
"Bagaimana keadaanmu sekarang Lit?" tanya Itnas yang kini sudah duduk di tepi ranjang di samping Thalita.
"Baik," jawab Thalita, tetapi jawaban dan keadaan hatinya tidak lagi sama.
"Baik, tapi kok kamu malah murung seperti itu?" tanya Itnas menyadari perubahan wajah Thalita. "Apa bayimu rewel semalaman? tanya Itnas kemudian.
Thalia menggeleng. "Nggak kok dia anteng terus sejak lahir tak pernah rewel sedikitpun. Dia memang sejak dalam kandungan tidak banyak menuntut. Aku bisa dibilang tidak pernah ngidam apapun saat itu. Dia pengertian banget tahu keadaan ibunya seperti apa," ucap Thalita dengan mata berkaca-kaca mengingat keadaan dirinya saat hamil.
"Syukurlah kalau begitu. Katanya kamu sudah bisa pulang sekarang?" tanya Itnas agar Thalita tidak ingat dengan kesedihannya lagi.
"Iya Mbak kami akan pulang nanti jam 8."
"Ke rumah Juno atau pulang ke kampung? Tapi sebaiknya jangan pergi jauh-jauh dulu deh. Daripada pulang kampung mending kamu tinggal di rumahku saja. Kamu juga bisa bawa Fadil dan bibi ke sana. Sekarang rumahku kosong tidak ada yang menempati sebab aku sudah tinggal di rumah papa," jelas Itnas.
"Nggak Nas mereka akan pulang ke rumahku," sela Juno pembicaraan keduanya.
"Iya Mbak Itnas, mamanya Mas Juno minta kami pulang ke sana dulu. Beliau sekarang sedang mempersiapkan kamar untuk bayi kami," jelas Thalita.
"Oh bagus kalau begitu," ucap Itnas tidak tahu harus berbicara apalagi. Dia malah meraih bayi Thalita dalam gendongan Juno.
"Siapa namanya Jun?" tanya Itnas kemudian.
"Rahasia Nas, tunggu saja nanti pas aqiqah," sahut Juno membuat Itnas mencebik mendengar kata rahasia dari mulut Juno.
"Cih sama kami aja main rahasia-rahasiaan, paling namanya Kuno putra dari Juno." Vierdo terkekeh.
"Enak saja ngomong sembarangan." Juno mendorong kepala Vierdo ke belakang karena kesal. Namun, bukannya marah Vierdo malah tertawa terbahak-bahak.
"Sudah ah Kak, jangan kenceng-kenceng ketawanya, ini kan rumah sakit nggak enak didengar orang. Daripada menggoda Juno terus nih mending praktek gendong anak biar nanti kalau kita sudah menikah dan punya anak kamu tidak kaku lagi kalau pegang bayi kita." Itnas mencoba menahan malu dan menggoda Vierdo.
"Nah benar tuh Itnas." Juno mendukung perkataan Itnas.
"Mulai berani ya kamu," ucap Vierdo pada Itnas disambut senyum malu-malu dari perempuan itu.
__ADS_1
"Ya sudah sini!" Verdo meminta bayi dalam gendongan Itnas dan Itnas pun memberikan pada Vierdo.
"Hati-hati jangan sembarangan megangnya." Juno mengingatkan.
Vierdo mengangguk sambil berusaha menggendong bayi Juno. "Susah banget ya gendongnya kalau masih merah begini," keluh Vierdo.
"Eh siapa tadi namanya?" tanya Vierdo yang kini sudah berhasil menggendong bayi sahabatnya.
"Belum dikasih nama," jawab Thalita dengan jujur.
"Oh kupikir kalian berdua memang main rahasia-rahasiaan," ucap Vierdo.
"Nggak kok memang belum kami kasih nama," ujar Juno juga.
Mereka pun berbincang-bincang bersama. Fadil datang dengan tubuh yang sudah fresh sehabis mandi dan ikut nimbrung dalam pembicaraan. Pembicaraan pun merambah pada tempat makan yang sempat dikelola oleh Thalita dan Fadil di kampung.
"Kamu dan bibi ambil saja hasilnya nggak usah dikasih sama Thalita. Semua kebutuhan Thalita sekarang saya yang akan tanggung. Yang penting kalian rawat tempat itu agar tetap bisa menghasilkan dan bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari kalian. Kalau ada uang lebih tabung untuk biaya kuliah kamu nantinya," jelas Juno pada Fadil.
Fadil memandang ke arah Thalita, bagaimanapun tempat itu adalah hasil kerja keras kakak sepupunya, haruskah dia menikmati semua hasilnya?
"Iya Kak," jawab Fadil antara senang dan sedih. Senang karena Thalita mempercayakan padanya untuk mengelola usaha milik Thalita. Namun, sedih mengingat dirinya akan berpisah tempat lagi dengan Thalita padahal selama ini mereka adalah teman kerja yang solid.
Bibi yang mendengar perkataan Thalita hanya menepuk-nepuk pundak Thalita, tak tahu harus berkata apa.
"Nanti setelah masa nifas Thalita berakhir saya akan menikahinya. Saya harap bibi dan Fadil bisa datang lagi ke sini, dan kamu Fadil bang Juno minta agar bersedia menjadi wali. Bukannya kamu adalah anak laki-laki dari saudara laki-laki ayah Thalita?"
"Iya Bang. Bang Juno jangan khawatir Fadil pasti akan hadir."
"Terima kasih," ucap Juno sambil menepuk pundak Fadil bangga, padahal Juno tahu Thalita punya adik laki-laki seayah, tetapi tak seibu. Namun, dia sama sekali tidak pernah perduli pada kakaknya ini berbanding terbalik dengan Fadil yang sering membantu kakaknya.
"Mas Juno sini dulu!" panggil Thalita agar Juno mendekat.
"Apa?" tanya Juno berbisik di telinga Thalita.
__ADS_1
"Boleh aku meminta sesuatu?" Bukannya menjawab malah bertanya juga dan Juno hanya menjawab dengan anggukan.
"Sebelum pulang aku ingin anakku di tes DNA denganmu."
Sontak permintaan Thalita membuat Juno terbelalak. "Buat apa sih? Bukannya sudah jelas ya dia putraku?" tanya Juno membuat bibi yang tidak tahu apa-apa malah terlihat kaget. Yang dia tahu memang bayi Thalita ini adalah anak dari Thalita dengan Yudha.
"Aku ragu Mas, dia lahir sebelum genap sembilan bulan," jelas Thalita.
Juno terlihat menarik nafas panjang. "Tapi aku yakin dia itu memang putraku. Memang dia lahir tidak genap sembilan bulan, tetapi menurut hitungan hari dia lahir delapan bulan lebih beberapa hari," beber Juno.
"Tapi Mas aku masih ragu dan kata Vierdo tadi wajahnya nggak ada miripnya sama sekali denganmu, kan?"
Juno menatap tajam pada Vierdo seolah mengatakan ini gara-gara kamu.
Vierdo tampak menelan ludah, merasa tidak enak ternyata perkataannya yang hanya bercanda menjadi masalah.
"Maksudku wajah bayi itu tidak sama dengan Juno, tetapi jauh lebih tampan," jelas Vierdo agar Thalita tidak salah paham dan menarik keinginannya untuk melakukan tes.
"Tapi sampai kapan aku tidak akan pernah tahu siapa ayahnya yang sebenarnya. Ya Allah maafkan aku, ini akibat dosa-dosaku yang sangat besar di masa lampau."
Bibi menarik Fadil untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Thalita yang sebenarnya.
"Baiklah aku akan tetap memenuhi keinginanmu untuk melakukan tes meski aku tetap yakin bahwa bayi ini memang darah dagingku."
Thalita mengangguk senang.
"Baiklah aku akan panggil dokter dulu untuk mengambil sampel tes sebelum kita pulang dari rumah sakit." Juno langsung keluar dari kamar rawat Thalita dan menemui dokter.
Setelah kembali dari ruangan dokter Juno melihat ada beberapa polisi yang berjalan di depannya. Juno yang penasaran mengikuti langkah polisi itu dari belakang dengan menjaga jarak. Ternyata polisi itu masuk ke kamar Yudha.
Juno segera berjalan cepat untuk memberitahukan pada Itnas bahwa sepertinya Yudha akan ditangkap polisi.
"Nas ada polisi yang masuk kamar rawat Yudha," lapornya pada Itnas setelah sampai di depan pintu.
__ADS_1
Bersambung.