Ardi mempercayainya.
Setelah mengantar Zahra pulang ke rumahnya, Ardi pergi ke rumah Kenzo. Setelah Kenzo menikah, dia memang sudah jarang mengajak Kenzo untuk sekedar minum kopi di luar, karena dia tidak ingin mengganggu waktu kebersamaan sahabatnya itu dengan istrinya. Ardi disambut hangat oleh Sahwa, dan wanita itu menyuruh Ardi untuk masuk ke dalam rumahnya, lalu mempersilahkan dia duduk. Setelah itu Sahwa memanggilkan suaminya yang baru saja selesai mandi.
Kenzo pun melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, dia melihat Ardi yang tengah memainkan ponselnya, “tumben kamu datang ke sini,” ucapnya lalu mendudukkan tubuhnya di depan sahabatnya itu.
Mereka pun mulai mengobrol, sudah lama mereka tidak mengobrol seperti itu. Sahwa sengaja membiarkan mereka untuk mengobrol dan tidak mengganggu mereka.
~oOo~
__ADS_1