Kembalinya Sang Kekasih

Kembalinya Sang Kekasih
Part 7. Perdebatan Kecil Dengan Mama Refi


__ADS_3

Mendengar perkataan Mama Refi Vierdo hanya diam sedangkan Wendi hanya melongo melihat sang Bos di interogasi oleh orang tua dari karyawannya itu.


"Mentang-mentang jadi Bos seenaknya jidat memberi hukuman."


"Wen, jelaskan!" Vierdo melempar tanggung jawab menjelaskan hal ini kepada Wendi. Bukankah di situlah guna seorang asisten. Lagipula dia sedang malas untuk berbicara.


"Tante, anak Tante melakukan kesalahan dengan datang terlambat ke kantor. Jadi bukankah sudah sepantasnya dia mendapat hukuman. Kalau sampai dia tidak dihukum pasti karyawan yang lain akan meniru anak Tante karena mereka akan menganggap tidak apa-apa terlambat. Kalau sampai itu terjadi maka kedisiplinan karyawan akan berkurang dan hal itu akan mengganggu kinerja perusahaan."


"Iya saya tahu, tapi berikanlah hukuman yang layak jangan sampai berlebihan."


Vierdo mendengus. Dia yang awalnya malas bicara malah angkat bicara karena kesal dengan sikap wanita yang berdiri di hadapannya. Dia berpikir pasti Itnas telah mengadu kepada sang mama. Benar-benar menyebalkan memang apa yang telah dikatakan Itnas padanya sampai sang mama mengatakan hukuman yang diberikannya sangat berlebihan begitu pikir Vierdo.


"Anak Tante saja yang manja dan lemah, begitu saja sudah pingsan."


"Ayo Wen kita pergi. Tidak ada gunanya kita di sini bersimpati pada orang yang tidak punya empati seperti mereka."


Baru beberapa langkah dia berbalik lagi. "Katakan kepada anak Tante dia bukan anak kecil, jadi jangan suka mengadu!" Setelah mengatakan itu Vierdo pergi meninggalkan ruangan diikuti Wendi di belakangnya.


Setelah Vierdo pergi air mata mengalir dari sudut kedua mata Itnas. Rupanya dia tidak sengaja mendengar percakapan Vierdo dengan mamanya.


Sebegitu bencinya kah kau padaku Kak?


Melihat air mata yang terus mengalir dari pelupuk mata sang anak Mama Refi mendekati Itnas dan duduk di sampingnya. "Kamu sudah bangun Nak? Apanya yang sakit? Mama panggilkan dokter ya?"


Itnas memegang lengan mamanya. "Tidak usah Ma. Itnas tidak apa-apa."


"Kalau tidak apa-apa kenapa kamu menangis?"


"Mama tahu siapa yang Mama ajak bicara tadi?"


"Iya itu pemilik perusahaan tempatmu bekerja."


Itnas mengangguk. "Benar, tapi bukan itu maksudku Ma. Dia itu kak Vier."

__ADS_1


"Vier kekasihmu dulu maksudnya?"


"Iya Ma."


"Mama tidak peduli karena dia telah membuatmu sakit seperti ini. Sebenarnya apa yang dia lakukan terhadapmu sehingga kamu sampai pingsan dan sakit seperti ini?"


"Dia tidak melakukan apa-apa Ma. Mama jangan sampai berpikir saya seperti ini karena dia menghukum ku. Aku pingsan karena syok mengetahui yang jadi atasanku adalah dia. Padahal aku ingin menghindarinya Ma."


"Kenapa harus menghindar? Kamu tidak boleh lari dari kenyataan. Jelaskanlah apa yang sebenarnya terjadi padamu. Mama yakin dia pasti memahaminya."


"Sudah Ma, tapi dia tidak mau mendengar penjelasanku. Dan aku sudah berjanji untuk tidak pernah muncul di hadapannya lagi. Apalagi sekarang Itnas juga malu dengan apa yang mama lakukan tadi terhadapnya. Saya merasa tidak punya muka untuk bertemu dengannya."


"Kenapa harus malu. Emang mama melakukan apa? Mama kan cuma menasehati dia."


"Ah sudahlah."


"Apakah kamu masih mencintainya Nak?"


Mama Refi tidak menjawab dia malah menanyakan keberadaan Yudha. "Ngomong-ngomong Yudha Kemana? Apa dia tidak tahu kalau istrinya sakit?"


"Mas Yudha sedang meninjau perkebunan teh kita yang ada di Jambi Ma."


"Yakin?"


"Iya Ma."


"Benar kamu tidak bohong?"


"Iya Ma. Buat apa Itnas bohong."


"Kamu tidak pandai berbohong Nak, dari tatapan mata kamu saja mama bisa tahu kalau kamu saat ini berbohong. Lagipula papa kamu yang sekarang meninjau perkebunan teh kita dan dia tidak bersama Yudha. Mama tahu semua yang terjadi padamu. Yudha tidak mencintaimu, kan?"


Mendengar kata-kata mamanya Itnas menunduk. "Mama kok bisa ngomong begitu?"

__ADS_1


"Kalau dia mencintaimu dia tidak akan menikah lagi. Apalagi di umur pernikahan kalian yang baru berumur beberapa bulan."


Mulut Itnas menganga mendengar mamanya yang tahu semua padahal dia sudah meminta Yudha untuk melangsungkan pernikahannya dengan Talitha secara tertutup.


"Mama kok bisa tahu?"


"Teman-teman mama banyak jadi jangan kau pikir mama tidak tahu hubunganmu dengan Yudha termasuk kamu yang dipoligami."


"Semua itu terpaksa Ma. Thalita mengandung anaknya mas Yudha. Jadi Itnas tidak tega kalau sampai melarang mas Yudha untuk menikahinya. Bagaimanapun anak itu butuh sosok seorang ayah. Ya, walaupun Itnas akui hati Itnas sakit Ma."


"Kenapa tidak meminta cerai saja?" Bukankah semenjak menikahi istri mudanya dia tidak pernah mengunjungimu."


"Ma, Mama ngomong apa sih? Mama pikir pernikahan itu mainan apa? Sebentar menikah sebentar bercerai. Lagian kan mas Yudha baru seminggu menikahinya jadi wajar kalau mas Yudha menghabiskan waktu dengan istri mudanya."


"Terserah kamu lah mama tidak mau mencampuri urusanmu, tapi kalau kamu lelah lepaskanlah mumpung kamu belum memiliki anak dengannya. Karena kalau sampai kamu punya anak dengannya kamu bakalan lebih susah untuk melepasnya."


"Huh." Mama Refi menghembuskan nafas berat. "Dari dulu mama memang tidak setuju kamu menikah dengannya. Makanya mama sempat menyuruhmu kabur dari rumah, tapi kamu malah menuruti keinginan papa kamu itu. Mama dulu punya firasat kalau dia bukanlah pria baik-baik dan sekarang terbukti bahwa dia memang bukan laki-laki yang baik karena kalau dia orang baik dia tidak akan pernah menghamili wanita di luar nikah." Mama Refi menjeda ucapannya.


"Saran mama kamu bercerai lah dengannya dan kembali ke Nak Vierdo. Ya walaupun dia sedikit menyebalkan, tapi mama yakin dia masih mencintaimu buktinya dia masih peduli padamu."


"Cukup Ma. Mama tidak malu apa setelah tadi mengatai kak Vier. Sekarang mama malah mau menjodohkan Itnas dengannya. Itnas tidak mau Ma. Selama Mas Yudha tidak menyakitiku aku tidak akan meminta cerai darinya. Lagipula apa mama pikir dengan bercerai dengan mas Yudha kak Vier akan menerima Itnas begitu saja? Tidak semudah itu Ma. Hati seseorang yang sudah retak tidak akan mungkin kembali seperti semula."


Itnas mengembuskan nafas dan melanjutkan bicaranya. Dia seakan lupa kalau dirinya sekarang lagi tidak fit. "Lagipula kalau sampai Papa tahu aku bercerai dari mas Yudha karena dipoligami apakah mama bisa menjamin papa bisa baik-baik saja. Aku takut papa syok Ma. Bukankah Mama tahu bahwa aku mengambil keputusan untuk tidak kabur waktu itu adalah agar papa baik-baik saja. Apakah mama siap seandainya penyakit papa kambuh dan meninggalkan kita semua?"


"Mendengar kata-kata sang anak hati mama Refi terenyuh. Dia membelai rambut sang anak. "Maafkan mama sayang kalau mama terkesan terlalu memaksa. Mama tidak bermaksud menyakitimu. Mama hanya ingin anak mama hidup bahagia dengan orang yang dicintai dan mencintainya. Mama hanya ingin anak mama tidak terus-terusan kesepian seperti ini karena kau tahu bukan seorang suami yang memiliki dua istri harus membagi waktu untuk kedua istrinya. Ditambah waktunya terbagi untuk bekerja. Dan satu hal yang tidak mama inginkan adalah cucu mama kelak akan berebut dan berbagi ayah dengan anak wanita lain. Namun, kalau kamu sanggup nggak apa-apa mama hanya bisa berdoa supaya engkau selalu dilimpahi kebahagiaan oleh Tuhan."


"Terima kasih Ma. Biarkanlah takdir membawaku ke tempat seharusnya aku berada."


Mama Refi memeluk Itnas sambil memejamkan matanya.


Semoga takdirmu adalah bersama Nak Vierdo Nak.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2