
Selesai diberikan wejangan-wejangan kedua mempelai dipersilahkan naik ke pelaminan dan seluruh tamu undangan naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat secara bergiliran. Tentu saja yang pertama naik adalah para sahabat dari Leon dan Leona baru tamu-tamu undangan yang lainnya seperti kerabat jauh maupun rekan bisnis Leon.
Setelah semua tamu selesai mengucapkan selamat kepada pengantin baru, barulah para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati menu prasmanan yang dihidangkan sedangkan teruntuk kerabat dekat dan para sahabat naik ke atas panggung untuk berfoto-foto bersama.
Kini semua orang sudah duduk di kursi sambil menikmati hidangan sesuai selera masing sedangkan kedua mempelai masuk ke dalam kamar sebentar untuk mengganti gaun pernikahan mereka dengan gaun yang berwarna lain untuk menyambut kepulangan para tamu.
"Akhirnya Leon dan Leona bisa bersatu juga padahal kemarin-kemarin saya sempat nggak percaya bahwa mereka akan bisa bersama," ujar Vierdo lalu menghembuskan nafas lega.
Semua sahabatnya mengangguk. Mereka mengerti perjuangan Leona begitu luar biasa. Bukan hanya sekedar menaklukkan hati Leon yang dingin dan seakan meremehkan dirinya. Namun, perbedaan agama sangatlah krusial dalam hubungan mereka. Mungkin kalau perkara restu dari orang tua tidak akan membuat Vierdo terlalu khawatir akan perasaan Leona dibandingkan jika diantara hubungan mereka terbentang keyakinan yang berbeda.
Tuhan telah menunjukkan kuasanya. Dia telah memberikan jalan untuk kedua insan itu agar mudah meniti kehidupan bersama. Orang tua Leona bisa legowo dengan keputusan putrinya untuk pindah agama. Kalau hal itu tidak terjadi tentulah Leona saat ini akan merana karena orang tuanya sendiri tidak akan pernah hadir di pesta perkawinan putrinya itu atau malah sebaliknya, pernikahan ini tidak akan pernah terjadi.
"Ya itu tak lain karena takdir berpihak pada mereka, terutama pada Leon. Leon beruntung dapat Leona yang masih baru memeluk agama Islam, tapi sudah begitu taat. Berbeda dengan kita-kita yang sudah dari lahir Islam tapi disuruh menutup kepala dengan hijab saja masih perhitungan," ujar Kana.
"Kau benar Kan, bahkan adiknya Kak Vier -Keysa- sudah nyaranin aku pakai hijab tapi akunya yang masih males," sambung Itnas membenarkan ucapan Kana dan Vierdo yang mendengar cerita Itnas hanya mengangguk membenarkan.
__ADS_1
Namun, baginya tidak masalah. Mungkin suatu saat nanti Itnas bisa berubah dan bakal mengikuti jejak Keysa dan Leona. Pria ini hanya menyarankan saja, tetapi tidak memaksa sebab hasilnya takut tidak sesuai harapan.
Saat sedang mengobrol santai terdengar ponsel Fikran berbunyi.
"Du aku ke sana dulu ya buat terima telepon," pamitnya pada Syahdu dengan suara berbisik.
Syahdu pun mengangguk dan Fikran bangkit dari duduknya lalu berjalan menjauh dari semua orang.
"Du, jangan-jangan dia selingkuh. Masa terima telepon aja menjauh," kelakar Thalita.
Syahdu tampak menggaruk kepalanya. "Biarkan saja, 'kan kita nggak ada hubungan apa-apa. Ya bagus dong kalau dia dapat jodoh." Mulut dan hati tidak sinkron.
"Ada, status sebagai teman. Garis bawahi ya, hanya sahabat," tekan Syahdu.
"Oh." Semua sahabatnya mengatakan oh secara serempak.
__ADS_1
"Hebat paduan suara kalian, kompak banget." Syahdu terkekeh pelan.
Fikran berbalik. "Du sepertinya aku tidak bisa menemani kamu hingga acara usai. Ada sesuatu yang harus aku urus. Aku pergi dulu ya!"
Syahdu hanya bisa mengangguk pasrah.
"Teman-teman aku pulang dulu ya dan sampaikan permohonan maafku sama Bang Leon karena harus pergi sebelum acara selesai semua.
"Nggak ngomong sendiri sama dia?" tanya Vierdo.
"Nggak Vier takut kelamaan. Tolong sampaikan ya!" mohon Fikran.
"Oke siap," jawab Juno dan Vierdo serempak.
"Oke makasih dah sekarang aku pergi. Nitip Syahdu ya!"
__ADS_1
"Iya-iya sana pergi!" usir Itnas lalu tertawa.
Bersambung.