
Empat puluh hari pun berlalu sejak bayi Athar di aqiqah. Sekarang saatnya kedua orang tuanya yang akan merayakan pesta, ya pesta pernikahan.
Hari ini Thalita nampak cantik dengan balutan gaun berwarna putih dengan aksesoris berwarna kuning emas. Juno pun nampak gagah dengan setelan jas putih dan celana kain berwarna hitam.
"Kau cantik sekali," puji Juno saat melihat wajah Thalita yang nampak cerah dan nampak bersinar setelah dirias. Thalita hanya menanggapi perkataan calon suaminya dengan
senyuman.
"Kok cuma senyum doang sih," protes Juno.
"Terima kasih," ucap Thalita mungkin Juno ingin mendapatkan ungkapan terima kasih karena telah memuji dirinya.
"Cuma terima kasih?" goda Juno.
"Terus kamu maunya apa?" tanya Thalita tidak mengerti.
Juno menyentuh pipinya sendiri sambil mengedipkan mata.
"Apaan sih Mas, aku tidak mengerti," protes Thalita.
"Cium," rengek Juno.
Thalita nampak tersenyum. "Astaga jadi itu kode minta begituan? Bukan muhrim," ucapnya dengan suara yang lebih dikeraskan.
"Ya ampun Bang sabar dikit napa, bentar lagi juga halal," goda Itnas sambil terkekeh. "Nggak sabaran amat sih," imbuhnya.
"Biasa Mbak Nas, selama Mbak Thalita tinggal di sini Tante Elvi benar-benar menjaga agar Bang Juno tidak berbuat mesum sama Mbak Thalita. Jadi sekarang dia sudah nggak nahan," ucap Inka sambil tertawa.
"Ink, awas ya selalu meledek Bang Juno! Nanti kalau Bang Juno keluar negeri lagi abang nggak bakal belikan tas limited buat kamu lagi," ancam Juno.
"Nggak apa-apa bang koleksi tas Inka sudah banyak kok, sudah menuhi lemari," sahut Inka.
__ADS_1
"Oke, awas ya kalau minta dibelikan lagi pas aku mau kerja keluar."
"Iya nggak lagi kok Bang, lemari Inka dah beneran penuh dengan tas tapi kalau jari Inka belum penuh kok," ucap Inka sambil memperlihatkan jari tangan kirinya yang hanya ada satu cincin di jari tengahnya ke hadapan Juno.
"Maunya," kata Juno sambil mengacak rambut Inka. "Nanti aku buatkan dari uang koin yang dilubangi tengahnya," ucap Juno lalu terkekeh.
"Ah Abang, dikirain Inka apaan mau dibuatin dari koin," ucap Inka sebel dengan wajah yang nampak cemberut.
"Kamu ingin jari kamu ini penuh dengan cincin?" tanya Juno pada Inka.
Perempuan itu mengangguk sambil tersenyum. "Iya, belikan cincin berlian ya Bang," ucap Inka sambil mengedip-ngedipkan mata membuat Thalita hanya
menggeleng kepala.
"Mbak Thalita jangan cemburu ya, aku memang begitu sama bang Juno. Bang Juno karena tidak punya adik maka dia sangat menyayangi dan memanjakan Inka selaku adik sepupu satu-satunya. Kadang dia selalu membelikan apapun yang dipesan oleh Inka saat dia pergi bertugas keluar negeri, tetapi kadang kami seperti Tom and Jerry yang selalu bikin rusuh hingga mama sama Tante Elvi jadi kesal," tutur Inka panjang lebar.
"Nanti kalau sudah punya istri jangan pelit-pelit ya Bang," pesan Inka pada Juno.
"Kalau dah punya istri, anak sama istri duluan. Kalau Inka mah boleh diabaikan," kelakar Juno membuat Inka cemberut.
"Iya. Mas Juno mau belikan?" tanya Inka serius.
"Coba lihat tangannya!"
Inka pun mengulurkan tangan kirinya ke depan Juno lagi.
"Yang ini kan sudah ada." tunjuk Juno pada jari tengah Inka. perempuan itu tampak mengangguk.
"Iya dikasih mama," jawabnya.
"Kalau jari telunjuk ini cincinnya dari pacar kamu nanti." Inka mengernyit mendengar perkataan Juno.
__ADS_1
"Kalau yang jari manis ini dari cincin tunangan, tapi bisa dipindahkan ke kelingking saat kamu menikah karena akan digantikan oleh cincin kawin," lanjut Juno.
"Berarti tinggal satu dong jari jempol, belikan ya Bang mirip sama punya Mbak Thalita juga nggak apa-apa."
"Enak saja. Yang ini kamu harus beli dari hasil kerja sendiri malu nggak kalau kerja nggak ada bukti apa-apa."
"Ya bilang aja Bang Juno sekarang pelit," bantah Juno.
"Pengantin diharap keluar karena acara ijab qabul akan dimulai," ucap salah satu panita pernikahan yang dibentuk oleh Mama Elvi.
"Sudah Jun jangan mengobrol terus, sisakan tenagamu untuk acara ijab," ucap Itnas sambil membantu Thalita bangun dan menuntunnya keluar. Seorang perias pengantin mengikuti langkah mereka dengan memegang gaun Thalita yang menjuntai ke lantai di belakang.
Juno menarik nafas panjang untuk menyingkirkan rasa nerveos -nya.
"Iya Nas."
Sekarang Thalita dan Juno sudah duduk di meja ijab dengan perasaan yang sangat grogi.
"Bagaimana sudah siap?" tanya pak penghulu.
"Siap Pak," jawab Juno sedang Thalita hanya menjawab dengan anggukan.
"Mana walinya?" tanya pak penghulu lagi.
"Saya Pak." Fadil maju ke depan. Sekarang tidak hanya mempelai saja yang grogi tetapi walinya pun ikut tegang.
"Baiklah saya baca doa dulu sebentar dan setelahnya langsung dilanjutkan dengan acara ijab qabul," ucap Pak penghulu.
"Baik Pak," jawab mereka serempak membuat Leon tidak bisa menahan tawanya.
"Ini yang menikah dua orang atau tiga sih, kok yang wajahnya pucat malah tiga orang," goda Leon.
__ADS_1
"Huss jangan berisik," protes Juno.
Bersambung.