Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 122. Bercanda Dengan Baby Athar


__ADS_3

"Waw kamu masih mau melawan ya?" Fikran langsung melumpuhkan lawannya itu agar tidak menyerang lagi.


John terkulai lemas sedangkan nyali Sauna menjadi ciut melihat John saja yang memiliki otot-otot yang kekar kalah apalagi dirinya yang lebih lemah. Wanita itu hanya bisa pasrah saat ini meskipun dalam hati tetap ada keinginan untuk kabur bila ada celah untuk meloloskan diri nantinya. Untuk saat ini dia akan berpura-pura lemah dan menjadi penurut dulu.


Di dalam mobil yang lain yang dikendarai Juno, baby Athar merangkak ke arah Syahdu.


"Kamu kangen digendong Tante ya?" tanya Syahdu sambil meraih baby Athar dan meletakkan di atas pangkuannya. Bayi itu tidak menjawab hanya mengoceh saja dari tadi.


"Ulu-ulu pasti kangen sama Tante," ujar Syahdu sambil menguyel-uyel pipi baby Athar dan mencium pipi balita itu dari samping.


"Kalau suka dengan anak kecil buat gih Du!" goda Juno.


"Buat sama siapa Jun? Masa sama ayam jantan. Udah tahu aku jomblo," sahut Syahdu sedang tangannya tak henti-hentinya terus menggoda balita dalam pangkuannya yang semakin hari semakin menggemaskan saja.


"Minta dihalin saja sama Fikran Du, beres," ujar Juno.


"Apaan sih Jun aku tuh cewek punya harga diri tamu! Kamu pikir aku barang apa pakai mau ditawarin sama orang. Obral-obral!" teriak Syahdu membuat Juno menjadi tertawa.

__ADS_1


"Puas kamu?" Geram Syahdu membuat tidak hanya Juno yang tertawa melainkan Thalita, bahkan baby antar pun ikut tertawa seakan mengerti dengan pembicaraan ketiga orang dewasa yang ada di sampingnya.


"Kau lucu sekali Athar," ujar Syahdu sambil terus mencubit gemas anak kecil tersebut.


"Jangan Tante Syahdu yang cantik. Jangan cubit pipiku sakit tahu," ucap Thalita mewakili putranya.


"Eh dia malah ketawa tuh Lit," ujar Syahdu aneh melihat baby Athar yang malah tidak menangis, melainkan tertawa saat dicubit pipinya oleh Syahdu.


"Dia bukan bayi yang cengeng Du. Jadi, jangan harap dia menangis. Sejak lahir pun dia itu jarang menangis mungkin karena saat di dalam perut dia sudah terlalu lama menderita jadi sudah terbiasa tegar," ujar Thalita.


"Oh jadi sudah latihan dari dalam perut ya?" Kelakar Syahdu sambil tertawanya renyah.


"Ada-ada saja kalian berdua," ujar Juno menyambung pembicaraan dua wanita yang berada di belakang kursi kemudi.


"Efek dari ayahnya yang tidak pernah memperhatikannya," ujar Syahdu lagi menggoda Juno.


"Tapi justru bagus loh Du kalau anaknya bisa menjadi anak yang tegar semoga sampai tua nanti tetap menjadi anak yang tegar dan kuat," ucap Juno lagi.

__ADS_1


"Amin," ucap Thalita.


"Jadi ambil sisi positifnya saja ya Jun?"


"Iya dong Du, kalau tidak begitu mana mungkin hidup kita bisa berkembang kalau tidak bisa belajar dari masa lalu."


"Ya kalau untuk hal itu aku setuju denganmu," ucap Syahdu dan Thalita juga Jono mengangguk bersamaan.


"Oh ya ngomong-ngomong Itnas mana?" Syahdu baru menyadari bahwa sahabatnya yang satu itu tidak ada di antara mereka padahal tadi dia sempat melihat Itnas berdiri di tepi jalan raya.


"Sudah pulang duluan dengan Kana dan Gino dan mobilmu tadi di bawa mereka. Sebenarnya tadi mereka juga ingin pulang bareng tapi terpaksa harus pergi lagi saat Itnas mengatakan tidak kuat berada di tempat ini. Terlalu banyak nyamuk dan dia merasa kedinginan tadi," jelas Juno.


"Oh begitu? Baiklah tidak apa-apa. Saya tadi pun sempat khawatir sebab kalian membawa Itnas ke tempat ini dan juga lebih khawatir lagi sebab kalian juga membawa baby Athar. Kami tidak tahu apa tempat seperti ini kayaknya banyak nyamuk demam berdarah."


"InsyaAllah baby antar sehat-sehat saja. Iya, kan sayang?" ucap Thalita pada putranya dan tawa semua orang pecah saat melihat bayi itu terlihat mengangguk.


"Alhamdulillah selain sehat baby Athar juga pintar," ucap Thalita pada putranya lagi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2