Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 10. Masa Lalu Talitha


__ADS_3

Ummi Ana dan mama Refi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Rendi.


"Dasar bocah."


Perbincangan pun berlanjut hingga malam dan berlanjut ke perbincangan seru lainnya. Ketika ummi menyadari hari telah larut malam dia meminta izin untuk pulang dan juga meminta maaf karena telah mengganggu waktu Itnas dan mama Refi apalagi Itnas dianjurkan untuk banyak beristirahat oleh dokter.


Itnas pun beranjak ke kamarnya, tetapi dicegah oleh Mama Refi karena ternyata mamanya baru ingat kalau mereka berdua belum makan malam.


"Itnas kenyang Ma, kan tadi udah makan kue sama camilan."


"Gak pokoknya harus makan. Sini temenin mama! Kamu harus banyak makan supaya lekas sembuh dan lihat tubuh kamu kurusan seperti ini."


Akhirnya Itnas mengalah menghampiri mamanya dan ikut makan bersamanya.


Di tempat lain.


Setelah pulang dari rumah Itnas Thalita termenung sendiri di atas ranjangnya. Ia teringat dengan kejadian barusan. Ia menyesali sikapnya yang menurutnya sendiri memalukan. Sebenarnya dia tidak berniat mengatakan itu. Semua keluar begitu saja dari mulutnya saking kagetnya dia dengan kenyataan bahwa suami yang menikahinya ternyata telah beristri.


"Mengapa hidupku menjadi kacau begini?"


Dia teringat satu tahun yang lalu ketika pamit kepada ayahnya di kampung untuk bekerja di kota. Pada saat itu ayahnya yang lagi sakit keras melarangnya.


"Ja-ngan per-gi Nak!" katanya dengan terbata.


"Hidup di kota itu keras. Ba-pak takut kamu ti-dak sanggup hi-dup di sana."


"Saya harus pergi Pak. Saya harus mencari biaya perawatan Bapak. Kalau saya tetap di sini susah cari kerjanya. Bapak tenang saja Thalita janji akan jaga diri."


Mengingat perkataannya dulu pada bapaknya Thalita menitikkan air mata.


"Maafkan Thalita Pak. Thalita ingkar janji. Thalita ternyata tidak becus menjaga diri sendiri."


Thalita menangis terisak. Rentetan kisah masa lalunya bermunculan di benaknya. Dimulai dengan pemaksaan ibu tirinya untuk menikahi salah satu supplier ikan terbesar di daerahnya, pertemuannya dengan sang manager cafe tempatnya bekerja hingga saat ini.


Flashback On.


Suatu hari di kampung halaman Thalita ibu tirinya kedatangan tamu seorang juragan ikan. Dia datang bermaksud menagih hutang yang telah dipinjam oleh ibu tirinya tersebut. Katanya uang yang dipinjam itu digunakan untuk berobat ayahnya.


"Maaf Pak kami belum bisa melunasi hutang-hutang kami sekarang. Kami ingin minta waktu lagi."


"Minta waktu, minta waktu. Saya sudah sering memberikan waktu, tetapi kalian tetap tidak membayar hutang kalian."


"Kami benar-benar belum punya uang Pak." Kata Lina ibu tiri Thalita.


Bertepatan dengan itu Thalita datang membawa ijazah kelulusan di tangannya. Ia melewati ruang tamu dan menyalami ibu Lina dan juga juragan tersebut kemudian dia masuk ke kamar ayahnya karena tidak sabar ingin mengatakan bahwa ia telah menamatkan sekolah SMU-nya.


Melihat Anak gadis yang begitu cantik di hadapannya juragan tersebut tersenyum licik. "Baiklah kamu tidak harus membayar hutang-hutangmu karena akan saya anggap lunas kalau kamu mau menikahkan anak gadis tadi denganku."


Tanpa berpikir panjang pun Lina menyetujui tanpa menanyakan kepada Thalita dia mau atau tidak.


Ketika Thalita mendengar bahwa dia mau dijodohkan dengan si pria bangka tersebut, Thalita menolak keras.


"Aku tidak mau Bu menikah dengannya selain dia sudah tua dia juga sudah punya istri. Thalita tidak mau merusak rumah tangga orang."

__ADS_1


"Kalau kamu tidak mau maka kamu yang harus menanggung hutang bapakmu kepadanya."


"Baiklah Bu saya yang akan membayarnya."


"Cih emang kamu punya uang?"


"Tidak Bu, tapi saya akan bekerja."


"Bekerja apa emang kamu pikir cari kerja sekarang mudah?"


"Saya akan ikut kak Nana Bu bekerja di kota." Nana adalah salah satu kakak kelas di sekolahnya sekaligus temannya di kampung.


"Baguslah kalau begitu karena kalau sampai bulan depan uang itu tidak ada juragan tersebut akan menikahimu."


"Kalau begitu aku pergi besok lusa Bu. Besok saya akan membicarakannya pada bapak dulu."


"Terserah kamu lah. Yang penting bulan depan uang itu harus ada."


Thalita mengangguk. "Memang berapa hutang bapak pada juragan itu?"


"Lima belas juta."


"Hah sebanyak itu?"


"Iya karena itu hutang bukan cuma buat pengobatan bapak kamu tetapi juga untuk biaya makan sehari-hari."


Thalita mengangguk. Ia paham semenjak sakit ayahnya sudah tidak bekerja.


"Hallo Kak, ini Thalita. Apakah di cafe tempat kakak bekerja ada lowongan pekerjaan Kak?"


"........"


"Iya Kak aku butuh pekerjaan."


".........."


"Apa? Kakak ingin aku menggantikan Kakak? Kenapa Kakak ingin berhenti bekerja?"


"......."


"Oh Kakak ingin menikah. Yasudah lusa aku ke kosan Kakak. Kirimin aku alamatnya ya!"


"......."


"Ok."


Setelah mendapat alamat Nana Thalita bergegas untuk berkemas agar lusa bisa berangkat pagi-pagi.


Keesokan harinya Thalita meminta izin kepada sang ayah. Awalnya pak Imran tidak setuju, tetapi karena Thalita terus mendesak akhirnya dia menyetujui juga.


Hari yang ditunggu pun tiba. Thalita meminta Izin pada ayahnya dan juga ibu tirinya untuk berangkat ke kota Jakarta.


"Pak, Bu, aku berangkat ya! Doain semoga perjalananku lancar dan bisa pulang membawa uang."

__ADS_1


"Iya kamu baik-baik di sana ya Nak!" kata pak Imran. Sebenarnya beliau ragu melepas sang anak karena Thalita sebelumnya tidak pernah kemana-kemana sendirian. Ia memeluk Thalita sambil meneteskan air mata.


"Semoga Bapak lekas sembuh ya Pak, nanti saya kirimkan uang untuk biaya pengobatan Bapak."


Mendengar kata-kata sang anak tangis pak Imran semakin terisak. "Maafkan bapak ya Nak!"


"Bapak tidak usah minta maaf karena Bapak tidak salah apa-apa. Dulu Bapak membesarkan saya dengan tulus sekarang saatnya saya membalasnya."


Setelah itu Thalita pergi dengan menaiki travel yang telah dipesan sebelumnya. Bukan tanpa alasan dia memesan angkutan tersebut. Dia ingin langsung diantar ke alamat tujuan agar tidak tersesat.


Sesampainya di tempat tujuan, Nana sudah menunggu di depan pintu kosnya.


"Ayo masuk! Sekarang kamu istirahat dulu biar besok langsung dapat bekerja."


"Hah langsung bekerja? Memangnya saya sudah diterima?"


"Besok kamu akan di tes dulu, tapi saya yakin kamu pasti diterima karena kamu, kan anak yang rajin."


"Ah Kakak ada-ada saja. Emang benar Kakak mau menikah?"


"Iya calon suami kakak nggak ngebolehin kakak bekerja lagi kalo nanti sudah menikah. Dia ingin kakak fokus menjadi ibu rumah tangga."


"Emang suami Kakak kerja apa?"


"Dia seorang dokter."


"Waw Kakak hebat bisa mendapatkan suami seorang dokter."


"Biasa aja. Emang kalo kamu pengin suami yang bekerja sebagai apa?"


"Nggak tahulah Kak. Aku tidak kepikiran sampai ke situ. Yang aku ingin sekarang adalah mendapatkan uang sebanyak-banyaknya."


"Emang buat apa sih. Kok ambisi banget pengen dapatin uang banyak?"


"Buat bayarin utang keluarga Kak dan juga pengobatan bapak."


"Emang pak Imran sakit apa?"


"Ginjal Kak."


"Oh saya ikut prihatin ya dengan penyakit bapak kamu."


"Iya Kak."


"Nanti saya bantu buat bayar utang bapak kamu."


"Tidak usah Kak. Kakak sudah nyariin pekerjaan buat aku saja, Thalita sudah bersyukur."


"Tidak usah sungkan-sungkan. Dulu orang tua kamu juga pernah bantu orang tua kakak. Kalau kamu tidak ingin dibantu secara gratis kamu bisa anggap sebagai pinjaman."


"Iya Kak terima kasih." Mereka pun berpelukan setelah itu Nana mengantar Thalita ke kamarnya untuk beristirahat.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2