
Itnas berlalu dari kamar Dafa dan menutup pintu kamar adiknya, tetapi sebelum pintu ditutup Itnas mengepalkan dan mengangkat tangannya ke atas untuk menyemangati sang adik. "Semangat!"
Dafa hanya tersenyum dan mengangguk melihat tingkah sang kakak.
Itnas melangkahkan kakinya menuju dapur untuk menemui adik perempuannya.
"Masak apa Dek?" tanya Itnas setelah kakinya menginjak lantai dapur.
"Eh Mbak Itnas. Kapan datang?"
"Baru saja."
"Ini aku masak puding sama makanan untuk menyambut teman saya."
"Teman? Cewek apa cowok?"
"Ih Mbak kepo amat. Teman cowok sih."
"Teman apa teman?" goda Itnas.
"Calon pacar si Mbak semoga papa mau merestui."
"Wah adek mbak berani ya! Mbak kalah sama kamu. Dulu mbak malah sembunyi-sembunyi pacarannya. Karena papa nggak ngebolehin mbak pacaran."
"Aku nggak suka backstreet Mbak takutnya ketahuan malah tambah kacau. Sebenarnya yang berani itu bukan aku sih Mbak tapi dianya. Ketika aku nolak dia karena alasan nggak dibolehin pacaran ama papa malah dia pengin ketemu sama papa. Yaudah mau gimana lagi ya aku turuti sekalian ngetes keseriusan dia."
"Oke bagus tapi apakah kamu siap menghadapi kemarahan papa?"
"Kenapa papa harus marah? Emang aku salah apa? Bukannya malah bagus kalo aku jujur sama papa ketimbang harus bohongin papa."
"Yasudah kalau kamu seyakin itu papa nggak bakalan marah. Mbak cuma berharap semoga kamu dapat yang terbaik."
"Terima kasih Mbakku yang paling cantik." Sambil mendekap Itnas.
"Owalah kok malah meluk gini sih, tanganmu kan kotor." Sambil melepas pegangan tangan sang adik.
"Hehe...." Dilfi cengengesan. "Maafin Mbak, tidak sengaja!"
ππ ππ π
Setelah Itnas dan Dilfi selesai memasak mereka menata makanan di meja makan. "Sudah sana kamu mandi nanti keburu cowok kamu dateng dan penampilan kamu masih kucel kayak gini."
"Iya Mbak aku mandi dulu. Nanti kalau cowok aku dateng tolong bukain pintu!" kata Dilfi sambil berlalu ke kamar mandi.
"Cih, ngapain aku yang buka kan ada si mbok," protes Itnas.
Beberapa saat terdengar pintu diketuk diiringi ucapan salam.
"Waalaikum salam," jawab Itnas sambil berjalan ke arah pintu. Ketika pintu di buka tampaklah seorang laki-laki berdiri di sana.
"Dilfi-nya ada?" tanya si lelaki.
"Oh ada masih mandi. Mari silahkan masuk!" Itnas menggiring sang tamu ke ruang tamu.
"Silahkan duduk! Biar saya panggilkan Dilfi dulu."
Sang tamu hanya mengangguk kemudian duduk di sofa ruang tamu tersebut.
Itnas melangkah menuju kamar sang adik untuk menyampaikan bahwa tamunya sudah datang.
__ADS_1
"Dik cepetan mandinya cowok kamu udah nunggu tuh!"
"Iya Mbak bentar! Aku udah mau selesai kok. Dilfi minta tolong Mbak temenin dia dulu ya!"
"Iya tapi jangan lama-lama ya!"
"Oke."
Setelah hampir lima belas menit barulah Dilfi turun dari kamarnya. Karena Dilfi sudah menemani tamunya Itnas beranjak dari ruang tamu untuk memberi ruang Dilfi dan kekasihnya untuk mengobrol. Dirasa cukup Itnas memanggil
Mama Refi dan Papa Husein.
"Pa, perkenalkan ini teman Dilfi namanya Davin." Dilfi memperkenalkan sang kekasih terlebih dulu ketika melihat sang papa menghampiri tempat duduk mereka.
Davin berdiri mengulurkan tangan sambil memperkenalkan diri. Saya Davin, Om apa kabar?"
"Saya Husein papanya Dilfi. Kamu ada apa ingin ketemu sama saya?" Langsung to the poin.
Mama Refi menghampiri mereka sambil membawakan minuman. "Di minum dulu Nak Davin."
"Iya Tante, terima kasih."
Davin pun meminum minumannya. Namun, sebelumnya dia sempat mengulurkan tangan menyalami calon mertuanya.
"Kalo boleh tahu kedatangan Nak Davin ke sini ada maksud apa ya?" tanya Mama Refi.
Benar-benar pasangan yang tidak tahu basa-basi. Langsung main tanya, langsung ke pokok pembicaraan. Itnas yang mendengar pertanyaan Papa dan mamanya ikut geram. Alamat masakan yang dimasak susah payah oleh sang adik dan dirinya bakalan tidak termakan. Bagaimana mau dimakan kalau tamunya di buat sakit hati dulu oleh kedua orang tuanya. Itnas sudah su'udzhon terlebih dahulu. Dia menatap Dilfi kasihan.
"Saya mau minta izin supaya direstui hubungannya sama Dilfi."
"Memang kalian punya hubungan apa?"
"Kami cuma teman kok Om, Tante, tapi kami saling mencintai. Karena Dilfi tidak boleh pacaran sama Om jadi Dilfi minta saya menemui Om dan meminta langsung sama Om agar Om mau mengizinkan kami untuk pacaran."
"Tolonglah Om izinin. Davin akan lakuin apa aja untuk dapat restu dari Om."
"Serius kamu?"
"Iya Om."
"Kalo begitu lamar Dilfi Om nggak suka kalian pacaran. Kalo kamu serius ya lamar dia jadi tunangan kamu."
Sontak kata-kata itu membuat semua yang hadir di tempat itu terkejut termasuk Davin yang dari tadi tenang malah tiba-tiba menjadi gugup.
"Baik Om. Saya akan bicarakan sama orang tua saya."
Dilfi yang sedari tadi tegang akhirnya bernafas lega. Tadinya dia takut Papa Husein akan memarahi Davin. Namun, nyatanya tidak.
Selesai berbincang mereka mengajak Davin makan malam bersama dan selesai makan Davin pamit pulang.
Setelah tamunya pulang Itnas menghampiri papanya yang nampak santai di ruang keluarga.
"Pa. Papa yakin dengan keputusan Papa?"
"Soal?"
"Soal tadi Pa. Soal pertunangan Dilfi sama Davin tadi."
"Iya emang kenapa?"
__ADS_1
"Dilfi kan masih belum lulus sekolah Pa masak sudah disuruh tunangan."
"Ya daripada dia pacaran mending langsung tunangan lebih jelas statusnya. Lagian papa tidak yakin tuh anak mau datang melamar si Dilfi pasti orang tuanya tidak bakal mau. Orang dia masih bocah."
"Jadi itu rencana Papa ingin si Davin sendiri yang memutuskan hubungannya dengan Dilfi tanpa terkesan Papa yang melarang hubungan mereka? Tapi gimana kalau dia serius?"
"Baguslah kalau dia serius berarti papa harus benar-benar merestui dia."
Itnas menarik nafas. "Semudah itu ya Pa? Kalo aku tahu dulu papa melarang pacaran dan tidak melarang tunangan aku ...." Itnas tidak melanjutkan bicaranya.
"Kamu ... kenapa?"
"Ah nggak kenapa-kenapa. Bagaimana keadaan jantung Papa?"
"Kemarin aku check up hasilnya mulai bagus. Emang ada apa? Papa mulai curiga nih kamu mau ngomong sesuatu yang serius."
"Hehe ... Papa tahu aja."
"Ngomonglah!" Papa tidak akan apa-apa."
"Pa kalau seumpama aku cerai sama Mas Yudha Papa ngebolehin?"
"Itu sih tergantung alasannya. Kenapa? kamu ingin kembali pada anaknya pak Dafid?"
"Papa kok ngomong begitu sih? Papa tahu darimana bahwa saya pernah menjalin hubungan sama anaknya pak Dafid?"
"Dari mama kamu. Mama kamu udah ngomong semuanya tentang hubungan kalian dulu. Kenapa kamu nggak pernah ngomong sama Papa? Kalo Papa tahu pasti papa bakal ngerestui hubungan kalian."
"Tapi papa kan dulu tidak pernah bolehin Itnas pacaran Pa? Dan saya tidak tahu bahwa papa bolehin untuk tunangan."
"Ya perkecualian untuk anaknya pak Dafid. Pak Dafid kan teman baik papa."
"Tapi untuk sekarang, maaf papa nggak bisa restui kamu karena kamu sudah punya suami dan papa tidak membenarkan tindakan kamu yang mau minta cerai karena ingin kembali pada masa lalu kamu. Seperti keinginan mama kamu."
"Tidak Pa itu tidak benar. Ini tidak ada sangkut pautnya sama Kak Vierdo. Aku ingin pisah dari Mas Yudha karena selama ini dia tidak pernah bertanggung jawab sebagai seorang suami. Selama pernikahan kami dia tidak pernah memberikan nafkah pada Itnas tapi untuk yang satu ini Itnas tidak masalah. Selain itu dia juga menduakan Itnas Itnas pun mengalah tapi untuk yang ketiga Itnas tidak bisa terima Pa karena dia sudah berani selingkuh." Sambil menunjukkan foto yang berhasil terekam di kamera ponselnya.
"Kamu yakin Yudha selingkuh? Bukannya kamu salah paham? Apakah kamu sudah menanyakannya pada Yudha? Darimana kamu dapatin foto ini?" tanya Papa Husein panjang lebar.
"Tidak Pa Itnas tidak salah paham karena sebelum mendapatkan foto itu Itnas sempat melihat dengan mata kepala Itnas sendiri dia bermesraan dengan wanita tersebut, dan foto itu aku yang memotonya sendiri. Kemarin istri mudanya datang meminta jatah nafkahnya padaku katanya dia tidak dikasih uang belanja padahal aku pun tidak pernah dikasih oleh Mas Yudha."
"Jadi benar kata mama kamu. Kamu dipoligami?"
Itnas menunduk, "Iya Pa."
"Kok kamu mau?"
"Karena wanita itu hamil anaknya Mas Yudha Pa."
"Apa hamil? Yudha menghamili wanita diluar nikah?"
"Iya Pa." Kali ini suaranya lirih.
"Brengsek tuh orang! Papa benar- benar ketipu sama tuh orang. Papa pikir dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab nyatanya ...."
"Maafkan Papa ya Nak, papa tidak tahu bakalan seperti ini." Ada raut sesal di wajah Papa Husein.
"Kalau papa tahu ..."
"Sudahlah Pa. Semua sudah terjadi Itnas hanya mau papa mengizinkan kalo suatu saat Itnas memilih berpisah."
__ADS_1
"Lakukanlah apa yang terbaik menurut hati kamu!"
Bersambung....