Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 85. Curhat Dengan Gino


__ADS_3

Gino menghela nafas berat melihat Kana bersedih lagi. Baru saja perempuan itu terlihat ceria kini mendung lagi.


"Gimana mau datang?" bisik Gino di telinga Kana.


"Entahlah," jawab Kana lemah. Entah mengapa susah sekali melupakan perasaannya pada Wendi meskipun hari ini dia benar-benar membuat Kana kecewa. Tiba-tiba saja datang dengan membawa seorang kekasih dan mengatakan bahwa mereka akan menikah dalam waktu dekat membuat Kana yang selama ini mengelu-elukan Wendi untuk menjadi suaminya langsung dipatahkan mendadak.


"Gin boleh antarkan aku pulang?" Rasanya Kana sudah tidak bisa lagi berlama-lama di tempat itu karena mood-nya kembali memburuk.


"Pulang?" tanda Gino memastikan.


"Iya tiba-tiba kepalaku pusing nih, mungkin aku kurang darah lagi," sahut Kana.


"Oke aku antar," ucap Gino lalu berdiri.


"Vier, dan teman-teman yang lain, aku pulang duluan ya. Mau ngantar Kana nih katanya kepalanya sakit dan terasa berat."


"Baik hati-hati Gin."


Gino mengangguk.

__ADS_1


"Maaf ya Nas dan teman-teman sekalian saya harus pulang duluan karena kesehatanku drob kali ini."


Itnas dan yang lainnya mengangguk. Kana bangkit berdiri saat tangan Gino terulur untuk memegang tangannya dan membantu Kana Berdiri.


"Mari, assalamualaikum," ucap Gino pamit pada semua orang.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ta'ala wabarakatuh," jawab semua orang dan kanan serta bikin langsung pergi meninggalkan pesta.


"Aku tahu kamu patah hati pada Wendi tapi tidak seharusnya sampai membuat kesehatanmu drob," ucap Gino pada Kana saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Kana tidak menjawab sebab tidak tahu harus berkata apa.


"Menurutmu aku harus bagaimana Gin?" Kana meminta pendapat Gino.


"Lupakan Wendi dan buka hatimu untuk orang lain."


"Tidak bisa Gin, rasanya sulit sekali. Kau tahu di dalam sini rasanya sakit banget Gin. Tadi aku sudah berusaha cuek dengan dirinya, nyatanya setelah mendengar mereka akan menikah dadaku bergemuruh lagi." Kana menepuk dadanya sendiri. Bulir bening tak kuasa jatuh di pipi mulusnya.


"Awalnya memang begitu Kan, itu sudah biasa. Siapa yang tidak sakit hati jika orang yang kita cintai diam-diam selama bertahun-tahun ternyata memilih orang lain dalam hidupnya. Namun yakinlah suatu saat nanti pelan-pelan hatimu akan mulai bisa menerima semuanya. Luka yang menganga sedikit demi sedikit akan mulai tertutup dan jika kamu pandai merawat hatimu perlahan hati itu akan kembali ke bentuknya semula. Mulus tanpa cela. Bersandarlah di bahuku dan menangislah jika itu bisa mengurangi sesak di dalam dadanmu." Gino menepuk bahunya sendiri dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan memegang setir.

__ADS_1


Kana mengangguk dan langsung bersandar pada bahu Gino.


"Kau benar Gin tapi untuk saat ini apa yang harus aku lakukan? Apakah aku akan menjauh dari dia agar bisa melupakan perasaan yang terlanjur tumbuh ini?"


"Tidak Kan, itu bukan solusi yang baik. Dengan melakukan hal seperti itu akan semakin menyiksa dirimu. Mungkin kamu malah akan merindukan dirinya dan saat bertemu lagi malah kau berharap kembali. Apalagi kamu dan dia satu kantor. Menghindari bertemu dengan atasan itu bukanlah yang bagus."


Kana mengangguk lalu tampak termenung.


"Kalau begitu temani aku ya Gin di pesta pernikahan Pak Wendi nanti," pinta Kana.


"Siap Bos. Kalau butuh apa-apa jangan lupa cara Gino ya," ucap Gino sumringah.


Kana tampak tersenyum dengan air mata yang tampak menetes.


"Oh ya Gin ini mobil siapa?" tanya Kana baru sadar bahwa Gino tidak memiliki mobil dan biasanya hanya memakai motor. Namun sekarang malah membawa mobil.


"Milik Omku, sengaja aku pinjam takut tiba-tiba hujan saat masih di jalan. Kan nggak asyik datang ke pesta pernikahan dalam keadaan basah kuyup. Bisa-bisa kita diusir oleh Vierdo," tutur Gino sambil terkekeh.


"Oh." Kana hanya mengangguk paham sambil sedikit tersenyum.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2