Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 68. Badmood


__ADS_3

Vierdo kembali ke ruangan miliknya dibantu Itnas lalu membaringkan tubuhnya kembali. Semua orang menungguinya dengan sabar.


Tiba-tiba saja perut Vierdo terasa lapar dan berbunyi. Sepertinya cacing-cacing di perut Vierdo berdemo karena tuannya tidak memberikan makan tepat waktu.


"Aku belikan makanan dulu ya di kantin," usul Itnas dan wanita itu sudah hendak berdiri, tetapi segera tangannya ditahan oleh Vierdo.


"Biar aku makan di tempat. Kebetulan teman-teman semua kan pada datang. Jadi kita makan bersama."


"Kak Vier yakin sudah sehat?" tanya Itnas memastikan.


"Iya, memang aku sakit apa? Tidak ada kan? Yuk semuanya!" Vierdo mengajak teman-temannya sambil menggenggam tangan Itnas lalu berdiri hendak keluar.


Mereka semua yang ada dalam ruangan tersebut nampak mengangguk kecuali Syahdu yang terlihat sendu.


Saat semua berjalan keluar ruangan Syahdu berjalan di belakang dan saat semua orang menunju kantin Syahdu berbalik menuju ruangannya sendiri.


"Hei mau kemana?" tanya Thalita saat menyadari Syahdu berbelok arah.


"Aku nggak ikut, masih kenyang," ucap Syahdu dengan wajah yang murung.


"Ayolah ikut biar ramai," bujuk Leona.


Syahdu tampak menggeleng.


"Kenapa sih jadi murung gitu? Biasanya kamu paling ceria," ucap Leona heran dengan perubahan raut wajah Syahdu.


"Apa karena tadi?" tebak Thalita. Dia yakin Syahdu murung karena ucapan Itnas yang memprotes dirinya tentang masalah kentut tadi.


"Tidak aku hanya kenyang saja," ucap Syahdu berbohong.


"Ya udah nggak usah makan temani kami saja," bujuk Thalita juga.


"Baiklah karena kalian memaksa aku ikut." Syahdu mengambil keputusan.

__ADS_1


"Oke, gitu dong yang namanya sahabat harus kompak masak yang lain ngumpul di kantin malah tidak ngikut," ucap Leona.


Syahdu hanya mengangguk lalu menarik nafas panjang.


"Yuk!"


Thalita dan Leona mengangguk dan berjalan lagi menyusul Itnas Kana dan para lelaki yang sudah melangkah jauh di depan dengan setengah berlari.


"Ayo cepat!"


Sampai di kantin semua orang memesan makanan masing-masing kecuali Syahdu yang nampak tidak berselera.


"Du, kamu pesan apa?" tanya Itnas karena tidak melihat Syahdu memesan apapun.


"Tidak usah saya kenyang," tolak Syahdu.


"Mungkin pesan camilan atau makanan yang ringan-ringan saja?" tawar Itnas dan Syahdu menjawab dengan gelengan kepala.


"Sini Athar sama aku saja Lit," pinta Syahdu agar Thalita menyerahkan putranya ke tangan Syahdu agar tidak menggangu makan siang tersebut karena Thalita terlihat kerepotan.


"Terima kasih ya Du," ucap Thalita.


"Sama-sama," ucap Syahdu lalu meraih baby Athar dan membawanya menjauh dari semua orang.


"Boleh dibawa keluar nggak Lit?" tanya Syahdu ingin mengajak Baby Athar mencari angin segar di luar. Rasanya dinginnya AC sangat tidak nyaman buat tubuh Syahdu sekarang. Tubuhnya terasa mau sakit saja.


"Boleh tapi jangan lama-lama dan jauh-jauh ya takutnya aku nyariin nanti," jawab Thalita.


"Oke siap tapi kalau memang buru-buru nanti telepon aku saja ya. Kalau tidak punya nomorku bisa minta pada Leona," ucap Syahdu dan langsung berjalan keluar.


Pesanan datang, semua tampak makan dengan asyiknya.


"Oh ya Vier antarkan aku ya bertemu keluarga Leona," pinta Leon pada Vierdo.

__ADS_1


"Mau ngapain?" tanya Itnas yang memang belum tahu bahwa Leon sudah mengutarakan perasaannya pada Leona dan segera ingin melamar gadis itu.


"Dia ingin melamar Leona." Juno yang menjawab karena Vierdo masih tampak fokus dengan makanannya dan tidak ingin berbicara.


"Oh, wah selamat ya Leona akhirnya perasaanmu terbalas sudah," ucap Itnas pada Leona


"Terima kasih," jawab Leona sambil tersenyum canggung karena masih merasa malu. Leona pun masih belum mempercayai itu seutuhnya. Rasanya begitu mustahil Leon bisa ada perasaan juga padanya. Namun kenyataannya dia memang harus mensyukuri itu semua.


"Bagaimana Vier?" tanya Leon lagi lalu mengunyah makanannya.


"Habiskan dulu makanannya baru bicara, tidak baik makan sambil berbicara," ucap Vierdo. Akhirnya mereka makan tanpa ada yang bicara lagi.


Barulah setelah makan Vierdo menjawab.


"Oke aku akan mengantarkan dirimu ke Bali menemui orang tua Leona, tapi ada syaratnya," ucap Vierdo.


"Syarat? Syarat apa?" tanya Leon penasaran.


"Kau tidak boleh menikah dalam bulan ini," ucap Vierdo dan hal itu membuat Leon heran.


"Loh emang kenapa?" tanya Leon masih penasaran.


"Aku tidak mau kamu nikahnya mendahului aku," ucap Vierdo.


"Ya takut kalah dia," ucap Juno lalu terkekeh. "Jangan-jangan tadi pingsan karena mendengar Leon akan menikahi Leon bulan ini," imbuhnya.


Semua orang hanya menggelen, tidak mengerti dengan pikiran Vierdo.


Di luar sana Syahdu membawa baby Athar berjalan-jalan ke pintu pagar perusahaan. Saat melihat ada seorang penjual mainanz Syahdu membawa baby Athar menyebrang jalan. Tiba-tiba ada motor melintas dan hampir menabrak Syahdu.


"Eh balik nggak Lo! Kalau nggak balik ku doakan kamu jatuh dari motor dan gegar otak!" teriak Syahdu. Dia masih badmood sekarang.


Pengendara itu mengejar target tanpa memperdulikan teriakan Syahdu.

__ADS_1


"Dasar pria tidak benar ngebut-ngebutan di jalan tidak mengerti bahasa manusia lagi," kesal Syahdu karena laki-laki itu tidak berbalik untuk sekedar meminta maaf.


Bersambung.


__ADS_2