
Kana mengangguk dan dengan dibantu Gino gadis itu berdiri.
Gino meraih tangan Kana dan menggandengnya masuk ke dalam gedung kembali. Kana melirik tangan Gino yang menggenggamnya.
"Maaf," ucap Gino dan langsung melepaskan pegangan tangannya.
"Tidak apa-apa," sahut Kana sambil mencoba tersenyum di tengah kepahitan kenyataan yang dia rasakan.
"Nah gitu dong, senyum. Kalau kamu senyum akan terlihat lebih cantik dua kali lipat. Mendapatkan orang yang lebih dari Wendi pun akan semakin mudah," goda Gino.
"Gombal," ucap Kana sambil tersenyum pahit. "Pak Wendi aja nggak mau sama aku apalagi cowok yang lebih dari dia?"
"Kau tidak tahu takdir Tuhan akan seperti apa nantinya. Hidup kita di dunia ini itu laksana menumpang pada sebuah kapal. Terserah nahkoda akan melalui jalur mana selagi itu tidak membawa kita ke dalam bahaya. Insyallah saat kita nanti sampai ke tujuan akan memperbanyak pengalaman dan pengetahuan. Oleh karena itu Nikmati saja perjalanan yang sudah Tuhan siapkan dalam hidup kita, niscaya itu akan membuat kita merasa semakin bersyukur kepada-Nya."
Kana memandang Gino tak berkedip.
"Kenapa memandangku seperti itu?" tanya Gino seolah paham dengan tatapan Kana yang aneh.
"Kamu pujangga atau ustadz sih? Bijak amat," kelakar Kana lalu terkekeh.
Gino hanya menggeleng dan tersenyum melihat Kana sudah mulai ceria lagi.
__ADS_1
"Sesuai permintaanmu, aku bisa menjadi apa saja yang kamu inginkan."
"Cih, gombal." Kana tampak tertawa renyah membuat Gino semakin bahagia melihat tawa di bibir manisnya.
"Ayo ke dalam!" Tanpa sadar Kana menggandeng tangan Gino dan menyeretnya ke meja tempat teman-temannya tadi makan.
Gino melirik dan tersenyum. Mereka langsung bergabung dengan teman-temannya kembali.
"Kenapa dia malah berubah ceria? Aneh," gumam Syahdu melihat Kana sekarang mulai cerah lagi. Wajahnya tidak seperti tadi yang terlihat mendung seperti langit yang seakan mau hujan.
Bukankah setelah mendung akan turun hujan dan setelah reda matahari akan bersinar cerah kembali? Ya begitulah yang terjadi pada Kana saat ini. Setelah wajahnya murung jatuhlah air mata dan setelah tangisnya reda kini berganti dengan senyuman yang ceria.
Itulah arus kehidupan kadang sedih kadang bahagia tergantung seberapa besar arus yang menyeret kita pada sebuah bahagia dan derita dan bagaimana caranya kita bersikap terhadap sesuatu yang terjadi termasuk juga seberapa besar orang-orang di samping kita yang ikut andil dalam memberikan semangat bagi kita.
Gino tampak mengambil es buah dan memberikan pada Kana.
"Nih minum pencuci mulut dulu! Kamu tadi belum sempat makan makanan penutup, kan?" Gino menyodorkan gelas berisi es buah di tangannya.
"Tidak usah deh Gin kamu minum sendiri saja biar saya ambil sendiri."
"Sudah ini buat kamu aja." Gino tampak mendesak. Kana masih menggeleng.
__ADS_1
"Ayo!" Akhirnya Gino berinisiatif menyendok es buah itu dan menyuapi Kana. Kana semakin menggeleng sebab tidak enak pada Syahdu.
"Ayo buka mulutnya!" perintah Gino pada Kana lagi sambil memberikan kode ke arah Wendi yang sedang menatap ke arahnya.
Kana menatap Syahdu, merasa tidak enak pada sahabatnya apabila seperti orang bermesraan saja dengan Gino meskipun Syahdu sepertinya sudah mendukung Kana dengan Gino dibandingkan harus mengejar Wendi yang sudah ada yang punya dan belum tentu juga menyukai Kana. Kana tidak mau Syahdu sakit hati seperti hal dirinya tadi.
"Ayo!" Desak Gino lagi. Terlihat Wendi masih memandang ke arah mereka seperti orang yang penasaran saja dengan apa yang akan dilakukan keduanya.
Sebab tidak ingin melihat Gino malu didukung Syahdu yang tidak melihat ke arahnya serta sakit hatinya pada Wendi terpaksa Kana membuka mulut.
Hup.
Kana langsung mengunyah buah yang ada di mulutnya sekarang.
"Ada es batunya tidak? Ini cuaca panas aku butuh yang dingin-dingin," pinta Kana pada Gino.
"Tunggu aku tambahkan es batu," ucap Gino sambil mengambil es batu dan memasukkan ke dalam es buah dalam gelas. Setelah mengaduk-aduk akhirnya ia menyuapi Kana lagi.
"Bagaimana lebih segar?" tanya Gino dan Kana mengangguk sambil menunjukkan jari jempolnya.
"Sini biar aku sekarang yang suapi kamu." Kana langsung merebut gelas di tangan Gino dan malah menyuapkan es batu ke mulut Gino dan ternyata ada sebongkah kecil es batu yang ikut ke dalam sendoknya.
__ADS_1
"Adu Kan dingin tahu kamu ingin membuatku beku ya," protes Gino dan Kana malah tertawa renyah membuat Gino ikut tertawa sedangkan teman-temannya heran melihat perubahan sikap Kana yang begitu signifikan. Bukannya dia tadi bersedih? Mengapa begitu mudah berubah menjadi ceria?
Bersambung.