
Juno menggeleng melihat Vierdo yang pingsan hanya gara-gara mendengar Leon ingin menikahi Leona dalam waktu dekat.
"Bangun Vier, kalau tidak nanti aku siram air tuh muka!" Leon berkata di telinga Vierdo agar pria itu segera bangun. Dalam pikiran Leon siapa tahu Vierdo hanya berpura-pura mengingat pria itu selalu menggoda dirinya. Namun, prasangkanya salah Vierdo memang benar-benar pingsan.
Juno menepuk pipi Vierdo agar terbangun, tetapi tetap saja pria itu tiga bergeming. Melihat Vierdo tak bereaksi apa-apa akhirnya Juno memutuskan untuk menggendong tubuh Vierdo menuju ruangannya kembali. Juno meletakkan tubuh Vierdo di ranjang pribadi pria itu yang letaknya berada di dalam ruangan kecil di dalam ruangan ceo.
"Ternyata dia benar-benar pingsan," gumam Leon dijawab anggukan dari Leona.
Leona segera mendekati ke arah Vierdo dan mencari cara agar pria itu bisa sadar kembali.
"Ada minyak angin?" tanyanya pada semua orang. Tentu saja Leon dan Juno tidak tahu dimana letak obat-obatan di kantor tersebut.
"Ada, sebentar aku ambil," ucap Wendi lalu bergegas mengambilkan yang diminta Leona. Tentu saja Wendi tahu dengan letak-letak barang yang ada dalam kantor itu karena sudah bertahun-tahun dia bekerja di perusahaan tersebut. Bahkan ketika Vierdo belum bekerja dia sudah bekerja di tempat ini.
"Ini Na," ucap Wendi sambil menyerahkan minyak angin kepada Leona. Leona pun mengambil dan langsung memposisikan minyak angin tersebut di depan lubang hidung Vierdo. Tak mempan Wendi lalu memberikan minyak kayu putih pada Leona. Tetap saja Vierdo belum siuman juga.
"Panggil dokter saja, aku khawatir terjadi sesuatu dengan Vierdo!" perintah Juno pada Wendi. Pria itu mengangguk lalu bertindak cepat.
Ketika dokter datang dan dijemput oleh Wendi ke lantai bawah, semua karyawan menatap penasaran. Mereka mengikuti langkah dokter tersebut ke atas.
"Ada apa ini ramai-ramai?" tanya Itnas yang banyak orang yang mengikuti Wendi.
"Ada orang pingsan di ruangan pak bos," jawab salah satu karyawan yang entah dapat dari mana kabar itu.
Thalita menjadi khawatir, bukankah yang datang ke ruangan Vierdo saat ini adalah suaminya. Dengan langkah lebar sambil menggendong putranya dia ikut orang-orang di belakang.
__ADS_1
Melihat Itnas dan Thalita yang mengikuti orang-orang, Kana dan Syahdu pun juga ikutan menguntit Wendi dan pak dokter.
"Lewat sini saja Lit," ajak Itnas pada lift yang lain agar Thalita tidak capek harus menaiki tangga dengan menggendong putranya karena kedua lift yang lain sudah naik ke atas. Satu lift khusus petinggi perusahaan dan satu lift untuk karyawan sedangkan lift yang satu ini juga untuk karyawan tetapi sering digunakan bebas. Baik petinggi perusahaan, tamu perusahaan, juga karyawan semua suka menggunakan lift ini. Intinya ini lift yang dipakai darurat saat terburu-buru saat kedua lift itu sudah berjalan ke atas maupun ke bawah menuju lantai bawah tanah. Tempat ini hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang kantor.
Thalita mengangguk dan mengikuti langkah Itnas masuk ke dalam diikuti kedua sahabat Itnas yang sedari tadi hanya diam-diaman, tetapi sekarang malah main senggol-senggolan. Sungguh dua sahabat yang aneh.
Sampai di lantai atas mereka langsung menyerbu ruangan Vierdo.
"Apa yang ditonton? Bos kita hanya pingsan saja," ucap Wendi.
"Apakah Pak Bos baik-baik saja Pak?" tanya salah satu karyawan terlihat khawatir.
"Insyaallah baik-baik saja. Kalian kembali ke tempat masing-masing ya, takutnya kalau bertumpuk di ruangan ini udaranya tidak akan bagus bagi bos kita yang pingsan," ucap Wendi memberikan penjelasan.
"Baik Pak," ucap mereka serempak.
"Pasti Pak," ucap mereka dan bergegas keluar dari ruangan menuju tempat mereka masing-masing.
"Kak Vier kenapa sih?" tanya Itnas segera berlari ke arah Vierdo yang nampak terbaring. Terlihat seorang dokter sedang memeriksa Vierdo.
"Nggak tahu, pas dengar tadi Leon ngajak Leona nikah secepatnya atau kalau bisa dalam bulan ini dia langsung pingsan," jelas Juno.
"Ah aku tahu kenapa Pak Vierdo pingsan," ucap Syahdu.
"Emang kenapa Du?" tanya Kana penasaran.
__ADS_1
"Pak Vier itu lebay," ucap Syahdu lagi.
"Kenapa kau mengatakan seperti itu?" tanya Thalita tidak mengerti dengan arah pikiran Syahdu.
"Dia pingsan karena takut kedahuluan Pak Leon nikahnya," tebak Syahdu."
"Ah kamu ada-ada saja. Kupikir apaan Du," protes Kana.
"Bagaimana keadaan Kak Vierdo Pak?" tanya Itnas khawatir melihat Vierdo belum sadar juga.
"Tidak masalah, palingan bentar lagi dia akan sadar," jawab pak dokter.
Semua orang tampak menunggu saat-saat Vierdo sadar. Namun hampir satu jam pria itu masih belum bangun juga membuat Itnas semakin khawatir saja.
"Tenang Mbak, kan kata dokter tadi Vierdo tidak apa-apa," ucap Thalita menenangkan Itnas.
"Tapi sampai berapa lama Lit?" tanya Itnas masih terlihat sendu.
Tiba-tiba
Brut.
Bersamaan dengan itu bau di dalam ruangan menyebar. Semua orang menutup hidung.
"Bau apa ini? Kenapa seperti bau telur rebus?"
__ADS_1
Bersambung.