Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 107. Ragu


__ADS_3

"Fikran tolong atasi muntahan Itnas ya, aku tidak enak pada penilik kafe karena telah membuat meja dan lantainya kotor juga kepada pengunjuk lain yang juga mungkin kehilangan selera makan karena istriku ini," mohon Vierdo pada Fikran.


"Tenang Vier kamu fokus saja pada istrimu dan serahkan masalah lantai yang kotor ini kepadaku," ujar Fikran dengan santai.


"Oke terima kasih Fik kalau begitu kami pergi dulu."


"Sama-sama, oke siap. Pergi saja sana kasihan istrimu itu."


Itnas pun melangkahkan kakinya keluar dari kafe dengan posisi tubuhnya dipapah oleh Vierdo sebab wanita itu terlihat lemah untuk hanya sekedar berjalan.


Leon, Leona dan Talita pun mengikuti langkah kedua sahabatnya dan ikut ke rumah sakit sedangkan Fikran tinggal di kafe itu. "Kalau kamu mau ikut ke rumah sakit tidak apa-apa sana ikut saja biar saya yang membereskan ini semua."


"Nggak usah Fix mereka sudah banyak yang ikut. Lagian Itnas kan cuma sakit karena hamil bukan sakit parah. Aku mau menemani kamu saja di sini." Syahdu menyimpulkan dan mengambil keputusan sendiri dan Fikran hanya mengangguk setuju.


"Mas! panggil Fikran kepada pelayan tadi.


"Iya Mas ada yang saya bisa bantu lagi?"


"Tolong ya bersihkan muntahan ini. Tenang saja nanti kamu pasti akan aku bayar," ucap Fikran.


"Wah aku juga mau dong Kalau dibayar." Seorang karyawan lain yang kebetulan melintas di samping mereka mendengar perkataan Fikran.


"Boleh Mbak nanti Mbak juga akan saya bayar, bantu Mas nya ini ya?"


"Oke siap Mas, sebentar aku antar minuman ini dulu."


"Iya."


"Mas ini kan ada beberapa meja yang ada pengunjungnya di dalam ruangan ini. Tolong sampaikan permintaannya maaf kami pada semuanya karena mungkin mereka terganggu dan tidak berselera makan saat tadi melihat Itnas muntah-muntah dan sebagai permintaan maaf katakan aku yang akan membayar semua pesanan mereka."


"Oke-oke Mas," ucap pelayan itu sambil tersenyum sumringah.


"Mel total berapa harga pesanan mereka semua!" perintah pelayan pria tersebut pada teman wanita yang baru saja kembali dari mengantarkan minuman tadi.


"Loh katanya aku disuruh membantu membersihkan meja ini?"

__ADS_1


"Iya nanti setelah selesai melakukan totalan pembayaran semua pengunjung yang ada di ruangan ini saja."


"Oke siap." Setelah mendata, perempuan itu kembali ke samping Fikran dan menyampaikan laporannya melalui sebuah kertas.


"Ini Mas totalannya." Perempuan itu menyodorkan kertas ke hadapan Fikran.


Fikran menerima lalu membacanya.


"Oke." Fikran merogoh kantong celananya dan mengambil dompet dari sana. Setelah membuka dompetnya dia mengambil kartu dari dalam dompet tersebut.


"Kafe ini menerima bayaran melalui debit card, tidak?" tanya Fikran pada pelayan itu.


"Iya Mas menerima," jawab pelayan wanita tersebut.


"Oke kalau begitu ini kartunya."


"Baik." Pelayan wanita itu langsung menerima kartu tersebut dan membawa ke kasir sedangkan pelayan pria menyampaikan permintaan maaf serta memberitahukan bahwa makanan yang mereka makan tidak perlu membayar alias gratis karena seseorang sudah membayarnya sebagai permohonan maaf karena mungkin sudah membuat selera makan semua orang yang ada di ruangan itu berkurang.


Tentu saja semua orang yang ada di dalam ruangan itu menyambut dengan senang atas traktiran itu dan beberapa orang malah menyempatkan untuk berterima kasih pada Fikran dan Syahdu.


"Tidak perlu saya percaya padamu," ujar Fikran membuat Syahdu kaget sebab Fikran begitu mempercayai orang lain dengan mudah.


"Terima kasih Mas atas kepercayaannya," ucap pelayan tersebut sambil tersenyum senang.


"Oke, dan ini untuk upah kalian berdua." Kini Fikran mengulurkan beberapa uang ratus ribuan pada pelayanan wanita tersebut.


"Wah terima kasih ya Mas, semoga rezeki Mas tambah banyak," ucap pelayan tersebut.


"Terima kasih tapi itu untuk berdua ya, cukup, kan?"


"Ah iya Mas, lebih dari cukup malah."


"Oke kalau begitu kalian kerjakan tugas kalian dan kami harus pergi sekarang."


"Baik, hati ya Mas ya Mbak!"

__ADS_1


"Iya Mbak, terima kasih atas perhatiannya."


Fikran pun menggandeng tangan Syahdu dan membawanya ke luar kafe. Syahdu membiarkan saja Fikran menggandeng tangannya sebab tidak enak kalau menolak saat mereka masih ditatap orang banyak. Baru setelah berada di luar Syahdu melepas genggaman tangan Fikran.


"Sorry aku tadi reflek," sesal Fikran. Memang tadi dia menggenggam tangan Syahdu dengan tidak sadar.


"Tidak apa-apa," sahut Syahdu.


"Yuk aku antar pulang!"


Sebenarnya Syahdu ingin menolak sebab takut diapa-apain oleh Fikran. Meskipun dia sendiri yakin bahwa Fikran adalah orang baik-baik ditambah pendapat Itnas yang meyakinkan bahwa pria itu memang orang baik. Namun, dia harus berhati-hati siapa tahu dugaannya salah atau mungkin benar tetapi godaan setan lebih kuat, maka hal buruk bisa saja akan terjadi diluar dugaan.


"Kenapa, masih takut denganku?" tanya Fikran yang melihat ekspresi Syahdu seperti orang ragu saja.


"Masih berpikiran aku preman ya?" tanya Fikran lagi.


"Ah nggak siapa yang menganggap kamu preman," bohong Syahdu padahal sejak awal bertemu prasangkanya memang seperti itu.


"Ya sudah ayo tunggu apalagi?" Fikran membukakan pintu mobil untuk Syahdu.


"Oke aku masuk," ucap Syahdu pasrah sebab ingat kendaraan yang mengantarkan dirinya sampai ke tempat ini telah pergi. Lagipula kalau terjadi sesuatu pada dirinya, Syahdu memiliki kemampuan untuk melawan karena dia pernah belajar takewondo dulu.


Kedua orang itu pun sudah sama-sama duduk di dalam mobil. "Mau aku langsung antar pulang atau mau kemana dulu nih?"


"Hmm, bagaimana kalau kita menyusul Itnas ke rumah sakit dulu, takut-takut dia itu muntah bukannya hamil, tetapi penyakit lain. Nggak enak jika aku nggak ke sana."


"Oke kami telepon Bang Leon saja, tanyakan dia sedang ada di rumah sakit mana!"


"Oke." Syahdu pun langsung menelepon Leon dan pria itu langsung mengirimkan alamat rumah sakit tempat Itnas diperiksa sekarang.


"Bagaimana?" tanya Fikran.


"Ini alamatnya." Syahdu menunjukkan layar ponsel dimana ada alamat yang dikirimkan Leon di sama.


"Oke sekarang kita langsung meluncur ke sana," ujar Fikran dan langsung tancap gas menuju rumah sakit tempat Itnas dan teman-temannya kini berada.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2