Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 67. Gara-Gara Kentut


__ADS_3

"Bau apa ini? Kenapa seperti bau telur rebus?"


Semua orang tampak dia sambil mengendus-endus bau tersebut dan mencari dari mana asal bau itu.


"Syahdu kamu kentut ya!" protes Kana karena setelah dicari-cari ternyata bau tersebut berasal dari pantat Syahdu.


Syahdu malah tampak tertawa sambil menutup mulutnya sedangkan semua orang langsung memencet hidung mereka agar tidak bisa mencium bau tersebut.


"Kamu ah nggak tahu orang lagi panik saja malah kentut sembarangan," protes Itnas.


"Sorry kebablasan sebenarnya dari tadi aku menahannya, tetapi sayangnya tidak bisa dan kelepasan," terang Syahdu.


"Sudah ah keluar sana! Tidak malu kah kau pada mereka-mereka?" tunjuk Itnas pada Leon, Wendi dan Juno.


"Hehe, sorry ya Pak," ucap Syahdu cengengesan.


Para lelaki hanya mengangguk tanpa melepaskan pegangan tangan mereka pada hidung masing-masing.


"Sudah Du keluar sana, bau banget ini. Aku rasanya mau muntah," ujar Itnas lagi.


Tidak ingin Syahdu berlama-lama di tempat itu Kana langsung menarik tangan Syahdu agar keluar dari ruangan.


"Sungguh memalukan dirimu Du," protes Kana sambil terus menarik tangan Syahdu keluar.


"Kan aku sudah minta maaf Kan, emangnya kamu mau gitu jagain aku di rumah sakit hanya gara sakit perut tidak bisa kentut." Syahdu tidak ingin disalahkan lebih lanjut.

__ADS_1


"Ya ampun Du, mana mungkin Yogi mau sama kamu kalau kamu jorok gini. Kentut nggak tahu tempat," protes Kana.


Mendengar Kana menyebut nama Yogi Syahdu merengut. Kedua orang itu memang tadi sempat marahan hanya karena sopir ojek online yang mengantarkan Syahdu tiap hari malah mendekati Kana. Padahal Syahdu menyukai pria itu sampai gadis ini bela-belain tidak membawa mobil ke kantor hanya karena ingin bertemu pria ini tiap hari.


"Emangnya kentut ada tempatnya? Kalau pipis ama beol ada kamar mandi atau wc, kalau tempat kentut itu dimana ya? Ciba beri tahu aku," kesal Syahdu.


"Terserah kamulah Du mau apa, tapi jangan masuk lagi sebelum baunya itu menghilang," cetus Kana sambil melenggang masuk ke dalam ruangan Vierdo kembali.


Syahdu hanya mengintip ke dalam dengan bibir yang mengerucut.


"Bau apa ini?" tanya Vierdo yang mulai sadar. Bau itu masih saja belum hilang dari dalam ruangan mungkin karena ruangan itu ber acc sehingga bau tersebut masih memenuhi ruangan.


"Kau sudah sadar Kak Vier?" tanya Itnas sumringah melihat calon suaminya sudah sadar.


"Syukurlah, kau bikin aku khawatir saja dari tadi," ucap Itnas.


"Beneran kau mengkhawatirkanku?" tanya Vierdo menggoda Itnas.


"Ah Kak Vierdo dalam situasi seperti ini masih saja bercanda," ujar Itnas cemberut.


Karena Pak Vierdo sudah sadar saya pamit ya. Itu vitaminnya jangan lupa diminum ya dan jangan lupa banyak-banyak beristirahat," nasehat dokter sambil memberikan vitamin pada Vierdo.


"Baik Dok terima kasih," ucap Vierdo.


Dokter itu mengangguk dan mengambil tasnya lalu keluar dari ruangan. Wendi menyusul dokter Tersebut dan mengantar sampai di basemen kantor.

__ADS_1


"Terimakasih ya Dok atas kesigapan dan penanganannya terhadap Pak Vierdo," ujar Wendi. Wendi tahu sebenarnya dokter tersebut ada sip pagi di rumah sakit.


"Sama-sama Pak Wendi, lagi pula sudah menjadi kewajiban saya sebagai dokter pribadi untuk siap setiap saat. Sudah ya saya pamit dulu."


"Iya Dok." Setelah memastikan dokter sudah keluar dari perusahaan Wendi kembali ke ruangan Vierdo. Syahdu masuk kembali ke ruangan Vierdo mengekor di belakang Wendi.


"Kak Vierdo susah sih bangun dari pingsannya," keluh Itnas.


"Iya Nas jadi aku tadi kayak bermimpi gitu. Rohku berkelana ke tempat yang aku sama sekali tidak kenal dan akhirnya lupa arah, lupa jalan pulang," tutur Vierdo.


"Terus bagaimana ceritanya bisa kembali?" tanya Juno penasaran sedangkan Thalita tampak duduk dengan tenang menyusui putraku menggunakan penutup agar semua orang tidak melihat dadanya.


"Aku mengendus bau yang tidak sedap dan karena aku penasaran aku langsung menyelidiki darimana bau itu berasal. Sebab tak tahan akhirnya aku kesal dan berkata. "Bau apa sih ini? Eh nyatanya aku langsung sadar," jelas Vierdo pada semua orang.


"Tuh kan jangan ada yang menyalahkan aku kentut karena kentutku membawa berkah," ucap Syahdu sambil nyengir kuda.


"Apa bau itu adalah kentut?" tanya Vierdo tidak percaya.


"Pantas saja bau busuk. Hoek, hoek." Akhirnya Vierdo bangun dan langsung berlari ke arah kamar mandi. Setelah sampai di dalam Vierdo benar-benar muntah.


"Ini karena kamu," ucap Itnas dengan kesal lalu berlari menyusul Vierdo ke dalam kamar mandi dan membantu memijit leher pria tersebut.


"Sudah! Sudah Nas, aku tidak apa-apa," ucap Vierdo sambil menggenggam tangan Itnas yang ada di lehernya kemudian membawanya ke luar dari kamar mandi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2