
Setelah acara selesai mereka semua berpamitan untuk pulang.
"Kami pulang ya semoga berbahagia selalu," ucap Itnas pada keduanya.
"Selamat ya Bro doakan aku segera menyusul kalian," sambung Vierdo sambil menepuk bahu Juno. Juno pun membalas menepuk bahu Vierdo.
"Pasti kami akan doakan yang terbaik juta untuk kalian."
"Terima kasih." Untuk pertama kali keduanya bisa bicara dengan serius.
"Mbak aku pulang ya terima kasih ya atas undangannya," ucap Leona mewakili Kana dan Syahdu.
"Iya makanannya enak-enak. Nanti kalau ada pesta undang kami lagi ya," ucap Syahdu melunjak.
"Ah kamu kalau sudah masalah makanan ada dibarisan terdepan tetapi sayangnya nggak gemuk-gemuk," goda Kana membuat Leona terlihat cekikikan.
"Jangan bilang aku ceking aku nih langsung," protes Syahdu sambil berlenggak-lenggok seperti model.
"Iya deh kamu yang paling cantik dan seksi diantara kami semua," pungkas Itnas.
"Ya sudah yuk balik!" ajak Vierdo.
Mereka semua mengangguk dan hendak melangkah keluar dari pesta kecuali Leon yang tampak masih duduk di suatu tempat.
"Eh tunggu!" seru Juno.
Mereka berhenti dan menoleh serempak.
"Ada apa?" tanya Itnas.
"Saya minta kalian sering-sering main kesini ya! Tidak hanya Itnas dan Vierdo tetapi kamu juga Kana, Syahdu dan Leona. Anggap kami ini teman kalian juga meski kita baru mengenal. Saya minta kalian menjadi teman Thalita soalnya istriku ini tidak punya banyak teman di kota ini. Palingan temennya cuma Itnas."
"Baiklah saya senang berteman dengan siapapun termasuk dengan istrimu Thalita," jawab Syahdu.
"Terima kasih," ucap Juno dan Vierdo bersamaan.
"Saya juga," ucap Kana.
"Saya pun," sambung Leona.
"Oke terimakasih semuanya."
"Oke karena kita berlima ceweknya, kita buat nama grupnya lima serangkai." Sontak Syahdu mendapat tepukan di kepala dari Itnas. "Malas mikir," protes Itnas lalu terkekeh.
__ADS_1
"Ck, Itnas. Kalau nggak setuju kamu aja yang kasih nama geng buat kita-kita," protes Syahdu."
"Nggak mau deh aku nggak suka main geng-gengan," goda Itnas.
"Ih dia nggak asyik, iya kan teman-teman?" tanya Kana dijawab anggukan oleh semua orang.
"Iya deh terserah kalian," ucap Itnas pasrah walaupun dia tidak suka sih sebenarnya. Bagi Itnas itu seperti anak kuliahan saja seperti lebay bagi dirinya yang sudah dewasa.
"Ya sudah yuk kita pulang," ajak Vierdo lagi.
"Pak Vier pergi sama Itnas kami berdua nebeng sama Leona saja," ucap Syahdu.
Vierdo memandang Leona untuk meminta pertimbangan. Wanita itu tampak mengangguk.
"Baiklah yuk!" ajak Itnas.
Mereka berlima pun meninggalkan tempat.
Setelah semua pergi barulah Leon bangkit dari duduknya dan berpamitan pada Juno dan Thalita.
Sayang sekarang kita sudah resmi menikah. Aku bahagia banget akhirnya kita bisa tidur sekamar lagi," ucap Juno sambil mendekap erat tubuh istrinya.
"Sabar masih banyak orang. Jangan sampai malu-maluin dilihat semuanya. Sudah punya anak juga," goda Inka sambil tersenyum mengejek ke arah Juno. Dia masih kesal Juno tadi telah mengerjainya.
"Oh ya teman-teman bang Juno yang lain mana?" tanya Inka menyadari semua orang sudah tidak ada.
"Telat mereka sudah pergi," jawab Juno ketus
.
"Yuk Sayang kita ke kamar." Juno menggandeng tangan Thalita dari pelaminan dan mengiring ke kamarnya.
"Cie-cie yang lagi ngebet."
Sumpah ingin rasanya Juno menjitak kepala Inka.
"Nggak usah ganggu kalau iri cari pasangan sana," protes Juno dan langsung mengunci pintu.
"Sana Lit kamu mandi duluan," suruh Juno pada sang istri. Thalita mengangguk dan nampak berjalan menuju kamar mandi. Setelahnya giliran Juno yang mandi.
"Sayang aku pengen kita tidur sekarang yuk!" Juno tampak mengedipkan mata.
"Apa sih Mas kelipatan? Sini aku tiup." Thalita langsung menarik wajah Juno dan meniup matanya.
__ADS_1
Juno nampak menelan ludah menyadari istrinya yang tidak peka.
"Buat adiknya Athar yuk!" bisik Juno lagi di telinga Thalita.
"Apaan sih Mas baru aja Athar umur dua bulanan kok sudah mau dibikinkan adik. Nanti dia nggak keurus lagi sama kita. Bisa kurang kasih sayang dia."
"Nggak kasih sayangku berlimpah jadi kalian semua nggak akan pernah kekurangan," sanggah Juno dengan muka cemberut.
"Kenapa cemberut gitu sih Mas?" tanya Thalita menyadari wajah Juni tidak seperti biasanya.
"Abisnya kamu diajak ibadah nggak mau malah ngeles terus."
"Apaan sih?" Thalita mengernyit dari tidak mengerti.
"Ibadah di atas kasur, nggak ngerti juga sih," bisik Juno ditelinga Thalita membuat bulu kuduk Thalita meremang seketika.
Memang ada hantu.
"Oh itu makanya kalau mau apa bilang langsung jangan pakai kode-kode jadi aku nggak ngerti kan?"
"Sekarang sudah ngerti kan?" tanya Juno kemudian.
Thalita mengangguk. Juno tersenyum senang, sudah lama dia menginginkan tubuh Thalita.
Saat sedang beraksi tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
"Siapa?" tanya Juno menghentikan aktivitasnya.
"Bang ditunggu makan oleh mama dan tante Elvi!" teriak Inka dari luar.
"Bilang sama mereka makan duluan nanti kami menyusul."
Tidak ada jawaban dari luar. Juno melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
"Oeek ... oek ...."
"Bang, Athar nangis terus dari tadi. Dikasih susu dari botol tidak mau mungkin dia mau yang langsung dari mamanya!" seru Inka dari balik pintu.
"Ah pengganggu kecil masih kecil begini kau sudah berani mengganggu orang tua ya, gimana gedenya nanti." Juno merapikan pakaian Thalita dan beranjak membuka pintu.
"Jangan bilang dia dicubit olehmu hingga nangis begitu," tuduh Juno pada Inka.
"Ih enak saja, nih anaknya." Setelah menyerahkan bayi Athar Inka langsung pergi.
__ADS_1
Bersambung.