
Setelah lama berbincang-bincang akhirnya Itnas dan Juno berpamitan pulang. Satu kardus teri krispi yang ingin Thalita bawa ke kota akhirnya dibagi menjadi dua bagian dan diberikan kepada Itnas dan Juno.
Setelah sampai di kota Itnas langsung harus bersiap-siap karena ditelepon oleh Leon. Ternyata kantor tempatnya bekerja mengadakan liburan bersama. Itnas tidak tahu kalau kantor Leon bekerja sama dengan kantor Vierdo mengadakan liburan. Ia senang melihat Kana dan Syahdu juga ada di tempat liburan mereka tanpa tahu bahwa Vierdo pun ada di sana.
"Hai Nas apa kabar?" sapa Syahdu.
"Baik kalian kok ada di sini juga sih?"
"Iyalah orang perusahaan kami mengajak kami liburan ke sini."
"Apa?!" Itnas kaget sekaligus takut.
"Bagaimana kalau aku bertemu Kak Vierdo?" batinnya.
"Kalian tolong aku ya jangan sampai pak Vierdo tahu kalau ada aku di sini."
"Beres," ucap Kana dan Syahdu bersamaan sambil mengacungkan kedua jempolnya padahal kedua temannya lah yang ikut merencanakan acara tersebut dengan Vierdo.
Tak lama kemudian yang dibicarakan muncul dan menghampiri mereka yang kini sedang berbincang di dalam restoran.
"Panjang umur dia," bisik Kana pada Syahdu.
"Iya," balas Syahdu.
"Kita pura-pura ke toilet yuk!"
"Apa sih kalian bisik-bisik dari tadi kayak nggak nganggep gue ada deh," protes Itnas.
"Bukan begitu, apa makanan di sini tidak sehat ya, kenapa tiba-tiba kami sakit perut bersamaan?"
Itnas mengernyitkan dahi. "Ah perut kalian aja yang imitasi, aku kok nggak kenapa-kenapa ini."
"Ya udah kalau begitu kami pamit ke toilet dulu ya, bye!" ucap Syahdu sambil menarik tangan Kana.
Seperginya mereka berdua Vierdo langsung menghampiri Itnas. Sejak tahu Itnas dipoligami Vierdo bertekad untuk merebut Itnas dari suaminya apalagi setelah mendengar penuturan kedua sahabat Itnas bahwa keadaan pernikahan mereka tidak sehat.
"Hai Nas lagi sendiri ya!" sapa Vierdo basa-basi padahal dia tahu kedua sahabat Itnas pergi setelah melihat dirinya.
"Kak Vier?"
"Boleh aku duduk?"
__ADS_1
"Silahkan!"
Keadaan hening sesaat. Vierdo tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
"Nas maafkan aku ya!" Akhirnya kata maaf yang terlebih dulu keluar. Ya Vierdo tahu bahwa kata-katanya dulu pasti sangat menyakiti hati Itnas.
"Untuk apa Kak?"
"Untuk kata-kataku yang kasar sama kamu dan menuduhmu macam-macam waktu itu."
"Oh itu? Aku sudah memaafkan." Kata-kata Itnas terdengar begitu cuek di telinga Vierdo.
"Nas coba tatap aku!" pinta Vierdo karena sedari tadi Itnas bicara sambil menunduk Itnas seperti tidak mau menatapnya padahal kenyataannya dia tidak berani menatap Vierdo.
Karena permintaan Vierdo akhirnya Itnas memberanikan menatap wajah Vierdo.
"Ada apa Kak?"
"Apakah kamu masih mencintaiku?"
Itnas menatap aneh wajah Vierdo.
"Nas aku tahu tanpa kamu jawab pun aku mengerti kamu masih menyimpan rasa ini di hatimu."
Itnas diam mencoba menebak kemana arah pembicaraan Vierdo yang sebenarnya.
"Maukah kau kembali padaku?"
"Kak aku ...."
"Aku tahu aku akan menunggu sampai kau bisa lepas darinya."
"Kak aku ...."
"Aku tahu kau tidak bahagia dengannya kau seperti istri yang tak dianggap, kan?" potong Vierdo perkataan Itnas.
"Bagaimana dia tahu akan kehidupan rumah tanggaku? Apakah Mama yang memberitahukan semuanya?" pikir Itnas.
"Kamu tidak perlu menjawab sekarang, pikirkanlah dulu apakah kau ingin menggapai kebahagian bersamaku kembali seperti dulu ataukah akan bertahan di tempat yang menyakitkan?"
Itnas terdiam tanpa Vierdo meminta sekalipun dia memang akan berpisah dengan Yudha, tapi dia harus menunggu waktu yang tepat dulu. Dia tidak akan bercerai sebelum mengungkap apa modus Yudha mau menikahinya. Apalagi Itnas tahu beberapa hari ini Yudha seolah ingin mengadu domba karyawan ayahnya dan menginginkan pabrik itu hancur.
__ADS_1
"Kak kumohon jangan dekat-dekat denganku dulu aku tidak mau orang salah paham dengan hubungan kita." Sebenarnya Itnas hanya tidak ingin proses perceraiannya nanti akan berbelit-belit dan tuduhan akan berbalik padanya bahwa dia yang sebenarnya selingkuh.
Namun, Vierdo tak mengerti dia malah berdiri dan memeluk Itnas.
"Jangan begitu Nas, aku sudah lama berpisah denganmu. Kamu tahu rasanya kan menahan rindu bertahun-tahun. Jadi kumohon mulai sekarang jangan menjauhiku lagi."
"Kak lepas! Aku sudah berstatus istri orang. Akan bahaya kalau Mas Yudha melihat ini semua."
"Biarin aku tak perduli kalau perlu aku akan lawan dia. Bukan aku yang ingin merebut kamu darinya tapi justru dialah yang merebut kamu dariku."
"Kak aku ...."
"Prok-prok-prok."
Dari jauh terdengar suara tepuk tangan. Yudha melangkah menghampiri keduanya.
"Hebat ternyata istriku mulai berselingkuh dariku," ujarnya.
"Apa jadinya ya kalau pak Husein tahu semuanya."
"Jangan macem-macem kamu kalau berani memberitahu Om Husein akan ku patahkan tanganmu," ancam Vierdo.
"Ih takut," ucap Yudha mengejek. "Memangnya aku takut?" lanjutnya.
"Kamu yang telah merayu istri saya seharusnya kau yang pantas mendapatkan hukuman."
"Cih, kau yang merebut dia dariku!" balas Vierdo.
Terjadilah adu mulut diantara keduanya kemudian berlanjut ke aksi fisik membuat semua orang menoleh ke arah mereka.
"Hentikan!" teriak Itnas sambil menutup telinga kemudian melangkah meninggalkan kedua laki-laki tersebut.
Yudha mengejar Itnas. "Hei Nas ayo pulang!" ajak Yudha sambil menarik pergelangan tangan Itnas.
"Ikut denganku saja!" Vierdo tak mau kalah malah ikut menarik tangan Itnas.
"Lepaskan!" Itnas menghempaskan tangan keduanya lalu berlari meninggalkan mereka berdua yang tiba-tiba mematung.
"Mana sih Kana sama Syahdu, mengapa belum kembali juga? Tadi katanya mau melindungiku dari Kak Vierdo ini malah tidak ada dalam situasi yang dibutuhkan," kesal Itnas.
Bersambung....
__ADS_1