Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 102. Pertemuan Yang Diatur


__ADS_3

"Belum datang Mas yang ditunggunya?" Seorang karyawan kafe mendekat ke arah Fikran dan menyapanya.


"Belum Mas."


"Wah padahal Mas nya sudah lama ya nunggunya. Tidak mencoba ditelpon Mas sebab bisa saja teman Mas itu membatalkan pertemuan kalian karena kondisi cuaca yang tidak menentu ini."


"Sudah Mas katanya mereka masih menepi di jalan."


"Oh kalau begitu Mas nya hanya diharapkan untuk bersabar saja."


Fikran mengangguk.


"Oh ya Mas buatkan aku kopi lagi. Kalau ada gorengan yang hangat-hangat untuk melawan dinginnya cuaca di luar."


"Boleh, kopi apa?"


"Cappucino hangat seperti tadi jangan lupa gulanya dikurangi karena saya tidak begitu menyukai kopi yang terlalu legit."


"Oke Mas siap OTW saya buatkan," ujar pelayan itu dan langsung bergegas pergi untuk membawakan pesanan Fikran.


Beberapa saat kemudian pelayan itu kembali dengan nampan berisi segelas kopi dan aneka gorengan di dalam piring.


"Ini Mas pesanannya, silakan disantap mumpung cuacanya lagi mendukung." Pelayan itu meletakkan gelas berisi cappucino dan sepiring gorengan itu di meja depan Fikran.


"Oke terima kasih Mas, saya nikmati dulu ya!"


"Oke sama-sama." Pelayanan itu pun pergi.


Kali ini Fikran fokus dengan makanan dan minuman yang dipesannya. Sejenak merupakan Leon yang begitu lama ditunggunya.

__ADS_1


Saat sedang fokus-fokusnya menyantap makanan dan menyeruput kopi, Leon, Syahdu, dan Thalita turun dari mobil dan berjalan ke arah cafe. bukan yang sudah tidak mempedulikan keadaan di luar tidak melihat bahwa Leon dan teman-temannya itu masuk ke dalam kafe dan mencari keberadaannya.


"Mana tuh orang jangan-jangan sudah pulang lagi." Leon khawatir kalau ternyata Fikran sudah bosan menunggu dan akhirnya memutuskan untuk pergi dari kafe itu.


"Fik! Fik! Dimana kamu?" panggil Leon karena tidak ingin terlalu lama mencari keberadaan adik sepupunya itu.


"Cari siapa mas?" tanya pelayan cafe tersebut menghampiri Leon.


"Cari teman saya Mas, dia katanya sudah dari pagi menunggu kami di sini tapi kok saya tidak melihatnya ya."


"Oh mungkin teman Mas ada di ruangan sebelah Mas. Dia itu memang sudah dari pagi menunggu temannya katanya, teman Mas itu pria bukan pria, bukan?"


"Iya benar teman saya memang pria."


"Rambutnya gondrong?"


"Baiklah kalau begitu mari saya antar ke ruangan sebelah."


Leon mengangguk dan mengikuti langkah pelayan itu menuju ruangan sebelah yang hanya dipisahkan dengan sekat kaca.


"Ayo Du ikut aku!" ajak Leon.


"Aku sama Thalita tunggu di sini saja ya," ujar Leona sambil menarik kursi dan duduk di meja yang berada di ruang cafe sebelah.


"Iya bolehlah tunggu di sini dulu. Saya juga akan kembali ke sini lagi kok setelah menghantarkan Syahdu pada Fikran."


Leona mengangguk sedangkan Thalita hanya tersenyum saja dan ikut duduk di kursi yang ada di hadapan Leona.


Syahdu mengikuti langkah Leon ke ruangan sebelah dengan langkah yang sangat pelan.

__ADS_1


"Ayo Du dipercepat langkahnya, kok jadi lemes begitu sih. Nanti kalau kamu lapar tinggal pesan saja biar Fikran yang bayar semuanya," ujar Leon menggoda Syahdu.


"Oke siap," jawab Fikran yang masih fokus dengan gorengan fi tangannya. Namun, mendengar suara Leon.


"Eh Bang Leon!" Kaget Fikran dan langsung menaruh kembali gorengan jamur di tangannya kala mengingat Leon tidak datang sendirian melainkan bersama belahan hatinya.


Fikran langsung menatap Syahdu yang berada dibalik punggung Leon dan berjalan mendekat.


Fikran menatap Syahdu dengan mengulas senyum di bibir sedangkan Syahdu hanya berjalan sambil menunduk dan tak melihat lelaki yang duduk di hadapannya sambil menatap dirinya tidak berkedip.


"Du, perkenalkan nama dia Fikran," ujar Leon membuat Syahdu langsung mendongak dan menatap pria yang berada di depannya dan mengulurkan tangan itu.


"Kamu!" Syahdu kaget sebab pria itu adalah pria yang hampir menabrak dirinya saat menggendong baby Athar dan menyeberangi jalan di depan perusahaan Vierdo.


"Hai namaku Fikran." Pria itu masih tersenyum meskipun Syahdu terlihat tidak suka pada dirinya.


Syahdu tidak menerima jabatan tangan Fikran, tetapi malah berbalik.


"Aku pergi saja Pak Leon."


"Eits mau kemana? Kau tidak boleh pergi. Masa susah-susah aku mengatur pertemuan kalian bahkan sampai membuang waktu berhargaku kau malah pergi," keluh Leon.


Syahdu terlihat menghembuskan nafas berat.


"Baiklah aku akan duduk di sini," ujar Syahdu sambil menyeret kursi dan duduk di depan Fikran.


"Nah gitu dong, kalau begini aku kan tidak sia-sia mengatur pertemuan kalian," ucap Leon dan Syahdu hanya mengangguk dengan wajah yang nampak memberengut. Namun tak apa, Fikran akan membuat wajah masam di depannya menjadi ceria kembali.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2