Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Bab 106. Mungkin Hamil


__ADS_3

"Jangan dengarkan dia ya Du, saya tidak mungkin membuatmu masuk ke dalam bahaya," ucap Fikran mencoba membantah perkataan Vierdo, Syahdu hanya tersenyum pahit. Antara percaya dan tidak itulah yang ada dalam hati Syahdu terhadap Fikran saat ini.


"Bagaimanapun lelaki yang menyukai seorang wanita akan bertanggung jawab untuk keselamatan wanitanya dan saya yakin Fikran akan lebih bisa diandalkan untuk melakukan hal itu. Percayalah Fikran itu orang baik-baik dan insyaallah apapun prosesnya akan tetap dilindungi oleh Yang Maha Kuasa. Profesinya sekarang adalah hal yang mulia yang jarang orang lain bisa ataupun mau melakukan hal itu." Penjelasan Itnas membuat Syahdu semakin bingung dan menepis akan tebakannya sendiri yang menyatakan Fikran adalah seorang preman. Namun, yang penting dari perkataan Itnas adalah dia bisa menyimpulkan bahwa Fikran adalah orang baik.


"Silahkan duduk kalian berdua," ujar Syahdu mempersilahkan Itnas dan Vierdo bergabung bersama dirinya dah Fikran.


"Ganggu nggak nih kira-kira?" tanya Vierdo tidak enak telah mengganggu kencan kedua orang yang duduk di hadapannya itu.


"Nggak kok duduk aja, asal jangan ngomong yang macam-macam, " kecam Fikran.


Itnas melirik suaminya dan Fikran secara bergiliran lalu menggeleng dan tertawa.


Syahdu mengernyit melihat sahabatnya itu malah tertawa.


"Kenapa elo tertawa Nas, apa ada yang lucu?" Syahdu pun menatap kedua laki-laki yang ada di hadapannya seakan mencari hal yang lucu dari mereka. Namun, sama sekali tidak menemukannya.


"Tidak ada yang lucu cuma aneh aja melihat mereka berdua sejak zaman kuliah dulu kalau bertemu selalu ada-ada saja, kayak mau berantem gitu padahal enggak. Aku jadi ingat film kartun Tom and Jerry," ujar Itnas lalu terkekeh.


"Oh begitu ya Nas, duduk gih! Kamu mau pesan apa? Biar aku pesankan."


"Tidak usah aku mau pesan sendiri aja, paling aku hanya pesan minuman saja sebab sudah kenyang."


"Kenyang kok datang kemari," protes Syahdu.


"Iya tadinya kan saya sama Kak Vier baru datang dari rumah keluarga dan makan-makan di sana cuma pas kami berdua melintas di depan cafe ini kok melihat mobil Leon terparkir di depan. Jadi, ya nggak ada salahnya kami berdua mampir ke sini untuk menemui Leon, eh ternyata malah ada berita baru kamu sedang deketan sama Fikran," sahut Itnas.


"kami cuma sahabatan saja kok Nas nggak ada hubungan yang spesial," ujar Syahdu dan Vierdo yang mendengar perkataan Syahdu hanya manggut-manggut saja.


"Ada hubungan lebih juga nggak apa-apa. Aku pasti mendukung kalian berdua," ujar Itnas membuat perempuan itu langsung mendapatkan dua jempol dari Fikran.


"Terima kasih," kata Fikran kemudian.


"Sama-sama, aku pasti dukung kok asal kamu nggak ada niat buat mempermainkan dia," ujar Itnas.

__ADS_1


"Mana mungkin Nas aku begitu, kamu kayak nggak tahu aku aja," protes Fikran, tidak suka dengan ujung kalimat yang terakhir diucapkan oleh Itnas.


"Aku kan cuma bilang seumpama Fik nggak men-judge dirimu seperti itu," ujar Itnas.


Sementara mereka mengobrol-ngobrol pelayan datang dan menanyakan pesanan Vierdo dan Itnas.


"Aku kopi cappucino saja, sayang kamu minum apa?" tanya Vierdo pada Itnas.


"Jus alpukat ada Mas?" Itnas langsung bertanya pada pelayan yang berdiri di belakangnya.


"Ada Mbak. Oke, ada yang lain?"


"Untuk sekarang cukup itu saja Mas." Itnas yang menjawab sebab Vierdo langsung fokus berbicara tentang pekerjaan kantor dengan Fikran. Sepertinya Fikran banyak bertanya tentang ilmu bisnis pada Vierdo. Mungkin karena setelah ini, cepat atau lambat dia akan terjun juga ke dunia bisnis.


"Baik Mbak, kalau begitu saya permisi untuk membuatkan pesanan Mas dan Mbaknya," pamit pelayan tersebut.


"Iya silahkan."


Syahdu yang ada di samping Itnas hanya bertopang dagu sambil menatap tak berkedip ke arah Fikran yang nampak serius menanyakan hal yang tidak diketahuinya. Diam-diam Syahdu menjadi kagum pada pria itu yang sama sekali tidak merasa malu bertanya banyak hal yang tidak diketahuinya padahal disisinya sekarang sedang ada dirinya juga Itnas.


"Akh, kamu ngaco saja Nas. Kita hanya sebatas teman kok tidak lebih apalagi kami baru saja berkenalan." Syahdu balas berbisik di telinga Itnas.


"Kali aja dia ngajak tunangan atau nikah gitu, mau aja jangan sampai kamu tolak," ucap Itnas masih berbisik di telinga Syahdu.


"Nih cewek ada apa ya, kok pada deman bisik-bisik?" protes Vierdo melihat kelakuan istrinya bersama Syahdu.


"Rahasia, urusan para cewek," jawab Itnas lalu terkekeh.


"Hmm."


Seorang pelayan datang meletakkan jus alpukat dan kopi cappuccino di meja.


"Ini Mbak pesanannya, silahkan dinikmati!"

__ADS_1


"Terima kasih Mas," sahut Itnas. Pelayan itu mengangguk dan berlalu dari meja tersebut.


"Kak Kopinya!" seru Itnas pada Vierdo yang masih terlihat mengobrol serius dengan Fikran.


Vierdo menoleh dan mengangguk lalu mengambil gelas yang berisi kopi cappucino itu. Setelah meniup-niup kopi itu sebentar Vierdo langsung mengetuk kopi di tangannya.


Berbeda dengan Vierdo yang bisa menikmati kehangatan dari kopi yang dipesannya, Itnas malah merasa tidak suka dengan aroma jus alpukat yang biasanya menjadi salah satu minuman favoritnya itu.


"Kenapa Nas?" tanya Syahdu yang melihat ekspresi dari sahabatnya itu tidak seperti biasanya. Bukannya langsung meminum jus alpukat yang ada di hadapannya, Itnas malah mengendus-endus bau itu dan sesekali terlihat mual.


"Nggak tahu Du, kok tiba-tiba baunya berbeda gini ya?"


"Coba aku lihat." Syahdu mengambil gelas dari tangan Itnas dan mencoba menciumi aroma jus itu dari atas gelas.


"Biasa aja kok Nas, apanya yang berubah?" Syahdu mengembalikan gelas itu ke tangan Itnas.


"Kok menurutku bau sekali ya Du kayak ...."


"Hoek, hoek, hoek."


Belum sempat melanjutkan perkataannya Itnas malah muntah-muntah.


Vierdo yang sedari tadi fokus berbicara dengan Fikran jadi terhenyak melihat istrinya muntah secara tiba-tiba.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Vierdo sambil memijit leher Itnas. Raut wajah Vierdo terlihat begitu khawatir.


Itnas hanya menggeleng dan terus muntah-muntah.


"Sayang apa yang terjadi padamu, mengapa jadi seperti ini. Apakah kamu masuk angin atau bagaimana ini?"


"Mungkin dia sedang hamil Vier jadi jangan terlalu panik," saran Fikran agar sahabatnya itu tidak gelisah seperti itu dan bisa berpikir jernih untuk memberikan penanganan pada sang istri.


"Kalau begitu kita harus ke rumah sakit sekarang," ujar Vierdo sambil membantu Itnas berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2