
Setelah tiga hari di Bali Itnas memutuskan kembali ke Jakarta. Dia membatalkan keinginannya untuk berlibur selama satu minggu. Selain takut ada panggilan dari kantor tempat dia memasukkan lamaran pekerjaan yang dilakukan oleh temannya Kana moodnya pun lagi tidak baik sekarang. Jadi percuma saja dia berlibur sebab dia tidak dapat menikmati liburannya. Hal itu terjadi setelah kejadian yang memergoki Yudha bersama seorang wanita yang belum dia kenal. Selain itu saat dia makan di restoran Bali dia juga melihat Vierdo makan dengan seorang wanita yang juga dia tidak kenal. Entah mengapa ketika melihat Vierdo begitu akrab dengan gadis itu Itnas merasa kecewa bahkan ketika keduanya tertawa lepas rasa menyengat di ulu hatinya tidak bisa terelakkan.
Kedua orang yang pernah hadir di hatinya kini telah melabuhkan hatinya pada wanita lain. Dia bisa apa? Bukankah dia sama sekali tidak punya hak untuk melarang Vierdo membuka hatinya pada wanita lain bahkan pada Yudha sekalipun dia tidak bisa memaksa untuk dapat cinta darinya. Bukankah cinta tidak bisa dipaksakan? Bukankah hati tidak bisa bersikap seperti mulut yang bisa mengatakan apa saja?
"Huft." Dia menghela nafas. Sudahlah dia bertekad untuk mencari kebahagiaannya sendiri meski tiada pendamping hidup sekalipun. Yang terpenting sekarang baginya adalah dapat lepas dari Yudha. Bagaimanapun caranya yang penting tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Entah mengapa dia memiliki firasat yang tidak baik tentang laki-laki itu sekarang.
Setelah sampai ke Jakarta dia mempersiapkan fisik dan mentalnya untuk menghadapi hari esok karena sesuai perkiraannya besok dia benar-benar dipanggil perusahaan untuk melakukan tes wawancara.
Hari esok pun tiba Itnas melangkahkan kakinya keruangan HRD berada setelah sebelumnya bertanya kepada bagian resepsionis.
Bagaimana apakah Mbak siap diwawancara? tanya pak Alif kepala bagian Hrd.
"Siap Pak," jawab Itnas. Dia benar-benar siap meski ada rasa sedikit grogi.
"Oke kita mulai. Arfa silahkan kamu tes Mbaknya!" perintah Pak Alif pada salah satu bawahannya.
Arfa mengangguk dan mendekati Itnas kemudian mulai melakukan sesi tanya jawab.
Disela-sela melakukan sesi tanya jawab muncul Leon menghampiri tempat duduk mereka. "Pak Alif mana?" tanyanya pada Arfa.
"Pak Alif ada di ruangannya Pak," jawab Arfa sopan.
Leon kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan pak Alif, tetapi langkahnya terhenti kala melihat wajah wanita yang sedang berhadapan dengan Arfa.
"Tunggu sepertinya aku kenal dia."
Arfa hanya mengernyitkan dahi.
"Kamu Itnas, kan? Si Nanas kesayangannya Vierdo?
Itnas mengulum senyum. "Kak Leon ya?"
"Iya ternyata kamu masih ingat aku. Sedang apa kamu di sini?"
"Ya masihlah Kak. Aku sedang di interview."
"Ya Pak, si Mbaknya kan mau kerja di sini mengisi posisi yang sedang kosong." Kali ini Arfa yang menjawab.
"Memang di bagian apa yang kosong?"
"Comercial Photography Pak. Kemarin Safra mengundurkan diri karena harus menikah dan calon suaminya katanya melarang dia untuk bekerja."
"Oh, ya sudah terima saja nggak usah di interview segala. Aku tahu kok kemampuan dia di bidang potret memotret."
"Baik Pak."
__ADS_1
Setelah itu Leon melanjutkan langkahnya menuju ruangan Pak Alif diikuti ekspresi melongo dari Arfa.
"Kenapa pak ?" tanya Itnas yang melihat Arfa kebingungan.
"Kamu kenal dia?" tanya Arfa memastikan.
"Ya dia kakak kelas saya sewaktu kuliah dan saya kenal baik dengan dia." Bagaimana tidak dia bahkan sahabat terdekat mantan kekasihnya.
"Selamat ya kamu diterima kerja di sini. Mulai besok kamu sudah bisa bekerja. Saya harap kamu bisa bekerja sama dengan kita semua, dan satu lagi jangan panggil pak Leon itu Kak panggil dia Pak saja karena dia pemilik perusahaan ini!" ucap Arfa panjang lebar.
Sekarang giliran Itnas yang terkejut, bagaimana tidak dia keluar dari perusahaan Vierdo karena ingin menghindarinya, tetapi malah masuk ke perusahaan sahabatnya. Bagaimanapun Vierdo bisa saja keluar masuk perusahaan sahabatnya itu.
Itnas memutar otak supaya keberadaannya di sana tidak akan diketahui Vierdo, tetapi otaknya seolah buntu. Akhirnya dia memutuskan untuk meminta bantuan Leon nanti untuk merahasiakan keberadaannya di perusahaan itu.
πππππ
Satu bulan berlalu.
Sore hari sepulang dari kantor Itnas tidak langsung pulang ke rumah. Dia menyempatkan untuk mengunjungi orang tuanya. Kalo perlu dia akan menginap di sana karena besok dia sedang libur. Sudah lama dia tidak berkumpul dengan orang tuanya. Entah mengapa saat ini dia begitu merindukan orang tuanya terlebih sang papa.
"Itnas tumben kamu ke sini," ucap papa Husein.
"Emang nggak boleh?"
"Bolehlah, tapi selama ini kemana kok jarang mengunjungi kami?"
"Cih, alasan. Padahal kamu kan bisa istirahat di sini!"
"Udahlah Pa aku nggak mau berdebat." Sambil mendekati papanya lalu memeluknya. "Itnas kangen papa."
"Jadi sama mama nggak kangen?" Mama Refi mendekati keduanya sambil dan meletakkan air putih hangat pesanan papa Husein di atas meja.
Itnas pun melepaskan pelukannya dan beralih memeluk mamanya. "Kangen juga," rengeknya manja.
"Papa sama Mama apa kabar?"
"Kami baik kok," ucap papa Husein mewakili.
"Syukurlah kalau begitu. Si kembar mana?"
"Adek kamu si Dafa tuh ada di kamarnya. Galau katanya," ucap sang mama.
"Galau kenapa?"
"Mana mama tahu. Orang mama aja tahunya dari Delfi kalau Dafa mah nggak mau ngomong sama mama. Yang ada dia cemberut terus." Sambil mengendikkan bahu.
__ADS_1
"Kalau si Dilfi ada di dapur bantuin mbok inem masak katanya nanti malem dia bakal kedatangan tamu."
"Yaudah aku ke kamar Dafa dulu ya Ma!"
"Iya sekalian tanyain tuh orang kenapa, mungkin kalau sama kamu dia bakalan ngomong."
"Iya Ma." Sambil berjalan menuju kamar sang adik.
Sampai di depan kamar Dafa Itnas mengetik pintu.
Tok tok tok. "Dek boleh mbak masuk?"
"Masuk aja Mbak, pintunya nggak dikunci kok."
Itnas melangkah memasuki kamar adik laki-laki satu-satunya.
"Ada apa, kenapa nggak mau keluar kamar?"
"Nggak apa-apa Mbak aku cuma lagi bete."
"Bete kenapa ceritain sama Mbak."
"Cewek aku si Lili Mbak. Aku memergoki dia selingkuh sama teman baikku si Anton."
"Oh jadi gara-gara cewek nih kamu malah nyuekin mama."
"Aku nggak ngerasa gitu kok Mbak, aku cuma males aja ngomong. Seperti nggak ada gairah gitu Mbak."
"Tapi udah jelas dia selingkuh? Takutnya kamu cuma salah paham."
"Awalnya aku juga ngerasa begitu Mbak, tapi setelah aku selidiki sendiri ternyata mereka benar-benar selingkuh di belakangku."
"Kalo menurut Mbak kamu lupain aja tuh si Lili. perempuan seperti itu tidak pantas dipertahankan. Kalo semasa pacaran aja dia sudah berani selingkuh bukan tidak mungkin nanti setelah kalian melangkah ke jenjang yang yang lebih serius dia malah khianati kamu lagi."
"Tapi aku masih cinta sama dia Mbak."
"Ya pelan-pelan aja kamu ngelupainnya. Awalnya sih emang berat tapi lama kelamaan kamu akan terbiasa tanpa dia." Sambil mengelus rambut sang adik. Menyalurkan rasa sayang yang dia punya.
"Iya Mbak semoga aku bisa."
"Pasti bisa kamu adik mbak yang pintar dan juga tampan pasti banyak cewek-cewek yang ngantri untuk jadi pacar kamu. Jadi nggak usah sedih lagi. Lain kali kalo ada masalah jangan dipendam sendiri kamu bisa kok cerita sama mama karena mama itu orangnya pengertian, tapi kalau kamu malu kamu bisa datang dan cerita ke mbak. Udah ya mbak mau menghampiri si Dilfi di dapur katanya dia lagi masak yang enak-enak."
Dafa mengangguk lemah rupanya dia masih belum bisa melepas kesedihannya.
Itnas berlalu dari kamar Dafa dan menutup pintu kamar adiknya, tetapi sebelum pintu ditutup Itnas mengepalkan dan mengangkat tangannya ke atas untuk menyemangati sang adik. "Semangat!"
__ADS_1
Bersambung....